Kisah seorang gadis yang demi menyelamatkan orang lain harus rela kehilangan ingatannya termasuk identitas dirinya namun justru membuatnya mendapatkan identitas baru yang kemudian merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipik sukirno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 23
Lin Fengyin beserta beberapa pemegang saham atas hotel yang tengah dibangunnya tengah melakukan pemantauan progres pengerjaan gedung yang digadang-gadang akan menjadi hotel terbesar didalam negeri.
"Disini adalah lobby kita, bisa tuan lihat ini akan menjadi lobby terluas dari yang pernah ada.Disisi barat akan dijadikan spot pertokoan sesuai rencana awal. Pengerjaannya sudah hampir rampung bulan ini." Ujar arsitektur yang menjadi 'tour guide' perjalanan hari ini.
Mereka menyusuri setiap ruangan dari gedung itu sampai beberapa lantai keatas. Dan sampailah mereka dilantai lima belas.
"Dari lantai ini kita sudah bisa melihat pemandangan kota kita." Katanya lagi sembari menunjukkan keluar gedung yang memperlihatkan hiruk pikukny sebuah kota siang hari.
Yah, memang benar dari balkon yang sedang mereka pijaki memang memperlihatkan pemandangan jalanan yang sedang hiruk pikuknya. Tapi itu hanya lantai lima belas. Apa yang akan disuguhkan lima belas lantai diatasnya. Pastilah akan lebih menakjubkan lagi.
Ditengah perbincangan mereka, tiba-tiba sebuah palu besar terlihat akan jatuh tepat kearah Lin Fengyin. Beruntung Yu Shuan melihat palu besar tersebut sehingga dengan cepat dia menarik tangan Lin Fengyin dengan kuat.
Hampir saja Lin Fengyin marah dan salah faham denga apa yang dilakukan sekretarisnya itu terhadapnya. Begitu pula dengan yang lainnya. Namun kesalah fahaman itu segera segera berganti dengan rasa kaget bercampur ngeri setelah palu besar itu jatuh dilantai tepat dimana Lin Fengyin berdiri sebelumnya.
***
Disaat yang bersamaan dimana Gadis dan Pria dialam yang berbeda sedang bercanda ria diatas sebuah pohon dengan keranjang dipunggung mereka.
Mereka tengah asik memenuhi keranjang-keranjang itu dengan buah-buah yang sudah matang dipohon itu. Tiba-tiba satu buah berukuran besar dipucuk pohon terlepas dari tangkainya tepat diatas kepala Pria.
"Awas diatasmu!!" Teriak Gadis seketika.
Beruntung reflek pria cukup bagus untuk menghindari buah besar itu, sehingga buah itu tidak mengenai anggota tubuhnya dan langsung jatuh ketanah yang langsung hancur seketika.
"Fiiuuhhh" Pria menghela nafas lega.
Entah apa yang akan terjadi jika buah besar itu mengenai kepalanya. Diliriknya Gadis yang terlihat bengong memandangi buah yang sudah hancur dibawah sana.
"Sudahlah. Saya tidak apa-apa. Terima kasih sudah memperingati saya." Ujarnya
"Sayang sekali." Gumam Gadis.
"Apa yang kau sayangkan? Sudahlah, masih banyak buah dengan ukuran yang lebih besar dari itu." Kata Pria menenangkan.
Gadis kemudian menatap Pria dengan wajah kecewanya.
"Apa? Kenapa kau menatap saya dengan tatapan seperti itu ?" Tanya Pria bingung.
"Kenapa buah itu harus jatuh ?" Tanya Gadis sedih.
"Buah itu sudab terlalu masak. Buah yang sudah masak akan melepaskan diri dari tangkainya secara otomatis." Jawab pria menjelaskan.
"Bukan, bukan itu." Sahut Gadis menggelengkan kepalanya.
"Lalu apa yang kau maksud ?" Tanya Pria semakin bingung.
"Kenapa buah itu tidak mengenaimu ?" Tanyanya sedih.
"Jadi, kau berharap buah besar itu mengenai kepalaku, begitu ?" Tanya Pria kesal.
"Iya. Bleee.." Ledek Gadis dengan menjulurkan lidahnya dengan kesepuluh jari yang dimainkannya disisi wajahnya.
***
"Oh tuhan, apa yang terjadi ?!" Teriak arsitektur itu terkejut.
Seketika yang ada disana pun menjadi panik dan marah. Terlebih lagi Lin Fengyin yang hampir saja menjadi sasaran empuk palu besar tersebut.
"Siapa yang ceroboh menjatuhkan palu ini ?!" Teriak Lin geram sambil mendongakkan kepalanya.
"Tuan, tolong maafkan kecerobohan pekerja saya." Kata arsitek itu gemetaran karena panik dan takut.
Bagaimana tidak, yang baru saja hampir kejatuhan palu itu adalah pemegang saham terbesar sekaligus pemilik sah dari gedun yang sedang digarapnya.
"Siapa mandornya ? Bawa kesini segera !" Perintah Lin tegas.
"Baik, baik. Saya akan panggilkan mandornya." Jawab arsitek itu yang semakin ketakutan dengan keringat yang mulai mengucur ditubuhnya.
