Faras, seorang aktor terkenal, mendapati kabar jika dirinya adalah seorang pria penyuka sesama jenis.
Ingin menampik berita bohong tersebut dan untuk menjaga image sebagai aktor, Faras pun memaksa ART nya yang bernama Talita untuk mau menjadi pacar.
Akankah sandiwara Faras dan Talita akan berjalan mulus? Ataukah akan terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tria Sulistia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Terjebak Api (Revisi)
"Far, nanti kita makan siang bareng ya? Aku ada rekomendasi restoran Jepang yang enak banget," Natali menampilkan sorot mata penuh harap pada Faras.
Dia ingin lebih intens memiliki waktu berdua bersama aktor yang kini sedang naik daun itu. Dan rupanya, Faras mengangguk, membuat Natali bersorak dalam hati.
"Eh, tapi cuma kita berdua aja kan?" Natali bertanya untuk memastikan.
"Iya, memang kenapa?"
Natali tersenyum sambil melirik ke arah Talita yang sedang berjalan menjauh. "Enggak apa-apa. Kalau boleh tahu, kamu sama Talita bukannya pacaran ya? Tapi kok dia seperti nggak cemburu kamu dekat sama aku?"
"Nggak cemburu?" Faras bergumam sendiri dengan pandangan menerawang.
Apa yang dikatakan Natali benar adanya. Talita seperti tidak ada rasa cemburu melihat dia dekat dengan Natali. Akan tetapi hal tersebut seharusnya wajar. Mengingat hubungan Faras dengan Talita sejatinya hanya kekasih kontrak belaka.
Faras mengangkat bahu. Seolah tidak peduli. "Sudah deh. Nggak perlu dipikirkan, Natali. Talita memang gitu orangnya. Nggak gampang cemburuan."
Kedua alis Natali terangkat. Rasa penasaran semakin menggerogoti dirinya. Dia yakin Faras sedang menyembunyikan sesuatu darinya dan dari semua orang.
"Kamu nggak lagi menyembunyikan sesuatu kan, Far?"
Faras menggelengkan kepala cepat. "Enggak. Memang aku menyembunyikan apa? Sudah ya. Aku syuting dulu. Kamu tunggu di sini. Nanti kalau sudah selesai, kita makan siang."
Faras berjalan menjauh dari Natali. Dia bergabung bersama Devon untuk membahas pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.
Proses syuting pun dimulai. Beberapa pemeran figuran melakukan aktingnya sebagai pemain sirkus. Sebagian menari dan sebagian memperlihatkan pertunjukan melompat di atas tali.
Kemudian Faras muncul dengan memakai kostum baju jubah serba hitam lengkap dengan topi tinggi dan juga tongkat ala penyihir. Dia menarik tangan Talita dari tempat duduk penonton untuk memintanya sebagai relawan.
Tepat saat itu, salah seorang melakukan atraksi menyemburkan api ke langit. Semburan api membumbung tinggi membuat semua orang menjerit ketakutan.
Terlebih ketika semburan api mengenai tenda dan dalam sekejap melahap tenda dengan cepat. Semua orang menjerit dan berlari menghambur ke luar tenda.
Sayangnya, Talita yang panik dan juga terkepung oleh api tak tahu harus keluar ke arah mana. Dia hanya bisa berteriak, berharap ada seseorang yang bisa menolongnya.
"Tolong aku! Siapapun tolong!"
Talita berseru di tengah kobaran api yang kini tengah menyala-nyala. Tak lama, muncul Faras datang dari tengah-tengah kobaran api dan segera menyambar tangan Talita.
Devon yang melihat kejadian itu segera berdiri dari kursinya, berteriak memanggil kru lain untuk memadamkan api. Dalam hati, dia mengutuk dirinya sendiri karena kurang memperhatikan kemungkinan kecelakaan yang bisa saja terjadi.
Seketika lokasi syuting berubah menjadi ricuh. Beberapa kru wanita memilih untuk lari menghindar dari tenda yang terbakar. Mereka belum pernah melihat api sebesar itu dengan asap hitam membumbung tinggi ke langit.
"Cepat telepon pemadam kebakaran dan ambulance! Faras dan Talita masih terjebak di tengah api," Devon berteriak seraya membantu kru lain mengangkut air.
Mendengar teriakan Devon, Natali sangat cemas. Ingin rasanya dia maju untuk menyelamatkan Faras. Namun, Devon segera menahan tangan Natali.
