Menjalin hubungan dengan beda keyakinan tak membuat rasa cinta gadis bernama Tamara Adisti berkurang sedikitpun.
Namun saat Tara membulatkan tekad untuk berhijrah, ia terpaksa harus memutuskan tali cinta yang telah membuncah dihati mereka.
Vano yang sudah terperosok ke dalam lubang cinta dengan sosok gadis sederhana bernama Tara itu tak terima akan keputusan yang Tara berikan atas putusnya hubungan mereka.
"Dua tahun bukan waktu yang sebentar, Tar! Jalan yang kita lalui untuk kita bisa bersama seperti sekarang ini juga tidaklah mudah. Kenapa kamu seperti ini? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu tidak akan mempermasalahkan keyakinan kita yang berbeda. Terus kenapa sekarang kamu menyerah hanya karena keyakinan? Apakah sepenting itu, Tar. Sampai kamu rela mengorbankan cinta kita!"
Bagaimanakah kisah kedua remaja labil itu?
Mari ikuti kisahnya....
(MASIH DALAM TAHAP REVISI)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
Tepat pukul 16:35 Vano telah berada didepan pintu masuk tempat kerja Tara. Ia berdiri menunggu kedatangan sang kekasih yang belum juga kelihatan batang hidungnya.
Setelah setengah jam menunggu, akhirnya Tara terlihat keluar dari sebuah pintu bertuliskan office dan berjalan kearahnya.
Dengan wajah sumringah, Vano mengulurkan tangannya saat Tara sudah ada didepannya agar wanita itu meraihnya. Vano dapat melihat jelas jika Tara sedikit ragu saat menggenggam tangannya, namun Vano berusaha mencairkan suasana dengan tak menghiraukannya.
"Kita mau jalan keman?" tanya Vano membuka percakapan.
"Terserah kamu aja," jawab Tara dengan tersenyum samar.
"Aku bingung mau kemana. Makan aja gimana? Kamu laper nggak?" tanya Vano.
"Makan disana aja ya," Tara menunjuk sebuah restoran cepat saji, "aku lagi pengen makan itu soalnya."
Vano mengusap kepala Tara lembut. "Siap Tuan Putriku. Apapun untukmu." Vano merangkul bahu Tara.
Entah kenapa Tara agak risih saat tangan Vano berada dibahunya, padahal hal seperti ini sudah biasa mereka lakukan selama menjalin hubungan di dua tahun ini. Dan Vano juga salah satu pria yang bisa membuatnya nyaman akan sentuhan ringannya.
Tara berusaha menahan semua keraguannya, mungkin dia hanya bosan saja karena selama dua tahun ini mereka selalu bersama hampir setiap hari. Tara harus membiasakan itu agar ia bisa terbiasa bersama jika mereka telah menikah nanti. Bukankah jika mereka menikah, itu artinya mereka akan terus bersama selamanya?
Setibanya di resto, Tara segera mencari tempat duduk, sedangkan Vano mengantre untuk memesan makanan.
Selama menunggu Vano, Tara sibuk membalas pesan singkat dari beberapa orang yang mengiriminya pesan chat di whatsapp, hingga ia menghentikan aktifitas membalas pesannya saat Vano sudah ada disampingnya.
Tara melirik Vano sekilas. Ia heran kenapa Vano duduk disampingnya. Padahal selama berpacaran, jika mereka sedang makan diluar, mereka selalu duduk berhadapan, kecuali saat dimeja makan rumah Vano.
Tara berusaha tenang menghabisi makanan miliknya diatas meja. Ia terkejut saat tangan Vano berusaha menghapus noda saos disudut bibirnya dan tersenyum manis. Tara menelan ludahnya, ada apa dengan pria ini? Kenapa dia jadi lebih manis seperti ini?
Setelah selesai menghabiskan makanannya dan mencuci tangan, Vano dan Tara keluar dari restoran menuju tempat parkir.
