Kisah Molly Arkana yang di cintai dua pria tampan satu darah, yah, Alex kekasihnya sudah berusia 39 tahun, tapi memiliki putra berusia 23 tahun, hasil dari cinta terlarang di usia Alex yang ke 15 tahun.
Dan Farrell yang seharusnya menjadi anak tirinya, juga mencintai nya. Ini kisah Farrell yang mencintai kekasih papah nya.
Banyak bawang, jadi siap kan tissue, ada part ngakak nya juga, plus part bucin, romantis, sama geram sampe geregetan pengen gigit telinga orang, siap siap, dengan alur cerita naik turun nya. 😍♥️
Happy reading ♥️😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis amatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ombak....
Kaki Molly masih terasa sakit namun karena takut membuat si junior terbangun, gadis itu lebih memilih menahan nya sendiri, sungguh baru pernah Molly duduk di pangkuan seorang pemuda, bahkan bersama kekasihnya saja Molly tak pernah bersentuhan seintens itu.
Dengan demikian sabarnya Farrell menggendong tubuh kecil Molly mengikuti langkah tiga orang pria menuju sebuah kedai kopi tepi pantai. Angin malam pantai berhembus begitu kencang membuat gadis dalam gendongan Farrell tak sengaja mempererat kalungan tangan di tengkuknya. Dan Farrell masih fokus dengan langkah gagahnya, pandangannya lurus ke depan.
"Silahkan mas, di sini.." ucap satu pria menunjukkan bangku panjang pada Farrell.
"Iya pak, terimakasih.."
Farrell mulai mendudukkan tubuh kecil Molly di bangku tersebut dan ringisan wajah Molly mulai nampak dari sebelumnya.
"Aakkk Aahh.." keluhnya.
"Apa masih terlalu sakit?" tanya Farrell dengan wajah yang terselip keperdulian. Dan gadis itu mengangguk.
Beberapa pria yang menyandang sarung itu tampak menatapnya iba, apes sekali pengantin baru itu, malam pertama malah mogok di tepi pantai, dengan kaki yang terkilir, tentu saja mereka berpikir demikian.
"Saya ambilkan balsem saja gimana? tidak perlu di urut insya Allah langsung kembali lagi urat-urat ke asalnya mas.." tawar pria yang sepertinya pemilik kedai tersebut.
"Oh boleh pak kalau begitu.." saut Farrell tanpa bertanya dulu pada si penderita yang tampak mengekspresikan wajahnya menolak.
"Aku tidak mau Rell, balsem itu panas, kulit ku bisa gosong terbakar sama krim begituan.." protesnya.
"Apa kau lebih memilih sakit begini hah? kau suka di perhatikan oleh ku? kau suka di gendong dan duduk di pangkuan ku hah.?" ketus Farrell menukas. Suaranya pria itu pelan kan agar orang lain tak mendengar.
"Tentu saja tidak..!!" sergah Molly menggeleng kasar "Kamu kenapa sih, berpikir negatif terus padaku?" tambahnya mengerucut kan bibirnya manis.
Farrell memalingkan wajahnya tak mau menatap hal yang mungkin bisa membuatnya khilaf.
"Oh ya ampun, bibirnya, apa dia sengaja menggoda ku..!!"
Umpat dalam batinnya.
...----------------...
Selang beberapa menit, pemilik kedai pun keluar membawa balsem yang di tawarkan, dengan sopan pria itu menyerahkan nya pada Farrell.
Meskipun awalnya menolak, tapi akhirnya mau juga gadis itu memakainya, sekitar lima belas menit Farrell dan Molly berbincang dengan pemilik kedai, bertanya tanya sebenarnya mereka terdampar di kota apa, karena sepertinya tempat itu begitu asing bagi keduanya.
Dan benar saja mereka sudah melewati puluhan kabupaten dari kota asalnya, untungnya bukan provinsi atau pulau yang di lampaui.
Melihat ombak laut yang berdebur kuat menarik perhatian gadis cantik yang kini berwajah sendu, mendapati kenyataan pahit nasib hidupnya yang begitu pelik membuatnya berpikir sempit bahkan harus kabur dari rumah meninggalkan sang ayah yang mungkin akan khawatir padanya.
Pikirannya mulai menerawang terombang ambingkan lalu lalang nya ombak lautan. Angin malam yang semakin mengencang begitu menusuk tulang, sesekali Molly menaikan kedua bahunya kedinginan, Farrell yang melihat itu takkan membiarkan gadis itu mati membeku tentunya.
Pemuda itu lantas melepaskan jas yang masih melekat di tubuhnya, kemudian melingkarkan nya pada tubuh Molly, dan perlakuan istimewa itu masih di tanggapi biasa saja oleh gadis itu.
"Terimakasih.." ucapnya yang lalu mengalihkan pandangan lagi ke arah laut. Berharap gundah di hatinya bisa terbawa terpaan ombak.
Farrell masih hanya diam saja, membiarkan Molly menikmati kegelisahan nya, setidaknya untuk beberapa saat pemuda itu memberikan kesempatan sebelum nantinya ia ajak cekcok kembali.