"Belum ketemu juga!? Kalian akan mati jika tidak menemukannya!" Bentak Rafanda Airen, mengacaukan acara pertunangannya sendiri.
"Rafa, semua orang---" Kalimat Titania disela.
"Aiyue menghilang. Jadi jangan menggangguku dengan acara konyol ini." Pemuda yang melangkah hendak meninggalkan area ballroom.
"Dia hanya sekretaris! Asisten! Pembantu! Aku calon istri yang setara denganmu!" Teriak Titania, memegang jemari tangan Rafanda, bersamaan dengan beberapa pengawal yang menghalanginya pergi.
"Bukan! Aku yang memberinya nama Aiyue, sedangkan namaku Airen." Rafa tertawa dalam tangisannya mengeluarkan senjata api dari dalam jasnya.
Dor!
*
Bagaimana tentang seorang anak berusia 7 tahun, yang tersenyum dengan sengaja memilih bayi mungil untuk menemani hidupnya. Memberinya nama Giovani Aiyue, serupa dengan namanya Rafanda Airen.
Mengendalikan hidupnya bagaikan boneka, Aiyue adalah boneka kecil dalam kendalinya. Boneka yang pada akhirnya retak meninggalkannya,karena telah memiliki hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Kisah
Ada beberapa hal yang mungkin sulit untuk diterka. Kanker multiple myeloma, itulah yang kini diidap oleh mendiang Aya Himawari.
Gadis yang meninggal dua tahun lalu setelah satu tahun diagnosis pertama. Anemia sebagai gejala yang dialaminya membuat dirinya membutuhkan banyak transfusi darah. Kenyataan yang 8 tahun Aya Himawari sembunyikan terkuak. Dirinya memiliki golongan darah A, berbeda dengan kedua orang tua dan kakaknya yang sama-sama memiliki golongan darah O.
Mendiang Aya Himawari, selama hidupnya menyembunyikan laporan kesehatannya. Terkadang memalsukan golongan darahnya.
Tidak dapat menyalahkan orang yang telah tiada. Gadis itu hanya ingin bahagia dengan keluarga yang telah membesarkannya, karena itu menyembunyikan kemungkinan dirinya bukan anak kandung.
Dari tiga tahun lalu, penyelidikan diam-diam telah dilakukan keluarga mereka, mencari bayi yang memiliki kemungkinan tertukar dengan Aya Himawari. Tapi meskipun bukan anak kandung, perawatan dan kasih sayang tetap diberikan padanya. Hingga Aya Himawari meninggal dua tahun lalu.
Tiga tahun pencarian, tidak ada hasil sama sekali. Semua data bayi yang lahir di hari dan rumah sakit yang sama sudah diperiksa baik-baik.
Tanpa hasil sama sekali, bahkan bayi laki-laki. Tes DNA berkali-kali juga sudah dilakukan. Mencari ke daerah pelosok. Yoshida ingin menemukan adik kandungnya yang tidak mendapatkan kasih sayang dari saat dilahirkan.
Walaupun hanya satu bayi yang memiliki kemungkinan belum diperiksa olehnya. Anak pelayan yang selalu menemani Rafanda Airen. Tidak mudah untuk bertemu secara pribadi dengannya. Rafanda Airen selalu ada bersamanya. Terlalu protektif, apalagi jika sekretaris rangkap pelayannya itu berbicara dengan pria.
Selama 6 bulan ini Yoshida sudah mengamati Aiyue dari jauh. Kecakapan, intelegensi tinggi yang mungkin berasal dari gen keluarganya. Benar-benar berbeda dengan mendiang Aya Himawari. Dirinya memang menyayangi mendiang adiknya itu. Namun, Aya Himawari berapa kali pun diajari oleh guru privat tidak akan dapat melakukan sesuatu dengan benar. Lebih senang menari. Dimana tidak ada satupun anggota keluarga mereka yang memiliki bakat serupa.
Tapi kali ini berbeda walaupun dari jauh, Yoshida dapat tersenyum berkata dalam hatinya."Ini mungkin adik kandungku. Yang hidup sebagai pelayan selama 23 tahun."
Karena itu sejatinya kala pertunangan Rafanda Airen, dirinya ingin mencari celah untuk bicara secara pribadi dengan Aiyue. Namun, pembicaraan yang lebih menarik lagi tidak sengaja terdengar olehnya, saat mengikuti Aiyue.
Pembicaraan antara Aiyue dengan seorang pemuda. Membuat Yoshida mengepalkan tangannya. Adik kandungnya benar-benar ditukar dengan anak seorang pelayan oleh Rafanda Airen.
Menugaskan orang kepercayaannya untuk mengikuti dan menjaga Aiyue. Sedangkan Yoshida sendiri kembali ke area ballroom, tidak ingin membuat dirinya dicurigai.
Satu yang ada di fikirannya kala menatap acara pertunangan Rafanda Airen yang hancur karena Aiyue menghilang."Aku harus berhati-hati pada orang gila ini. Tidak akan menyerahkan adikku padanya."
Dirinya ikut berjongkok seolah-olah ketakutan, kala Rafa mengeluarkan tembakan peringatan. Padahal sejatinya Yoshida mengeluarkan senjata api. Mencari sudut yang tepat untuk membunuh Rafanda Airen tanpa jejak.
Adiknya, harus hidup menderita karena orang ini. Itulah yang ada di fikirannya. Bersiap membidik tanpa disadari siapa pun.
Tapi, seorang pria (Farel) tiba-tiba datang, menghajar putranya sendiri. Meminta maaf, membuat Yoshida mengurungkan niatnya memasukkan kembali senjata apinya.
