Setelah berhasil membantu kerabat Selo mengalahkan Arya Penangsang, Ki Wirojoyo seorang jagoan dari kerabat Selo hendak pulang untuk memboyong keluarganya pindah ke Alas Mentaok bersama kerabat Selo lainnya. Namun ketika sedang bersiap untuk pindah, rumahnya didatangi oleh kelompok Kelelawar Hitam yang hendak membantai Ki Wirojoyo beserta keluarganya. Ki Wirojoyo berusaha mempertahankan dirinya namun ia kalah kemudian terbunuh oleh pemimpin Kelelawar Hitam yang bernama adalah Ki Rono Tikusilo.
Putra Ki Wirojoyo yang bernama Surodipo berhasil diselamatkan oleh Ki Suryo Alam, seorang pertapa sakti dan aneh dari Gunung Sindoro dan diangkat murid olehnya. Setelah menurunkan seluruh ilmunya Ki Suryo Ngalam pun memerintahkan agar Surodipo untuk mengabdi di Mataram sebagai pemenuhan janjinya pada Ki Pemanahan karena ia sahabat Ki Pemanahan dan pernah berjanji untuk menggembleng seorang murid untuk menjadi abdi Mataram, dan menumpas Ki Rono Tikusilo yang ternyata adalah mantan muridnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fariz Pradipta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 – Gugurnya Sang Ksatria (3)
Nyai Wirojoyo bergidik ngeri ketika melihat tatapan mata kiri Ki Rono yang memancarkan ***** birahi teramat buas untuk menyetubuhinya. Ia mengesot perlahan kebelakang sementara Ki Rono terus mendekatinya dengan langkah
perlahan. Pada detik-detik krisis tersebut, tiba-tiba sebatang anak panah melesat secepat kilat mengarah punggung Ki Rono!
Karena pikirannya terpusat pada Nyai Wirojoyo dan benaknya dipenuhi oleh ***** bejat serta pikiran-pikiran mesum, Ki Rono terlambat menghindari anak panah yang membokongnya tersebut! Creepp! Anak Panah itu berhasil menancap di bahu belakang Ki Rono! Dengan menggeram penuh amarah Ki Rono berbalik sambil
mencabut anak panah yang mencancap di bahu belakangnya, dilihatnya seorang anak perempuan kecil sedang membidikan busur panahnya kepada Ki Rono!
Ternyata itu adalah panah Sekar Arum, anak gadis yang pandai memanah karena telah diajari ilmu memanah oleh ayahnya ini menatap Ki Rono dengan tatapan penuh dendam sembari merentangkan busur panahnya. “Setan alas! Bocah sialan!” maki Ki Rono. Sstttt! Tiga anak panah sekaligus dilepaskan Sekar Arum melesat mengarah badan Ki Rono. Dengan penuh kemarahan Ki Rono dorongkan tangan kanannya ke muka, serangkum topan prahara dahsyat menggebu memapasi anak panah Sekar Arum!
Tiga anak Panah Sekar Arum berterbangan bak daun-daun kering tertiup angin, malah angin pukulan Ki Rono terus menggebu, menghantam tubuh Sekar Arum! Anak gadis ini menjerit hebat ketika tubuhnya terlempar jauh kebelakang lalu membentur sebatang pohon kemudian jatuh terguling-guling dan muntah darah. Kemudian gadis
kecil yang berparas manis dan ayu ini pun nampak tak berkutik lagi!
“Iblis jahanam! Kembalikan anakku! Kembalikan anakku!” jerit histeris Nyai Wirojoyo ketika melihat Sekar Arum tewas. Ia mengambil sebuah sapu dan memukuli Ki Rono.
Ki Rono malah tertawa tergelak mendapati amukan putus asa wanita ini. Lalu kembali tangan kirinya ia menotok wanita ini, hingga ia tidak bisa bergerak.. “Diamlah manis, ssebentar lagi kau akan menikmati sorga dunia! Hahaha!”
Ki Rono kemudian menatap jasad Sekar Arum lalu menghela nafas berat\, “Ah aku terlalu terbawa nafsu\, padahal bocah itu cantik juga seperti biyungnya*. Harusnya jangan kubunuh\, harusnya aku jadikan dia pelayanku… Hhhh… Terlambat!” (*Biyung = Ibu)
Ki Rono kemudian menoleh dan membaskan totokan Nyai Wirojoyo, namun apa yang terjadi diluar dugaan Ki Rono, wanita langsung berlari kemudian memungut anak panah Sekar Arum yang tadi dihempaskan Ki Rono, kemudian apa yang terjadi selanjutnya tak bisa dicegah oleh Ki Rono, pria ini keluarkan seruan tertahan ketika melihat Nyai Wirojoyo menusukan anak panah yang digenggamnya ke batang lehernya! Tewaslah Nyai Wirojoyo dengan cara bunuh diri yang sangat mengerikan!
“Anj*ng! Kadas! Kurap! Setan! Huh!” Maki Ki Rono ketika melihat Nyai Wirojoyo sakaratul maut dengan leher berlubang yang terus memancurkan darah hingga akhirnya tubuh wanita cantik berkulit hitam manis ini tak berkutik lagi. “Hei bakar rumah ini! Ratakan dengan tanah!” perintahnya pada seluruh anak buahnya.
