NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA

JEJAK LUKA

Status: tamat
Genre:Obsesi / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Cinta Terlarang / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:66k
Nilai: 5
Nama Author: Sopaatta

Setiap tindakan kekerasan yang dilakukan, baik disengaja atau tidak, akan berakibat pada gangguan atau kerusakan psikis dan atau fisik seseorang.

Karya ini mengisahkan tentang seorang wanita yang dikaruniai wajah cantik, bertubuh indah dan molek. Namun berada pada tempat dan lingkungan yang salah, hingga mengalami pelecehan dan tindak kekerasan demi kekerasan. Semua itu meninggalkan jejak yang melukai dari waktu ke waktu.

'JEJAK LUKA' ini dikisahkan, agar kita bisa berhati-hati dan waspada pada orang yang ada di sekitar kita. Baik saudara atau yang kau anggap teman baik.

Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan selalu bahagia. ❤️ U.

🙏🏻Selamat membaca 💟

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Jejak Luka 17.

...~•Happy Reading•~...

Enni sangat berterima kasih mendengar yang dijelaskan Prita. Dia merasa ada seorang kakak yang bisa jadi tempat minta tolong atau bertanya. Sebab pekerjaan yang akan dilakukan tidak pernah didapatkan di bangku sekolah atau kuliah. Sehingga dia harus belajar dari nol, agar tidak jadi masalah baginya.

Enni menyadari, sekarang dia benar-benar terisolasi dari dunia luar. Tidak ada yang tahu dia berada di tempat itu, kecuali Lusina. Dengan profesinya seperti itu, tidak mungkin dia akan mengatakan apa pun pada keluarganya.

"Iya, Mba. Makasih." Enni berkata sambil melihat jadwal yang diberikan Prita padanya. Semua yang tertulis diperhatikan dengan serius.

"Ngga usah dihapal. Nanti kau akan terbiasa dengan sendirinya, setelah mulai bekerja di sini. Jika nanti ada waktu luang, kau bisa melihat-lihat lagi." Prita berkata demikian, sebab melihat Enni sangat serius mempelajari semua yang tercantum pada lembaran kertas yang diberikan.

"Sekarang tidur dulu. Mungkin besok pagi kita masih bisa ngobrol lagi." Prita mengambil lembaran kertas dari tangan Enni, lalu kembalikan ke dalam laci meja.

"Ooh iya, Win... Kau harus berhati-hati dengan penghuni merak di sini. Mereka kadang bicara baik dan manis, hanya untuk mencari informasi tentang pelanggan yang baru kau layani." Prita menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.

"Sedikit berbicara tentang apa yang terjadi di kamar ini, itu lebih baik dan mengamankanmu." Prita menjelaskan dan mengingatkan lagi. Sebab dia sudah pernah alami, saat pertama kali berada di tempat itu.

"Iya, Mba. Makasih..." Enni mengerti yang dikatakan Prita, lalu berusaha tidur. Matanya mulai berat, sebab pengaruh obat yang diminum.

...~▪︎▪︎▪︎~...

Ke esokan hari ; Seperti yang dikatakan dokter. Enni bisa pulih dengan cepat, sebab dia masih muda dan hanya terkejut dengan apa yang dilihat di ruang nonton.

Setelah minum obat dan vitamin yang diberikan dokter dan makan dengan teratur, tiga hari kemudian Enni sudah pulih seperti sedia kala. Kondisi ini mengakibatkan dia sudah harus bekerja seperti yang lain, yaitu melayani pelanggan yang datang ke tempat itu.

Mami Sinna sendiri yang mempersiapkan Enni, sebab Prita sudah kembali ke tempatnya. Dia harus bekerja, jadi tidak bisa mendampingi Enni lagi. Mami Sinna merasa sudah cukup yang diajarkan Prita kepada Enni untuk bisa bekerja.

"Mami Sin, bolehkah saya tidak dandan seperti lainnya dan tidak berpakaian minim? Saya merasa jengah dan tidak nyaman." Ucap Enni pelan dan ragu, sambil melihat Mami Sinna yang mau mendandani. Dia coba mengutarakan keinginannya seperti yang diajarkan Prita padanya.

