Hati sejatinya tak bisa terbagi...
Cinta tak seharusnya menyakiti...
Tapi ... Kenapa aku berani membagi hati?
Kenapa aku menyakiti dua lelaki yang mencintaiku? Bahkan dengan gila-nya aku mencintai sama rata mereka berdua!
__Simak aja yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalau Ada Yang Na Kal Padamu, Panggil Namaku.
Devara menutup wajahnya, dia benar-benar merasa malu sekarang.
Erza malah anteng memasukkan daging dan sayur ke atas piring perempuan yang dicintainya itu.
Bisik-bisik terdengar tapi ia tak mau menghiraukannya, tangannya menyenggol sikut Devara.
"Deva, percuma tutupin muka. Sekarang semua orang sudah hapal wajahmu," Erza menarik tangan Devara yang menutupi wajah.
"Kamu, ih!"
"Aku apa? Ganteng?" jahil Erza.
Devara enggan meladeni lelaki gila yang duduk di sebelahnya, dia menyuap makanan di piring ke mulutnya.
Esoknya Gathering berakhir, bis-bis pariwisata kembali ke Perusahaan. Lalu meliburkan semua pegawai satu hari untuk beristirahat.
Devara baru pulang diantar Erza, di dalam perjalanan dari tempat gathering sampai rumah ia hanya sesekali menimpali omongan lelaki itu. Entah keputusannya sudah benar atau tidak, dia hanya akan menjalaninya saja.
"Deva, nggak mau minta aku turun terus kasih minum gitu?"
"Kapan-kapan aja, bye. Bawa mobil hati-hati."
"Ekhm, makasih perhatiannya. Aku bakal bawa mobil pelan-pelan kok 'kan masih ingin bersama kamu," gombalnya keluar lagi.
Devara hanya memutar bola matanya, "Dah!" ia masuk ke dalam rumah.
Di kamarnya setelah mengantar Devara, senyum Erza tak pernah hilang dari bibirnya. "Deva, akhirnya."
Lusanya saat para karyawan kembali bekerja, Devara dan Erza menjadi trending topic di Perusahaan. Devara menembalkan wajahnya, dia berpura-pura tuli.
Saat masuk ke kantornya, mata tajam Mimi menyorot padanya. Wanita sexy itu mendekati Devara menggebrak mejanya.
"Pegawai baru! Bagaimana caramu merayu Pak Erza, lihai juga kamu. Apa kamu suhunya penggoda para lelaki?"
Devara membiarkannya, dia sibuk membereskan kertas-kertas di meja dan menumpuknya.
"Lo budeg, ya!"
"Hajar aja, Mi."
Teman-teman Mimi memanasi, tapi tiba-tiba pintu kantor terbuka. Teman-teman Mimi berlari ke meja kerja mereka masing-masing kecuali Mimi yang merasa kesal karena dibohongi tentang hadiah ciuman di lomba gathering kemarin.
"Nona Mimi, kenapa tidak mulai bekerja?"
"Saya sedang bicara dengan teman kerja saya, Pak."
"Benarkah? Tapi tadi saya sempat dengar kata-kata kasar dari kamu pada Nona Devara."
"Tidak, Pak. Iya 'kan Devara? Kita hanya ingin saling mengenal dekat." Mimi tersenyum manis.
"Iya, Pak. Yang dikatakan Mimi benar."
Erza ingin memarahi Devara kenapa wanita itu tidak jujur saja, ada dia yang akan melindungi wanita itu. Akhirnya dia hanya menghela nafas pasrah, "Oke, semua kembali bekerja! Kamu juga Nona Mimi."
Lelaki itu menatap tajam pada Mimi membuat wanita itu seketika kabur ke mejanya, "Oke, kerja yang rajin. Kalau ada yang na kal padamu panggil namaku, Deva sayang..." bisik Erza lalu berjalan pergi dari sana.
"Dasar gila," Devara menggeleng.
Sekali lagi keramaian terjadi saat makan siang, kantin di datangi Erza. Devara benar-benar ingin mencekik lelaki itu. "Pak Erza, ngapain disini?" ia menggertakan giginya.
"Menemani ayank makan," cengirnya.
"Wuidih ayank nggak tuh!" celetuk Bu petugas kantin.
Wajah Devara kini sudah memerah, ia melotot pada Erza yang membuat semua orang malah merasa aneh karena sepertinya Devara satu-satunya yang kesal di dekati oleh Erza padahal wanita lain sangat susah hanya untuk mendekati saja.
"Entar pulang aku antar lagi, ya."
"Enggak usah, aku mau ke..." Devara memutar otaknya ingin membuat alasan untuk menolak ajakan Erza.
"Jangan capek-capek cari alasan, aku tahu sehabis pulang kerja kamu selalu langsung pulang."
Sekali lagi Devara menghela nafasnya.