Memiliki suami tampan, kaya dan mapan, serta hidupnya diratukan, adalah impian semua perempuan. Seperti Elena yang tiba-tiba berubah menjadi Elea, istri dari Anres Alvaro Tanujaya, serta ibu dari si cantik Arabella. Hidup Elena pun berubah bak seorang ratu dari negeri dongeng.
Tapi, bagaimana jika semua itu hanya pinjaman. Bagaimana jika satu saat pemilik sahnya datang, dan meminta kembali semua yang sudah dipinjamkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Apa kau sengaja memberikan kacang macadamia di masakan mami, Elea?" Anres jelas mulai curiga. Apalagi saat Elena hanya diam saja.
"Apa kau sedang menuduhku sengaja mencelakakan nyonya Damita, Anres?"
"Jelas-jelas mami meminta kamu yang membuatkan sarapan untuknya," jawab Anres.
"Iya. Tapi, aku tidak tau bagaimana memasak foie gras itu dengan benar, jadi barusan aku hanya memanggang rotinya saja, dan bibi Sora yang menyiapkan foie gras berikut saosnya," sahut Elena. Ia tak peduli apakah Elea yang asli pandai memasak foie gras atau tidak, dan jika jawabannya kali ini bertentangan dengan hal itu, Elena pasti akan kembali dicurigai. Wanita itu sudah tidak peduli lagi dengan hal tersebut, yang penting baginya ia tak lagi dituduh telah sengaja mencelakakan nyonya Damita.
"Panggil bibi Sora!" titah Anres tak perlu berpikir lagi.
Bibi Sora datang tergopoh setelah dipanggil oleh Indah. "Saya, Tuan Anres." Ia berdiri menunduk dengan wajah pucat di hadapan Anres.
Sementara Elena memberi isyarat pada Indah untuk membawa Arabela ke kamar. Karena anak itu sangat tidak pantas untuk mendengar semua keributan tentang hal ini.
"Apa benar, Bibi yang membuatkan foie gras untuk Mami?"
"Benar, Tuan," sahut bibi Sora dengan suara sedikit bergetar.
"Bukan nyonya Elea?"
"Bukan. Nyonya hanya menyiapkan roti panggangnya saja."
Anres memgangguk ternyata keterangan bibi Sora dan Elea sangat valid.
"Kenapa bisa ada kacang macadamia di saos foie grasnya, Bibi Sora sudah tahu kalau mami alergi kacang itu."
"Saya tau, Tuan. Tapi, saya tidak tau, kenapa bisa ada kacang macadamianya. Karena saya sudah lama tidak membuat saos dari kacang-kacangan, sejak nyonya Damita pingsan satu tahun yang lalu karena makan kacang itu," kata bibi Sora.
Memang benar ada insiden Damita sampai pingsan karena syok anafilaktif yang dialaminya akibat alergi kacang macadamia. Kejadian itu sekitar satu tahun yang lalu, saat ulang tahun Elea, yang dirayakan di rumah. Wanita cantik istri Anres tersebut memesan semua hidangan dari hotel Tanujaya. Dan entah karena ada faktor kesengajaan, atau kelalaian dari pihak hotel, atau dari petugas dapur rumah Tanujaya sendiri, hingga makanan yang menjadi pantangan istri muda mendiang Tanujaya itu ada di tengah-tengah acara dan dikonsumsi oleh Damita.
Malangnya lagi, saat peristiwa itu, Damita sedang sendiri, ia menyisih dari tamu yang lain, sehingga tak segera ada yang tahu kalau wanita itu kejang dan sesak napas akut.
Anres sendiri sempat marah besar atas insiden tersebut. Dan segera membubarkan pesta yang baru berjalan separuh.
Elea yang tidak terima dengan keputusan suaminya, mengajukan protes keras hingga menjadi sebuah pertengkaran hebat, dan berujung Elea pergi dari rumah hampir satu bulan lamanya.
Sejak itulah, Anres melarang ada masakan dari kacang-kacangan di rumahnya.
Dan tentang cerita ini, apakah Elena tahu? Tentu saja tidak.
"Bukan saosnya yang mengandung kacang, tapi ada yang sengaja menaburi bubuk kacang macadamia di saos foie gras." Itu ucapan dokter Hangga, ia mengambil kesimpulan tersebut setelah mengamati makanan sisa Damita, saat Anres sedang menginterogasi bibi Sora dan Elea.
"Ini masih ada taburan kacang yang tidak basah oleh saos," lanjut dokter Hangga seraya telunjuk jarinya mengambil satu potongan kecil kacang macadamia yang tak tertumbuk halus. Teksturnya masih kering. Hal tersebut membuat Anres semakin naik pitam.
"Jadi, siapa yang sengaja melakukan semua itu?" Ia bertanya dengan ekspresi wajah yang pekat menahan amarah.
"Jika tidak ada yang mau mengaku, maka bibi Sora aku pecat."
