Pria tampan yang jutek, super bersih dan perfeksionis tak pernah menyangka akan terjebak dalam pernikahan konyol dengan Sheena, wanita jorok, ceroboh dan suka seenaknya saja. Perbedaan 180 derajat di antara keduanya menjadi ujian dalam pernikahan mereka.
Bersama? Atau perpisahan adalah jalan terbaik bagi keduanya? Kisah unik yang pastinya membuatmu penasaran.
**Yukkkk kepoin ceritanya.... Follow IG @dydyailee536
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Bertemu Kembali
Yukkk budayakan setelah membaca, buat pencet like, vote tulis komentar kalian ya, terima kasih 🙏🙏😘
...-Selamat Membaca-...
“Ide gelangmu bagus juga ya. Apa kamu sudah menguji coba gelang couple ini?” tanya Arthur.
“Sudah.” Jawab Arsen singkat.
“Lalu apa hasilnya? Apa bisa mendeteksi pacar yang selingkuh?” tanya Arthur dengan tatapan penuh selidik.
“Tidak usah menyindirku. Aku hanya ingin fokus pada proyekku ini walapun aku sempat ingin menghentikannya.”
“Bhuahahaha….” Tawa Arthur.
“Sudah aku bilang diam!” kesal Arsen sambil mengepalkan tangannya kearh Arthur.
“Hei lihat, kerutan di matamu sudah muncul. Jadi kurangi marahmu, Arsen.” Goda Arthur.
“Apa? Kerutan? Tidak mungkin. Aku seharian merawat wajahku jadi tidak mungkin timbul kerutan.”
“Rupanya kamu masih sering melakukan perawatan sedetail itu? Astaga, memang dasar ya.”
“Aku selalu saja masuk dalam perangkap ledekanmu.” Kata Arsen.
“Sudahlah, aku bosan bekerja terlalu serius denganmu. Kalau Papa ku sudah setuju, aku juga setuju. Sebaiknya kita akhiri saja diskusi kita ini.” Ucapnya dengan begitu enteng.
“Ya sudah pergi sana!” ketus Arsen.
“Dengan senang hati.” Arthur pun kemudian berlalu meninggalkan ruangan Arsen. Begitulah Arthur dengan sikapnya yang apa adanya dan terkesan slengekan. Sekalipun dia seorang pengusaha muda seperti Arsen tapi ia sama sekali tidak pernah berpakaian terlalu formal apalagi dengan pendamping seorang sekretaris, asisten atau supir pribadi seperti yang Arsen lakukan. Penampilan dan gaya berpakaian Arthur pun lebih casual dan santai. Bahkan tidak ada yang mengira kalau Arthur adalah seoerang direktur rumah sakit ataupun seorang CEO di perusahaan yang ia pimpin.
Setelah keluar dari ruangan Arsen, Arthur berusaha mencari Sheena di pantry. Namun ia tidak menemukan Sheena disana.
“Dimana ya Sheena? Aku mau meminta nomor ponselnya,” gumam Arthur sambil terus berjalan mengelilingi kantor sambil mencari Sheena. Sampai akhirnya ia melihat Sheena dari halaman belakang.
“Sheena!” panggil Arthur.
“Ngapain sih tuh orang,” batin Sheena sambil berjalan mendekat ke arah Arthur.
“Ada apa Arthur? Mau minum lagi?”
“Tidak-tidak. Aku hanya ingin mengobrol saja. Kamu darimana?”
“Habis membuang dan membakar sampah. Memangnya mau bicara apa? Nanti Tuan Arsen bisa marah kalau melihat kita. Nanti aku di tuduh merayu tamunya.”
“Baiklah, bagaimana kalau jam makan siang aku tunggu di kantin kantor bagaimana?”
“Maaf, aku tidak bisa. Lain kali saja ya. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan.” Kata Sheena.
“Baiklah kalau begitu. Tapi kalau lain kali mau kan?”
“Iya, aku usahakan. Aku kerja dulu ya,” kata Sheena sambil berlalu.
“Huft, sepertinya susah sekali mendekatinya,’’ gumam Arthur.
-
“Sheena!” panggil Arsen saat melihat Sheena hendak masuk ke pantry.
“Ada apa Tuan?”
“Belikan aku makanan.”
“Makanan apa?”
“Nasi goreng tapi nasinya dari nasi merah. Terus masaknya jangan pakai minyak tapi pakai margarin saja. Nasi gorengnya topingnya ayam, terus ada sayurnya, paling tidak harus ada sawi putih atau hijaulah. Terus telurnya pakai telur ata sapi ya, jangan under atau over cook yang pas. Boleh deh pakai sambal sedikit terus kecapnya jangan banyak-banyak karena aku membatasi konsumsi gulaku. Dan yang paling penting nasinya suruh timbang ya jangan sampai lebih dari 200 gram,” jelas Arsen yang membuat Sheena terperangah tidak percaya dengan permintaan aneh Arsen.
“MAAF, beli saja sendiri!” kata Sheena sembari berlalu.
“Sheena, aku ini atasanmu! Jadi jangan bantah perintahku.”