Sementara itu di mulut desa, seorang pria tua berjubah biru tua terkejut melihat api berkobar-kobar di desa Banyu Urip. “Ya Allah aku terlambat!” keluhnya dalam hati. Kemudian dengan ilmu meringankan tubuhnya yang luar biasa, si orang tua itu melesat masuk kedalam desa bagaikan burung walet.
Di Rumah Ki Wirojoyo ia menghentikan kakinya kemudian menatap lekat-lekat pada mayat-mayat yang tergeletak di rumah yang terbakar si jago merah itu. “Rono Tikusilo! Biadab! Benar-benar manusia jelmaan iblis!” geramnya.
Tiba-tiba matanya membentur sesuatu, ternyata mata tuanya masih sangat tajam, ia melihat sosok serorang pemuda yang sekujur tubuhnya telah membiru tapi tubuhnya masih bergerak-gerak. “Pemuda itu masih hidup!” Ia pun langsung menyambar tubuh pemuda itu, kemudian tubuhnya berjumpalitan melayang keluar dari rumah yang hampir rata dengan tanah itu karena diterjang si jago merah.
“Ini… Bukankah ini putera sulung Ki Wirojoyo? Hmm… Dia masih hidup meskipun terluka cukup parah…” gumamnya mengenali si pemuda yang tak lain adalah Surodipo. Kemudian ia kembali melesat meninggalkan desa yang seluruhnya telah terbakar api itu ke arah matahari terbenam.
***
Malam harinya, jauh di sebelah timur Desa Banyu Urip, Retno dan Warsiah yang sedari tadi pagi terus berjalan ke arah timur telah memasuki satu hutan lebat perawan di kaki gunung Lawu. Mereka yang terus berjalan tanpa henti seolah baru menyadari bahwa malam telah tiba dan tidak mungkin mereka bisa menjumpai satu Desa dalam waktu dekat yang bisa mereka capai dengan hanya berjalan kaki.
“Den Ayu, bagaimana ini? Hutan yang kita masuki semakin lebat, sementara hari sudah malam?” tanya Warsiah dengan gelisah.
Retno jumini menghentikan langkah kakinya, ia lalu menatap ke sekelilingnya sambil mengusap keringat yang memabasai lehernya. “Sepertinya percuma juga kalau kita terus memaksakan diri untuk berjalan karena tidak akan desa di sekitar sini…” jawabnya sambil berpikir keras karena di satu sisi ia tahu tidak mungkin bisa mencapai desa terdekat dalam waktu dekat, sementara di sisi lain ia takut jika harus bermalam di hutan yang masih perawan ini.
Tiba-tiba mereka mendengar suara-suara kemerosok dedaunan, mereka pun mengawaskan matanya, dan benar saja, dedaunan di sana nampak bergerak-gerak. “Den Ayu…” Warsiah langsung memeluk Retno sambil ketakutan.
Retno pun sebenarnya ketakutan, tapi karena bara api dendam yang masih terus menbara di dalam lubuk hatinya membuat gadis ini menjadi nekat, maka terdengarlah bentakan gadis cantik berambut hitam lurus panjang ini. “Siapa kalian? Demit, setan, atau begal silakan keluar dan hadapi aku!” baru saja ia menutup mulutnya berlompatanlah orang-orang berpakaian serba hitam dengan tampang sangar-sangar.
Seseorang yang nampaknya pemimpin mereka tertawa terbahak-bahak melihat orang yang dicegatnya itu. “Rupanya ada dua orang gadis cantik yang berkunjung ke wilayah Tapak Gatra hahaha…”
Retno mendelikan matanya “Wilayah Tapak Gatra? Setahuku ini masih wilayah Kesultanan Pajang!”
Tapak Gatra mengangguk-ngangguk sambil tertawa lebar, “Aslinya ini wilayahku, Sultan cuma menumpang saja disini! Hahaha!”
“Mau apa kalian mencegatku?!” Tanya Retno dengan brangsan.
“Yah mau mengajakmu bersenang-senang Nona manis, kalian kan sudah jauh-jauh datang kemari, masa tidak kami sambut dengan semestinya? Hahaha!”
Warsiah yang sudah tahu gelagat tidak baik ini hanya bisa semakin mengeratkan pegangannya pada Retno, sementara Retno dengan nekat mengacung-ngacungkan obor yang ia pegang di tangan kanannya. “Jangan berani menyentuh kami! Atau…”
“Atau apa Nona manis? Hhahaha…” Tapak Gatra mengejek ancaman Retno sambil tertawa mesum.
Retno tidak menjawab, ia langsung menarik tangan Warsiah seerat-eratnya lalu tancap gas melarikan diri sekencang yang ia bisa sambil terus mengacungkan obor di tangan kanannya, tapi tentu saja itu perbuatan yang percuma karena dengan mudahnya anak buah Tapak Gatra menangkap mereka.
Meskipun percuma, tapi Retno dan Warsiah terus berusaha meronta-ronta untuk melepaskan diri dari tangan-tangan kasar para perampok tersebut, sampai Retno mencoba usaha terakhirnya untuk menendang “Burung dan sepasang Telur” salah satu anak buah Tapak Gatra yang memegangi tubuhnya! Lelaki itu langsung mengaduh panjang lalu jatuh berkelojotan di tanah sambil memegangi selangkangannya.
jin gak ngaruh Thor
bagi umat islam
matur nuwun 🙏🌷
penggabungan sejarah dan drama nya mantap sekali