#Mature conten
#Harap bijak memilih bacaan
# Isi mengandung unsur 18+
Sebuah rayuan, bisa membuat seseorang terjebak dalam pusara angan-angan yang indah, melebihi logikanya tanpa sadar.
Disinilah kisah sang tokoh utama bermula. Elena tanpa sadar mulai masuk kedalam bujuk rayu yang akan mengubah hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Jangan lupa, untuk menekan tap Love, like serta komentnya ya, Terima kasih telah membaca.
Find me on IG @Armalik King
Facebook @Armalik King
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armalik King, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemiripan
Siang itu, tampak di jalan raya kendara berlalu lalang. Dipinggir jalan terlihat pula beberapa toko makanan dan beberapa restoran serta tempat makan, yang di penuhi oleh para pelanggan mereka. Terlihat Elena berlari kencang, dengan memakai sepatu haknya. Ia memaksakan untuk berlari, padahal sekarang wedang mengenakan rok span selutut seperti seorang eksekutif.
Ia berusaha menuju ke Bandara. Tetapi tetap saja, berlari akan memakan banyak waktu. Jadi, ia harus menemukan kendaraan yang tercepat untuk menuju ke sana. Elena berhenti di tepian jalan. Ia mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Beberapa langkah darinya, terlihat sebuah pengendara sepeda yang terhenti. Elena bergegas berlari kembali menghampirinya. “Maaf, pak! Apa bisa saya meminjam sepeda?” ucap Elena yang terlihat kacau dengan penampilannya.
“Maaf! Saya tak bisa,” jawab pria yang berdiri dengan mengenakan pakaian olahraga. “Ta-tapi saya harus segera pergi, pak! Saya, mohon bantuannya... jika begitu saya beli sepeda ini, ya!?” tanya Elena dengan memelas pada pria tua yang berumur sekitar 40han.
Sang pria masih tak mau, ia menggeleng dan tiba-tiba Elena berteriak. “Astaga! Kau kenapa?” sambil menunjuk kearah lain. Elena pun meminta tolong pada sang pesepeda untuk menolong Darren. Sontak sang pria pun menoleh kearah itu. Elena menghampiri Darren yang sedang terduduk di lantai dengan diikuti oleh sang pria tua pemilik sepeda.
“Paman, bisakah anda mengantar saya, ke klinik terdekat? Karena ia harus pergi menangkap pencuri di sekitar Bandara,” ungkap Darren dengan berusaha berdiri. Sang pria tua itu akhirnya mengukurkan tangan pada Darren dan membantunya berdiri. Seketika itu pula, Elena berlari menjauh dari Darren, ia mengambil sepeda itu dan bergegas mengayuhnya.
“Maaf, paman! Saya akan mengembalikan secepatnya!” teriak Elena yang berlalu pergi dengan mengayuh sepedanya lebih kencang.
Elena telah pergi jauh dari tempat tadi. Hingga, ia terus mengayuh dan beberapa menit kemudian, Elena telah tiba di bandara. Terlihat gedung besar di seberang jalan. Elena menyeberangi jalan itu dan masuk ke area parkiran. Setelah menyimpan sepedanya di sana, Elena berlari kembali masuk ke dalam gedung tersebut. Terlihat orang-orang yang berlalu lalang, di sekitarnya.
Elena berlari menuju ke sebuah eskalator. Ia menaiki tangga berjalan itu untuk menuju ke area penerbangan, karena di disana terdapat kursi tunggu, keberangkatan. Elena bergegas melewati tangga eskalator yang sedang berjalan, semua orang yang berada di sekitarnya melihat dengan aneh dan curiga. Pasalnya, hanya ada di sebuah adegan dalam film jika seseorang berlari di eskalator yang sedang berjalan.
Layaknya seseorang di kejar kardna polisi atau, seseorang yang sedang mengejar buronan. Elena terlihat begitu kusut. Ditambah ia memakai rok span dan sepatu hal yang ia tenteng sedari tempat parkir untuk menyimpan sepedanya. Rambutnya yang terikat rapi sebelumnya, kini terlihat begitu acak-acakan tak karuan. Dengan beberapa rambut tipis terlepas dari ikatannya. Kini Elena tiba di kursi tinggu keberangkatan.
Ia mengedarkan pandangan disekitar itu. Dari sekian banyaknya orang yang sedang duduk disana, Elena tak melihat sosok Xander. Hingga, seseorang pria bertopi hitam serta memakai masker udara terlihat dari arah kejauhan. Pria itu menarik sebuah koper beroda, ditangan kanannya. Ia sedang berdiri di sebuah barisan, dimana barisan itu adalah barisan penumpang untuk check in dan memperlihatkan boarding pass-nya pada petugas.
Elena berjalan menghampiri orang tersebut. Karena terlihat dari samping wajahnya, orang itu begiti mirip.dengan Xander. Terlebih dia membawa sebuah koper dan sedang memegang ponsel do tangan satunya. Dimana ponsel itu pun mempinyai gantungan aksesoris yang di berikan Elena. Dimana gantungan ponselnya itu adalah gantungan yang di pesan khusus oleh Elena dan bentuknya pun ia desaon sendiri. Terlebih gantungan itu adalah gantungan pasangan.