Dari kejauhan, Tara dapat melihat Deska yang tengah berdiri disamping motornya. Saat mereka telah sampai didepan Deska, Tara tersenyum menatap gadis cantik itu lalu memeluknya sebentar. "Long time no see, Kak Tara."
"Baru beberapa hari, Ka," jawab Tara dengan tersenyum tipis. "Kamu ngapain disini?" tanya Tara kemudian.
"Kita pergi pakai mobilku," Vano yang kini menjawab pertanyaannya. Tara menatap Vano seolah bertanya 'kenapa?'.
"Biar Deska dan temannya yang akan bawa motor kamu pulang." Tara menatap sekeliling. "Temannya diluar mall," lanjut Vano.
Tak punya pilihan lain karena tak mau berdebat akan hal kecil, Tara memberikan kunci motornya pada Deska. Setelah kepergian Deska, mereka berjalan menuju mobil Vano yang terparkir tak jauh dari motornya tadi.
Didalam mobil, tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara. Pandangan mereka lurus menghadap kaca depan mobil. Tara sesekali membalas beberapa pesan yang masuk di whatsapp nya.
Vano tiba-tiba merebut ponsel Tara dan meletakkannya diatas dashboard mobil. Tara hanya mematung tanpa menatap Vano yang kini sedang menatapnya.
"Kamu udah punya yang lebih dari aku, Tar?" tanya Vano datar.
"Apa pria diponselmu itu yang membuat kamu menghindariku dua hari ini, Tar?" Tara mendongak, menatap Vano yang masih setia menatapnya. "Kamu udah nggak ada perasaan buat aku?"
"Kamu kenapa seperti ini, Tar? Kamu berubah. Kamu menjauhiku. Apa salahku? Katakan kalo aku memang punya salah sama kamu, Tar. Tapi please, jangan diamkan aku seperti ini. Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Kamu tahu itu, Tar!"
Tara tak bisa menahan tangisnya saat mendengar Vano mengucapkan semua itu. Tara menundukkan kepalanya, ia tak kuat menatap mata Vano. Jujur, ia benar-benar tidak tahu ada apa dengan dirinya saat ini.
Vano menangkup kedua pipi Tara hingga wajah Tara berada tepat didepan wajahnya. "Kenapa menangis, em? Apa aku punya salah sama kamu? Katakan aja nggak apa kok, Tar. Kalo aku ada salah, aku minta maaf. Tapi tolong jangan seperti ini, aku nggak bisa lihat wanita yang aku cintai ini menangis karena kesalahanku."
Tara menggelengkan kepalanya pelan. "Maafin aku," lirihnya.
"Kenapa minta maaf, Sayang?" Vano menghapus air mata dipipi Tara. "Kamu nggak pernah salah sama aku, jadi jangan minta maaf ya."
Tara kembali menggelengkan kepalanya, namun tak mengucapkan sepatah katapun. Vano merengkuh wanita itu kedalam pelukannya, ia tak bisa melihat wanitanya menangis seperti ini. Vano tak tahu ada apa dengan wanitanya ini, dia benar-benar tak suka situasi seperti ini! Bukankah selama dua tahun ini semuanya baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba jadi begini?
"Kamu cerita kalo ada masalah, Sayang. Aku beneran nggak bisa kita sedih-sedih kayak gini, aku mau kita bahagia bersama." Vano mengelus punggung Tara yang masih menangis.
"Maafin aku, Van," lirih Tara. Kini ia membalas pelukan Vano dengan erat, seolah tak mau kehilangan pria baik dihadapannya itu.
Tak mudah untuk Tara dekat dengan lelaki, teman lelakinya saja hanya Amir, Rio, dan Nata. Setelah kepergian Amir -pria terbaik yang ia kenal- Tara tak mau kehilangan Vano juga. Selain Amir, Vano salah satu pia yang bisa membuatnya nyaman saat berada disisinya. Bahkan sentuhan ringan Vano yang membuatnya nyaman tak bisa ia rasakan pada lelaki manapun, termasuk ayahnya sendiri. Tapi kenapa sekarang seperti ini?