"Kamu mau kemana? Bahaya!"
"Tapi Faras," Natali menoleh ke arah kobaran api dengan raut wajah khawatir. Dia sangat takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan menimpa Faras.
"Kita bakal selamatkan Faras dan Talita. Mending sekarang kamu telepon petugas kebakaran dan juga ambulance!"
Natali menganggukkan kepala masih dengan wajah yang panik. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi petugas kebarakan sesuai perintah dari Devon.
"Aduh, Mas Faras, Talita. Kasihan banget kalian kejebak api," teriak Priya yang berada tak jauh dari Natali. Laki-laki gemulai itu juga tampak cemas dengan gayanya yang seperti perempuan. "Kalau kejebak api asmara sih nggak apa-apa. Aku malah ikut seneng."
Dengan cepat, Natali melirik kesal pada Priya. Entah apa maksud perkataan Priya, yang jelas dia merasa tidak suka nama Talita disebut-sebut.
Natali mendengus kesal. Baru saja dia ingin berbicara pada Priya tapi saat itu juga sambungan telepon langsung terhubung ke petugas pemadam kebakaran.
"Hallo, kantor pemadam kebakaran disini. Apa yang bisa kami bantu?"
Natali tak memiliki pilihan selain menjawab telepon dari petugas agar Faras segera dapat diselamatkan. Meski pikirannya sedang bercabang, Natali tetap bisa memberikan informasi kepada petugas yang akan tiba dalam beberapa menit.
Setelah telepon dimatikan, Natali sudah tidak melihat lagi Priya. Entah kemana perginya laki-laki gemulai itu. Tapi sekarang, pikiran Natali sedang terusik.
Sebenarnya hubungan Talita sama Faras apa? Mereka mengaku pacaran tapi gelagat nggak seperti orang pacaran? Lalu alasan Faras mendekati aku apa? Berbagai pertanyaan itu memenuhi benak Natali yang berdiri dengan gundah menanti suara sirine mobil pemadam.
"Aku harus tanya ke Faras secara langsung." gumam Natali menggenggam kuat ponsel di tangannya.
Sementara itu, di sisi lain. Faras mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mereka berdua terjebak kobaran api. Semua jalan sudah dimakan oleh sang jago merah.
Asap hitam tebal menyulitkan pandangan mata mereka dan membuat pernafasan mereka sesak.
"Mas Faras, bagaimana ini? Uhuk," Talita terbatuk sambil mengibaskan tangan di depan hidung. Bola matanya pun terasa perih akibat asap yang menyelimuti mereka.
Krak. Terdengar balok kayu yang patah.
"Awas, Ta!"
Untung saja Faras segera menarik tangan Talita yang hampir sama tertimpa balok kayu yang terbakar.
"Apinya makin besar, Mas."
"Ayo lewat sini!" Faras menggandeng tangan Talita ke sisi lain dimana lidah api tidak terlalu tinggi dan mereka masih bisa dapat melompat. "Ta, kita lompat ke sana. Kamu dulu yang maju."
Faras mendorong punggung Talita yang terpancar wajah ragu. "Tapi, Mas. Aku takut."
"Jangan takut! Lompat saja. Ayo, Ta. Sebelum apinya semakin besar."
Beberapa detik Talita terdiam mengumpulkan semua keberanian untuk melompati api di depannya. Benar apa yang dikatakan Faras, jika dia tak melompat sekarang api akan semakin besar dan kemungkinan mereka selamat sangat kecil.
Talita berlari dan berhasil melompat. Kini giliran Faras yang melompat melewati lidah api, tapi detik itu juga sebuah balok kayu berguling dari atas.
Dengan cepat Faras berjingkit ke samping untuk menghindar, tapi ujung balok itu masih tetap mengenai bahu Faras sehingga api membakar sebagian bajunya.
Faras berteriak menjerit kesakitan merasakan kulitnya terbakar. Rasa sakit itu membuat Faras tak mampu untuk berdiri tegap.
Tubuh Faras tumbang, banyak asap yang terhirup olehnya. Menjadikan kepala Faras pusing. Lalu dia mendengar Talita menjerit penuh kengerian dan melompat kembali ke tempat semula.
Dipandangnya, wajah Talita yang panik. Meski penglihatan mata Faras sudah mulai kabur tapi masih bisa melihat dengan jelas Talita yang menangis di depan wajahnya.
"Mas Faras, bangun, Mas!"