Dimana, gantungan itu akan menghidupkan cahaya berwarna violet, ketika gantungan pasangannya berada dekat satu sama lain. Ya, gantungan itu akan menandakan keberadaan atau kehadiran satu sama lain dengan jarak paling jauh 5 meter. Elena, berlari menghampiri lebih dekat pada orang tersebut. Elena berjalan lebih dekat pada pria itu. Tiba-tiba gantungan di ponsel pria itu hidup. Seketika Elena menangkap pria itu.
Greb. Elena menggenggam lengan kanan pria bermasker udara warna hitam. Seketika sang pria yang lebih tinggi dari Elena itu menoleh kearahnya dengan tatapan bingung. Ia mengernyitkan dahi. Beberapa detik, mereka saling bertatapan satu sama lain. Terlihat alis panjang dan tebal khas dari Xander. “Ikut dengan ku!” ucap Elena dengan wajah seriusnya, sambil menarik lengan pria dengan ukiran lebih besar dari dirinya.
Namun, pria itu enggan beranjak dari tempatnya. Ia menarik kembali tangannya bersama Elena yang tetap tak melepaskan lengan sang pria. Orang-orang yang ada di dekat mereka, memperhatikan dengan penasaran. “Apa yang kau lakukan?” tanya pria itu dengan suara rendah.
“Hei! Apa kau akan terus begini?” tanya Elena dengan semakin mendekat pada pria tersebut.
Jarak mereka begitu dekat, bahkan mungkin hanya 30 centimeter jarak kosong diantara mereka. “Lepaskan!” ucap pria itu bernada rendah. Elena menggeleng kencang. Ia berkata bahwa sebelum masalah mereka selesai ia tak akan melepaskan tangan Xander. “Aku akan berteriak!” ucap pria itu dengan berusaha melepaskan lengannya.
“Silakan! Tapi, jika aku akan berteriak bahwa kau pencuri! Siapa diantara kita yang akan orang lain percaya?” ancam Elena kembali, dengan tatapan menusuk.
“Hei, kalian? Jika ingin berkelahi karena masalah asamara kalian, jangan menghalangi orang!” ucap seorang wanita paruh baya yang ada di belakang barisan pria yang di pegangi Elena.
Elena dan pria itu pun menoleh kearah wanita itu. “Pergi! Kalian menghalangi saja!” ucap wanita paruh baya itu dengan mengusir Elena dan pria itu. Akhirnya mereka berdua pun berjalan keluar dari barisan itu. Elena berjalan sambil menggenggam lengan pria itu dengan kencang. Kini mereka berada jauh dari orang-orang. Lebih tepatnya mereka berdiri di pinggir sebuah dinding. Elena memulai pembicaraannya.
Ia berkata bahwa apa yang di inginkan Xander sungguh membuatnya ingin tertawa. Bahkan perbuatan Xander seharusnya tak dapat di maafkan. Ia harus bertanggung jawab untuk menanggung konsekuensi karena memanfaatkan dirinya. “Terlebih lagi, kau seorang binatang yang bahkan lebih rendah dari binatang! Aku tau sekarang motif mu! Kau hanya ingin meraup harta dan pergi begiti saja setelah membuatku terluka dan tak betdaya, benar kan? Cih, aku sungguh bodo’h! Bisa-bisanya masuk kedalam perangkapmu!” ungkap Elena dengan terlihat wajahnya memerah dan begitu kesal.
“Astaga! Apa yang kau bicarakan, hah? Sedari tadi, saya tak mengerti maksudmu!?” ujar pria itu yang kemudian terlihat kesal.
“Heh! Apa kau akan berkilah terus? Memang aku tak lelah seperti ini? Bahkan kau merampas kesucian ku! Jadi siapa sebenarnya korban disini! Jika kau masih ingin melarikan diri! Tunggu saja, hukuman mu, akan lebih berat! Lihat saja!” bentak Elena yang sudah taj terkontol lagi. Seketika Pria itu pun melepaskan tangan Elena dan membuka penutup hidungnya.
“Hei, Nona! Apa kau merendahkan ku! Lagian saya, sudah bilang! Saya tidak kenal kamu! Sedari tadi saya mencoba untuk bersabar dan menyimak semua perkatan anda!” sembur pria iti dengan nada meninggi.
Seketika Elena tersentak kaget dengan apa yang dilihatnya. Pria yang ada di hadapannya kini bukanlah orang yang dicarinya, Xander. Kini Elena menunduk karena merasa bersalah. Kedua bola matanya sesekali melirik kearah wakah pria itu, untuk meyakinkan dirinya. Tetapi tetap saja, dia bukan Xander. Hanya mata dan bagian atas wajah pria itu begini mirip.
“Jika kau ingin mencari uang, dengan cara menipu! Jangan begini caranya! Astaga! Kau benar-benar membuatku kesal!” teriak pria itu pada Elena.
Elena mulai kebingungan. Ia menunduk sambil meminta maaf karena ia salah orang. “Ma-maaf, tuan... sa-saya sa-salah orang,” ucap Elena dengan terbata-bata karena gugup dan ketakutan.
“Oh, jadi sekarang kau takut? Setelah saya mengetahui motif mu untuk menipu, IYA!?” bentak pria yang ada di depannya. Entah Elena harus bagaimana? karena memang ini murni kesalah pahaman. “Ya, Tuhan... tolong aku,” batin Elena dengan masih menunduk.
To be continue...