Arsyila Almahira, seorang mahasiswi tingkat pertama yang berprestasi tetapi mengalami kejadian pahit. Tersebarnya video scandal itu membuat dirinya harus pergi jauh dari ibukota. Ayahnya bahkan mengusirnya dari rumah dan tak lagi menganggapnya anak.
Arsyila memutuskan untuk merubah penampilannya menjadi wanita bercadar. Ia berpindah kuliah di universitas Islam dengan jurusan berbeda dari sebelumnya. Ia juga tinggal di pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya. Jujur, kejadian yang menimpanya membuatnya sedikit trauma dan berniat untuk memperbaiki diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.23
Adam sudah sampai di depan rumah sesuai alamat yang diberitahukan oleh papahnya. Beberapa kali ia menarik napasnya sebelum keluar dari mobil. Adam mendekati rumah berlantai dua yang ada di hadapannya lalu ia mengetuk pintu.
Terlihat Bu Fitri membukakan pintu. Adam langsung mengutarakan niatnya untuk bertemu dengan Pak Wira. Bu Fitri mempersilakannya masuk ke rumah.
Tak lama Pak Wira menghampiri Adam setelah Bu Fitri memanggilnya.
"Ada apa mencari saya?" tanya Pak Wira dengan nada suara yang tak bersahabat. Setelah tahu yang datang itu lelaki yang telah menodai anaknya, jelas Pak Wira memperlihatkan kekecewaannya.
"Maaf, Om. Saya datang kesini untuk meminta maaf atas apa yang sudah saya lakukan kepada anak Om. Saat itu saya benar-benar dalam keadaan setengah sadar." Adam menundukkan kepalanya karena takut melihat Pak Wira yang terus menatapnya tajam.
"Selama ini kamu kemana saja? Kenapa tidak langsung datang dan langsung bertanggung jawab kepada anak saya?" tanya Pak Wira.
"Saat itu saya takut. Saya masih belum berani mengatakannya kepada siapa pun. Tapi melihat Cila yang selalu di salahkan dimana pun ia berada membuat rasa bersalah saya semakin besar. Seharusnya disini saya yang pantas mendapatkan cibiran orang." Adam mengungkapkan penyesalannya.
Pak Wira menarik napas kasarnya. "Nikahi anak saya jika memang kamu bersungguh-sungguh!"
Seketika raut wajah Adam berubah senang. "Saya akan menikahinya secepat mungkin, Om. Nanti saya akan bawa orang tua saya untuk melamarnya."
"Tidak sekarang juga, karena Cila sudah kembali ke pesantren," ucap Pak Wira.
"Apa? Kenapa dia tidak bilang ke saya?" Adam terlihat kaget.
"Mungkin saja antara kalian ada kesalah pahaman. Segera selesaikan kesalah pahaman kalian dan bawa orang tua kamu kesini," pinta Pak Wira.
"Baik, Om. Oh iya saya juga mau memberikan ponsel milik Cila yang tertinggal di rumah sakit." Adam mengeluarkan ponsel milik Arsyila dari tas kecil yang ia kenakan.
"Kamu bawa saja sekalian kasihkan ke Cila. Bukankah kamu juga akan kembali ke pesantren?"
"Baik, Om. Sekali lagi terima kasih atas kebijaksanaan hati, Om. Saya berjanji akan menikahi Arsyila. Maaf sepertinya saya tidak bisa berlama-lama disini. Saya permisi dulu, Om. Saya mau kasih kabar ke orang tua saya jika saya akan segera menikahi Cila."
Setelah berpamitan kepada Pak Wira dan Bu Fitri, kini Adam bergegas pergi. Ia sudah sangat bersemangat ingin bercerita kepada orang tuanya.
Adam sudah sampai di rumah sakit. Sesampainya disana, ia melihat ada Gus Ilham dan Ning Aisyah yang sedang menjenguk orang tuanya.
"Assalamu'alaikum," ucap Adam yang baru memasuki ruangan itu.
"Waalaikum'salam," jawab mereka serempak.
"Bagaimana, Dam? Apa orang tua Arsyila memarahimu?" tanya Pak Haris yang sudah tak sabar mendengar cerita anaknya.
Gus Ilham dan Ning Aisyah terlihat penasaran dengan apa yang akan Pak Haris bahas. Namun, mereka tak berani bertanya.
"Awalnya sih papahnya sempat kecewa sama aku, tetapi pada akhirnya mau memaafkanku dan juga memintaku untuk secepatnya menikahi Arsyila," jelas Adam dengan raut wajah yang tak bisa di tutupi lagi. Lebih jelasnya terlihat pancaran kebahagiaan disana.
"Syukurlah, kamu memang sudah seharusnya menikahi dia, Nak. Kasihan dia sudah banyak menderita karena kamu," ucap Pak Haris.
"Nak, mintalah Arsyila datang kesini! Mamah ingin bertemu dengannya," sahut Bu Ratih.
"Dia sudah kembali ke pesantren. Mungkin ada kesalah pahaman yang membuatnya pergi. Kalau menurut Adam sih mungkin saja dia mendengar saat ada yang membicarakannya di ruangan ini," ucap Adam.
