Bertahun-tahun Ivy membenci kakaknya, Adam. Adam sempurna dalam segala hal, kedua orang tuanya mencurahkan perhatian lebih besar padanya, segala yang yang diungkapkan Adam dianggap serius oleh orang-orang sekitarnya, Adam begitu populer, dan semua suka padanya.
Kecuali Ivy.
Entah sejak kapan ia merasa kalau Adam adalah saingannya dalam segala kehidupan.
Sampai Ivy tahu kalau semua hal yang dilakukan Adam sebenarnya adalah untuk kebaikan Ivy.
Juga sebuah rahasia yang selama ini disimpan Adam rapat-rapat, membuat pandangan Ivy ke Kakak angkatnya itu berubah seratus delapan puluh derajat.
Ivy yang tadinya sangat benci kepada Adam, menjadi bersemangat...
Bersemangat untuk menggoda cowok itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babak Belur
Hei,” Andy muncul di depan gerbang Ivy menjelang sore. Membuat gadis itu dengan waspada menoleh ke kanan dan kiri jalan, melihat apakah kakaknya sudah sampai atau belum. Karena Adam tidak bilang apakah ia lembur atau pulang cepat. Dan Adam pernah bilang kalau ia tidak suka Ivy bertemu berduaan saja dengan Andy.
“Hai, Ndy... kok ngajak ketemuan?”
“Ngobrol bentar aja lah boleh kan?”
“Ya boleh aja sih,” Ivy mempersilakan pria itu untuk masuk ke dalam dan mengobrol di teras rumah.
Setelah membawakan Andy kopi untuk teman mereka mengobrol sore itu, Ivy pun duduk di kursi sebelah Andy.
“Vy...” desis Andy. Ia tampak sulit mengutarakan maksud kedatangannya, “terus terang aja, aku nggak punya banyak temen cewek,”
“Gosipnya nggak begitu sih Ndy,”
“Iya-iya aku tahu aku ini tukang main. Tapi semua itu bukan teman. Tapi atas dasar seksual dan suka sama suka. Habis itu ya bubar... selesai tanpa ikatan,”
“Aku sebenarnya nggak terlalu mau tahu hal itu sih Ndy,”
“Iya ya? Buat apa juga kamu tahu ya?” Andy tampak terdiam beberapa saat, lalu menunduk menatap lantai.
“Kenapa sih Ndy?” Ivy semakin penasaran.
“Aku... Aku lagi suka banget sama cewek Vy. Tapi dia nggak respon waktu aku ngaku perasaanku,” Andy mengacak-acak rambutnya. “Baru kali ini perasaanku terhadap cewek tuh kuat banget. Tapi masalahnya... gaya hidup kita beda banget,”
“Gaya hidup?” Ivy sampai memiringkan wajahnya karena tak mengerti.
“Yah, aku sampai minder sama nih cewek. Karena memang dia se-independent itu. Dan dia membuat aku sadar kalau selama ini hidupku nggak berguna dan nyusahin orang tua melulu,”
Ivy sampai menjauhkan tubuhnya dari Andy karena merasa kaget. Masalahnya baru kali ini ia melihat Andy se-depresi itu.
“Terus...?”
“Hem, yang membuatku datang ke sini adalah karena, kamu kenal cewek ini Vy. Aku mau tahu lebih banyak mengenai dia,”
Ivy mengernyit. Sudah pasti perempuan yang dimaksud Adny bukanlah dirinya, karena ia bukan wanita independent. Ia masih bergantung kepada kakaknya, dan jelas-jelas manja. Masalahnya, sama seperti Andy, Ivy sendiri tidak memiliki banyak teman. Maudy Cs sudah menjauh darinya gara-gara Adam, dan kini Ivy sendirian. Hanya Cass-
“Astaga,” desis Ivy langsung tahu siapa wanita yang dimaksud Andy, “Ini tentang Cassandra?!”
Andy pun mengangguk.
“Sejak kapan Ndy?” Ivy merasa antara senang dan khawatir. Karena jelas semua tahu kalau Cassandra adalah pacar papa Ivy.
“Perasaan ini tumbuh waktu nganterin kamu ke apartemennya,”
"Serius Ndy?!"
"Pas aku ngeliat dia di restoran, ya dia memang cantik, tapi sebatas itu saja. Tapi setelah dia mengaku kalau dia itu pacar kontrak Papa kamu, entah bagaimana dia jadi semakin cantik di mataku,"
"Waaah," pipi Ivy merona. Ia jadi terharu sendiri. Tapi ia juga was-was karena status Cassandra sekarang cukup kontroversi.
"Kami ngobrol banyak sewaktu aku balik lagi ke sana ngambil dompetku yang ketinggalan. Dan aku sekalian bantu-bantu dia menata display,"
"Oh kamu akhirnya bantuin dia Ndy?""
"Ya niatnya sih bantuin Adam, biar pas dia datang udah beres, dan websitenya jadi cepet,"
"Duh, kok romantis," gumam Ivy sambil mengelus dadanya yang deg-degan.
"Dia… Bagaimana ya hubungannya dengan Papa kamu?" tanya Andy
"Yang aku lihat sih, Ndy, sori banget nih ya. Cassandra itu katanya mau lanjut kuliah, dan berhenti jadi Baby. Makanya dia jual-jual tasnya untuk tabungan. Waktu itu dia mengaku 'ibuku' agar Maudy menjauh saja. Sebenarnya Papaku juga tertarik padanya, tapi Cassandra-nya juga sama belum ada respon apa pun, malahan…"
"Malahan?"
