Jangan lupa membaca Menikahi Pria Tua agar alur cerita lebih mudah dipahami ya. 😘💕
Odet Alesha, gadis mungil berwajah baby face yang dijuluki Queen of Game, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah karena satu malam yang penuh kekacauan.
Alexandre Mahendra, CEO muda di balik perusahaan gaming terbesar, dikenal dingin, sempurna, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajamnya, tersimpan luka mendalam akibat cinta pertama yang memilih kakaknya sendiri.
Sebuah kesalahan di acara anniversary Mommy Keyna dan Daddy Devan membuat mereka terikat dalam pernikahan yang tak pernah diinginkan.
Di antara pertengkaran, rasa benci, dan luka masa lalu, benih-benih cinta perlahan tumbuh. Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, keduanya harus memilih...
Mempertahankan cinta yang telah diperjuangkan... atau melepaskan orang yang akhirnya menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
“Jangan mendengarkannya jika itu membuatmu sakit,” ujar Odet pelan sambil menatap wajah Alex yang begitu dekat dengannya.
Hanya beberapa sentimeter jarak di antara mereka. Nafas Odet bahkan bisa dirasakan oleh Alex, hangat dan samar di udara dingin pagi itu.
Namun dalam sekejap—
Alex justru mendorong tubuh Odet menjauh darinya.
Gerakannya cepat, tegas, tanpa keraguan sedikit pun.
Ia menatap Odet dengan wajah dingin seperti biasanya, tanpa sedikit pun senyum di wajah pria berusia 27 tahun itu.
“Aku sudah bilang padamu… jangan pernah berbicara kepadaku,” tegas Alex dengan suara rendah namun menusuk.
Tatapannya begitu datar, namun penuh penolakan yang jelas.
Tanpa menunggu jawaban, Alex langsung berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Odet yang berdiri membeku di tempatnya.
Seolah seluruh dunia berhenti di detik itu.
“Aku hanya ingin membantunya…” gumam Odet pelan.
Suaranya nyaris tidak terdengar.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya, lalu dengan langkah berat ia mengikuti Alex masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, Alex sudah berbaring di tempat tidur.
Namun yang membuat Odet terdiam sejenak adalah—
Alex masih memakai sepatunya.
Tanpa berpikir panjang, Odet melangkah mendekat.
Niatnya sederhana, ia ingin membantu melepas sepatu Alex agar pria itu bisa beristirahat dengan nyaman.
Namun sebelum tangannya sempat menyentuh—
Alex tiba-tiba bangkit.
Gerakannya cepat, matanya langsung menatap Odet dengan tajam.
“Sudah berapa kali aku bilang padamu… jangan pernah menyentuhku atau berbicara kepadaku,” bentaknya dingin, tanpa ekspresi lembut sedikit pun.
Suasana kamar seketika menjadi sangat tegang.
Odet terdiam.
Tapi kali ini… bukan diam yang biasa.
Ada sesuatu yang pecah di dalam dirinya.
Perlahan, Odet berdiri tegak. Matanya menatap Alex dengan tajam, penuh luka yang selama ini ia tahan.
“Kenapa kau selalu marah padaku?!” pekik Odet, suaranya bergetar namun tegas.
Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia tidak ingin terlihat lemah.
“Padahal aku hanya ingin membantumu… tapi kenapa semua yang kulakukan selalu salah di matamu?!”
Air mata yang ia tahan akhirnya jatuh juga.
Wajahnya yang semula tenang kini memerah karena emosi.
“Setiap kali aku ada di dekatmu… seolah-olah aku selalu menjadi kesalahan!” lanjutnya dengan suara yang semakin pecah.
Alex terdiam.
Namun tatapannya tidak berubah.
Bukan lembut.
Bukan menyesal.
Tetap dingin.
Ia melangkah maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Odet tanpa sadar mundur.
Hingga punggungnya menyentuh dinding kamar.
Ia terjebak.
Tidak bisa pergi.
Tidak bisa menghindar.
Alex kini berdiri tepat di depannya.
“Dengar baik-baik,” suara Alex terdengar rendah namun penuh tekanan. “Aku tidak menyukaimu.”
Kalimat itu membuat dunia Odet seolah berhenti.
“Aku tidak menyukaimu karena kau membuatku tidak bisa mendapatkan Keyla.”
Hening.
Udara terasa lebih berat dari sebelumnya.
“Dan aku sangat membenci pernikahan terpaksa ini yang dibuat Mommy.”
Tatapan Alex semakin tajam.
“Jika bisa, aku ingin kau pergi dari hidupku sekarang juga.”
Kalimat itu benar-benar menghantam Odet tanpa ampun.
“Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku.”
Selesai.
Tanpa tambahan kata lain.
Alex langsung berbalik dan pergi meninggalkan kamar.
Pintu tertutup.
Sunyi.
Hanya ada Odet yang masih berdiri di tempatnya.
Beku.
Seolah seluruh tubuhnya kehilangan fungsi.