Mami Sinna tidak mengiyakan, tapi keluar kamar meninggalkan Enni yang sedang duduk di depan meja rias. Enni merapatkan bathrobe yang sedang dikenakan dengan hati was-was dan bertanya-tanya, melihat respon Mami Sinna.

Tidak lama kemudian, Mami Sinna kembali ke kamarnya sambil membawa pakaian lain untuk dikenakan Enni. Mami Sinna menyetujui permintaan Enni, agar tidak timbul masalah baru sehingga Enni tidak jadi atau tertunda melayani pelanggan.

Setelah Mami Sinna meletakan pakian di atas tempat tidur, Enni didandani seperti yang diminta. "Ingat cara dandan tadi, supaya lain kali, kau dandan sendiri." Mami Sinna berkata sambil melihat Enni lewat cermin di depannya. Merasa dandanan cukup sempurna, Mami Sinna berikan pakaian yang dibawa kepada Enni.

"Baik, Mami Sin." Enni berkata pelan sambil mengambil pakaian yang diberikan padanya, lalu berjalan ke kamar mandi. Mami Sinna hanya melihat dia dari belakang, sebab Enni tidak mengganti pakaian di depannya.

Tidak lama kemudian, Enni keluar dari kamar mandi sambil membetulkan pakaiannya. Mami Sinna jadi tertegun melihat penampilan Enni dalam balutan dress warna hijau pupus yang diberikan. Walau tidak terbuka seperti yang lain, namun terlihat cantik mempesona. Hal itu membuatnya tersenyum puas dalam hati.

"Bawa tas ini untuk menyimpan kunci kamarmu." Mami Sinna memberikan sebuah tas tangan kecil kepada Enni untuk melengkapi penampilan, lalu mengajaknya keluar kamar.

Enni diantar Mami Sinna ke ruang pamer merak untuk bergabung dengan teman-temannya. Kelima wanita yang ada dalam ruangan terkesima melihat perubahan penampilan Enni, apa lagi datang bersama Mami Sinna.

Kelima wanita tersebut hanya bisa melihat Enni dengan tatapan tidak suka dan sinis. Walau merasa tersaingi, mereka tidak bisa lakukan sesuatu yang buruk kepada Enni, sebab mereka sudah di ruang pamer. Apa pun yang dilakukan akan terlihat dari balik kaca.

Enni yang merasakan aura permusuhan, duduk diam sambil mengambil jarak dari kelima wanita itu. "Hei, merapat ke sini. Kau mau menarik perhatian sendiri di situ?" Ucap Meta yang sudah tidak suka kepada Enni, sejak awal.

Dia merasa terancam posisinya sebagai primadona tempat itu. Apa lagi melihat Enni sangat cantik setelah didandani natural dan mengenakan dress yang sangat cocok dengan warna kulit dan postur tubuhnya.

Enni tidak menjawab, tapi berdiri dan berjalan mendekati mereka, agar tidak terjadi masalah di ruangan itu. Dia lebih fokus pada apa yang akan terjadi dan akan dilakukan berikutnya.

Kelima wanita itu tersenyum senang, saat melihat pelanggan pertama yang datang sudah paruh baya. Mereka berharap pria tersebut akan memilih Enni, sebab mereka semua belum pernah melihat dan melayaninya.

Jadi mereka tidak tahu orang tersebut berkantong tebal dan royal dalam memberi tips, atau tidak. Sebab penampilannya biasa saja, seperti bapak-bapak kebanyakan.

Jika pelanggan yang sudah pernah dilayani dan tahu isi kantong, mereka akan berusaha menarik perhatian, agar bisa dipilih.

"Eeehh, itu orangnya sudah memilihmu..." Meta berkata kepada Enni, sambil menunjuk dengan wajahnya ke arah kaca.

Mendengar ucapan Meta, Enni melihat ke arah jendela kaca. Dia melihat seorang pria paruh baya mengangkat kartu bergambar bunga mawar berwarna pink kepadanya.

