NovelToon NovelToon
A Thousand Flowers

A Thousand Flowers

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / TimeTravel / Chicklit / Tamat
Popularitas:179.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lathifah Nur

Terlahir dari keluarga sederhana tanpa ayah, Izzah tumbuh menjadi gadis tomboy, cerdas, mandiri dan multitalenta.

Sayangnya, karena trauma masa lalu, ia tak percaya cinta meski hidup dikelilingi banyak pria kaya yang diam-diam jatuh hati padanya.

Suatu hari, setelah tak sengaja ia memperoleh kemampuan khusus dan terdampar di negeri asing, ia bertemu dengan ayah kandungnya yang terkurung selama puluhan tahun. Ia pun bertekad untuk membebaskannya.

Namun, ketika ia berhasil keluar dari tempat itu dan bekerja sebagai dokter magang di Korea Selatan, ia malah dijodohkan dengan lelaki yang tak diketahui identitasnya.

Bagaimanakah kehidupan rumah tangganya setelah menikah?
Akankah pandangannya tentang cinta berubah?
Dan bagaimana pula dengan usahanya untuk menyatukan ayah dan ibunya?

Ikuti kisahnya sampai tamat ya ...
Jangan lupa dukung penulis dengan vote dan klik iklan ya 😊

Selamat membaca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lathifah Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24. Bandara Incheon

Setahun sudah waktu berlalu semenjak kembalinya Izzah dari Negeri Seribu Bunga. Gadis itu kini siap menjalani kehidupan yang baru di negeri asing lainnya. Jauh dari keluarga dan sahabat. Mencoba mengadu nasib demi menggapai cita-cita.

Sebuah pesawat komersial mendarat di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan.

Pukul 17.30. Dari pintu kedatangan, Izzah melenggang keluar, menarik kopernya. Ia terkagum-kagum menyaksikan kemewahan dan kemegahan Bandara Incheon. Sesaat ia menghentikan langkah menikmati pemandangan orang-orang yang berlalu lalang.

“Waah … bagus banget! Pantas saja bandara ini menjadi bandara yang terbesar di Asia dan dinobatkan sebagai bandara terbaik di dunia versi Global Traveller selama tiga tahun berturut-turut.”

“Ckckck!” Izzah berdecak kagum.

“Benar-benar luar biasa!” Tak henti-hentinya Izzah memuji bandara yang baru pertama kali dipijaknya itu.

“Oh ya, Bunda .…” Izzah baru ingat untuk menelepon bundanya.

Ia merogoh saku mengeluarkan ponsel. Baru saja ia hendak memencet tombol dial, tiba-tiba lautan manusia bergerak serentak ke arah Izzah. Entah dari mana datangnya. Ponsel Izzah terjatuh. Izzah berusaha menerobos kerumunan itu. Celingak-celinguk mencari ponselnya yang tertendang ke sana kemari.

Izzah makin terdesak. Kuatnya dorongan dari puluhan atau bahkan mungkin ratusan orang itu membuat koper Izzah terlepas dari genggamannya.

Ia berjuang membebaskan diri dari kerumunan itu. Namun, semakin ia mencoba bergerak keluar, semakin ia terdorong ke belakang dan terkurung.

Izzah mengamati sekelilingnya, mencari tahu ada apa sebenarnya. Tiba-tiba puluhan kilatan cahaya menyilaukan matanya. Dengan memicingkan mata, Izzah akhirnya menyadari bahwa ia terkurung dalam kerumunan para awak media.

“Hem … pasti ada orang penting. Artis kah?” gumamnya seraya mencari-cari sosok yang menonjol di antara kerumunan itu.

“Di mana-mana, berada dekat orang penting memang bikin repot.” Izzah menggerutu. Ia makin terdesak.

“Tolong berikan konfirmasi Anda Tuan Shin. Benarkah Anda menolak tawaran perjodohan dengan Nona Kim?”

“Apakah Anda sudah memiliki seorang kekasih?”

Samar-samar Izzah mendengar pertanyaan yang ditujukan kepada seseorang. Izzah menoleh, mengikuti cahaya blitz.

Sekitar tiga langkah di belakangnya, berdiri seorang lelaki usia akhir dua puluhan. Ia berusaha menutupi mukanya dengan tangan kiri. Sementara tangan yang lain menenteng tas kerja. Beberapa petugas keamanan bandara tampak berusaha melindungi laki-laki itu.

Dari luar, seorang pemuda berlari, mencari-cari seseorang. Ia meloncat agar bisa melihat sosok di tengah kerumunan.

Lautan awak media itu semakin beringas. Izzah mulai takut. Ia terus melangkah mundur. Langkahnya terhenti ketika merasa menabrak seseorang. Izzah memutar tubuh, berharap bisa melarikan diri dari kerumunan itu.

“Sial!” maki Izzah dalam hati saat ia menemukan tak ada celah untuk keluar.