"Astaghfirullahaladzim, mamah jadi semakin bersalah sama dia, Nak." Bu Ratih tak bisa menutupi betapa risau hatinya saat ini.
"Ini sebenarnya ada apa ya? Kenapa paman dan bibi membicarakan Arsyila?" tanya Gus Ilham yang sejak tadi diam.
"Jadi, kami ingin Arsyila dan Adam menikah karena kesalahan Adam padanya. Adam yang menodainya, dan membuat nama baiknya buruk dimata orang lain. Sedangkan Adam selama ini hanya diam, tak membantu mengklarifikasi," ujar Bu Ratih.
Tanpa mereka ketahui, Gus Ilhan mengepalkan satu tangannya. Jujur ia kecewa mendengar kenyataan tentang Arsyila. Selama ini hidupnya sudah tak mudah. Ternyata saudaranya sendirilah orang yang sudah membuat hidup Arsyila hancur. Namun, mendengar jika Adam akan bertanggung jawab tentu Gus Ilham merasa lebih lega. Setidaknya Arsyila akan berada di tangan yang tepat. Jika di perhatikan, cinta Adam kepada Arsyila benar-benar tulus.
Ning Aisyah yang baru menundukkan pandangannya melihat tangan suaminya mengepal kuat.
'Kenapa dengan Mas Ilham? Apa dia diam-diam masih memendam rasa kepada Arsyila?' batin Ning Aisyah.
...
...
Sudah dari jauh hari Bu Ratih meminta Adam untuk kembali ke pesantren. Hanya saja Adam menolaknya dengan alasan ingin menjaganya sampai Bu Ratih keluar dari rumah sakit.
Setelah dua minggu di ibukota, kini Adam sudah kembali ke pesantren. Ia sudah tidak sabar untuk menemui Arsyila. Ia akan mengatakan semuanya jika keluarganya sudah merestuinya.
"Akhirnya kamu kembali kesini lagi, Adam," ucap Gus Ilham yang menyambut kedatangan saudaranya itu. Kebetulan Adam datang diantar oleh sopir keluarga.
"Iya, Kak. Aku sudah tidak sabar untuk menemui Arsyila. Ah rasanya sudah sangat rindu kepadanya," ucap Adam sambil senyum-senyum sendiri.
"Kamu belum tahu kalau Arsyila pergi? Maaf, tapi kakak juga tahu terlambat," ucap Gus Ilham.
"Apa maksud kakak? Arsyila pergi kemana?" tanya Adam yang mulai tak tenang. Pantas saja sudah beberapa hari ini ia selalu risau, dan ingin cepat-cepat kembali ke pesantren. Namun, ia terpaksa menundanya karena ingin mendampingi kedua orang tuanya yang baru kecelakaan.
"Jadi, salah satu santri ada yang mendapat kesempatan pertukaran pelajar ke Mesir. Dia Salma temannya Arsyila. Hanya saja Salma tiba-tiba membatalkannya dengan alasan ibunya sedang sakit jadi dia tak bisa pergi jauh. Jadi, sebagai santri nomor dua yang pintar dan memang fasih beberapa bahasa, Arsyila terpilih untuk menggantikan Salma dan ia menyetujuinya," jelas Gus Ilham.
Adam lemas seketika mendengar penjelasan Gus Ilham. Mungkin saja yang membuat Arsyila pergi itu karena kesalah pahaman sebelumnya.
"Kenapa dia meninggalkanku?" gumam Adam dengan lesu, tetapi perkataannya masih terdengar oleh Gus Ilham.
"Jika memang dia jodohmu nanti kalian pasti bisa di persatukan. Untuk sekarang lebih baik perbanyaklah berdoa kepada sang pencipta. Selalu sebut namanya di dalam sepertiga malammu. Dan satu lagi, jika memang kamu siap menunggu dia maka jangan berikan hatimu untuk wanita lain. Kasihan Cila sudah terlalu banyak menderita," ujar Gus Ilham mengingatkan Adam.
"Iya, Kak. Aku akan menunggu Cila sampai dia kembali. Dan jika saat kembali ia sudah memiliki pendamping, maka aku tak bisa memaksanya. Aku ingin melihat dia bahagia sebelum aku mencari kebahagiaanku sendiri. Jika aku mencoba menggeser namanya dari hatiku, maka aku akan sangat merasa bersalah kepadanya. Entah nanti kita berjodoh atau tidak yang pasti aku akan tetap menunggunya sampai saat itu tiba," ucap Adam penuh keyakinan.
Gus Ilham salut dengan pola pikir Adam. Setidaknya Adam bukanlah lelaki seperti dirinya yang hanya memberikan harapan.
hahaha 🤣🤣🤣
kamana wae eta .. 🤣🤣🤣
🤣🤣🤣
saudaranya mungkinn . atau adiknyaa . 🤣🤣🤣🤣🤣
org tua ga tau apa manten baru
pake nannya lagi ga buka pntu lama ngapain . 😝😝😝😝
habs ini apalgi konflik nyaa . 🤣🤣 seruu yaaa.