Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Dekap Hangat
Sejak draf legalitas kafe selesai, mereka lebih sering bertemu.
Setiap pagi, pemandangan SUV hitam Aeros yang terparkir di depan gerbang rumah Sael sudah menjadi hal yang biasa bagi kedua keluarganya. Ia akan turun dari mobil, mengetuk pintu, lalu menyerahkan satu 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘭𝘦𝘳 kopi atau teh hangat beserta sekotak menu sarapan kepada Ibu Sael.
"Ini buat Sael, Tante. Biar di kantor nggak jajan sembarangan," ujar Aeros sopan.
"Aduh, Aeros, kamu ini perhatian banget. Sael itu beruntung ya punya kakak kayak kamu" puji Ibu Sael tulus,
𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 Kata itu selalu berhasil menyenggol egonya, namun Aeros memilih abai demi bisa memastikan Sael sarapan dengan baik.
Di kantor pun, Sael mulai terbiasa dengan kiriman camilan sore dari kafe Aeros. Rekan-rekan kerja Sael di firma hukum bahkan sering menggoda Sael karena memiliki kakak .
"Sael, Kak Aeros itu aslinya punya kembaran lagi nggak sih? Perhatian banget, tiap jam tiga sore selalu ada paket 𝘤𝘳𝘰𝘧𝘧𝘭𝘦 sama 𝘮𝘢𝘵𝘤𝘩𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘵𝘦 mendarat di mejamu, pengen juga," goda salah satu rekan kerja Sael.
Sael hanya mendengus, namun sudut bibirnya diam-diam melengkung tipis saat menyantap camilan tersebut.
Arka menghembuskan napas kasar, pria yang Sael anggap seperti kakaknya itu bertindak lebih dari sekedar kakak.
Arka memutar-mutar bolpoin di jarinya dengan ketukan yang tidak beraturan. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di dadanya setiap kali melihat Sael tersenyum tipis hanya karena kiriman camilan sore itu. Rasa cemburu yang sialnya tidak punya hak untuk disuarakan.
Bagaimana bisa Aeros bergerak sefrontal itu berkedok status 'kakak'? Dan yang lebih menyebalkan bagi Arka adalah fakta bahwa ia tidak bisa berbuat banyak, selain menahan diri dan pura-pura sibuk dengan berkas di mejanya, sembari merutuki perhatian Aeros yang selalu datang tepat waktu.
****
Pada Jumat malam, ketika hujan rintik-rintik kembali membasahi kompleks perumahan mereka. Kael sedang mengikuti pertandingan futsal, sementara orang tua mereka menghadiri acara reuni di luar kota.
Rumah Sael kembali sepi.
Sael sedang duduk di karpet bulu di ruang tengah, dikelilingi oleh tumpukan buku hukum yang tebal untuk mempersiapkan kasus barunya. Tiba-tiba pintu depan diketuk pelan.
Ketika Sael membukanya, Aeros sudah berdiri di sana dengan kaos putih santai dan celana pendek, memegang mangkuk besar berisi sup ayam makaroni yang masih mengepul hangat.
"Tante bilang kamu sendirian di rumah. Nih, aku masakin sup," ujar Aeros, langsung melangkah masuk, menaruh mangkuk itu di meja ruang tengah.
Sael mengekor di belakangnya, menghirup aroma gurih sup yang langsung membuat perutnya lapar. "Wah, pas banget. Aku baru mau masak mi instan tadi."
"Nggak ada mi instan. Kurangi makanan instan kalau kamu masih mau hidup sehat," omel Aeros, namun tangannya bergerak cekatan mengambilkan sendok untuk Sael.
Sael duduk bersila di karpet, mulai menyantap sup buatan Aeros dengan lahap. Aeros sendiri duduk di sofa tepat di belakang Sael, memperhatikan puncak kepala gadis itu dengan tatapan yang teramat lembut.
"Enak, Kak. Kamu emang cocok jadi bos kafe," puji Sael tulus di sela-sela makannya.
"Hm..." Aeros mengulurkan tangannya, secara alami mengambil ikat rambut karet di atas meja, lalu dengan sangat pelan dan hati-hati mengumpulkan rambut panjang Sael yang sedikit mengganggu gerakannya saat makan. Jemari besar Aeros bergerak dengan sangat lembut, menata rambut Sael menjadi kuncir kuda yang rapi.
Sentuhan jemari Aeros di tengkuknya membuat tubuh Sael menegang seketika. Gerakan mengunyahnya terhenti. Jantungnya kembali berdegup kencang.
Suasana hangat di ruangan itu mendadak terasa mendebarkan.
Sael menelan makanannya dengan susah payah, matanya menatap lurus ke depan, mencoba menenangkan debaran dadanya. 𝘐𝘯𝘪 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬, 𝘚𝘢𝘦𝘭. 𝘕𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘱𝘦𝘳, bisik hatinya mencoba realistis.
"Rambutmu berantakan, ganggu pas makan," ucap Aeros datar setelah selesai mengikat rambut Sael, lalu menarik kembali tangannya dan bersandar di sofa dengan wajah andalannya.
Sael berdeham kaku, memegang ikatan rambutnya sekilas sebelum melanjutkan makan. "Makasih, Kak."
Mangkuk sup ayam itu kini sudah kosong, Sael meletakkan sendoknya, lalu berniat bangkit untuk membawa mangkuk kotor itu ke dapur.
"Biar aku aja," potong Aeros cepat.
Sebelum Sael sempat memprotes, Aeros sudah lebih dulu menyambar mangkuk kosong tersebut dan melangkah lebar menuju dapur. Sael hanya bisa menatap punggung tegap itu dengan helaan napas pendek. Ia kembali duduk di karpet bulu, mencoba memfokuskan pikirannya pada tumpukan buku.