Sontak Enni melihat ke arah bros warna pink di dadanya. Dia baru menyadari, bros pink yang dipakaikan Mami Sinna di dressnya, bukanlah sebuah asesoris. Tapi itu adalah tanda pengenal mereka untuk dipilih oleh pelanggan yang datang.

"Makasih, Mba." Ucap Enni pelan ke arah Meta, sebab sudah memberitahunya.

'Mungkin ini lupa dikasih tahu Mba Prita.' Enni berkata dalam hati lalu berdiri keluar meninggalkan kelima wanita yang tersenyum senang.

Enni berjalan mendekati pria itu dengan hati yang was-was dan tidak berani melakukan sesuatu yang membuat masalah, sebab Mami Sinna melihatnya dari jauh.

"Maaf, Pak." Enni berkata pelan, saat pria tersebut memberikan kartu bergambar mawar berwarna pink untuknya. Enni merasa telah lakukan kesalahan, sebab membuat pria itu menunggu.

"Ngga pa'pa." Ucap pria tersebut, lalu berjalan bersisian mengikuti Enni.

Setelah berada dalam kamar berdua, mereka terdiam. Enni sangat grogi, sebab tidak tahu mau berkata apa, atau mau melakukan apa kepada pria tersebut yang masih diam dan hanya memandangnya.

Pria itu juga sedang berusaha mengendalikan detak jantungnya, sebab sama groginya dengan Enni. "Siapa namamu?" Tanya pria itu untuk memecah kesunyian diantara mereka.

"E, Winda, Pak." Enni berkata pelan, lalu berusaha tenang dengan duduk di kursi meja rias. Sedangkan pria itu duduk di tepi tempat tidur sambil terus memperhatikan Enni.

...~▪︎▪︎▪︎~...

...~●○¤○●~...

1
zc❖Erti 🇮🇩
nunggu rafa up er ganti baca ini tor
derita anak pertama kalau orang tua tinggal 1 dan tidak perhatian lagi jadi banyak pikiran.
tinggalkan saja kekasihmu nes sekarang sudah selingkuh kedepan pasti selingkuh lagi.
selingkuh seperti penyakit tak ada obat
zc❖Erti 🇮🇩: aamiin
total 2 replies
Endang Sulistia
keren
❥␠⃝ ͭ🍁💃Katrin📙📖📚❣️🇮🇩: 👍🏻❣️Makasih sudah hadir di sini dan dukungannya Kak. Sehat & bahagia selalu 🙏😍🤗
total 1 replies
Endang Sulistia
dah mulai nyesek thor...tapi penasaran
Endang Sulistia
mampir..
nyesek banget ada korban rudapaksa..
Betty
bagus
Yuni Asih
kakaknya bloon,,gregetan sm kakaknya
Gendhis
sampe pangling lohh si lusina sama enni
Gendhis
wkwkwkkwk, junior nyaa udah gak bisa tegak lagi,ehhh,🙈🙈🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
Gendhis: 🤣🤣🤣🤣🤣ahh iyaaa
total 3 replies
Gendhis
sokorinnn,sakit gak tuh di tendang bijinya 🤣🤣🤣🙈🙈🙈🙈
Gendhis
tak pernah sepi pelanggan si eni
Gendhis
curhat nihh pak🙄🙄
Gendhis
pake helm biar gk kena tilang 🙈🙈🙈
Gendhis
yang di lihat apa ya kira2🙈🙈🙈
Gendhis
helehhhh padahal ini kelakuan bojomu
❥␠⃝ ͭ🍁💃Katrin📙📖📚❣️🇮🇩: itsd Kak. 👍 makasih 4 all 🙏😍🤗
total 1 replies
Gendhis
culek aja lahh itu mata
❥␠⃝ ͭ🍁💃Katrin📙📖📚❣️🇮🇩: Makasih dukungannya K♡ ..🙏😍🤗
total 1 replies
Bambut That
dan akhirnya semua salah ayah
Bambut That
nah betul mulut harimau
Bambut That
adeuuuuhhhh, jatuh ke mulut harimau ni kayak nya
Bambut That
hahahhahha, komodo
Bambut That
hahahhaha, ngeri pemainnya kasssaaaar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!