NovelToon NovelToon
Sacrifice Of Love

Sacrifice Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Patahhati / Militer
Popularitas:21.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hida

"Cinta" satu kata yang penuh makna. Terkadang butuh pengorbanan untuk menunjukkan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gunawan Datang

****

Pagi di barak Pulau N terasa lebih tenang dari biasanya. Namun, bagi Fahira, kedamaian itu hanya semu. Setiap langkahnya terasa diawasi, seakan ada mata yang selalu mengintainya. Ia tahu betul siapa dalang di balik perasaan tertekan ini, ayahnya, Gunawan Mahendra.

Brigjen Pol Gunawan bukan hanya seorang ayah yang tegas, tetapi juga seorang pria yang sangat berpengaruh. Sejak mengetahui Fahira masih menyimpan perasaan untuk Doni, ia semakin ketat mengawasi setiap gerak-gerik putrinya. Bahkan, ia menempatkan beberapa orang kepercayaannya untuk memastikan Fahira tidak memiliki celah untuk mencari Doni atau kembali berhubungan dengannya.

Fahira duduk di tepi ranjangnya, menatap liontin yang masih tergantung di lehernya. Liontin itu adalah kenangan terakhir dari Doni, sesuatu yang selalu mengingatkannya pada masa-masa indah mereka dulu.

Talita masuk ke kamar Fahira tanpa mengetuk pintu, wajahnya penuh kekhawatiran.

“Ra, lo sadar nggak kalau belakangan ini ada beberapa orang asing di sekitar barak?” tanya Talita dengan nada serius.

Fahira menoleh. “Orang asing?”

Talita mengangguk. “Iya. Gue udah lihat dua kali orang yang sama duduk di warung dekat barak, seperti mengawasi sesuatu. Terus, pas gue jalan ke belakang barak, ada lagi yang kayaknya nggak asing, tapi gue nggak tahu siapa.”

Fahira menghela napas. Ia tahu ini bukan kebetulan. Ini pasti perbuatan ayahnya.

“Ayah gue pasti menempatkan orang-orangnya buat ngawasin gue,” gumamnya pelan.

Talita menatapnya prihatin. “Ra, lo yakin mau terus bertahan di sini dengan kondisi kayak gini?”

Fahira mengangguk tegas. “Gue nggak akan menyerah. Kalau papa berpikir gue bakal nurut hanya karena dia mengawasi gue, dia salah.”

Talita menghela napas panjang. “Ya udah. Gue cuma mau lo hati-hati.”

**

Di tempat lain, Gunawan duduk di ruang kerjanya. Ia menatap laporan dari anak buahnya dengan ekspresi dingin.

“Jadi, dia masih tetap mencari Doni?” tanyanya dengan suara berat.

Salah satu anak buahnya mengangguk. “Iya, Pak. Dia belum menyerah.”

Gunawan mengernyit. “Bagaimana dengan Doni?”

“Kami belum menemukan keberadaannya. Dia benar-benar menghilang, seperti bayangan.”

Gunawan tersenyum tipis. “Bagus. Biarkan dia tetap bersembunyi. Jangan sampai dia berani muncul di hadapan putri saya lagi.”

Anak buahnya mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu.

Gunawan menyesap kopinya, matanya berkilat tajam. Ia tahu betul Doni bukan orang yang mudah menyerah. Tapi kali ini, ia tidak akan membiarkan anak itu kembali dan merusak rencananya.

**

Sementara itu, di hutan yang tidak jauh dari barak, Doni berdiri di balik rimbunan pohon. Ia masih seperti dulu, mengawasi Fahira dari kejauhan.

Melihat wanita yang dicintainya masih bertahan di barak, meskipun dalam tekanan, membuat hatinya semakin bimbang.

Ia ingin menghampiri Fahira.

Ia ingin memberitahunya bahwa ia masih ada di sini, masih melindunginya.

Tapi Doni tahu, selama Gunawan masih bernapas, ia tidak akan pernah bisa kembali.

