Menikah karena kesalahannya dimasa muda, namun setelah ia mempunyai dua orang anak, suaminya malah berkhianat dan menikah dengan wanita lain. Ayyara Ariani harus menelan pil pahit pernikahan.
Ia menjalani kehidupan sebagai janda dengan dua orang anak. Hidup dengan cacian dan hinaan orang-orang disekelilingnya tak membuat Yara berputus asa.
Arzan Alvaro memilih hidup sendiri setelah istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil saat ia mengandung buah cinta mereka. Arzan menghabiskan waktu dengan bekerja dan menjadi pria yang dingin tak tersentuh. Sukses membangun bisnis peninggalan sang ayah yang terancam bangkrut dan menjadi kan Zein's company semakin maju dan tak terkalahkan di bidang industri dan perdagangan di kancah internasional.
Bagaimana kisah mereka berdua? yuk mari kita simak...
selamat membaca...
cover by noveltoon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
seberapa besar luka mu
Yara menatap bergantian antara tangan yang digenggam Arzan dan gundukan tanah bertabur berbagai macam bunga yang papan nisannya tertulis nama sang ayah Herman Aditama.
Bagi Yara ini adalah sebuah mimpi buruk yang paling buruk yang terjadi dalam hidupnya beberapa tahun terakhir ini.
Meski di masa-masa hidup sang ayah Yara sempat marah kepadanya, tapi ia tidak pernah membenci beliau sedikit pun.
Yara paham jika ayah dan ibunya terlanjur kecewa padanya. Tapi walau bagaimanapun Yara hanya ingin di rangkul dan dipeluk ketika hidupnya hancur berantakan.
Yara hanya ingin diam saat ini tanpa ada satupun orang yang mengajaknya bicara. Dan sepertinya Arzan sangat paham kondisinya saat ini. Jauh di dasar hatinya, Yara benar-benar kehilangan sang ayah. Jika dibandingkan dengan Dena serta Azam, Yara lah yang paling dekat dengan sang ayah.
Jika ibu selalu membela Dena ketika salah maka sebaliknya, ayahlah yang akan selalu membela Yara dalam kondisi apapun.
Arzan mengerti diamnya Yara saat ini. Ia juga pernah melalui hal ini ketika orang tua serta istrinya meninggalkan ia seorang diri.
" ayo kita pulang, hujan akan turun " ajak Arzan.
"ayo..." panggil Arzan lagi.
Yara diam dan mengikuti langkah Arzan dari belakang.
Semua orang telah pergi dari pemakaman termasuk juga keluarga Yara yang lain.
Hanya ada Arzan dan Yara di dalam mobil yang dikendarai oleh Arzan sendiri.
Arzan menghentikan laju mobilnya tak jauh dari area pemakaman umum.
Ia menoleh menatap Yara yang kini duduk bersandar pada kaca jendela mobil dengan mata tertutup. Entah tidur atau hanya mencoba untuk tidur.
"Sudah tak ada orang hanya kita berdua, jika kamu ingin menangis, aku akan menemanimu disini sebelum kita pulang" ujar Arzan yang paham kondisi Yara saat ini.
Yara membuka matanya dan kembali menoleh kearah Arzan yang kini masih menatapnya.
"jangan pernah mengasihani ku jika kamu nanti juga akan meninggalkan ku sendiri" ucapan Yara sungguh membuat Arzan terpaku ditempatnya.
Arzan menatap dengan tatapan yang tak biasa. Seberapa besar luka hati Yara sehingga ia seperti menolak siapapun, batin Arzan.
"ayo kita pulang, anak-anak pasti sedang menunggu kita saat ini" lanjut Yara yang meminta Arzan kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang ke rumah orang tua Yara.
...****************...
Yara dan Arzan tiba di rumah ketika hampir Maghrib.
"Mbak, Yasmine ketiduran di kamar Azam sedangkan Abhi itu lagi di kamar ibu. Mbak Yara mau balik sekarang?" sambut Azam begitu melihat Yara dan Arzan.
"Mbak mau ketemu ibu dulu Zam, baru balik. Besok mbak bantu buat acara tahlilan nya" ucap Yara pelan.
Belum sempat Yara memasuki pintu rumah, tubuh mungil itu ambruk dalam pelukan Arzan yang masih berdiri disampingnya.
"Ra.... bangun Ra..." panggil Arzan yang menepuk-nepuk pipi Yara.
"...bunda...." teriak Abhi yang mendengar keributan dari luar rumah.
Kevin yang selalu setia mendampingi Arzan pun tak kalah sigapnya membantu atasannya.
"Tangan mu Vin, awas!" cegah Arzan begitu ia melihat Kevin yang akan mengendong Yara. Asisten Arzan itu tadi tidak ikut ke pemakaman karena diamanatkan menjaga anak-anak.
"bunda kenapa pa... Bunda nggak akan seperti kakek kan? Abhi takut...." isak bocah laki-laki itu yang berfikir jika ibunya juga akan pergi sama seperti kakeknya.
" Mas Arzan, bawa mbak Yara ke kamarnya saja, ayo..." ujar Azam yang mengarahkan Arzan ke kamar Yara.
