MALAM INI HUJAN MENGGUYUR BUMI
Malam ini hujan mengguyur bumi,
dan suami tercinta tak ada di sini
dia mungkin sedang bercanda dan tertawa
bersama istri yang lain..
aku ingin menangis..
aku ingin sedih..
tapi dia berpesan padaku bila ini terjadi
maka kembalilah kepada cinta pada Allah
gelar lagi sajadah dan bersujudlah
baca lagi Al Quran penuh kecintaan
dan tetap genggam bahwa Allah adalah cinta teragung..
lalu kulakukan semua nasehatnya
hingga kudengar langkah kaki syaitan menjauh
syaitan itu sangat-sangat kecewa padaku
sebab tetap Allah tujuanku
di saat penuh rindu seperti malam ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Syakir sudah sampai di rumah Nenek Sugondo yang memang sangat dekat sekali dengan rumah sederhana Kirana. Malam ini, mereka akan kedatangan tamu jauh secara mendadak, kebetulan mereka sedang ada pekerjaan pembuatan rumah sakit bagi orang-orang tidak mampu.
"Assalamu'alaikum, Nenek, Ayah, Bunda?" ucap Syakir dengan lantang dan memancarkan sinar kebahagiaan yang sangat mendalam.
"waalaikumsalam, Syakir," ucap Nenek Sugondo menjawab salam Syakir.
Nenek Sugondo keluar dari dalam menuju ruang tamu untuk membukakan pintu ruang tamu itu.
Syakir dan Tina, asisten pribadinya masuk ke dalam rumah setelah dipersilahkan masuk oleh Nenek Sugondo.
Tina langsung masuk menuju ke belakang untuk membantu didapur setelah mencium punggung tangan Nenek Sugondo dengan penuh hormat.
"Ayah dan Bunda kemana, Nek?" tanya Syakir dengan lembut kepada Nenek Sugondo lalu mencium punggung tangan Nenek Sugondo dengan hormat.
Nenek Sugondo langsung masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa empuk itu lalu menjawab pertanyaan Syakir.
"Ayah dan Bunda ada dikamar sejak sore sampai sekarang belum juga keluar. Kirana kemana?" tanya Nenek Sugondo pelan sambil mencari-cari keberadaan Kirana yang tidak ada bersama Syakir.
Tina sudah keluar dari dalam rumah Nenek Sugondo dengan membawa dua teh manis panas dengan satu toples kue kering
"Kirana tidak ikut Nek, kasihan Kirana mungkin sedang kelelahan," ucap Syakir pelan dengan jawaban berbohong beralasan kepada Nenek Sugondo.
"Benar itu, biarkan Kirana istirahat," ucap Nenek Sugondo pelan membenarkan.
"Syakir hanya ingin mengembalikan mobil Ayah dan membawa motor matic Syakir, sepertinya selama masih disini, Kirana akan selalu mengantarkan makanan untuk Bapak Arif," ucap Syakir pelan kepada Nenek Sugondo.
"Antarkan Kirana, itu sebuah rasa bakti dan mengabdi kepada Bapaknya, jangan menjadi suami yang egois dan gengsi dengan suatu keadaan yang pahit," ucap Nenek Sugondo pelan kepada Syakir.
Ayah Basith dan Bunda Ayu keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tamu, mereka berdua sudah tahu dengan kedatangan Syakir.
Syakir menatap dari dalam lorong yang menghubungkan dengan ruang tengah. Ada Ayah Basith dan Bunda Ayu yang sedang berjalan dari arah dalam menuju keluar dengan. penampakan yang sangat rapih.
"Mau kemana Ayah? Bunda? Kenapa rapih dan terlihat resmi," tanya Syakir kepada Ayah Basith dan Bunda Ayu.
"Hayuk pergi sekarang Syakir, Ayah mau ketemu relasi di restauran," jawab Ayah Basith pelan setengah berbohong kepada Syakir.
"Syakir tidak ikut Ayah, kasihan Kirana, dirumah sendiri, tahu akan pergi, biarkan tadi Kirana disini menemani Nenek," ucap syakir menolak permintaan Ayah Basith.
Tanggung jawab Syakir kini kepada istrinya, Kirana bukan untuk hal lain apapun itu.
"Ini relasi Ayah, ingin berkenalan dengan kamu, Syakir, jangan buat Ayah marah dan kecewa dengan penolakan kamu, Syakir!" tegas Ayah Basith dengan suara keras.
"Pergilah Syakir, temani Ayahmu dan Bundamu, biar nanti Tina memanggil Kirana untuk kemari, menemani Nenek disini," ucap Nenek Sugondo pelan menjelaskan kepada Syakir.
Syakir hanya bisa menghela napas dan menghembuskan napasnya pelan.
"Baiklah Ayah, kita berangkat sekarang?" tanya Syakir dengan sopan kepada Ayah Basith.
"Ganti pakaianmu Syakir, Bunda sudah siapkan di kamarmu, pakai pakaian dengan resmi," ucap Bunda Ayu pelan kepada Syakir.
Deg ...
Deg ...
Deg ...
'Ada apa ini, firasatku mengatakan ini tidak baik, tidak biasanya Ayah dan Bunda memperlakukan Syakir seperti ini, apakah ada hal yang di rahasiakan,' batin Syakir di dalam hati.
Syakir mengangguk pelan tanda mengerti.
"Syakir ganti pakaian dahulu," ucap Syakir pelan memberitahukan.
Syakir masuk ke dalam rumah menuju kamar tidurnya, terlihat Tina masih membereskan ruang makan yang terlihat sangat berantakan. Syakir masuk ke dalam kamarnya dan menutup kamar tidurnya.
