NovelToon NovelToon
The Tyrant King'S Love Obsession

The Tyrant King'S Love Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiana Ayu novita

Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.

Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.

apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 23

Eva membaca bukunya dengan serius, angin malam tidak membuatnya mengantuk. Dia harus selesai malam ini, atau dia tidak ada kesempatan lagi.

Eva tau kalau mencari pelaku yang menculik anak-anak Ilos tidak akan mudah, jika di lihat dari semua kendala, bukan kaisar yang memberi wewenang seperti itu, pasti ada yang sedang bergerak dalam kegelapan Odelions, sebuah gerakan lain atau semacamnya.

Dan Eva tidak akan membiarkan warga Ilos terseret, dia harus menemukan anak-anak yang di culik dan segera menjadikan itu alasan dia bisa kembali ke Ilos.

dan cara paling cepat adalah mengikuti kelas yang disiapkan untuk putri mahkota. Sekali dia bisa memegang tugas-tugas sebagai putri mahkota, dia akan bisa dengan mudah mendapat petunjuk.

Di mulai sejak pagi tadi dia sudah memulai kelasnya, beruntung otak Evanthe mudah menerima semua materi meskipun sangat sulit, bahkan bahasa kuno Ilos sudah dia bisa baca.

Malam ini dia harus menghafalkan sejarah Odelions, suka atau tidak dia harus hafal dan memahaminya. Tidak lupa pelajaran administrasi, bersyukur kehidupan sebelumnya Eva sempat belajar itu di temannya. Jadi dia tidak terlalu kesulitan ketika menghadapinya lagi.

Eva menutup buku sejarah yang terakhir, dia menatap kesepuluh buku sejarah yang sudah dua hafalkan. Dia lelah, tapi tidak bisa tidur.

Eva mengambil mantel, keluar kamar menuju taman. Lorong istana putri mahkota jadi sedikit ramai prajurit sejak insiden dia kabur, mereka membungkukkan memberi salam hormat, Eva hanya tersenyum terus melangkah menuju taman sembari membawa satu buku.

Taman istana memang tidak seindah taman rumahnya di Ilos, kunang-kunang dan suara gesekan daun yang jatuh terkena angin, dia tidak bisa melihatnya di taman yang sekarang, setidaknya ada pohon besar yang menjadi kesukaan nya.

Dia duduk di bawah pohon, rambutnya yang terurai terkena hembusan angin malam. Memainkan tiap helainya, tapi Eva tidak merasa terganggu.

Dengan buku sejarah yang dia bawa, dia tenang berbaca disana. Dia membaca buku sejarah pertama kali kekaisaran Odelions muncul.

Dulu area Odelions adalah daerah yang menyatu dengan Ilos, melihat di petanya. Hanya dulu namannya bukan Ilos, melainkan dataran Antlas.

Dulu merupakan daratan yang kaya akan sihir dan para kesatria legendaris yang memiliki aura. Mereka hidup damai dengan membagi kubu antara kesatria dan penyihir, dimana penyihir bisa tenang menjaga perlindungan alam dan kesatria menjaga para warga biasa yang memilih menjadi orang biasa.

Eva tau sekarang kenapa satu bahan wabah ofelion dulu ada di Odelions, jawabannya ada di buku ini di katakan negeri Antlas adalah kaya akan bahan-bahan langkah, tersebar dengan baik di setiap titik dan dijaga para penyihir sangat baik.

Eva berpikir kenapa sekarang mereka berpisah, dan kenapa penyihir hanya tersisa dia dan kedua orang tuanya.

Eva kembali membaca sampai tidak sadar di sisi pohon satunya, Felix santai saja menemani Eva. Dia tenang sembari mendengarkan tiap suara kertas yang di balik.

Dia selalu kesulitan tidur tiap kali di istana putra mahkota, dengan semua pembunuhan bayaran yang mengintai, terkadang hanya tertidur sejenak seperti itu dia bisa merasa tenang.

"aku akan segera kembali, aku janji", seorang wanita memulaknya erat.

Wajahnya sedih, dia mengelus perutnya yang membesar. membuat pria itu tidak tahan untuk mengelus pelan pergi sang wanita.

Pria itu memberi kecupan di perut, dan terakhir di kening wanita itu sebelum akhirnya pergi.

"APA SALAHNYA HINGGA MEREKA MEMBUNUHNYA SEKEJAM ITU?!!!!".

Suasana yang berbeda muncul, pria yang sama kini terlihat berbeda. Wajahnya penuh murka dan keputus asaan, tubuhnya bergetar menahan kekuatan yang serasa akan meledak dalam dirinya.

Semua orang yang ada di sana tidak ada yang menjawab, seseorang menepuk bahu pria itu untuk menenangkannya.