"Cassandra responnya sama Kak Adam, hehe,"
"Ah! Lagi-lagi dia,"
"Ya gimana dong Ndy, kak Adam kan ganteng banget, mana beauty cool pula,"
"Ya padahal dia sis-com," sindir Andy sambil menatap Ivy dengan tajam.
"Dih kok serem, dia cuma kelewat perhatian aja," Ivy berusaha menutupi kenyataan sebenarnya.
"Perhatian dan Obsesif itu bedanya jelas banget loh Vy. Hati-hati kamu bisa dimakan,"
"Dimakan…" istilah yang mengerikan, tapi entah bagaimana Ivy merasa tergugah.
"Kembali lagi ke soal Cassandra, enaknya aku harus apa?" ujar Andy.
"Untuk menarik perhatiannya? Dia suka laki-laki mapan yang bertanggung jawab. Jadi kamu kalau bisa sih cari kerja dulu yang bonafit sebelum menyatakan cinta,"
"Gitu ya?"
"Ya kalau sekarang kamu maksain, bisa-bisa dia malah jadi pacar Papa kamu sendiri. Kan semua pengeluaran kamu, papa kamu yang bayar, hahahahaha!" Ivy tergelak.
Andy langsung mencibir. Tapi herannya dia tidak merasa terhina, malah semakin penasaran terhadap sosok Cassandra ini. Ia suka kalau Ivy bicara apa-adanya karena bisa memotivasi dirinya untuk lebih baik.
"Btw, kontraknya sama Papa soalnya tinggal sebulan lagi sih," sambung Ivy.
"Jadi dalam sebulan aku harus cari kerja yang bergengsi?"
"Ya gitu," Ivy mengacungkan telunjuknya, "Tanpa campur tangan Papa kamu,"
"Duh susah jugaaa,"
Ivy terkikik, "Tapi Ndy, Cassandra itu sebenarnya lebih suka kalau si pria konsisten kok. Yang jelas dia nggak suka cowok kekanak-kanakan. Kalau harta sih, dia punya buanyakkk! Jadi nggak bakal mempan di-iming-imingi,"
"Padahal dia Baby ya, gold digger,"
"Udah mau pensiun Ndy! Sekarang saatnya hidup nyaman pakai tabungan hasil kerja keras,"
Andy menyeringai lalu mengangguk, "Makasih ya advicenya," ia mengelus pipi Ivy, "Aku kebant-"
"Lo ngapain di sini?" terdengar suara Adam dari arah gerbang.
Keduanya menoleh berbarengan.
Adam berjalan tanpa keraguan menuju ke arah Andy.
Andy langsung merasakan suatu perasaan buruk dan berdiri. Ia mencoba menjelaskan yang terjadi pada Adam. Apalagi saat ini ia hanya berdua dengan Ivy dan mereka tahu kalau Adam sangat protektif terhadap adiknya itu.
Namun belum sampai ia membuka mulut Adam langsung mencengkeram bagian leher kaosnya dan menariknya ke samping.
BRAKK!!
Ia melempar Andy sampai membentur Pagar.
Saking kuatnya benturan, pagar itu ambruk ke luar, rodanya patah dan akhirnya menimpa mobil Andy yang diparkir di luar pagar.
"Udah berkali-kali gue bilang…" geram Adam sambil menghampiri tubuh Andy yang susah payah berdiri.
Pria itu akan mencengkeram tubuh Andy, tepat saat Ivy berlari sekencang mungkin mendahuluinya, dan menghalanginya dengan berdiri di depan Andy yang masih tersungkur..
"Kak Adam, stop!!" jerit Ivy ketakutan sambil merentangkan tangannya.
"Minggir Ivy," geram Adam.
"Nggak mau! Andy kamu cepetan lari!!"
"Duh…" keluh Andy sambil berusaha berdiri. Tapi tampaknya tidak bisa secepat itu dia bangkit, karena sekujur tubuhnya lemas sekali. Bisa jadi tulang-tulangnya retak semua saking kerasnya ia menabrak pagar.
"Udah gue bilang jangan deket-deket Ivy!!" hardik Adam sambil menuding Andy.
"Kakak salah paham!" seru Ivy sambil menahan tubuh kakaknya dengan tangan kurusnya itu, tapi Adam tidak bergeming, dia terus maju untuk kembali menghajar Andy.
Andy susah payah berdiri sambil menatap Adam dengan tegang. Dalam hatinya ia berujar, 'mati ini sih gue, bakal mati gue kalo sekali lagi dia berhasil raih gue'. Namun ia tetap mengusahakan untuk bisa berdiri dan mencoba menghindar.
"Untuk masalah ini gue nggak peduli lo udah jadi temen gue berapa lama! Bentar lagi tangan lo ilang!!" seru Adam emosi.
"Kakak!!" seru Ivy sambil kembali mendorong dada Adam untuk menghalanginya mendekati Andy, "Aku tahu tentang kamar rahasia!"
Adam langsung diam terpaku.
Andy kembali jatuh ke tanah. Sepertinya tulang kakinya retak. Tidak memungkinkan untuk menyetir mobil bahkan berjalan keluar saja ia harus menyeret tubuhnya dengan sikut.
Tapi, ia bisa melihat Adam tiba-tiba terdiam di tempat. Andy tidak mendengar kata-kata Ivy, tapi ia bisa melihat kalau Adam tidak mengejarnya lagi.
Hal itu dia manfaatkan untuk merangkak keluar dari rumah itu dan mencari bantuan, atau menghubungi taksi online untuk membawanya ke rumah sakit.
"Kamu… Apa?" desis Adam lirih sambil menatap Ivy.
"Aku tahu…" Ivy menarik nafas panjang, "Tentang kamar rahasia di dalam lemari kakak,"
Adam bungkam.
Ia hanya bisa menatap Ivy dengan tegang.