Dan kemudian—
Ia mendorong pintu kamar itu dengan cepat dan berlari keluar.
Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
“ODDET!” teriak Mommy Keyna dari kejauhan saat melihat Odet berlari keluar dari rumah.
Namun Odet tidak berhenti.
Ia terus berlari.
Keluar dari Mansion utama.
Menembus halaman luas tanpa ragu.
Langkahnya tidak tahu arah.
Ia hanya ingin pergi.
Pergi sejauh mungkin dari tempat yang membuatnya sakit.
“ODDET!”
Suara itu akhirnya menghentikannya.
Seseorang menarik tangannya dari belakang.
Odet berbalik.
“Andre…” lirihnya.
Tanpa berkata apa-apa, Andre langsung menarik Odet ke dalam pelukannya.
“Menangislah, Kak…” ucap Andre pelan.
Pelukan itu seperti pagar terakhir yang menahan semua runtuhnya perasaan Odet.
Dan akhirnya—
Odet menangis.
Sungguh-sungguh menangis.
Di pelukan Andre.
Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan semuanya sendirian.
“Aku hanya ingin membantunya…” suara Odet pecah di antara tangisnya. “Kenapa aku selalu salah…”
Andre tidak menjawab.
Ia hanya mengusap kepala Odet pelan.
Tak lama kemudian, Keyla dan Adytia yang baru keluar dari kamar melihat pemandangan itu.
Keyla langsung terdiam.
“Ada apa?” tanyanya pelan.
Namun saat melihat Odet menangis di pelukan Andre, Keyla langsung berjalan mendekat.
“Odet…”
Andre perlahan melepaskan pelukannya.
Keyla segera menarik Odet ke dalam pelukannya sendiri.
“Sudah… sudah… tidak apa-apa,” bisik Keyla lembut.
“Kenapa aku selalu disalahkan, Kak…” suara Odet bergetar. “Aku hanya ingin membantu…”
Keyla mengusap kepala Odet dengan lembut.
“Ayo duduk dulu.”
Mereka pun duduk di bangku taman tidak jauh dari sana.
“Duduk di sini ya,” ujar Keyla lembut.
Odet menurut.
Tubuhnya masih bergetar kecil karena tangis yang belum sepenuhnya reda.
Keyla menghapus air mata di pipi Odet.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Keyla hati-hati.
Odet diam.
Namun akhirnya ia menggeleng.
“Aku… hanya bertengkar kecil dengan Alex,” jawabnya pelan, berusaha menyederhanakan semuanya.
Keyla menatapnya lama.
“Kalau Alex menyakitimu, bilang padaku.”
Nada suaranya tegas, namun penuh kasih sayang.
“Aku akan menegur anak itu.”
Mendengar itu, Odet justru tersenyum kecil.
“Dia… hanya sedang marah, Kak.”
Namun dalam hatinya, ia tidak bisa menjelaskan lebih jauh.
Beberapa saat kemudian, suasana mulai sedikit lebih tenang.
Odet mulai kembali berbicara dengan Keyla, meski sesekali masih terlihat sedih. Perlahan, tawa kecil mulai kembali muncul di antara mereka.
Andre dan Adytia yang melihat itu akhirnya ikut mendekat.
Andre menyerahkan sebuah kertas kepada Odet.
“Kak Odet! Aku punya sesuatu untukmu!”
Odet menerima kertas itu dengan bingung.
“Apa ini?”
Ia membuka lipatannya perlahan.
Matanya langsung berbinar.
“Apa ini serius?” tanya Odet tidak percaya.
Keyla dan Adytia ikut melihat, lalu tertawa kecil melihat ekspresi Odet.
“Panggil aku Andre saja,” kata Keyla sambil tertawa. “Kamu kan sudah menjadi bagian keluarga ini.”
“Maaf… aku sering lupa,” jawab Odet sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Andre tersenyum.
“Aku sudah mendaftarkan Kak Odet ke turnamen game di perusahaan Kak Alex.”
Mata Odet langsung melebar.
“Serius?!”
Andre mengangguk.
“Ya. Tunjukkan kemampuanmu.”
“Terima kasih, Andre!” ucap Odet dengan penuh semangat.
Untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya benar-benar terlihat bersinar lagi.
Namun dari kejauhan…
Sepasang mata sedang memperhatikan mereka.
Dingin.
Tajam.
Tanpa ekspresi.
Alex berdiri di balik bayangan, menatap semua itu tanpa bergerak sedikit pun.
Matanya tak pernah berhenti menatap satu sosok yang begitu cantik di matanya, wanita yang selama ini menguasai hatinya, namun Tuhan tidak menakdirkan wanita itu untuk dirinya.
“Kau begitu cantik dan selalu cantik, Keyla!” batin Alex.
Bersambung..
Jangan lupa untuk:
👍 Like
💬 Komentar
❤️ Favorit
🎟️ Vote
☕🥀 Berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini
upp terus ya