NovelToon NovelToon
My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband

Status: tamat
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Pengantin Pengganti / CEO / Tamat
Popularitas:11M
Nilai: 4.6
Nama Author: Ayu Lestary

"Ma, dia hamil." Ungkap Rey.

"Siapa yang kau hamili, Rey." Sontak, Mama Lalita terkejut ketika mendapati pengakuan dari anaknya, ia bahkan sampai terperanjat dari duduknya.

"Hanna!" Sarkas Rey kemudian.

Kepanikan Mama Lalita berubah menjadi gelak tawa, ketika mendengar nama wanita yang sudah dihamili oleh anaknya.

"Lalu, apa masalahnya? Memangnya mengapa jika kau menghamili istrimu sendiri!" Pungkas Mama Lalita.

Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Rey justru panik ketika istrinya hamil?

Dan yang lebih parahnya lagi, Hanna yang berstatus istri Rey, justru kebingungan ketika mendapati dirinya hamil. Ia bingung, siapa Ayah dari bayi yang ia kandung!

Wahh...! Bagaimana itu bisa terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Ada Waktu Untuk Meratapi Nasib

Sesampainya dirumah, Hanna merebahkan tubuhnya yang terasa lelah ke atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Berulang kali ia menghela napas, untuk menetralkan perasaannya yang benar-benar menyesakkan dada.

"Hanna, kau hanya perlu terus menjalani hidup. Ikhlaskan saja apa yang sudah terjadi, walaupun kau menangis darah sekalipun. Perawanmu juga tak akan kembali!" Hanna, menyemangati dirinya sendiri. Hal yang selalu ia lakukan setiap kali menghadapi masalah. Dan itu terbukti berhasil membuat dirinya bisa bertahan sejauh ini. Jika tidak, mungkin saja ia sudah memilih untuk bunuh diri sejak lama!

"Huftt.. Jangan biarkan itu mengganggumu dan merusak pikiranmu! Semangat Hanna. Perjalananmu masih panjang."

Tentu, kini yang mengganggu pikiran dan hati Hanna, bukan hanya tentang kejadian yang seakan seperti mimpi buruk itu. Tapi juga tentang Rey! Hanna tak habis pikir Rey ternyata seperti itu, hanya berpura-pura baik dan perhatian. Tapi nyatanya ia hanya berdusta.

Hanna bangkit, mandi, lalu bersiap untuk bekerja. Ia tak jadi mengambil cuti! Tak ada waktu untuk meratapi nasib, atau jabatannya akan benar-benar direbut Sally. Kini yang perlu dilakukan Hanna hanyalah, terus bertahan. Walau jalan yang harus ia tempuh penuh dengan duri.

Tok!Tok!

Rey, bahkan tak berniat menoleh. Ia masih saja memejamkan mata sambil memijat pelipisnya. Pikiran Rey tak kalah berantakannya dibandingkan Hanna. Rasa bersalah, khawatir, dan gelisah menderanya secara bersamaan.

Duduk dibalik meja kerjanya, dengan penampilan berantakan.

"Pak, ini laporan perpanjangan kontrak beberapa model kita." Imbuh Hanna, sambil meletakkan laporan itu di atas meja kerja Rey.

Suara yang terdengar familiar itu langsung membuat Rey membuka matanya.

"Hanna! Bukankah kau-" Ucapnya terputus.

"Aku sudah lebih baik." Ujar Hanna, tanpa menatap ke arah Rey. "Beritahu aku jika Anda sudah menandatanginya, Pak." Hanna langsung beranjak dari tempatnya berdiri. Pun begitu dengan Rey, yang langsung bergegas untuk mencegatnya.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Rey tiba-tiba. Sambil meraih pergelangan Hanna, dan membuat langkah Hanna terhenti.

Hanna menatap Rey sambil mengernyitkan keningnya dan tampak bingung.

"Apa maksudnya pertanyaan itu? Apa jangan-jangan Rey tahu apa yang terjadi antara aku dan laki-laki itu." Pikiran itu membuat wajah Hanna langsung menegang. Betapa memalukannya jika itu benar-benar terjadi.