Sekali lagi, Tara berusaha mengubur semua keraguannya, ia akan mencoba kembali seperti saat di dua tahun belakangan ini pada Vano. Menjalani hari bersama Vano dengan rasa yang bahagia. Ia yakin keraguan ini hanyalah ujian menjelang hari keseriusan mereka.
Setelah Tara lebih tenang dan tak mengeluarkan air mata lagi, Vano menjauhkan tubuhnya dari Tara. Ia mencoba bertanya tentang sikap Tara yang beberapa hari ini menjauhinya, tapi Tara hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Mungkin aku sedang lelah saja, beberapa hari ini banyak teman yang sakit, jadi aku harus lembur." Begitulah alasan yang Tara berikan padanya. Meski tak percaya, tapi Vano berusaha mengiyakannya saja.
"Yasudah jangan nangis ya, kita mau kemana sekaranga?" tanya Vano sembari mengelus pucuk kepala Tara.
"Aku ikut kamu aja deh," jawab Tara tersenyum manis.
Vano tersenyum saat melihat wajah Tara yang sudah kembali tersenyum padanya, meski terdapat sedikit paksaan didalam senyuman manis itu. Mungkin benar jika Tara sedang lelah karena pekerjaannya. Apakah mereka pulang saja? Tapi ia masih rindu dengan wanita ini. Setelah berfikir dengan keras, Vano akhirnya melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
"Van, lepas. Kamu fokus nyetir aja, nanti kita nabrak, loh." Tara menarik tangannya yang sedari tadi digenggam Vano.
Vano hanya tersenyum tanpa membalas ucapan Tara. Ia menggenggam erat tangan Tara selama diperjalanan, seolah jika dilepas ia akan kehilangan wanita disampingnya ini.
Cukup jauh perjalanan mereka, kini mobil Vano berhenti didepan sebuah hotel yang cukup mewah. Hotel dengan taman indah disekelilingnya dan cukup jauh dari ibu kota.
Tara mengernyitkan dahinya saat melihat bangunan mewah disampingnya itu. Ia menatap Vano meminta penjelasan.
"Kita nginep semalam disini ya, Tar."
Tara membulatkan matanya. Menginap? Berdua dengan Vano?
"Kamu gila, Van!"
"Sayang, please ya. Aku masih rindu banget sama kamu, dua hari kamu nggak ngabarin aku, aku tersiksa, Sayang." Vano menggenggam tangan Tara namun ditepis Tara pelan.
"Kita bisa keliling sampai malam, Van. Tidak menginap dihotel seperti ini!"
Vano jelas melihat raut tak suka Tara, tapi ia benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama Tara.
"Semalam saja Tar, please—"
"Nggak!" tolak Tara ketus. "Kamu jangan gila, ayo kita pulang sekarang."
"Tar, aku cuma mau menghabiskan waktu bersamamu. Aku janji nggak bakal macem-macem, Tar." Vano kembali merai tangan Tara dalam genggamannya. "Aku tahu batasanku, Tar. Aku nggak bakal macem-macem. Kita ngobrol sampai malem dan tidur, udah gitu aja. Please, mau ya, sayang?"
Tara tak menyahuti perkataan Vano. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Sayang," panggil Vano lagi karena Tara hanya diam saja.
"Kita beda kamar," cetus Tara.
"Tapi, Tar. Aku mau tidur sama kamu, Sa—"
"Kamu jangan kelewatan, Van! Kalo kamu mau nginep disini, yaudah nginep aja sendiri. Aku mau pulang, aku akan minta jemput Rio." Tara meraih ponselnya diatas dashboard dan hendak membuka pintu mobil, tapi sayang pintunya tidak bisa dibuka.
Tara menatap Vano tajam. "Buka!" tekan Tara dengan suara pelan.
******
Ditunggu Like, Coment, serta Vote nya...
Jazakamallah khair..