"Tuan Anres." Bibi Sora semakin pucat dan kedua lututnya seakan bergetar, wanita 50 tahunan itu mundur dua langkah dengan keringat dingin yang sudah membasahi wajah.
"Tuan Anres, sepertinya sudah jelas, kalau ada orang lain yang melakukan ini, bukan bibi Sora." Dokter Hangga tampil membela chef pribadi keluarga Tanujaya tersebut.
"Tetap saja bibi Sora lalai. Kenapa sampai tidak tahu kalau ada taburan kacang macadamia di saos foie gras itu," jawab Anres. Sepertinya keputusannya sudah bulat dan tidak bisa dibantah. Padahal, Sora memang hanya memasaknya saja, dan ada petugas lain yang menghidangkan makanan itu di meja. Jadi Sora tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan makanan yang telah dibuatnya, setelah berpindah tangan pada asiaten lain.
"Jadi, belum ada yang mau mengaku?" Suaranya terdengar menggelegar. Mendadak ruangan tersebut menjadi dingin, tak seorang pun yang ada di sana berani mendongakkan kepala. Padahal Anres dalam posisi tak dapat melihat semuanya. Lelaki itu benar-benar mempunyai kharisma kuat, yang membuatnya sangat disegani.
"Bibi Sora kemasi barang-barangmu, dan angkat kaki dari rumah ini sekarang juga!" Perintah Anres dengan tegas.
Bibi Sora menutup mulutnya dengan punggung tangan, karena tangis wanita itu sudah pecah. Ia pun sudah tak berniat untuk membela diri, karena tahu bagaimana seorang Anres Alvaro bila sudah memberikan perintah. Keputusan Anres tidak akan pernah berubah.
Bibi Sora pun segera mundur dan meninggalkan ruangan itu dengan tangis yang ditahan dalam rongga dada.
Hening.
Keheningan sesaat, dipecahkan oleh suara Damita. Wanita itu rupanya sudah sadar, dan terlihat napasnya juga sudah kembali normal.
"Anres, aku sungguh tidak nyaman dengan situasi ini."
"Aku minta maaf, Mami." Anres maju dua langkah, ia seperti hendak mendekati sang mami, namun langkahnya terhenti begitu saja.
"Aku pulang saja, rumah ini sudah tak senyaman dulu lagi." Wanita itu segera beringsut dan melangkah keluar ruangan tanpa ada siapa pun yang berani mencegah.
Sepeninggal Damita, dokter Hangga juga pamit untuk kembali ke rumah sakit.
🥀🥀🥀
Damita melangkah ke mobil miliknya yang terparkir apik di antara deretan koleksi mobil mewah milik Anres. Wanita itu sesekali memijit keningnya yang masih terasa pusing. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang sedang memainkan ponselnya di taman, dekat gerbang depan.
Damita menghampiri dengan mempercepat langkah. "Bodoh." Wanita itu mendamprat begitu mereka sudah berada dalam jarak dekat. "Aku tidak memberimu uang sepuluh juta untuk membunuh diriku sendiri," ujarnya terlihat marah.
"Nyonya Damita!" Ranti kaget melihat wanita itu hadir dengan tiba-tiba.
"Saya hanya menjalankan sesuai perintah nyonya."
"Tapi kau menaburkan bubuk kacang itu terlalu banyak, Ranti. Aku hampir saja mati jika dokter Hangga tidak segera datang." Damita mendamprat dengan tatapan berkilat.
"Salah nyonya sendiri, kenapa berani bermain-main dengan makanan yang sudah jelas-jelas membuat, Nyonya alergi," ucap Ranti. Ia tidak mau begitu saja disalahkan. Karena apa yang ia lakukan hanya karena memenuhi keinginan dari Damita sendiri. Meski untuk itu, ia telah menerima upah dengan nominal yang tidak sedikit.
"Kau jangan menyalahkanku. Aku hanya menyuruhmu menaburkan bubuk kacang macadamia itu sedikit saja."
"Yang terpenting sekarang, Nyonya Damita tidak apa-apa," ucap Ranti berkilah.
"Memang aku tidak apa-apa. Tapi, rencanaku gagal. Anres malah mengusir bibi Sora. Padahal seharunya ia mengusir Elea palsu itu dari rumah ini," kata Damita dengan wajah bersungut-sungut.
"Wah hebat ya, Nyonya Damita. Hanya karena ingin mengusir aku dari rumah ini, kau sampai berani bermain-main dengan keselamatanmu sendiri." Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja sudah ada Elena di sana.
Ranti terlihat sangat kaget, apalagi Damita. Tapi, meski akal bulusnya sudah terungkap, wanita itu masih berani memembentak, "kau berani menguping pembicaraan kami?!"
"Tidak. Tapi telingaku ini mendengarnya sendiri. Ck ck, aku kagum pada aksimu, Ibu mertua. Tapi sayang sekali pengorbananmu yang sudah sebesar ini, ternyata tak menghasilkan apa-apa. Sungguh sangat disayangkan."
kalau dilihat dari crita awal ny si ada bawa2 bama Pramudya corp..
semangat ya...