Doni mengepalkan tangannya. Ia tidak bisa terus seperti ini.

Ia harus menemukan cara untuk mengakhiri semua ini.

Bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Fahira.

Malam itu, Fahira berjalan keluar dari baraknya. Udara dingin menyentuh kulitnya, tetapi pikirannya jauh lebih kacau dari sekadar rasa dingin.

Ia merasa ada seseorang di luar sana, memperhatikannya.

“Doni…” bisiknya pelan.

Tapi tak ada jawaban.

Ia hanya bisa berharap, suatu saat, Doni akan kembali dan melawan semua rintangan yang menghalangi mereka

**

Malam semakin larut, tetapi Fahira masih belum bisa memejamkan matanya. Setiap kali ia mencoba tidur, pikirannya selalu dipenuhi oleh ketakutan dan pertanyaan. Ayahnya semakin mengontrol kehidupannya, seolah ia adalah seorang tahanan yang tidak boleh bergerak bebas.

Ia menarik napas panjang dan mencoba menenangkan diri. Namun, suara derit kecil dari luar jendela membuatnya waspada. Dengan hati-hati, ia melangkah mendekati jendela dan mengintip ke luar. Sekilas, ia melihat seseorang berdiri di balik pepohonan. Sosok itu terlalu jauh untuk dikenali, tetapi hatinya mengatakan sesuatu, Doni.

Namun, sebelum ia bisa memastikan, sosok itu menghilang dalam kegelapan.

“Doni… itu kamu?” bisiknya, tetapi hanya angin yang menjawab.

Fahira mengepalkan tangannya. Ia harus menemukan Doni. Ia tidak peduli dengan pengawasan ayahnya, ia tidak bisa terus hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian.

**

Keesokan paginya, Fahira bangun dengan perasaan berat. Seperti yang ia duga, ayahnya datang berkunjung ke barak dengan sikap otoriter.

Gunawan datang dengan beberapa orang kepercayaannya. Pria itu mengenakan seragam kebanggaannya, lengkap dengan ekspresi dingin yang selama ini ditakuti banyak orang.

Fahira yang sedang duduk di depan baraknya langsung berdiri begitu melihat ayahnya mendekat.

“Kita perlu bicara,” ucap Gunawan tanpa basa-basi.

Fahira menghela napas, lalu mengikuti ayahnya ke dalam salah satu ruangan barak. Talita menatapnya khawatir, tetapi Fahira hanya mengangguk kecil, mencoba meyakinkan sahabatnya bahwa ia baik-baik saja.

Setelah pintu tertutup, Gunawan menatap putrinya dengan tatapan tajam.

“Papa dengar kau masih mencoba mencari Doni,” katanya langsung.

Fahira menatap ayahnya tanpa gentar. “Kalau pun iya, kenapa? Itu hakku.”

Gunawan mendengus sinis. “Hakmu? Kau pikir hidupmu ini hanya milikmu sendiri? Kau anakku, dan aku berhak menentukan apa yang terbaik untukmu.”

Fahira mengepalkan tangannya. “Yang terbaik menurut papa, atau yang terbaik menurutku?”

Gunawan mendekat, tatapannya semakin mengancam. “Dengar, Fahira. Aku sudah memberi tahu orang-orangku untuk memastikan Doni tidak pernah kembali. Jika dia masih berani mendekatimu, dia tidak akan selamat. Jika memang dia mencintaimu, harusnya dia tidak pergi dalam hidupmu. Apa laki-laki seperti itu yang ingin kamu pertahankan? ”

Fahira terkejut. “Apa maksud ayah?”

Gunawan tersenyum tipis. “Aku memiliki kekuasaan untuk membuatnya menghilang selamanya. Jangan pernah mencoba mencarinya lagi jika kau masih ingin dia hidup.”

Fahira merasa dadanya sesak. Ayahnya tidak main-main. Jika Doni benar-benar kembali, nyawanya bisa terancam.

