Season 1
Season 2( on going)
Bagi sesama Author yang mampir silahkan like doang Ok, baca n like, Alhamdulillah. Hadiah, apalagi senang banget. Bagi pembaca, like n baca wajib ya Cuy, biar sama-sama ngeunah endol takendol-kendol. Kali ini nama pemerannya yang agak nyeleneh, gak mau yg bagus2 biar sdkt humor.
Dicegat saat bawa motor kala pergi bekerja, membuat Sensi Vera (23) mengerem mendadak motor matiknya sampai hampir standing. Sensi, begitu dia dipanggil terkejut dan penasaran siapakah yang telah mencegatnya.
Saat Sensi mendekat, rupanya orang itu mengalami sakit asma. Sensi terkejut setelah menyadari ternyata yang mencegat adalah Bos di kantornya. "Pak Rangka!" kejutnya.
Rangka Baja (35), seorang Bos di perusahaan kertas ternama di kotanya, mengalami sesak nafas saat dia masih di jalan menuju kantornya. Rangka meminta tolong pada orang yang berhasil dicegatnya untuk membelikan obat ke apotek terdekat. Tanpa Rangka sadari, rupanya orang yang dia cegat adalah s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Mengusir Hantu Kamar Hotel
Aku masuk ke dalam kamar hotelku dengan terpaksa. Pak Rangka benar-benar tega dan sangat kejam kali ini. Dalam kamar aku tidak kuasa menahan rasa sedihku karena sikapnya. Aku menangis dan tidak peduli lagi akan makhluk gaib yang selalu menghantuiku ketika aku berada di kamar ini.
"Hiks, hiks, hiks ... Pak Rangka tega, kenapa Bapak membiarkan aku di dalam kamar berhantu ini? Bapak benar-benar tega, awas saja jika nanti Bapak mengungkapkan cintanya pada saya, maka saya tidak akan menerima cinta Bapak," ujarku di balik tangis.
Aku benar-benar tidak kuasa dengan perlakuan Pak Rangka kali ini sehingga aku menangis semakin keras. Rasa sedih itu menyatu dengan rasa marah. Cuma ketahuan duduk dan minum dengan seorang lelaki saja Pak Rangka sudah marah. Ada apa dengan Pak Rangka, apakah Pak Rangka cemburu padaku?
"Hiks, hiks, hiks...." tangisanku makin keras, akan tetapi suara tangisanku sepertinya menggema, seolah berulang-ulang dan seperti ada yang mengikuti. Aku tiba-tiba diam menghentikan isakanku. Dan tangisan yang mengikutiku juga diam. Aneh dan ini benar-benar membuat rasa kesalku pada Pak Rangka malah semakin menjadi.
Aku kembali terisak menumpahkan sisa kesedihanku, dan kini kembali isakanku diikuti lagi seseorang yang entah di mana keberadaannya. Dengan sisa rasa marah yang masih ada, aku bangkit kemudian mengambil sapu hotel yang kebetulan ada di sudut sana. Perlahan aku berjalan mencari di mana asal suara, sembari memegang sapu dan siap menghantam siapa pelaku yang mengikutiku.
Tangisanku kini kutahan dan hanya sedu sedannya yang masih terdengar. Dan aneh suara isakan tangisanku yang tadi diikuti makhluk yang tidak nampak wujudnya, kini hilang juga entah kemana. Tiba-tiba saja emosiku kian menyeruak dan rasa berani sepersekian detik muncul begitu saja.
Aku kembali terisak, mencoba memancing suara itu datang dan benar saja suara itu datang kembali. Emosiku yang menyeruak dan masih menahan kesel yang tadi masih ada. Perlahan namun pasti ku dekati pintu kamar mandi, lalu kubuka dengan kasar.
"Brakkkkk, kuprak, kuprak, siapa kau setannnn, gua nangis elu ikut nangis, gua isak elu ikut isak, dasar kau setannnn!" ucapku sembari memukul-mukul sapu ijuk ke dalam kamar mandi yang tidak ada siapa-siapa. Kemudian aku masuk dan menyemprot air keran shower yang aku cabut dari sangkutannya.
Aku ngamuk dan aku basahi semua kamar mandi dan bak mandi dengan air shower sambil. berkata-kata. "Pergi kau setannnn, jangan kau ganggu hidup gue, jangan kau takuti gue, elo pikir gue takut? Ayo bertarung sama gue, nih gue punya sapu, gue obrak abrik elo sampai kabur, pergiiii." Amukanku tidak tentu arah sampai kamar mandi itu berubah seperti kapal pecah.
Setelah merasa puas lalu aku beranjak menuju kamar dan menutup rapat-rapat pintu kamar mandi sambil berkata-kata. "Gue cape dan lelah, jadi gue harap elu setannn tidak ganggu gue saat tidur. Kalau nggak, maka gue lapor sama Pak Rangka," celetukku masih dikuasai emosi, dan anehnya pake bawa-bawa nama Pak Rangka segala.
Entah karena saking lelah dan ngantuk, akhirnya aku terlelap dengan tangan masih memegangi sapu ijuk yang tadi dipakai gebuk-gebukin kamar mandi yang ada setannya.
Dalam tidurku yang lelap itu tiba-tiba aku didatangi seseorang berperawakan perempuan, setengah tua, tertawa menyeringai memperlihatkan giginya yang hitam seraya berkata 'aku menyerah anak muda, aku kalah, aku pamit, hihihi', lalu tidak lama dari itu wanita setengah tua itu pergi dari hadapanku sembari melambai.
Selang beberapa menit, mimpiku berubah dengan kedatangan Pak Rangka yang tersenyum padaku lalu memelukku. Alangkah senangnya aku di dalam mimpi itu, ternyata Pak Rangka masih perhatian padaku sambil menepuk-nepuk pundakku.
"Pak, Pak Rangka, I love you," ujarku dalam mimpi itu seakan nyata sambil mencium pipinya yang mulus.
"Sen, Sensi, bangun, ini sudah siang. Apakah kamu tidak akan pulang ke Jakarta? Sensi?" Wahhhh, Jakarta?? Akhirnya aku terbangun dari tidurku dan mimpi indahku. Saat aku bangun alangkah terkejutnya aku, rupanya Pak Rangka benar-benar ada dan membangunkanku.
Akhirnya aku bangun dengan sapu yang masih melekat di tanganku. Pak Rangka melihat keadaan kamar dan kamar mandiku yang seperti kapal pecah. Pak Rangka tidak tahu bahwa semalam aku sedang mengusir hantu yang selalu mengganggu.
"Kamar ini kenapa?" tanyanya terkejut.
"Anu, Pak, semalam saya mengusir hantu yang ganggu saya. Dan saya berhasil mengusirnya karena hantu itu datang dalam mimpi saya dan berpamitan pada saya," jawabku jujur sesuai dengan mimpiku. Pak Rangka geleng-geleng kepala tidak percaya sambil melihat seisi ruangan yang mirip kapal pecah.
di perusahaan aja sp1 dulu, ga ujug2 sp3.