Pria itu jatuh terduduk, air matanya turun dengan Isak tangis pilu. Semua orang tidak berani mendekatinya, semua menunduk dengan rasa bersalah luar biasa di wajah mereka.

"Tuan", seorang wanita berlari panik membawa seorang bayi.

Pria itu menggendong nya cepat, bayi itu terlihat kejang dengan tubuh yang sangat dingin bagai es. Pria itu seperti membaca mantra dan tubuhnya mengeluarkan aura api yang cukup hangat.

Namun bukannya membaik bayi itu semakin kejang, hitungan detik bayi itu diam. Bukan dia membaik, tapi semua sudah berakhir. Bayi itu mati dalam dekapan pria itu.

Pria itu jatuh terduduk memeluk bayi itu, semua semakin tidak tenang karena aura api yang awalnya merah normal, tiba-tiba menjadi ungu menuju hitam pekat di sertai dengan sesuatu yang penuh dendam.

Pria itu berseru, bola matanya merah berubah menjadi lebih pekat dengan area putih dalam pupuknya berubah hitam.

Felix tersentak, nafasnya tidak beraturan. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit, tapi ada satu titik yang lebih terasa sakit.

Dia sedikit heran saat merasakan adanya sebuah mantel menyelimutinya, dari warna mantel dan baunya itu milih Eva. Sejak kapan Eva menyelimutinya?

Felix sedikit mengintip, Eva di balik pohon sebelahnya tertidur dengan memeluk bukunya, piyama yang dia pakai cukup tipis hingga angin malam cukup nakal untuk menyingkapnya.

Felix tersenyum kecil, dia bangkit menyelimutkan mantel ke Eva, lalu menggendongnya.

Felix membawa Eva kembali ke kamarnya, membaringkannya dengan lembut di ranjangnya dan tidak lupa menyelimutinya dengan baik.

Felix tidak langsung pergi, duduk di ranjang Eva. Mata merahnya mengamati Eva yang tidur dengan tenang, helai rambutnya yang menutupi wajah malah membuat gadis itu lebih indah lagi.

Semakin dia lihat, dia semakin teringat fisual Dewi yang dia lihat dalam lukisan favoritnya. Wajah dan bola mata yang sama, terlebih Eva juga memiliki rambut panjang. Walau warna rambut mereka berbeda, kedua sosok itu seperti kembaran yang berbeda warna rambut saja.

Felix mengulurkan tangan, melihat sebuah tumpukan kertas yang di letakkan di bawah bantal. Beberapa surat yang beralamat menuju Ilos.

Dalam surat itu, ada banyak sumpah serapah yang tertuju padanya, sesekali Felix terkekeh ketika Eva menulis namanya dengan adanya kata kasar di baliknya, sisanya hanya membahas tentang kemajuan mantra yang dia bisa pakai, dan berharap bisa di kirimkan beberapa mantra sihir lagi oleh kedua orang tuanya.

Felix tau sejak awal kalau Eva seorang penyihir, padahal dia sudah di didik jika bertemu dengan penyihir dia harus memusnahkan mereka, hanya saja yang ini dia tidak mau membunuh.

jika alasannya ramalan penyihir membawa mantra kutukan yang bisa menghancurkan Odelions, maka dia tidak percaya. belakangan ini dia mengawasi Eva yang memakai mantra, tidak ada masalah. Semua aman dan ramalan itu juga terkesan konyol baginya.

Untuk apa membunuh penyihir sedangkan kekaisaran menginginkan Ilos yang kaya akan sihir, itu terkesan kemunafikan dan tipu daya masa lalu untuk menjadi rakus.

Felix mengembalikan surat-surat itu ke tempat semula, dia memberanikan diri mengelus kepala Eva. Rambut yang lembut terasa di kulit tangannya, Felix tersenyum kecil.

"akan lebih menyenangkan jika kau mau disini Eva, menjadi permaisuri Odelions", gumam Felix yang terdengar seperti mimpi.

Felix bergegas pergi, dia tidak lupa menutup jendala kamar Eva. Mengantisipasi Flery yang akan masuk atau berusaha menemui Eva.

Felix melangkah menuju istana putra mahkota, dia sempat berhenti di sebuah patung besar yang lokasinya di antara istana putra mahkota dan putri mahkota. patung pria yang gagah dan sebaliknya ada patung seorang wanita yang anggun.

Dia memandang cukup lama, sebelum akhirnya pergi. Entah perasaannya saja, atau kedua patung itu sedikit familiar baginya.

...****************...

1
Alia Chans
saling support, sabi kali ya😍✍️👈
Wawan
Salam kenal Buat Eva ✍️
anggita
like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!