Alexandria Rigest tidak menyangka akan terjebak di antara baku tembak pendemo Sebagai jurnalis dia ingin mengupas tuntas sisi gelap prilaku oknum-oknum yang duduk di parlemen. Ketika terjadi demo serta baku tembak di salah satu gedung pemerintah, Alexa ikut terjaring. Dia sendiri diculik oleh beberapa orang yang berpakaian hitam- hitam dan disekap di ruangan bawah tanah. Alvaro Ady Mema, itu nama bos gangster yang menculiknya. Kehidupan Alexa di manipulasi dan Alexa menjadi budak nafsu Alvaro yang terkenal kejam tidak punya prikemanusiaan. Bisakah Alexa lepas dari cengkraman Alvaro? atau dia malah jatuh cinta kepada bos mafia itu?
****
Hallo readers yang selama ini sudah support aku, mampir ya...
jangan lupa kasi like, gift, vote dan favorit. Trimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJADI PELAYAN SEXY
Alexa kembali diajak ke rumah, tapi dia tidak mau tidur di ruang kerja Alvaro, dia memilih tidur di kamar khusus pelayan. Kitty kepala pelayan menyambutnya dengan antusias, mereka tidak ada yang kepo atas keberadaan Alexa di rumah Alvaro kembali.
Para pelayan mendapat pakaian seragam, begitu juga Alexa. Warna seragamnya untuk pelayan wanita, merah darah. Kalau pengawal, warna hitam-hitam. Bagi yang kulitnya putih seperti Alexa, warna itu membuat dia semakin mempesona. Kitty tertawa melihat Alexa memakai seragam, ketat dan mini. Apalagi bajunya, gunung kembar Alexa seolah mau mendobrak keluar.
"Tuan tidak akan berkedip melihatmu." kata Kitty tertawa.
"Aku tidak mau melayaninya, kau sajalah." kata Alexa tertawa.
"Kitty mana wanita itu?" tanya Alvaro setelah Alexa berstatus pelayan.
"Maksud Tuan, Alexa? dia lagi ada di belakang melayani pengawal. Hari ini sudah ada beberapa pengawal baru, jadi kami bersepuluh kewalahan. Untung Alexa membantu."
Alvaro tidak menyahut, dia langsung pergi ke belakang. Matanya melotot melihat pakaian Alexa yang sexy. Alvaro langsung naik darah. Tanpa komentar Alvaro menyeret Alexa ke ruang kerja.
"Alvaro apa maksudmu." teriak Margareta ketika melihat Alvaro menyeret Alexa ke ruang kerja.
"Dia selirku, jika kau keberatan pergilah." ketus Alvaro. Dia lagi cemburu melihat Alexa menjadi tontonan pengawal.
"Aku punya hak melarangmu, karena aku istri sah disini."
"Kita menikah tidak dilandasi cinta dan punya komitmen masing-masing. Jangan ikut campur urusanku dan aku juga tidak ikut campur urusan kau."
"Itu dulu semasih papaku hidup, tapi sekarang berbeda. Aku anak yatim piatu. Hanya kau pelindungku, kau harapanku."
"Margareta jangan melarangku."
"Alvaro apa kau tidak ingin menguasai bisnisku, kau tinggal tanda tangan."
Pegangan tangan Alvaro mengendor, dia melepaskan tangan Alexa dan beralih ke Margareta. Mereka berpelukan.
"Apakah kau cemburu melihat kami, kau adalah sampah." ejek Margareta.
"Ciihhh....aku muak melihat kalian!!" kata Alexa sinis.
"Alexa...." panggil Alvaro ketika Alexa melenggang keluar.
"Margareta, kita akan pergi besok untuk meninjau semua perusahanmu. Aku yakin Alfredo sudah mempersiapkan surat wasiat untuk kau pelajari. Jika perusahan kita bergabung, kita akan merajai dunia hitam. Semua mafia akan takut kepada kita."
"Aku juga ingin perusahan kita berpusat di kota ini, supaya aku tidak bolak balik. Aku ingin berada bersamamu sepanjang waktu." kata Margareta mulai ada rasa takut ditinggal Alvaro.
"Bersabarlah, untuk sementara waktu kita akan sering berpisah. Sampai keadaan membaik. Aku yakin kalau kau tidak cepat mengambil alih kepemimpinan, Endoras akan menguasai bisnismu. Dia adalah tangan kanan papamu." kata Alvaro mengingatkan. Dia lebih senang kalau Margareta jauh darinya. Alvaro sudah tidak tahan melihat Alexa yang sexy.
"Belanjalah sepuasmu untuk oleh-oleh besok. Aku akan ke kantor dulu." Alvaro mengeluarkan black card nya dan menyerahkan kepada Margareta.
"Trimakasih sayank..kau adalah suami terbaikku." Margareta kesenangan. Dia akan membeli barang-barang branded.
