Edgardo Rafel Torres siswa tingkat akhir Senior High School, terpaksa menikahi Emilia Anette Putri. Wanita yang berprofesi sebagai guru di sekolahnya. Padahal dia sangat membenci guru tersebut, karena memiliki nama yang mirip dengan mantan kekasihnya.
Semua terjadi atas kesalahpahaman. Dari kesalahan yang tidak pernah dia lakukan. Dituduh menghamili Emilia, bahkan berencana melenyapkan Emilia dan bayinya oleh penduduk setempat.
Hingga suatu hari kehidupan keduanya berubah karena interaksi yang tercipta setiap harinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Kenyataan
Edgardo baru saja keluar dari ruang kerja ayahnya, terkait kegiatan akhir pekan nanti. Ia menolak keinginan Tuan Torres turut serta bermain golf bersama Tuan Marquez, tentu saja Cecilia akan hadir.
Hal ini mudah ditebak, bahwa kedua keluarga akan menjodohkannya dengan Nona Muda Marquez.
Keinginan keras ayahnya tidak bisa ditolak begitu saja. Khawatir Ed terjerumus pada pergaulan yang salah, menyebabkan dirinya sembarangan memilih calon istri.
Ed memutuskan kembali ke penthouse, ia pun mencari keberadaan Emilia di taman, mengamati dari teras belakang.
Kedua matanya melebar manakala melihat seseorang tercebur ke kolam berenang. Secepat kilat berlari, tanpa pikir panjang segera menolong wanita itu.
Dia semakin terkejut sebab istri dewasanya tak sadarkan diri. “Emilia bangun. Emilia!” menepuk pipi kanan dan kiri sang istri.
Ed melakukan pertolongan pertama, garis kecemasan pun tampak nyata pada wajahnya. Ia tidak peduli menjadi bahan tontonan tamu yang hadir.
Usaha Edgardo tidak sia-sia, pasalnya Emilia segera membuka mata, senyum tipis terukir pada bibir merah muda istrinya.
“Baju kamu basah.” Ucap Ed membawa Emilia memasuki mansion, membuka salah satu kamar tamu. “Tunggu di sini.”
Sembari menunggu suaminya kembali, Emilia melepas gaun panjangnya, menggunakan jubah handuk yang tergantung di kamar mandi.
Tak lama Edgardo masuk, menyerahkan satu set pakaian wanita. “Pakai! Jangan sampai kamu masuk angin.”
“Tapi baju kamu juga basah. Kenapa kamu tidak menggantinya?” sentak Emilia tidak habis pikir pada pemikiran suami kecilnya ini.
“Kamu pikir aku tega membuatmu menunggu lama dan kedinginan di sini? Kamu tenang saja, aku itu kuat.” Ed menarik tali jubah handuk Emilia, hingga tampak sesuatu dari dalamnya yang menggoda naluri sebagai lelaki.
“Bukan masalah aku melihatnya. Kita suami istri.” Ujar Ed sangat santai.
Tidak bisa menghindar lagi, terpaksa Emilia memakai bajunya tepat dihadapan Edgardo. Jangan ditanya lagi bagaimana tegangnya seorang Emilia.
Tangannya pun mendadak tremor, begitu sulit mengaitkan penyangga untuk kedua asetnya. Hingga jemari hangat menyapa sepanjang kulit punggung, membantunya memasang pakaian.
“Terima kasih Ed.” Sentuhan tangan suami kecilnya berhasil membuat semburat merah menghiasi pipi Emilia.
Apalagi tanpa canggung remaja itu melepas seluruh pakaiannya, menyisakan satu bagian saja menutupi area pribadi. Ed menyambar bathrobe yang tergeletak di atas lantai kemudian keluar kamar tamu.
“Ada apa denganku?” tanya Emilia. Tubuhnya tidak lagi kedinginan melainkan gerah, bulir keringat pun bermunculan pada kening.
Baru 10 menit bernapas lega, dan menetralkan detak jantung. Kini adrenalin Emilia kembali terpacu, karena Edgardo meraih pinggangnya, berjalan keluar menuju area parkir mobil.
“Kita pulang.” Ed membuka pintu mobil.
“Iya.”
Dalam diam Emilia mengamati sosok pria dengan pahatan sempurna di sisinya. Wajah serius Edgardo tampak lebih dewasa berkali-kali lipat.
Tidak terasa kendaraan roda empat ini tiba di area basemen apartemen. Samar-samar Emilia mendengar kalau suaminya menyusut lendir yang keluar dari hidung.
“Kamu flu? Harus minum obat, aku bikin teh herbal ya.” tawar Emilia.
“Tidak perlu teh. Obatnya hanya kamu, aku mau kamu yang merawatku, ayo ke kamar!” Tawa Ed menggema dalam lift.
Baru saja kedua pasang kaki memasuki unit apartemen. Dering ponsel Ed memecah suasana hangat yang tercipta.
Panggilan telepon dari seseorang yang tidak disukai Emilia.
“Sebentar, kamu tunggu aku di kamar.” Titah Ed, lalu menerima telepon itu.
