Aku masih menunggu..
Saat dimana Tuhan mengaitkan jemariku dan jemarimu
Menjadi sebuah genggaman dalam keridhoan
Meski sangat sakit bagiku, aku harus menerima perjodohan yang tak pernah sekalipun terbayangkan dalam pikiranku.
Perjodohan yang di setujui kedua orang tuaku dan orang tuanya, namun tidak dengan kami. Aku dan dia yang tidak saling mencintai.
Perjodohan yang memisahkan antara aku dan cintaku, juga antara dia dan cintanya.
Yang akhirnya membawa kami ke sebuah persekongkolan. Kami berdua sangat berharap, persekongkolan ini akan membuahkan hasil.
Hasil yang akhirnya bisa kembali kepada cinta kami masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri syachid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rio Oh Rio
Belum lama dia menenggelamkan kepalanya di atas kedua kaki Rio, Indy sudah terpejam dan larut dalam tidur.
Rini mendapati anaknya tengah terlelap dengan nyaman di pangkuan Rio saat mengantar minuman dan camilan untuk cowok itu. Perempuan itu bicara dengan berbisik, memberikan isyarat pada Rio untuk menikmati jamuannya. Setelahnya, Rini kembali ke belakang dan memberi informasi pada Raka soal kejadian yang di lihatnya.
Sudah pukul tujuh malam. Tapi Indy tak juga bangun dari tidurnya. Gadis itu malah membalikkan posisi tidurnya dan melunjak, tangan nakalnya memeluk pinggang Rio yang masih duduk memangku kepalanya.
Rio tak bergerak sedikitpun. Bima yang baru pulang dari bekerja, melihat adegan itu dan mengacungkan jempol pada Rio. Cowok itu lantas mengangguk sopan sebagai balasan menyapa Bima.
"Ngalamat, lu nggak di dapet pulang malam ini," ledek Raka pada Rio yang diam-diam tengah mengelus lembut pipi Indy.
Bukannya terkejut dengan kemunculan Raka, Rio justru tetap bersikap santai. Namun, dia menghentikan aktivitas jemarinya yang tadi menelusuri pipi mulus gadis di pangkuannya.
"Nggak papa, Bang. Rio bisa pulang pas Indy bangun," jawabnya.
"Nggak usah pulang kalau kemalaman. Lebih baik kamu nginap saja. Bapakmu pasti mengizinkan," ucap Bima yang keluar dari pintu dapur.
Rio tidak bisa menolak tawaran Bima. Lagipula, jika dia nekat pulang saat Indy bangun nanti. Ia hanya akan menganggu istirahat orang di rumah karena kepulangannya.
"Bang, ke kamar."
Tiba-tiba saja suara itu mencuat dari mulut gadis yang matanya bahkan terpejam. Rio bingung harus melakukan apa.
"Lu gendong aja, pindahin ke kamarnya. Bisa, kan?" ucap Raka.
"Nggak sopan dong, Bang. Nanti dia bangun, gimana?" tanya Rio ragu.
"Nggak akan. Dia itu kalo udah tidur, kayak kebo. Nggak bakalan kebangun."
"Ya udah, deh. Rio izin gendong Indy nih, Bang," ucap Rio meminta izin.
"Iya."
Cowok itu membopong Indy dengan pelan. Dia takut gadis itu akan terbangun dari tidurnya dan memarahinya habis-habisan.
Tapi kekhawatirannya tidak terjadi. Indy sampai di kasurnya masih dalam lelap. Rio menelungkupkan selimut tebal ke tubuh Indy agar merasa hangat.
Berapa lama dia tak langsung keluar dari kamar gadis itu. Rio melihat wajah Indy yang tak berekspresi apapun. Nampak sangat polos.
Sekali lagi Rio menyeka wajah Indy dengan lembut, menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah itu dari pandangannya.
"Maaf ya, Ndy. Gue nggak tahu kalau itu cowok bakalan nyakitin lo sampai kayak gini. Kalau aja gue tahu sebelumnya, lo pasti nggak akan ngerasa sedih," bisik Rio.