Alvaro baru bisa bernafas lega saat Margareta keluar dari ruang kerjanya. Dia langsung ke dapur. Tuan Alvaro tidak pernah mengurusi dapur. Hari ini Alvaro bolak balik ke dapur, hanya untuk melihat Alexa saja. Tentu saja Alexa tidak mau menoleh apalagi ngomong dengan laki-laki itu. Dia masih marah dan benci. Alvaro kembali ke ruang kerjanya. Dia tidak kalah akal, dia memencet intercom menghubungkan Kitty.
"Hallo Tuan apa saya bisa bantu?"
"Suruh wanita itu ke mobilku."
"Alexa maksud Tuan, bagaimana kalau dia tidak mau."
"Suruh bersihin mobilku di dalamnya."
"Baik Tuan."
Kitty setengah berlari mencari Alexa. Gadis itu ternyata sedang di obati oleh dokter Yani.
"Alexa, kau sudah habis berobat?"
"Ada apa Kitty?" dokter Yani heran melihat Kitty datang dengan nafas memburu.
"Anu dok, Alexa di suruh membersihkan mobil, Tuan mau ke kantor." kata Kitty memandang Alexa.
"Modus kali, aku tidak mau." protes Alexa.
"Jangan berani kepada gembong mafia Alexa, kita ini pelayan."
"Aku merasa ini akal-akalan Alvaro." ucap Alexa seraya berdiri.
"Trimakasih dokter, selamat tinggal Kitty, kau telah menjerumuskan aku kesarang macan." canda Alexa.
"Baik-baiklah kau melayani Tuan.." kata Kitty tersenyum.
Alexa berjalan menuju garase, dia melihat mobil Margerita keluar. Dalam hati dia bersyukur tidak melihat Alvaro di garase.
"Nona Alexa mau membersihkan mobil?" Alexa dikagetkan oleh pak Prapto.
"Mobil dimatiin dulu Pak, aku mau bersihin." kata Alexa membuka pintu mobil.
"Naik saja nona."
Baru saja kakinya naik ke mobil pantatnya di dorong ke dalam. Alvaro ikut naik dan langsung memeluknya.
"Jalan Pak." perintah Alvaro menyuruh Pak Prapto menjalankan mobilnya.
"Alvaro...Humm..." bibir Alexa sudah di ***** habis oleh Alvaro.
"Turunkan aku, aku bukan siapamu." kata Alexa sibuk menepis tangan Alvaro yang menelusup ke gunung kembarnya.
"Diamlah sayank..." ucap Alvaro seperti kemasukan setan mesum. Pria ganteng itu memangku Alexa dan menarik baju gadis itu. Suara kancing jatuh membuat Pak Prapto melirik ke kaca spion."
"Mata kau Prapto!!" bentak Alvaro.
"Maaf Tuan...." jawab Pak Prapto menelan ludahnya. Walaupun matanya tidak melihat tapi Pak Prapto tahu apa yang di lakukan Alvaro.
"Alvaro, berhentilah. Aku tidak sudi di lecehkan begini. Aku masih sakit hati."
"Prapto kebut aku sudah tidak tahan."
"Baik Tuan." padahal Pak Prapto ingin mengulur waktu supaya bisa mengkhayal kenikmatan yang dilakukan Alvaro. Apa boleh buat, dia lalu memacu mobil Rubicon itu dengan kencang.
Mobil berbelok ke Villa pantai. Alvaro memanggul tubuh Alexa ke dalam Villa. Dia membiarkan punggungnya di pukul Alexa. Alvaro membuka pintu kamar dan menutupnya pakai kaki.."Jedeerrr.."
"Aku rindu sekali padamu." kata Alvaro menindih tubuh Alexa. Seperti macan yang baru lepas dari kandang, Alvaro menerkam tubuh Alexa. Dia tidak memberi jeda sedikitpun kepada Alexa untuk menolak hasrat Alvaro.
"Aku mencintaimu sayank." bisik Alvaro.
"Kau psikopat. Aku benci padamu."
"Aku yang harus marah padamu, tapi aku tidak bisa membencimu. Aku sayang kau, aku menikah karena bisnis dan balas budi, jadi mengertilah."
"Apa maksudmu, kau menyuruh aku mengerti. Setelah kau memperkosa ku dan menganiaya aku. Lupakan aku Alvaro, aku merasa tidak cocok denganmu. Aku akan tetap menjadi pelayan kalian, tapi biarkan aku bebas memilih pria lain." kata Alexa menolak dada Alvaro.
Mata Alvaro berkabut, hatinya terluka saat Alexa menolaknya. dia membuka sepatu dan melempar ke cermin. Suara kaca pecah terdengar nyaring. Dengan tenang dia mengambil pecahan kaca mau menggores urat nadinya. Alexa yang mata dan telinganya sudah telatih menendang tangan Alvaro. Tangannya cepat meraih tubuh Alvaro dan menjepit tubuh Alvaro dengan kedua kakinya.
"Gembong mafia bisa bunuh diri, tumben ada kejadian begini. Kau urusi bisnis Alfredo, baru keren. Atau ambil alih bisnis alutsita yang di kuasai oleh Rasyid." kata Alexa.
****