Dari arah dapur, terdengar gemercik air wastafel yang beradu dengan piring. Tidak butuh waktu lama bagi Aeros untuk menyelesaikan tugasnya. Pria itu kembali ke ruang tengah, Ia berjalan memutari sofa, lalu dengan santai mendudukkan dirinya di atas karpet bulu yang sama dengan Sael, duduk di sebelah gadis itu.
Aroma parfum maskulin Aeros yang bercampur dengan wangi sabun cuci piring memenuhi indra penciuman Sael.
"Sampai mana?" tanya Aeros, melirik lembaran buku yang terbuka di pangkuan Sael. Suaranya terdengar sangat rendah dan tenang,
"Hah? Oh... ini, baru menyusun urutan saksi untuk kasus besok Senin," jawab Sael agak gugup,
Satu jam berlalu tanpa terasa. Kantuk mulai menyerang Sael. Matanya terasa berat.
"Kalau ngantuk, tidur, Sael. Jangan dipaksa," tegur Aeros tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
"Dikit lagi, Kak... Tinggal satu lembar ini," gumam Sael tidak jelas, suaranya terdengar sengau khas orang yang sudah berada di ambang batas kesadaran.
Namun, pertahanan Sael akhirnya runtuh juga. Tubuhnya limbung ke arah samping.
𝘎𝘳𝘦𝘱.
Aeros dengan sigap mengulurkan tangan kirinya, menangkap bahu Sael tepat waktu sebelum kepala gadis itu membentur lantai, Aeros membawa kepala Sael untuk bersandar di atas bahunya.
Gadis itu justru mengendus pelan, mencari posisi nyaman di ceruk leher Aeros, lalu mendengus halus dalam tidur nyenyaknya.
Aeros membeku di tempatnya. Jantungnya berdetak dengan sangat hebat di dalam dada. Ia menundukkan kepalanya sedikit, menatap wajah polos Sael saat tertidur yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Tanpa sadar, tangan kanan Aeros terangkat, jemari besarnya mengusap lembut pipi Sael yang terasa halus.
"Kamu selalu bilang aku nyebelin," bisik Aeros teramat pelan. "Tapi kamu nggak pernah tahu, Sael... seberapa keras aku harus menahan diri tiap kali dekat sama kamu."
Aeros masih mempertahankan posisinya. Bahu kirinya yang menjadi bantalan kepala Sael mulai terasa agak kaku,
Ia menundukkan kepala, membiarkan matanya menjelajahi setiap inci wajah Sael yang berada tepat di bawah dagunya.
Pandangan Aeros turun ke hidung Sael, lalu berhenti pada bibir tipis yang beberapa jam lalu memujinya dengan tulus. Mengingat kembali ucapan Sael yang memuji sup buatannya, sudut bibir Aeros tanpa sadar terangkat, membentuk senyuman tipis.
𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘰𝘤𝘰𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘰𝘴 𝘬𝘢𝘧𝘦, 𝘒𝘢𝘬.
Aeros terkekeh tanpa suara. "Aku belajar masak juga gara-gara kamu yang hobi mogok makan kalau menunya nggak cocok, Sael," bisik Aeros lirih .
Tangan kanan Aeros yang bebas perlahan bergerak naik. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia menggunakan ujung jarinya untuk menyingkirkan sehelai rambut yang menempel di dahi Sael, lalu menyelipkannya ke balik telinga gadis itu. Jarinya sempat bertahan di sana, mengusap lembut cuping telinga Sael yang terasa hangat.
Ada rasa kagum yang membuncah di dada Aeros hingga membuat dadanya terasa sesak. Ia mengagumi segalanya tentang Sael.
Sael tiba-tiba melenguh pelan dalam tidurnya. Tubuhnya bergerak sedikit, semakin merapatkan diri ke dada Aeros , Tangan kecil Sael tanpa sadar meremas ujung kaus putih Aeros, sementara wajahnya terbenam di ceruk leher pria itu.
Aeros menahan napasnya selama beberapa detik. Detak jantungnya mendadak berpacu gila-gilaan. Aroma manis persik dari rambut Sael kini memenuhi seluruh inderanya, berbaur dengan kehangatan napas Sael yang menerpa kulit lehernya.
Aeros memejamkan mata rapat-rapat, mencoba sekuat tenaga menekan gejolak di dalam dadanya. Ia melingkarkan lengan kanannya ke pinggang Sael, memeluk tubuh mungil itu dengan protektif,
"Tidur yang nyenyak, Sael," bisik Aeros lembut, lalu mengecup puncak kepala Sael dengan penuh perasaan,
Aeros mengangkat tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Sael melenguh kecil, kepalanya bersandar di dada Aeros, sementara tangannya masih mencengkeram erat ujung kaus putih pria itu.
Aeros melangkah dengan sangat hati-hati, menaiki anak tangga satu per satu menuju lantai dua. Suara detak jantungnya sendiri terdengar begitu nyaring di telinganya,
Begitu sampai di depan kamar Sael, Aeros mendorong pintu yang tidak terkunci menggunakan sikunya. Ia berjalan mendekati ranjang, menurunkan tubuh Sael di atas kasur dengan hati-hati.
Aeros tertegun. Ia duduk di tepi ranjang, menatap tangan Sael yang menahan kausnya, lalu beralih menatap wajah tidur Sael yang tampak sangat damai.
Perlahan, Aeros mengulurkan tangannya, melingkarkan jemari besarnya untuk menggenggam lembut tangan Sael, memberikan usapan menenangkan menggunakan ibu jarinya sampai cengkeraman Sael melonggar dengan sendirinya.