Ayah dari Rafanda Airen? Orang ini tidak dapat dihadapi olehnya. Karena itu Yoshida memutuskan untuk keluar, berpura-pura ketakutan seperti tamu lainnya.
Lagipula adiknya sudah akan kembali menjadi milik keluarganya bukan? Ibunya yang depresi atas kematian Aya Himawari, akan bangkit seperti semula. Karena putri kandungnya sudah kembali, Aiyue... adalah Aya Himawari yang asli.
*
Angin berhembus malam itu, menatap orang kepercayaannya menaiki mobil yang sama. Siluet bayangan itu terlihat, Aiyue berada di dalam mobil.
Sedangkan dirinya masih berada di dermaga. Menghilangkan semua jejak barang bukti. Bahkan menghitung luka tembakan dari sang sniper. Menggunakan sarung tangan karet bersama satu orang lainnya mencari sisa proyektil dan selongsong peluru yang entah menggelinding kemana di tengah gelapnya malam.
Farel? Dirinya tidak takut pada Rafanda Airen. Tapi lebih mencemaskan ayah pria itu. Seseorang yang akan melakukan apapun untuk keluarganya. Karena itu dirinya harus lebih teliti lagi agar tidak ada jejak yang tersisa.
Hingga handphonenya tiba-tiba berdering. Pemuda yang mengangkatnya dengan cepat."Yoshida, apa sudah kamu temukan? Berhasil bicara dengan Giovani Aiyue? Apa ada kemungkinan dia putri kecil kesayangan ibumu?" Tanya seseorang di seberang sana.
"Tidak, aku menculiknya. Tenang saja, akan aku pastikan tidak akan ada jejak yang tersisa." Ucap Yoshida tersenyum, melekatkan proyektil terakhir ke dalam kantong plastik. Bahkan peluru yang ada dalam luka orang-orang tersebut, diambil secara paksa menggunakan senter dan alat jepit. Tidak mempedulikan rasa sakit atau kemungkinan infeksi dan pendarahan.
Itu salah orang-orang ini yang ingin berusaha merusak wajah adiknya tersayang."Tinggal melakukan tes DNA, maka semuanya akan selesai..." Ucap Yoshida tersenyum dengan darah melumuri tangan dan jasnya.
Membiarkan darah terus mengalir dari luka orang-orang ini.
*
Sementara di tempat lain, Aiyue memilin jemari tangannya sendiri. Sampel darahnya telah diambil, memegang jemari tangan Hidan ketakutan.
"Maaf, jangan menyentuh nona, karena kalian mungkin tidak memiliki hubungan darah." Ucap pemuda yang memperkenalkan dirinya sebagai seseorang yang akan menjadi asisten Aiyue tersebut. Menyodorkan dua botol minuman kaleng.
"A...apa tujuanmu membawa kami? Kami..." Kalimat bentakan Aiyue disela.
Pltak!
"Tata krama menjadi istri yang baik. Tidak boleh mencurigai suaminya." Ucap pemuda itu tersenyum, menyentil dahi Aiyue.
"A...aku tidak mencurigai suamiku! Lagipula aku belum menikah!" Geram wanita itu, mengusap-usap keningnya yang kebas.
Senyuman pada awalnya menyungging di wajahnya kemudian kembali pudar."Aku memang bukan suamimu. Tapi ini salah satu dari rangkaian kelas yang akan dijalani jika hasil tes DNA-nya sesuai. Kelas pengantin, tentu saja setelah lulus kelas etiket, pengetahuan, pergaulan kalangan atas."
"Me... memangnya kenapa adikku harus menghadirinya?" tanya Hidan.
"Begini! Hampir seratus tahun yang lalu terjadi perang. Kakek buyut keluarga kami yang saat itu menjadi jenderal hampir terbunuh oleh musuh. Lalu ada seorang petani miskin yang menyembunyikan dan menyembuhkan lukanya. Mereka berteman, saling berhutang budi, merencanakan perjodohan untuk generasi selanjutnya dengan saling bertukar giok tanda pengenal keluarga." Pemuda itu kembali tersenyum.
"Jadi aku dikirim ke tempat ini oleh tunanganmu. Untuk melatihmu menjadi istri yang baik." Lanjutnya membuat Hidan dan Aiyue saling melirik.
"Jadi kamu bukan pengawal?" Tanya Hidan memastikan.
"Awalnya aku memang guru yang dikirim untuk melatih mendiang Aya Himawari satu tahun lalu. Tapi dia ternyata sudah meninggal dua tahun lalu, gadis itu juga bukan keturunan asli. Selama itu aku mengikuti Yoshida mencari keberadaan adik kandungnya." Sang pemuda meminum soda miliknya dengan tenang.
"Aku akan melatihmu untuk menjadi nyonya keluarga sekaligus istri yang baik." Ucap pemuda itu sedikit menunduk mencium rambut Aiyue, yang berada di selah jarinya.
"Minggir! Aku ketombean!" Ucap gadis itu berbohong dengan cepat. Ini menegangkan sekaligus mengerikan baginya.
masa tamat begitu aja🙄😭😭😭
but
aku puas banget,Rafa ketulah sama omongannya sendiri ya ttg bapaknya
nice ending
beautiful story'
love full buat othorrrrr
aku makin padamu
malah jadi takut kita
aku suka keributan ini
kuaci udah abis Ama othor,CK
bentar lagi farell Dateng
makin serruuuu
tapi kalau mang dr sana nya kau setia
ada 1001 alesan buat kau setia
hidup itu pilihan bukan,sekali lagi?
biasa pada celap celup sama bini orang apa
kok kyk gitu di normalisasi kan