Di atas kasur kesayangannya sudah ada satu stel tuxedo untuk acara malam ini. Entah acara apa yang akan dihadiri oleh Ayah Basith dan Bunda Ayu.
Syakir mengganti pakaian dan memakai setelan jas berwarna hitam tersebut. Syakir berkaca di depan kaca meja rias, memantaskan diri dengan merapikan pakaian dan jasnya, merapikan rambutnya dengan Pomade sehingga terlihat rapi.
Setelah dirasa sudah cukup rapi dan pantas, Syakir keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu.
"Sudah siap Syakir?" tanya Bunda Ayu pelan, yang sudah bersiap sejak tadi.
Syakir mengangguk pelan dan tersenyum.
"Sudah siap Ayah, Bunda, bisa kita pergi sekarang, biar Syakir tidak pulang terlalu larut malam," ucap Syakir pelan kepada Ayah Basith dan Bunda Ayu dengan nada memohon.
"Sebenarnya kalian ini mau kemana? Apa Ibu tidak boleh ikut?" tanya Nenek Sugondo dengan kesal, sejak tadi keberadaannya seperti tidak dianggap.
"Lain waktu ya, Bu. Kali kamu punya urusan bisnis, kalau sudah selesai dan lancar, pasti Ibu akan kami beritahu," jawab Ayah Basith menjelaskan dengan detil.
"Bisnis apa? Setahu Ibu, kalian tidak sedang mengurus bisnis apapun?" ucap Nenek Sugondo pelan mengungkapkan.
Ayah Basith hanya tersenyum dan berlalu begitu saja meninggalkan Nenek Sugondo yang masih berdiri mematung menatap Ayah Basith yang akhir-akhir ini berubah drastis.
"Hayok Syakir," panggil Ayah Basith kepada Syakir yang hanya menatap wajah Nenek Sugondo.
"Pergilah Syakir," ucap Nenek Sugondo pelan setengah berbisik.
Syakir keluar dari rumah Nenek Sugondo dengan perasaan kacau tidak menentu. Hatinya sejak tadi, bergetar dengan firasat buruk.
Syakir menyalakan mobil itu dan melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang.
"Kita pergi ke arah mana Ayah?" tanyabSyakir dengan sopan.
"Restauran Jepang, di pusat kota," jawab Ayah Basith dengan mantap.
Sesekali Ayah Basith melihat ke arah jam tangannya kemudian beralih pada ponselnya yang sejak tadi hening tanpa ada notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya.
Bunda Ayu hanya menatap Syakir dari kaca spion tengah, sepertinya Syakir merasakan firasat yang tidak baik akan menimpanya.
"Sebenarnya ada bisnis apa, Ayah?" tanya Syakir pelan kepada Ayah Basith yang duduk di samping pengemudi.
"Baiklah Ayah akan menceritakan sesuatu, sebenarnya ini bukan untuk dirahasiakan, namun kemarin-kemarin waktunya belum tepat, tapi sekarang adalah waktu yang tepat untuk menceritakan sebuah rahasia atau kisah masa lalu kami," ucap Ayah Basith pelan menjelaskan.
Rasanya sungguh tidak tega kepada Syakir, harus mengungkapkan sebuah janji di masa lalu, dan kini janji itu harus ditepati, mau tidak mau, suka tidak suka dan apapun resikonya.
"Maafkan Ayah dan Bunda, bila kamu berdua harus mengungkapkan ini semua pada saat yang tidak tepat, tapi Ayah dan Bunda sudah tidak ada pilihan lain. Ayah dan Bunda hanya berharap keihklasan dan ketulusan kamu, Syakir," ucap Bunda Ayu dengan wajah sendu dengan tangis yang tertahan.
Mereka tidak sanggup memberitahukan ini kepada Syakir yang begitu sholeh, kepada Nenek Sugondo yang notabene orang tuanya sendiri, pasti akan ada yang terluka dan akan ada yang sakit hati dengan kejujuran ini.
miris pola pikir mu thor
belajar lagi ajaran islam
*islam melaknat pelakor dan pebinor
*islam melaknat lelaki mendekati istri orang
*islam melaknat istri mencerita masalah rumah tangganya pada lelaki lain
*islam melaknat istri yang dekat dengan pria lain
*islam melaknat istri yang membela pria lain didepan suaminya
*islam melaknat istri menjatuh kan kehormatan suaminya didepan pria lain
*islam melaknat istri yang tidak bisa menjaga kehormatan suaminya
*islam melaknat istri yang bisa membuat fitnah dengan dekat dengan pria lain
belajar agama lagi dengan benar, ingat thor walaupun ini hanya novel tapi cara kau membenarkan sebuah kesalahan niscaya kau akan diminta pertanghunh jawaban
renungkan lah
kelakuan Kirana lebih menjijikan dari seorang pelacur sekalipun, tapi miris, tidak bermoral nya, munafik nya novel ini dan pemikiran author malah membenarkan semua kelakuan Kirana
mudah mudahan saja author punya suami yang sifatnya kayak Kirana dan punya teman wanita yang baiknya kayak fahad, amin
*melaknat kelakuan pelakor fatma tapi kalian memuja kelakuan pebinor fahad
*kalian melaknat intrkasi syakir dan fatma tapi kalian malah membenarkan intrkasi Kirana dan fahad
Orang lelaki ketika kamu menikah keluarga kecilmu adalah tanggungjawab utama , Anak-anak boleh patuh pada orang tua tapi itu berlaku kalau orang tua masih hidup berlandaskan syariat agama , Ini orang tua seperti ibu bapa Syakir tak wajib ditaati lelaki itu boleh bersikap keras kerana mereka nakhoda setiap bahtera rumah tangga .
ibu ayu terlalu memaksakan dan telah memisahkan antara Syakir dan Kirana