Seketika Ed mengakhiri panggilan suara, menyampaikan pesan cukup menyayat hati seorang Emilia. “Jangan ke mana-mana, aku pulang pagi. Camilia membutuhkanku.”
Kurang dari satu menit suami kecilnya sudah menghilang di balik lift. Emilia sejenak terdiam mencerna kata-kata Edgardo.
“Membutuhkanku? Memangnya kenapa dia? Apa Camilia sakit?” Emilia bertanya-tanya kemudian masuk ke kamar tamu, berusaha mencari tahu jati diri mantan kekasih Edgardo.
Emilia membongkar rak, laci, lemari dan tumpukan buku. Ia menemukan sesuatu, kertas kecil yang tidak asing bagi penglihatannya.
“Ini?” Emilia menggelengkan kepala, tidak percaya pada kertas yang dipegangnya serta pikiran negatif mengenai suami kecilnya.
“Tapi ini ... dua tahun yang lalu?” membaca tanggal yang tercetak pada foto.
“Usia Edgardo saat itu 16 tahun, mana mungkin dia … berbuat …. tidak, aku tidak boleh menilai buruk sebelum mendengar penjelasan darinya.” Tegas Emilia, menyimpan foto tersebut ke dalam tas. Kemudian naik ke lantai dua, mengistirahatkan tubuh di kamar utama.
Satu pesan singkat pun diterima, Edgardo tidak melupakan Emilia yang sendirian di dalam penthouse.
“Tidur yang nyenyak, hubungi aku kalau kamu merasakan sakit atau merindukan suamimu.”
“Ck dia ini terkadang dewasa tapi lebih sering kekanakan.” Cibir Emilia, ibu jarinya gatal ingin bertanya perihal Camilia.
**
Rumah sakit
Edgardo menyandarkan kepala pada dinding putih, ia menanti dokter menyelesaikan pemeriksaan.
Dirinya benar-benar khawatir mendapati kondisi mantan kekasihnya begitu lemah, meringkuk di atas karpet. Hidung Camilia mimisan, demam dan memar pada tubuhnya.
“Ed? Bisa ke sini sebentar, kita bicara di tempat yang aman. Biarkan dia istirahat.” Tukas dokter, yang juga sepupu jauh Edgardo.
“Ada apa? Dia sakit apa? Apa berbahaya?” tanyanya menggebu.
“Ya, dia kekasihmu kan? Aku harap kamu bisa membantunya menghindari stres. Itu sangat penting. Setidaknya bisa membuat hidupnya bertahan lebih lama.” Ucap dokter. Menyerahkan hasil pemeriksaan kepada Edgardo.
Fokus Ed membaca satu persatu hasil laboratorium serta riwayat medis Camilia. Beberapa istilah kesehatan pun mudah dipahami.
“Sejak kapan?” suara Edgardo berubah gemetar, tidak bisa menerima kenyataan mengenai semua yang terjadi.
“Aku mendapat laporan dari rumah sakit di Sevilla. Pertama, dia memeriksakan diri dua tahun yang lalu. Satu hal lagi, mungkin ini sangat menyakitkan bagimu. Tapi kamu harus mengetahuinya.” Dokter memberikan satu berkas lengkap.
Netra Ed menyipit ketika melihatnya, jelas sekali itu bukan miliknya. Lagi pula dia berkenalan dengan Camilia setelah kejadian buruk menimpa sang mantan.
Edgardo lah yang mengeluarkan Camilia dari dunia malam, sejak saat itu tidak pernah ada keluhan atau apapun terkait penyakitnya.
“Apa yang bisa aku lakukan?” Edgardo tidak bisa lagi menutupi kesedihan. Dia berpikir bahwa perginya Camilia, mungkin diakibatkan oleh penyakit yang dideritanya.
“Berikan dia semangat, saat ini sangat membutuhkan orang terdekat. Kau tau, ibunya pun tidak bisa dihubungi.” Dokter sekaligus kakak sepupu Ed menjelaskan panjang lebar keadaan Camilia.
Perasaannya yang kacau balau, membawa langkah kaki memasuki ruang perawatan.
Ditatap wajah pucat Camilia, dahulu wanita ini begitu manis dan menggemaskan sampai kejadian beberapa bulan lalu memisahkan keduanya.
“Kenapa kamu tidak bilang? Kenapa menyembunyikan sendirian? Kamu masih menganggap ku anak kecil?” gumam Ed, lalu menghapus air mata yang jatuh tanpa izin.
“Ed? Kamu di sini? Terima kasih.” Camilia siuman.
“Ya. Aku akan menemani kamu. Bila perlu sampai kamu sembuh.” Ucap Ed terdengar menyenangkan tapi tidak sesuai kenyataan.
“Yang benar saja, aku bukan anak kecil mudah dibohongi. Aku tidak akan sembuh, boleh kah aku merasakan kebahagiaan bersama kamu?” Camilia merintih kesakitan. Cairan merah keluar dari hidungnya.
TBC
dasar teloooo donat
tapi kali gak akan bisa em
salam dari aku yg galau
☺️☺️☺️
ta kemarin libut
up lagi
kelamaan nunggu pada tidur
si ed bocah malah merusak hidup
rasakan itu kau