Arsitek itu segera mengambil alat komunikasi HT untuk menghubungi mandor yang bertugas digedung tersebut.
"Saya sungguh minta maaf, tuan-tuan. Sehari sebelumnya saya sudah menginstruksikan kepada pekerja digedung ini untuk pindah kegedung yang lainnya karena tuan-tun sekalian akan datang. Saya tidak ingin kunjungan tuan-tuan sekalian menjadi tidak nyaman jika ada suara bising pekerja." Ujar arsitek itu kemudian sambik terus-terusan membungkukkan tubuhnya karena merasa bersalah.
"Jika memang begitu lalu bagaimana bisa ada palu besar yang jatuh dari atas ? Apakah kau akan mengatakan bahwa itu jatuh dari langit ?!" Bentak Lin.
"Tidak, tuan. Saya juga tidak mengerti. Seharusnya benar-benar tidak ada pekerja digedung ini." Jawab arsitek itu.
"Hmph!" Dengus Lin.
Tak berapa lama seorang pria paruh baya dengan perut buncitnya lari tergopoh-gopoh menghmpiri mereka.
"Selamat siang, tuan-tuan sekalian. Saya mandor yang bertnggung jawab atas pembangunan gedung ini. Apakah ada yang bisa saya bantu sampai saya dipanggil tiba-tiba seperti ini." Tanyanya kemudian.
"Dimana semua anak buahmu ?" Tanya Lin seketika.
" Semua pekerja digedung ini sedang dipindahkan kegedung tower kanan, tuan. Sesuai instruksi karena tuan-tuan sekalian akan berkunjung." Jawabnya sedikit panik.
"Lihat ini !" Bentak Lin sembari menunjuk palu besar tadi yang masih tergeletak dilantai.
"Oh, bagaimana bisa mereka meninggalkan palu sebesar ini disini. Sepertinya mereka lupa meninggalkan ini disini." Jawabnya yang kemudian dia membungkukkan badannya untuk emungut palu tersebut.
Saat tangannya sudah menyentuh palu tersebut dengan cepat Lin mengangkat kaki kanannya dan menginjakkannya ditangan mandor itu.
"Aakh !! Tuan apa salah saya ?" Teriaknya kesakitan.
"Kau bertanya apa salahmu ?" Tanya Lin mencoba mengontrol emosinya.
"....ya.. Iya tuan. Apa yang salah dari saya memungut palu ini ?" Tanyanya sambil meringis kesakitan.
Yang ada disana hanya bisa menonton tidak ada yang berani melerai atau sekedar menenangkan Lin yang sudah sangat emosi. Karena mereka sudah faham. Meski lebih muda, tapi kedudukn Lin Fengyin lebih tinggi dibandingkan dengan mereka semua yang ada disana. Dan dipikiran semua orang sudah terpatri bahwa Lin Fengyin adalah orang yang cukup kejam dan arogan. Selalu bertindak dengan tegas dan kejam.
"Jadi kau tidak tau kalau ada orang yang sengaja menjatuhkan palu besar ini dan hampir mengenaiku dan orang-orang yang ada disini ?" Selidiknya.
"Benar tuan, saya tidak tau. Mungkin palu ini tertinggal diatas lalu jatuh sendiri karena tertiup angin." Jawabnya ketakutan tidak berani menegakkan kepalanya.
"Hahahahahahaaaa.." Tawa Lin pecah dan menggema diseluruh ruangan itu sampai kelantai yang ad diatas dan bawah yang dipijakinya.
Semua orang yg semula masih berbisik-bisik seketika terdiam karena merasakan kengerian dari tekanan yang dipancarkan Lin Fengyin.
"Kau fikir saya bisa percaya dengan spekulasimu itu, hah ?!" Tanyanya kemudian sambil menekankan kembali kakinya.
Meski sakit namun mandor itu tidak berani untuk teriak. Hanya bisa meringis menahan rasa sakitnya. Berkali-kaki dia melirik kearah arsitek yang juga menunduk ketakutan agar menyelamatkanny dari amukan Lin Fengyin.
"Tuan, ini pasti ulah dari orang luar yang tidak suka dengan kesuksesan pembangunan hotel kita ini." Ujar arsitek itu kemudian.
"Haaah, kaupun ikut berkomplot didalamnya. Sungguh mengecewakan." Ujar Lin kecewa.
Seketika arsitek itu berlutut dihadapan Lin Fengyin untuk memohon belas kasihan dari Lin Fengyin agar tidak mendepaknya dari proyek ini.
"Maafkan saya tuan. Saya sungguh tidak tau hal ini akan terjadi. Saya hanyalah seorang arsitek. Tidak tahu menahu dengan masalah yang seperti ini." Ujarnya.
"Sudahlah. Hal ini akan segera saya selidiki. Jika kalian terbukti terlibat, saya akan langsung memecat kalian saat itu juga." Ancam Lin.
Setelah mengatakan itu Lin Fengyin segera meningglkan tempat itu diikuti Yu Shuan dan para pemegang saham lainnya.
Penasaran nggak? Penasaran nggak? Ikuti terus biar tau kelanjutan ceritanya..
*thx to @Sherlyasari buat kritik n' sarannya. Kritik dan saran dari kamu sangat membantu saya untuk membuat novel ini semakin baik ..