Kesal. Izzah menengadah, menatap lelaki yang menurutnya adalah sumber masalah. Izzah terkesima. Ternyata lelaki di hadapannya itu sangat tampan. Untuk sesaat mereka berdua saling menatap intens tanpa kata.

Deg! Deg! Deg.

Lelaki itu merasa jantungnya berdegup kencang. Tatapannya terpaku pada mata gadis yang berdiri begitu dekat dengannya. Ia seperti tersihir dan tenggelam dalam pesona mata gadis itu.

Sinar blitz semakin berseliweran, membuat Izzah ikut melindungi matanya. Ia tersadar dari pesona yang seakan membiusnya. Kekesalannya kembali memuncak.

Pertanyaan demi pertanyaan terus terdengar. Namun, lelaki itu tetap bungkam. Izzah tak sanggup lagi menahan diri.

“Kenapa Anda tidak menjawab pertanyaan mereka? Jika Anda memang seorang publik figure, maka Anda bukan siapa-siapa tanpa mereka.” Izzah berkata dingin dengan nada pedas.

Mata lelaki itu memancarkan kilat kemarahan. Tangannya mencengkeram kuat tas kerjanya. Ia merasa tertohok. Selama ini belum pernah ada yang berani mengkritik tindakannya. Semua orang tunduk pada perkataan dan perintahnya.

Melihat lelaki itu masih diam dan terus menutupi wajahnya, Izzah semakin naik pitam.

“Waah … benar-benar sombong ini orang. Memangnya enggak pernah diajarkan cara menghargai orang lain? Apa susahnya sih menjawab pertanyaan para wartawan itu?” rutuk Izzah dalam hati. Tatapannya penuh dengan kemarahan.

Ribuan pertanyaan terdengar seperti dengungan lebah di telinga Izzah. Suasana makin panas.

“Jawablah! Atau Anda memang senang melihat orang lain terjebak kesulitan karena Anda?” Izzah mulai pusing. Keringatnya bercucuran. Ia seakan kekurangan oksigen. Napasnya mulai pendek.

“Aw!” Izzah memekik lemah ketika ia makin terdorong dan posisinya makin terkunci, tak bisa bergerak sama sekali.

Melihat kondisi Izzah, kemarahan di mata lelaki itu meredup. Hatinya terenyuh. Saat Izzah menjerit kesakitan, entah mengapa ia merasa ingin melindungi gadis itu. Spontan ia menurunkan tangan yang dari tadi selalu menutupi wajahnya. Ia mendekap gadis itu dan memutar tubuhnya, menjadikan punggungnya sebagai tameng untuk menahan kuatnya dorongan para awak media yang kelaparan berita.

Izzah mulai lemas. Lelaki itu akhirnya mengalah dan berkata lantang kepada lautan wartawan itu.

“Baiklah! Saya akan meluangkan waktu tiga puluh menit untuk menjawab pertanyaan kalian semua. Tapi sebelum itu, tolong beri jalan agar Nona ini bisa keluar dari sini.”

Kerumunan wartawan itu pun membelah diri, membuka jalan. Lelaki itu memapah Izzah keluar.

Pemuda yang sedari tadi lari wara-wiri mencari seseorang langsung menyongsong lelaki itu begitu melihatnya keluar dari kerumunan, memapah seorang gadis.

“Maaf, Tuan. Saya terlambat menjemput karena terjebak macet.” Pemuda itu membungkuk.

“Antarkan Nona ini ke hotel X,” perintah lelaki itu menahan geram. Ia mengabaikan permohonan maaf pemuda yang bertugas menjemputnya.

“Baik, Tuan!” Pemuda itu membantu Izzah menemukan kopernya yang tercecer.

Begitu duduk di mobil, Izzah menyandarkan tubuh penatnya. Lemas.

“Tolong antarkan ke alamat ini, Pak!” pinta Izzah menyerahkan sepotong kertas bertuliskan sebuah alamat.

“Tapi Nona … Tuan Shin meminta saya untuk mengantar Anda ke hotel X,” bantah pemuda itu sambil melirik gadis yang duduk di kursi belakang melalui kaca spion. Namun, ia tetap mengambil kertas yang disodorkan Izzah.

“Kami tidak saling kenal. Tidak ada alasan bagi saya untuk mematuhi perintahnya.” Izzah menolak tegas.

Pemuda itu pun mengikuti kemauan Izzah. Setelah sampai di tempat tujuan, ia memutar mobilnya kembali ke bandara.

Shin Seo Hyun baru saja menyelesaikan jumpa pers dadakannya. Ia memijat pundaknya yang pegal akibat aksi dorong-mendorong para awak media itu.

Ia berjalan ke parkiran menunggu jemputan. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Matanya melihat sebuah ponsel tergeletak begitu saja di atas lantai. Dipungutnya ponsel itu dan diperiksanya. Ketika mendapati ponsel itu mati, ia pun menyimpannya di saku celana.