"Tentu saja aku baik-baik saja." Pungkas Hanna, sambil menarik lengannya dari genggaman Rey.

"Syukurlah." Ucap Rey diiringi dengan helaan napasnya.

"Ada lagi yang ingin Anda bicarakan? Jika tidak, aku akan keluar sekarang." Sarkas Hanna, yang seakan sedang meluapkan emosinya.

Kali ini, giliran Rey yang mengernyit. "Tidak." Ucap Rey dengan sangat pelan, hampir tak terdengar.

"Baik." Hanna langsung mengambil langkah, keluar dari ruang kerja Rey.

Meninggalkan Rey, dengan tanda tanya besar di benaknya. Jika memang Hanna menyadari bahwa yang sudah merenggut keperawanannya adalah Rey, seharusnya sikap yang ditunjukkan Hanna adalah, marah dan memaki Rey. Bukan justru bersikap dingin seperti itu!

"Arghhh..." Rey benar-benar geram. Marah pada dirinya sendiri.

Selama beberapa hari Hanna terus mengacuhkan Rey. Tampak sangat jelas jika ia sedang menghindari dan memberi jarak diantara mereka.

Untung, Hanna masih memiliki Raffael dan Lora dalam hidupnya. Dua sosok penyemangat yang seakan selalu ada. Walau Hanna, sangat menutup rapat rahasia yang terjadi malam itu, bahkan kepada mereka sekalipun.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Raffael, yang menyadari Hanna sering melamun beberapa hari ini.

"Tentu! Kenapa kau bertanya seperti itu?" Dengan senyuman yang seakan sedang menutupi sesuatu.

"Aku sangat mengenalmu Hanna! Tidak perlu berbohong padaku. Aku sangat hapal wajah bermasalahmu itu." Sarkas Raffael.

Hanna hanya terkekeh. Lalu menghela napas setelahnya.

"Benarkan kataku. Kau akan selalu tertawa setelah itu menghela napas diwaktu yang bersamaan jika sedang ada masalah." Ucap Raffael yang masih terus memperhatikan gerak gerik Hanna.

"Kau memang yang terbaik." Hanna mengacungkan jempol ke arah Raffael.

Membuat Raffael terkekeh. "Baiklah, jika kau bersikeras untuk tidak cerita. Seperti biasa, aku tidak akan memaksa." Sambil mengusap lembut puncak kepala Hanna.

"Terima kasih.." Ucap Hanna tulus dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Rey, datang dan bergabung diwaktu yan tidak tepat. Sebenarnya, dari kejauhan ia sudah melihat Hanna dan Raffael yang sedang begitu serius dengan obrolan mereka. Namun usapan lembut dari Raffael di puncak kepala Hanna membuat Rey seakan mendidih. Dan tidak tahan untuk tidak mengganggu mereka.

"Apa aku boleh bergabung?" Tanya Rey berbasa basi.

Hanna, langsung menunjukkan wajah datarnya. Mengalihkan wajahnya, lalu menyeka sudut matanya yang berair.

"Tentu saja." Jawab Raffael sambil menepuk pelan pundak Rey yang kini sudah duduk disampingnya.

"Myesa apa kabar, Rey?" Tanya Raffael. Sayang, Raffael masih belum mengetahui cerita yang sebenarnya.

"Baik." Jawab Rey dengan tatapan melekat ke arah Hanna.

"Aku merasa tersinggung, karena kau tidak pernah lagi mengajakku bergabung dengan kalian setelah kalian menikah." Keluh Raffael. Yang ujung-ujungnya hanya membuat Rey tertawa kecil.

Rasanya ia ingin sekali mengatakan pada Raffael. "Gadis yang kau elus kepalanya tadi itulah istri ku yang sebenarnya Raf!" Namun, sayangnya Rey tak dapat mengatakan dengan tegas kalimat itu. Hanna melarangnya dengan keras.

"Kenapa kau tertawa? Aku serius." Lanjut Raffael sambil menegakkan posisi duduknya. Ia benar-benar serius dengan ucapannya. "Bagaimana kalau kita double date?" Usul Raffael.