“Ayah tidak bisa melakukan itu!” serunya marah. “Doni tidak bersalah!”

Gunawan mencibir. “Bersalah atau tidak, yang pasti dia sudah meninggalkan mu, jadi kamu tidak perlu mencarinya lagi dan tidak perlu mempertahankan lagi. Masih banyak laki-laki yang terhormat yang mau mendekati kamu. Suka atau tidak suka kamu harus ikut pilihan papa. "

Fahira merasakan air mata menggenang di matanya, tetapi ia menahannya. Ia tidak akan menangis di depan ayahnya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia berbalik dan meninggalkan ruangan itu.

***

Setelah pertemuan dengan ayahnya, Fahira semakin yakin bahwa ia harus menemukan Doni lebih cepat sebelum ayahnya menemukannya lebih dulu.

Ia mencari Gabriel, satu-satunya orang yang bisa membantunya saat ini.

Gabriel sedang duduk di depan baraknya, menyesap kopi dengan wajah serius. Begitu melihat Fahira mendekat, ia langsung tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi.

“Ada apa?” tanyanya.

Fahira duduk di sebelahnya dan menatapnya dengan penuh harap. “Gue butuh bantuan lo.”

Gabriel menaruh cangkirnya. “Gue tahu lo mau nyari Doni. Tapi, Ra, ini bukan perkara gampang. Lo tahu sendiri bokap lo bukan orang sembarangan.”

“Aku tahu,” jawab Fahira cepat. “Tapi justru karena itu, aku harus lebih dulu menemukan Doni. Kalau ayah yang lebih dulu menemukannya, aku takut terjadi sesuatu yang buruk.”

Gabriel menatapnya dalam-dalam. Ia tahu betapa keras kepala Fahira, dan ia juga tahu bahwa jika ia tidak membantu, Fahira akan mencarinya sendiri, yang justru lebih berbahaya.

Gabriel menghela napas panjang. “Baiklah. Gue bakal coba cari tahu sesuatu.”

Fahira tersenyum tipis. “Terima kasih, Gab.”

# Bersambung#

1
Ratu Felicia
baru mulai baca
Sesye Pattiasina
thor,,, kenapa si fahira bisa hilng?? kn sudah ditemukan doni sama gabriel.kok hilng lagi..ceritanya hanya d satu titik.bosan
Naufal hanifah
cerita nya bagus,
Hieda_H: terimakasih kak
total 1 replies
Raf__20
“A Memories”

Di sebuah kedai kopi kecil, Shun dan Nagisa bertemu secara tak terduga. Percakapan ringan, secangkir kopi, dan keheningan yang nyaman perlahan menumbuhkan sesuatu di antara mereka. Namun, tak semua kenangan diciptakan untuk bertahan selamanya…

Ketika masa lalu, rahasia, dan takdir mulai menguji mereka, mampukah kenangan itu tetap hidup?

Sebuah kisah tentang pertemuan, kehilangan, dan arti merelakan.
Umi Jasmine
ayo m. hilda di lanjut
Tami Satra
semangat nulis cerita nya thor
Tami Satra
cukup menarik cerita baru nya
Sulfia
lanjuuut
riska
kok gk dilanjutin?
cita puhaci
kemana terusannya ...
🔵🐲⃞⃟🅔ˣᵒzc❖𝕸𝖔𝖒𝖘Ꭿ ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
kayaknya seru nih ceritanya,,,dah aku favorit tapi belum sempat baca,,,,
Misnawati Pulungan
lanjut ya kak
cita puhaci
apa tdk dilanjutkan ? sayang Thor , teruskan ..
Indah Sasanti
kpn d lnjut lg thor
Nunuk Pati
Ayo thor ditunggu up lanjutannya...
cita puhaci
makasih mbak cerita barunya , ditunggu terusannya ...
cita puhaci
ditunggu ceritanya mbak Hida..3 jempol buat mbak
Liana Murni
lanjut Thor,,
Lili Suryani Yahya
double Up thorrr
zairakeni canel
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!