Hampir satu jam Shin Seo Hyun menunggu mobil yang menjemputnya. Sang sopir segera berlari turun membukakan pintu. Begitu pintu mobil terbuka, Shin Seo Hyun langsung menghempaskan pantatnya di jok mobil. Kelelahan. Mobil itu pun melaju menuju Seoul.

***

1
Knight
Ceritanya menarik. Alurnya yang tak bisa ditebak selalu memberikan banyak kejutan. Saya tidak pernah bosan mengulang membaca cerita ini. Karya pertama May Ersa yang telah berganti nama pena menjadi Lathifah Nur. Coba karya lainnya jg tayang di sini, bukan di sebelah 😁
Mus Limah
sudah ku baca berkali2 tp nda ada bosennya,ku tunggu karya selanjutnya thor
Knight: Hehe. Sama. Aku jg suka sama karya author ini. Tp authornya udah gak nulis di sini lagi. Pindah ke sebelah dgn nama pena yg beda. Jd Lathifah Nur authornya setelah kabur dr sini
total 1 replies
Dessy Laela
suka dgn ceritanya👍, semangat thor u cerita selanjutnya💪
May Ersa: Makasih, Kak Dessy 🥰 Yuk baca cerita May lainnya di aplikasi N0v3lm3 atau N0v3laku. Cari aja nama pena Lathifah Nur. Bisa jg follow IG @lathifahnur117 dan cek di link bio. Tinggal pilih mau baca cerita yg mn dl. Sdh ada 2 cerita lain yg tamat lho 😊
total 1 replies
Susi Ana
jempol hadir, mampir yuk
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
Susi Ana
jempol hadir, mampir yuk
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
~Nessa
Hadir
jangan lupa selalu mampir di karyaku ya!
makasih.
May Ersa: Mksh, Kak Nessa. Cerita Kk apa?
total 1 replies
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
May Ersa: Mksh, Kak Susi 🥰
total 1 replies
Imah Muslimah
kok baca d sini aq mlh bingung ya thor..nda kayak d noveltoon yak..padahal sama dr mangatoon juga..tp setiap kluar dr bacaan trus masuk lagi..ada aja episode yg tau2 brubah
May Ersa: Mksh, Kk. Kalo Kk punya aplikasi N0v3lM3 atau N0v3l4ku, silakan cari nama pena Lathifah Nur, Kak. udah ada bukuku yg udah tamat jg di sana. Judulnya Lelaki Penakluk Nona Muda. Yg ongoing jg ada 😊. Ditunggu kehadirannya ya, Kak 😊💞
total 3 replies
Ahmad Nur
Mantap jiwa
May Ersa: Terima Kasih, Kk. Klo Kk jg baca di apk sebelah (N*velMe), monggo mampir jg baca novel terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" 😊
total 1 replies
May Ersa
Hai semua...
Maaf ya. udah lama gak up cerita di sini. Bukan berhenti nulis sih, tapi aku hijrah ke lapak sebelah (N*velMe) dengan nama pena yg berbeda (Lathifah Nur).

Udah ada cerita baru di sana, judulnya LELAKI PENAKLUK NONA MUDA. Kalo sobat readers jg punya aplikasinya, kutunggu komen sobat readers di cerita terbaruku 😊
Adining Wuri Kartika
Hai kak,.mampir juga yuk keceritaku.kisah Alia
Blue
syuukkaaa thoor
May Ersa: Makasih, Kk. Klo kk jg suka baca di apk N*velMe, boleh jg baca karya terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" dgn nama pena Lathifah Nur 😊🙏
total 1 replies
Yunita_Ratsa
Hai baca *DUA RANJANG* yuuuk

Ceritanya siap mengaduk-aduk emosimu

❤❤❤❤❤❤❤
Harlindah Mdf
keren.. kyk negri dongeng.. sy syukaa
May Ersa: Makasih, Kk. Klo Kk jg punya Apk Nov*lMe boleh jg baca novel terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" dgn nama pena Lathifah Nur 😊🙏
total 1 replies
Ema Lubis
wauwww
May Ersa: Makasih, Kak 😘
total 1 replies
Ema Lubis
nnti aku mampir thor
May Ersa: Sip! Mksh, Kak. Ditunggu loh... 😊
total 1 replies
TiansePrln🌷
Keren😻😻 kalimat2 nya suka sekali. Terus semangat berkarya 💌💌
May Ersa: Mksh, Kak. Senang Kak Tian merasa terhibur dgn ceritaku. Baca jg novelku yg lain ya, Kak. Boleh jg intip apk sebelah, N*velme, dan nikmati cerita terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" (dgn nama pena yg berbeda) 😊
total 1 replies
Sugiatini
kereennn...
May Ersa: Makasih, Kak. Baca jg novelku lainny ya... klo kk punya apk N*velMe, bisa baca karya terbaruku berjudul "Lelaki Penakluk Nona Muda" (dgn nama pena yg berbeda) 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!