"Double date? Kau dengan siapa?" Tanya Rey, Karena setahu nya Raffael sedang tidak punya pacar saat ini.

"Hanna!" Jawab Raffael santai.

Rey langsung menoleh ke arah Hanna, yang tampak biasa saja. Ia bahkan tak membantah atau menolak ide double date Raffael.

"Myesa sibuk, dia tidak akan sempat." Ujar Rey kemudian. Dengan raut wajah juteknya.

Raffael tak memberi komentar. Ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Setelahnya, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu menelpon Myesa.

"Mye apa kau sibuk nanti malam?" Tanya Raffael. Membuat Rey menganga dan terbelalak. Rey tidak menyangka Raffael akan melakukan hal itu.

"Tidak! Kenapa, Raf?" Jawab, sekaligus tanya Myesa dari balik panggilan telpon itu.

"Bagus! Bagaimana kalau nanti malam kita double date?" Raffael meminta pendapat.

"Ide yang bagus, aku sangat setuju." Imbuh Myesa semangat.

Sedangkan Rey, sudah memijat tengkuknya sedari tadi.

Lalu bagaimana dengan Hanna? Ia hanya pura-pura sibuk dengan ponselnya sambil mengscroll layar ponsel miliknya dengan pikiran yang melayang entah kemana.

"Oke deal!" Ucap Raffael terakhir. Setelah itu mematikan panggilannya. Ia tertawa terbahak, karena Rey tak bisa berkutik sekarang. Mau tidak mau ia harus ikut.

"Baiklah, kalau begitu aku akan lanjut bekerja sekarang!" Imbuh Hanna, lalu bangkit dari duduknya.

"Jangan lupa berdandan yang cantik nanti malam." Pinta Raffael kemudian.

"Tentu!" Jawab Hanna, lalu beranjak pergi. Meninggalkan Rey dan Raffael disana.

Raffael tak henti-hentinya tersenyum. Double date? Itu hanya alasan, sesungguhnya itu hanya agar Hanna mau keluar dan mereka bisa berkencan. Jika tidak begitu, Hanna pasti punya seribu alasan untuk menolak ajakan Raffael.

"Ada apa denganmu? Kau kesurupan?" Tanya Rey, ketika melihat Raffael yang seakan tidak bisa berhenti tersenyum sambil mengaduk-aduk minumannya.

"Kau tidak akan mengerti!" Imbuhnya.

"Kau menyukainya?" Rey langsung to the point.

"Em!" Jawab Raffael tak kalah to the pointnya.

"Ch!" Rey berdecak kesal.

Next >>>

1
Gemi Wong Lembah Pnrog
LAKI LAKI TERBODOH...MANA AUTORNYA JGAN BKIN SAYQ BANTING HP YA
Agustin Sugicharto
Luar biasa
Ndaa🐼
.
Any
ehemm ehemmm 🥰
Sufhardy Nyengkana
Luar biasa
Habibah
bagusss
Siti Aminah
sepertiny bagus ceritany...
Muri
banting aza nenek peot jg sama jahat dgn anaknya bukannya tuobat malah jd pejahat.
Muri
jd tambh kusut ni gara2 rey membantu yayank jahat ni semoga rey cpt sadar ada bahaya😇😇
Muri
kapan bahagianya hanna dan rey nya thor
Muri
ayo rafa buka hatimu utk yayank
Muri
pingin ninju muka rey radanya terlalu bodoh
Muri
mantap hanna pergi saja oleh kalian sama2 bisa dibodohin orng
Muri
CEO bodoh😇😇
Muri
coba ditinggal ja Rey tu biar tau rasa kehilangan.
Muri
ternyata menghilang karena hamil dgn pria lain mulai ada titik terangnya ni👍
nury
Luar biasa
Ameiyati
Biasa
Ameiyati
Buruk
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
happy nya semoga kebaikan hati Hanna , meluluhkan hati Rosa....dan mengubur dalam2 dendam utk putrinya yg sdh tiada itu...😥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!