Sementara keluarga yang lain hanya menonton saja kepanikan Arzan. Banyak dari keluarga Yara yang belum mengetahui status Arzan sebagai suami baru Yara sehingga banyak gunjingan mereka mengenai Yara.
Bahkan Renaldi pun juga menaruh curiga pada Yara. Bagaimana bisa iparnya itu menggaet bos besarnya, pria yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Renaldi tersenyum sinis. " wajah lugu tapi isi otak beracun" ujar nya pelan yang tentu saja tak di dengar oleh orang lain.
...****************...
Dikamar Yara, Arzan masih setia mendampingi istrinya yang masih pucat ditemani oleh putranya Abhinaya yang tak hentinya menangis sejak tadi.
"Vin, tolong bawa Abhi keluar dulu. Biar Yara bisa beristirahat. saya mau membalurnya dengan minyak angin " pinta Arzan kepada asistennya.
Kevin menaikkan sebelah alisnya. Ia menduga-duga sudah sejauh mana hubungan atasannya itu dengan istrinya. Kevin tersenyum tanpa sadar dan itu terlihat jelas oleh Arzan.
"Simpan senyuman mu itu Vin, saya melihatnya!" ucap Arzan kesal.
Kevin melipat bibirnya dan menggandeng tangan Abhi keluar.
"... Ra...ayo minum teh hangatnya" ucap Arzan sambil membantu Yara minum.
" terima kasih" lirih Yara.
"Ayo buka baju kamu, mas mau balur pakai minyak angin" pinta Arzan yang entah mengapa mengubah panggilannya nya menjadi mas.
Yara mengernyit mendengar Arzan memanggil dirinya mas. Tapi tak berkomentar apapun. Terserah pria ini saja pikir Yara. Ia sedang tak memiliki cukup tenaga hari ini. Ia benar-benar lelah.
"om Kevin...." panggil Abhi menarik telunjuk Kevin saat mereka telah keluar dari kamar Yara.
"bunda pasti sembuh kan? Bunda nggak kenapa-kenapa kan?" lanjut Abhi menanyakan keadaan sang bunda.
Kevin yang tak pernah sekalipun berurusan dengan anak kecil, kini ia terpaksa harus menjawab pertanyaan bocah laki-laki ini.
"bunda nya Abhi baik-baik saja, hanya kecapean dan butuh istirahat. Abhi sekarang makan dulu ya dan kalau bisa ajak juga Yasmine." jawab Kevin kaku selaku kanebo kering.
Kevin dan Abhi duduk di teras samping yang telah dialasi karpet plastik.
"Pak Kevin, minum dulu" ucap Azam sambil menyuguhkan secangkir teh hangat ke hadapan Kevin yang kini duduk bersila disamping Abhi dan Yasmine.
"terima kasih" jawab Kevin singkat.
"pak Kevin ini siapanya Arzan? Saya perhatikan sejak tadi selalu disamping Arzan" tanya Dena yang ingin tahu.
Kevin yang tak suka kepentingan pribadinya diusik orang lain hanya menatap saja ke arah Dena. Sejak awal Kevin memang kurang menyukai kakak perempuan Yara ini. Entah lah, hanya nalurinya saja yang tidak menyukai wanita yang terlihat berdandan mewah dengan perhiasan yang terlalu mencolok.
Kevin jadi menilai jika Dena lebih terlihat seperti akan ke pesta di banding sedang berduka.
"Dena....itu suami kamu lagi nunggu di depan" panggil ibu yang sepertinya paham jika pria yang sedang Dena korek informasinya terlihat tidak nyaman.
Kevin mengaguk kecil kearah ibu Yara.
Dena berdecak dan berlalu dari sana.
"Ayo pulang, Raisa mana?" ajak Renaldi kepada istrinya.
Dena melipat kedua tangannya didada.
"aku mau nginap disini dengan Raisa, mas pulang sendiri" tolak Dena.
Renaldi sungguh kesal. Belum hilang kekesalannya tadi siang kini ditambah lagi dengan sikap Dena yang seenaknya saja.
"kamu pulang sana dengan ibu dan adik kamu, aku mau disini dulu sebelum kamu mengabulkan permintaan ku tadi pagi, aku dan Raisa nggak mau pulang" ancam Dena yang membuat Renaldi seperti diinjak-injak harga dirinya oleh wanita yang masih berstatus sebagai istrinya.
Renaldi menarik nafas dalam-dalam. Ia sebenarnya segan jika harus ribut di rumah yang sedang berduka. Tapi sikap Dena kali ini benar-benar keterlaluan. Ia seperti tidak menghargainya lagi sebagai seorang suami dan hal ini sebenarnya sudah berlangsung sejak mereka pacaran dulu.
Dena adalah wanita yang memiliki ego yang tinggi dan tidak mau kalah dalam hal apapun.
" Baik... Jika kamu nggak mau ikut dengan ku pulang, maka jangan harap kamu bisa kembali lagi ke rumah" putus Renaldi akhirnya yang membuat Dena meradang karena ia paham arti dari ucapan suaminya itu.
Bersambung....