Rini menyiapkan kamar untuk Rio menginap. Setelah Rio keluar dari kamar Indy, perempuan itu menyuruhnya beristirahat di dalam kamar yang sudah dia bersihkan.
####
Seorang gadis yang baru saja bangun tidur nampak berjalan keluar dari kamarnya, menepuk-nepuk mulutnya yang menganga sebab ia tengah menguap.
Dia juga meliuk-liukkan tubuhnya yang ramping guna meregangkan otot-ototnya yang kaku karena istirahat semalaman.
Pagi ini dia nampak lebih baik dari kemarin. Tidak enak badan yang sempat di rasakan, seperti telah hilang dari tubuhnya.
Tidak satupun orang dia dapati di dalam rumah, matanya telah menyapu ke segala tempat di sana. Kemana perginya orang-orang di pagi buta seperti ini.
Saat dia akan kembali masuk ke dalam kamarnya, Bima, Rini, dan Raka muncul dari teras. Mereka baru saja mengantar Rio yang harus segera pulang karena takut terlambat ke sekolah.
"Nyenyak ya, Bun." celetuk Raka yang dengan jelas berupa sindiran untuk orang yang bangun paling akhir dari semua penghuni rumah.
"Kok kalian dari teras, ada apa? Ada gempa ya, Ma?" tebaknya.
"Iya, ada gempa," saut Raka menakuti.
"Kok nggak ada yang bangunin Indy?" tanya gadis itu dengan kecewa.
"Lo kan lagi mimpi indah, mimpi di gendong pangeran," jawab Raka lagi.
"Nggak ada gempa, Ndy," sela Rini agar anaknya tidak termakan kebohongan Raka si tukang jahil.
"Aku lebih percaya Mama dari pada Abang," tukasnya kesal lalu masuk ke dalam kamar.
Raka tidak mau berhenti di situ meski adiknya sudah meninggalkannya yang masih berdiri di depan pintu kamar Indy.
Cowok itu berlari menuju kamarnya sendiri dan segera menyaut handphone-nya yang masih tercolok kabel charger. Mengetikkan beberapa kata kemudian mengirimkannya entah pada siapa.
Raka menyeringai dengan puas, jika saja dia jelmaan drakula mungkin kedua taringnya akan nampak keluar dari persembunyiannya.
Tak menunggu lama, seorang gadis masuk ke dalam kamar dengan menabrak paksa pintu kamarnya.
"Lo kalo ngomong jangan asal, ya. Atau mau gue robek aja tuh mulut?" ancam gadis itu dengan nafas memburu.
"Gue nggak asal ngomong. Lo boleh nanya Mama kalo nggak percaya sama ucapan gue tadi di Whatsapp."
"Awas kalo mulut lu bohongin gue," tunjuknya sebelum memburu Rini.
Di temukannya Rini yang sedang memotong sayuran. Bima yang sedang menyeruput kopinya hampir tersedak karena kaki kursi yang di dudukinya tidak sengaja di serempet kaki Indy.
"Bapak, maaf. Indy ada perlu sama Mama, jadi buru-buru."
"Ada apa, Ndy? Kok kamu panik," tanya Rini yang memergoki anaknya grasa-grusu.
"Bang Raka bilang, katanya semalam Rio nginap di rumah kita? Bang Raka bohong ya, Ma?" tanyanya pelan dengan mengatur nafas.
"Iya. Memang kenapa?" lanjut Rini penasaran.
"Jadi bener, Rio yang gendong Indy semalam? Bukannya abang. Mampus, muka gue pasti kayak zombie semalam."
Indy merasa sangat malu membayangkan saat dia tengah lelap dalam tidurnya dan Rio menggendongnya untuk ke kamar. Pasti wajahnya terlihat sangat konyol saat tidur. Begitu sekiranya yang ia bayangkan.
#seperti sampah
#my husband is a Gay
mendukung terimakasih
Yey season 2 !!