Kimora seorang gadis penyakitan yang jiwanya terjebak ditubuh seseorang setelah meninggal akibat penyakitnya. Tuhan memberinya kesempatan untuk hidup, tapi Tuhan juga memberinya ujian yang sangat berat.
Kimora harus terjebak dalam tubuh seorang gadis antagonis, ia sangat suka membuli dan itu sangat kebalikannya dari sifat asli Kimora. Tapi entah kenapa dari sifat Rivera yang buruk ini, Kimora merasa banyak sekali rahasia yang Rivera simpan sendirian.
"Jauhi Alastar atau gua bikin hidup lo gak tenang?."
"Lo cuma sampah, gak usah belagu jadi berlian."
"Hidup lo hidup gua."
"Jika takdir tidak membiarkan aku bahagia, kumohon biarkan takdir membuat ku tenang."
"Jika takdir ku dan takdirmu bukan diriku, akan aku pastikan lo dimiliki orang yang tepat."
"jangankan mencintai lo, mencintai diri sendiri aja susah."
"lo gak usah sok drama baik dihadapan aki aki itu bangsat."
"Gua minta maaf ra. Maafin gua."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perubahan sifat yang besar
Alarm berbunyi sangat kencang sedangkan sang empu masih menikmati dunia mimpi yang amat indah dan tak ada niatan sedikitpun untuk bangun dari tidurnya.
"Berisik." Dengan gerakan yang sangat terpaksa akhirnya Rivera mematikan alarmnya yang sedari tadi terus terusan berbunyi.
"Masih ngantuk." Ucapnya sambil mengucek kedua matanya, rambutnya sangat berantakan khas orang bangun tidur.
Ia hendak untuk merebahkan tubuhnya lagi, tapi beberapa detik kemudian ia teringat jika ia terlambat sekolah lagi ia akan kena hukuman. Rivera juga mengingat kembali kejadian saat dilapangan itu. Kini ia mempunyai pikiran untuk harus menjauh dari semua masalah yang akan membuatnya jatuh kembali.
Rivera harus merubah sikap nya, ia harus membuat semua irang berpaling kepadanya, bahkan ia harus membuat semua orang melindunginya tanpa harus mengemis lagi.
"Fine, ayo mandi!." Ucapnya sambil melompat dan berjalan menuju kamar mandi.
Seusai dirinya mandi dan memakai seragam sekolah kali ini ia juga berfikiran mengubah kembali penampilannya, walaupun dilihat lihat penampilannya yang kemarin kemarin sudah terlihat sempurna tapi kali ini ia harus merubahnya kembali.
Hanya perubahan pada rambutnya, Rivera memutuskan hanya merubah tatanan rambutnya. Ia memutuskan untuk mengucir dua pada rambutnya dan tidak terlalu tinggi, ia bahkan memotong rambut depannya agar membentuk poni yang tipis seperti ala ala korea.
"Perfect!." Ucapnya seraya tersenyum sangat lebar, walaupun hanya perubahan kecil tapi perubahan itu membuat pipinya sedikit menggembul.
Setelah dirasa puas memandangi dirinya sendiri, ia segera mengambil tas dan menuju kelantai bawah untuk sarapan.
Sesampainya di lantai satu ia langsung merubah ekspresinya dari datar menjadi tersenyum sangat lebar. Ia menghampiri meja makan yang dimana semuanya sudah berada di meja makan tersebut.
"GOOD MORNING EVERYONE!." Ucapnya sambil menghampiri Auretta dengan riang dan mencium pipi sang mamahnya itu.
"Morning mom." Ucap Rivera saat mencium pipi kanan Auretta.
Auretta yang menerima perlakuan barusan sempat membeku terkejut, tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Tapi dengan cepat ia menutupi keterkejutannya, ia langsung mencium balik pipi Rivera dan menepuk pelan kepala Rivera.
"Pagi juga sayang."
Mendengar perkataan dari Auretta, Rivera tersenyum lega. Kini ia tidak ingin langsung duduk, ia melupakan satu hal. Tanpa sepatah kata pun, Rivera langsung menghampiri Diandra dan mencium pipi papahnya itu.
"Morning pah." Ucapnya sambil kembali duduk tanpa menunggu jawaban dari Andara.
Perilaku dari Rivera membuat semua orang menghentikan kegiatannya masing masing, bahkan pembantu yang melihatnya juga ikutan terkejut untuk kesekian kalinya.
Diandra hanya diam tak bergeming sedikit pun, ia berusaha mencerna apa yang terjadi. Ia bahkan tak menjawab sapaan dari Rivera, Sebenarnya ada sedikit rasa bahagia dan lega saat melihat anaknya berubah, sangat berubah dari sebelumnya. Ia juga merindukan sifat seperti ini dari anaknya itu.
"Kalian kenapa diam aja?." Ucap Rivera cemberut melihat semua orang hanya diam bahkan seperti robot yang kehabisan baterai tak bergerak hanya diam saja.
"Ekheem." "Udah udah, lanjutin makan nya. Nanti kalian terlambat kalau kelamaan sarapannya." Ucap Auretta untuk memecahkan keheningan, akhirnya semua orang kembali melakukan aktivasi masing masing.
Rivera pun sarapan tanpa mengeluarkan kata kata lagi, ia sesekali melirik kearah Evelyn. Sungguh Rivera masih sangat dendam dengan Evelyn karena dia Rivera jadi difitnah habis habisan.
