Di masa putih abu-abu ini barulah aku mengenal rasa, rasa suka terhadap lawan jenis. Namun parahnya, rasa cinta itu tertanam untuk guruku sendiri.
Cinta itu ternyata benar buta ya? Saking butanya, aku siap ditakzir ratusan kali karena sudah lancang mencintai guru bahasa arab di sekolahku.
"Ustadz, tidak perlu memintaku untuk kembali jika tujuanmu ingin menasehatiku demi bisa berhenti mencintaimu. Aku siap pulang jika kau memintanya, tapi untuk berhenti mencintaimu, aku perlu merujuk surat keterangan tidak mampu!"
Melihat status dan usia kami, mampukah aku meluluhkan hatinya? Atau justru memilih mundur dan mengubur dalam-dalam rasa ini akibat penolakan berulang kali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliraa al syifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kotak Kenangan
Terkadang sulit mendapatkan sesuatu hal yang kita kejar, dan tak jarang pula mendapatkan sesuatu yang diinginkan tanpa memintanya. Seperti halnya sesuatu yang tengah Vita alami, entah itu cinta atau sekedar menghargai, tetapi ustadz Dafi mulai bisa meluluhkan hatinya.
Setelah meletakan barang belanjaannya di dapur umum, Vita pergi menuju kamarnya hendak mengambil buku dan mukena. Rencananya, setelah menyetor hafalan ia langsung pergi ke masjid untuk shalat dzuhur.
Vita tidak menyadari jika sejak tadi ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari kejauhan. Tatapannya begitu intens, tak lepas dari setiap pergerakan Vita.
Ada hubungan apa kalian? Gumamnya dalam hati.
Ustadz Ilham bergegas pergi ke masjid mengingat sebentar lagi memasuki waktu dzuhur. Ya, dialah ustadz Ilham, sosok yang tengah memperhatikan Vita dari kejauhan termasuk juga kebersamaannya dengan ustadz Dafi.
"Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam, ustadz."
"Bisa kita bicara sedikit?" Tanyanya, Vita melihat kanan dan kiri memperhatikan suasana sekitar.
"Tenang, suasana masih ramai," ucap ustadz Ilham setelahnya.
"Ustadz mau bilang apa?" Tanya Vita tanpa basa-basi.
"Afwan, bukan maksud saya untuk memata-matai kamu, tapi saya perhatikan kamu dekat sekali dengan ustadz Dafi, apa kalian sudah saling mengenal atau bahkan punya hubungan khusus?"
Ko
Vita terdiam, tidak mungkin ia menceritakan semua detailnya pada ustadz Ilham. Lagi pula, hanya sebuah kebetulan ustadz Dafi berada di pesantren yang sama. Bahkan kedekatan mereka tak ubah hanya sebatas teman yang ingin saling menghargai satu sama lain.
"Kita baru kenal kok, ustadz." Jawab Vita menutupi.
"Apa kamu yakin?" Vita mengangguk meyakinkan ustadz Ilham supaya ia tak lagi bertanya tentang ustadz Dafi.
Ustadz Ilham mengangguk, meskipun ia tak cukup yakin dengan jawaban yang didapat, tetapi dengan memilih diam adalah cara salah satunya untuk menghargai.
Vita menghembuskan nafas lega pada akhirnya ustadz Ilham pergi tanpa banyak pertanyaan.
*****
"Afwan ukhty, titip ini ya?! Buat ustadz Dafi."
Ia berlalu pergi setelah memberikan sebuah kotak yang terbungkus kertas kado dengan rapi.
Manda yang menerima amanah itu langsung bergegas pergi mencari keberadaan ustadz Dafi. Di tengah perjalanan, Manda bertemu dengan Vita.
"Bawa apaan tu?"
"Eh ini, ada titipan buat ustadz Dafi."
"Ustadz Dafi? Mana liat!"
"Ih gak boleh tau, gak baik buka-buka yang bukan milik kita."
"Gak buka liat doang." Vita menarik-narik kotak di tangan Manda, tanpa sengaja kotak itu terjatuh dan isinya berserakan.
Tatapan Vita begitu fokus akan kertas yang keluar dari dalam kotak. Ia mengambil kertas itu dan membacanya.
Tiba-tiba saja air matanya deras mengalir tanpa permisi.
Manda kebingungan melihat teman sekamarnya menangis setelah membaca kertas yang entah apa isinya.
Namun satu hal yang pasti, yang selalu Manda curigakan dari awal, kedekatan antara Vita dan ustadz Dafi jelas berbeda. Bukan khalayak seperti seseorang yang baru mengenal, tetapi lebih dari itu.
"Kamu harus jelasin sama aku, Vit!" Ucap Manda sambil mengumpulkan kembali isi dari kotak itu. Tanpa menjawab Manda, Vita mengambil kotak itu dari tangan Manda kemudian bergegas pergi.
Tanpa perlu mencari-cari ustadz Dafi, tiba-tiba sosok yang dicarinya itu muncul dengan sendirinya berjalan menyusuri koridor.
Vita langsung menghadang langkahnya, memberikan kotak itu kepada ustadz Dafi.
"Terimakasih, ustadz! Terimakasih atas segalanya, sekarang gak perlu lagi ustadz bersikap manis dengan saya, karena itu hanya akan membuat saya semakin terluka. Ini dari cinta dan janji masa kecil kalian, saya permisi, assalammualaikum."
❣️TBC❣️
salken cik Gu Bhs Arab...
kaifa haalukum?? 😉
semoga lekas sembuh semua keluarga ya thor dan dapat beraktifitas kembali🤲🤲🤲🤲🤲🤲
kenapa gak up 2x😟😟😟😟
up nya doubel donk thor😟😟😟😟
gantian Dafi yang kesem² sama Fita😂😂😂😂😂😂....
makanya Dafi dulunya jangan judes²😂😂😂😂😂
ending nya kamu yang kelabakan kan.... kan.... kan....🧐🧐🧐🧐
hancur sudah dan r3muk hatinya.....🤧... hampir luluh dengan sikap manisnya😭😭😭😭😭😭