“Tuan, aku lupa apa saja yang kamu pesan. Sebaiknya tulis saja permintaanmu itu, daripada aku salah dan kamu memarahiku.” Jawabnya ketus. Arsen mendengus kesal. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan menulis apa yang di minta tadi.
“Berapa nomor ponselmu? Akan aku kirim lewat whatsaap.” Kata Arsen. Sheena mendengus lalu menyebutkan nomor ponselnya pada Arsen.
“Periksa ponselmu dan ini uangnya. Cepat dan tidak pakai lama. Satu lagi, minumnya lemon tea ice no sugar, jelas!”
“Hmmmmmmm,’’ singkat Sheena sembari berlalu menahan kesal.
“Ampun deh, punya bos ribetnya minta ampun. Masa iya nasi goreng minta nasinya di timbang, nambah-nambahin pekerjaan aja,” gerutu Sheenan.
-
Sementara itu Arthur begitu sampai di kantor, segera menemui Papanya.
‘”Hai, Pah!” sapa Arthur.
“Sudah selesai meetingnya bersama dengan Arsen?”
“Sudah, Pah.”
“Tapi kenapa wajahnya kusut amat,” kata Tuan Darwin.
“Tidak apa-apa, Pah.”
“Oh ya tadi kamu ke kantor Arsen tidak melihat kekasih barunya?”
“Kekasih baru yang mana, Pah? Si wanita penipu itu?”
“Tidak, bukan yang itu. Ah, kamu ini masa tidak tahu? Hari ini beritanya heboh lho.” Kata Tuan Darwin.
“Serius Pah, aku tidak tahu. Memangnya kekasih yang mana?”
“Nyonya Dira sendiri lho yang mendeklarasikan.”
“Coba aku lihat, Pah.”
“Lihat saja di yutub. Tiga hari terakhir, Arsen menjadi tranding topik masalah percintaannya. Papa sendiri ingin segera menemui Tuan Keenan untuk menanyakan masalah ini,” kata Tuan Darwin. Arthur lalu membuka ponsel dan melihat berita heboh itu.
“Keterlaluan juga ya wanita itu, Pah. Memojokkan Arsen dengan segala opini yang dia keluarkan. Kasihan juga dan keluarganya. Memang lebih aman mempunyai kekasih wanita biasa,” Kata Arthur saat melihat klarifikasi Nyonya Dira.
“Ya maka dari itu, Papa ingin mengajak mereka bertemu. Apalagi dengan statement yang di keluarkan oleh Nyonya Dira,’’ sambung Tuan Darwin.
“Lho, ini bukannya Sheena? Kenapa Tante Dira bilang kalau dia kekasih Arsen. Sedangkan dia kan hanya office girl yang mendapat perlakuan buruk dari Arsen. Apa maksud ini semua?” ucap Arthur dalam hati penuh tanda tanya.
“Pah, siapa gadis ini?” tanya Arthur pura-pura tidak tahu.
“Itu yang ingin Papa tanyakan pada mereka, Arthur. Papa pikir semua ini terasa mendadak. Seandainya saja saudara kembar kamu masih ada, Papa berniat menjodohkan mereka berdua.”
“Pah, sudahlah jangan mengingat hal itu lagi.”
“Tapi kenapa ya, Papa merasa kalau adik kamu masih ada.”
“Papa jangan bicara seperti itu nanti Mama akan semakin sedih mendengarnya.”
“Iya kamu benar juga, Arthur.”
“Baiklah Pah, aku pergi dulu ya.”
“Mau kemana kamu?”
“Aku mau ke rumah sakit. Aku kemarin bertemu dengan seorang anak kecil yang menderita kanker. Aku sudah berjanji padanya untuk menemuinya dan menghiburnya.”
“Oke, kamu hati-hati ya.”
“Iya, Pah.”
-
Sheena baru saja kembali dari resto yang tak jauh dari kantornya untuk membelikan Arsen nasi goreng.
“Tuan, nasi gorengnya,” kata Sheena sambil membuka pintu ruangan Arsen.
“Letakkan saja di meja, aku masih sibuk.” Kata Arsen.
“Ini kembaliannya, saya permisi.” Kata Sheena sambil meletakkan uang kembalian itu di meja.
“Ya sudah pergi sana!”
Sheena kemudian kembali ke pantry dan membuat mie instan untuk makan siangnya. Sambil menunggu mienya matang, Sheena melihat bandul liontin di kalungnya. Sheena melihatnya dengan seksama da nada ukiran nama yang menyatukan huruf D dan S.
“Kenapa aku baru memperhatikannya? D dan S, apa ini inisial nama asliku?” gumam Sheena. Ia yang melihat mie nya matang pun segera mematikan kompornya dan menuangkan bumbu ke dalam mie itu.
“Bisa makan seperti ini saja aku sudah sangat bersyukur,’’ gumam Sheena samba melahap mie yang masih panas itu.
“Ya Tuhan, pertemukan aku dengan orang tua kandungku,” batin Sheena penuh harap.
Bersambung….
tapi kayaknya cowok si serbuk berlain itu bakalan luluh deh sama Shena.. hihihi
"Gadis Pejuang Bisnis Kecantikan Oriflame"