"Mahh, Evelyn kemarin saat ulangan harian dapat nilai 100 mah."
"Matematika lohh, sulit banget. Temen temen Evelyn semua cuma dapet 95 kebawah." Ucap Evelyn tiba tiba memecah keheningan.
"Wahhh, anak mamah hebat. Selamat sayang." Ucapan selamat daro Auretta untuk Evelyn sambil mencium kening Evelyn dan menepuk pundaknya.
"Wihh Adek gua pinter banget buset. Lo mau apa? Gua beliin." Ucap River sambil menepuk nepuk dadanya.
"Evelyn mauu bonekaaaa."
"Syiaap tuan putri, bakal akang beliin beserta toko tokonya!."
Kata kata yang berusaha diucapkan oleh River membuat semua orang kecuali Rivera tertawa, sungguh ini adalah keadaan yang amat canggung bagi Rivera. Entah kenapa Rivera merasa ada yang aneh dari perucapan Evelyn.
"Papah gak mau ngucapin selamat?." Tanya Evelyn sambil memasang muka imutnya.
"Selamat sayang, pertahankan terus nilai mu, jika dapat peringkat lagi papah akan beliin apapun yang kamu mau. Semangat dan pertahankan, jangan sampai seperti saudara mu." Tutur Diandra dan diangguki antusias oleh Evelyn.
Tapi untuk beberapa saat Rivera merasa diakhir kalimat Diandra seperti ada sedikit penekanan dengan tujuan menyindir bahkan papahnya itu sedikit melirik kearah Rivera yang membuatnya mengerutkan keningnya.
'Lah bjir, emang Rivera sebodoh itu kah?.'
'Baru juga adem ayem, udah main sindir sindiran aja.' Batin Rivera sambil terus memakan makanannya.
"Evelyn, berangkat bareng sama abang yaa cantik!!" Ajak River sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Geliiiii." Evelyn cekikikan melihat tingkah laku River sambil mengangguk anggukkan kepalanya tanda setuju terhadap ajakan River.
Rivera yang melihat tersebut hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya, ia sedari tadi merasa bahwa keberadaannya seakan tidak dianggap disini. Untuk sepersekian detik Rivera menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya dari lamunannya. 'Sadar Rivera, sadar.'
"Rivera juga mauuu River!."
"Vera mau berangkat bareng ama River!." Ucap Rivera sambil mengusap mulutnya menggunakan tisu.
"Ngga." Tolak River dengan cepat.
"Kok gitu sih sama kembarannya, ayolaaaah. Hmmm?." Mohon Rivera sambil menempelkan kedua telapak tangannya seperti sedang memohon.
"Gua kira lo berubah ra." Ucap River sambil menggelengkan kepalanya, River beranggapan bahwa kembarannya itu kembali ke sifatnya, si Rivera yang caper.
"Apasih berubah berubah."
"Kalau gak mau yaudah!."
"Banyak bacot.!" Ucap Rivera ketus sambil mengerutkan keningnya dan menatap River dengan sinis.
Rivera tak sengaja melihat Areksa beranjak dari duduknya dan mengambil mobil untuk segera berangkat sekolah. Ia langsung menghampiri Areksa dan bergelayutan ditangan Areksa.
"Abang kan bangkunya kosong, bisalah Rivera ikut abang. Ya ya yaaa." Mohonnya sambil menatap Areksa penuh semangat dengan pupil yang lebar seperti anak kucing.
"Najis, lo kembali caper kayak dulu ra." Sindir River melihat tingkah Rivera.
"Apasih, kamu tuh gak diajak!."
"Lagian dia abang ku kan? Abang kandung lagi, apa salahnya aku berangkat denganya? Sewot amat dugong!!." Ucap Rivera sambil menggoyang goyangkan dagunya.
Entah pikiran dari mana, Rivera melangkah menghampiri kembarannya itu. Kini mereka sangat dekat, Rivera menatapnya tajam sambil menyipitkan matanya.
"Masih bau kencur gak usah belagu!." Ucapnya sambil membuang muka dan berbalik dengan cepat hingga membuat kedua kuncir rambutnya mengenai muka River.
"Abang mau kaan????." Tanya Rivera lagi kepada Areksa yang sedari tadi tetap diam.
Sedangkan Areksa mendengar pertanyaan dari Rivera ia hanya menganggukkan kepalanya pelan. Melihat anggukannya Rivera langsung berjingkrak senang.
"Yeayy, abang yang terbaik dehh!." Rivera Refleks memeluk Areksa kemudian menarik tangan Areksa agar segera pergi berangkat sekolah.
"Papay mamah, papay papah, papay Evelyn, dan papay Dugong." Ucap Rivera sambil melambaikan tangan dan tetap menarik Areksa.
'Aneh..tapi lucu.' Batin River.
nanti up 2 bab sekaligus ye thor
maaf tu hnya pendapatku sja, aku gemes klo peran utamanya kurng maximal, klo bisa rivera mndri aja kluar dr rmh & bls dendam dgn cara yg cantik gtu
anak pungut dipuji2,anak kandung berasa anak pungut...
kalau q digituin,tinggal pergi trus hapus nama marga keluarga.
anggap aja mereka mati
up lagi yaaaa
Aku tunggu lanjutannya