"Terkadang kita harus merelakan sesuatu hal bukan karena kita menyerah tapi mengerti bahwa ada hal yg tidak bisa dipaksakan."
Itulah yang dipikirkan Devinta Dwi Suseno saat mengetahui pria yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya ternyata kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya .
Namun setelah 5 tahun menghindar , takdir berkata lain . Ia kembali di pertemukan dengan Arnold Prayoga , pria yang paling tidak ingin Ia temui .
Bagaimana kelanjutan lika liku hubungan Devi dan Arnold ? Bisakah Devi keluar dari bayang bayang penghianatan Arnold di masa lalu ? Apakah kisah mereka akan berakhir bahagia bersama ?
" Sebab sepanjang kita berjalan, menghindar, berpura-pura tidak mengetahui atau apapun itu, kita akan tetap akan bertemu apa yang ditakdirkan untuk bertemu . "
"Karena pada waktunya, tanpa kau rencanakan pun, jodoh tak akan pernah tertukar."
( Inilah karya pertamaku , Karena Kamu Jodohku )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShasaVinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Penyesalan Willi
Devi POV .
Setelah beberapa menit perjalanan, Aku dan Willi telah tiba di salah satu restaurant yang Ia pilih .
Kami memilih meja dengan posisi sudut ruangan. Agar tidak terlalu sering dilalui oleh pengunjung yang lain.
Setelah itu kami memesan menu makanan yang kami inginkan.
Saat sedang menunggu pesanan makanan kami Willi bertanya padaku,
" Kamu kabarnya gimana ? " tanya Willi memulai perbincangan kami .
" Alhamdulillah aku baik. Kamu gimana ? " tanyaku balik pada Willi .
" Yah.. gue gini-gini aja ", jawabnya.
" Jawaban apaan tuh .... ha ha ha ", aku tertawa mendengar jawaban tak bisa dari Willi .
" Eh tadi itu emang enggak kenapa-kenapa calon Lu dibiarin pulang sendiri ? ", tanyaku penasaran .
" Calon apaan ? " Willi terlihat bingung dan berusaha mengartikan maksud pertanyaanku .
" Ohh maksud Lu Stefi ? Yah enggak kenapa- kenapalah. Dia itu adik sepupu Gue. Dia mau nikah 2 minggu lagi. Tadi lagi fitting baju pengantin, Gue temenin karena calonnya lagi ada urusan ", jelas Willi.
" Lu sendiri, ngapain tadi di butiknya Rosi ? " kini Willi bertanya padaku .
" Gue mau buat baju untuk nikahan Abang Gue sama Mbak Rosi. " Jawabku .
" Mbak Rosi itu calon kakak ipar Gue. Lu kayaknya udah kenal sama Mbak Rosi ? "
" Rosi itu teman Gue waktu SMA ", jawabnya .
" Tapi Dev, Lu tega banget... setelah Lu pergi, tiba-tiba aja Lu gak bisa dihubungin lagi, terus Lu gak ada ngasih kabar ", Willi memulai aksi protesnya padaku.
" Kalau tadi Gue gak ke butik Rosi, mungkin Gue gak tahu kalau Lu udah balik " , lanjut Willi .
" Gue baru nyampe dua hari yang lalu ",
" Bukannya gak mau ngabarin, tapi awal-awal tinggal disana Gue lagi fokus sama kuliah ",
" Lagi usaha juga untuk beradaptasi tinggal disana ",
" Sampai - sampai lupa hubungin Lu lagi ", jelasku pada Willi.
" Gue di maafin kan ? " tanyaku dengan memperlihatkan tatapan puppy eyesku
" Hemm, gimana yah.... Tapi karena Lu sekarang makin cantik, Gue maafin deh ", kata Willi dilanjutkan dengan terkekeh .
Tak lama seorang pelayan datang membawa dan menata makanan pesanan kami.
Willi masih ingat saja kalau aku sangat menyukai makanan korea.
Kami makan sambil berbincang ringan.
" Jadi kegiatan Lu sekarang apa ? " tanyanya .
" Gue balik lagi kerja di Rumah Sakit yang dulu ", jawabku.
" Tapi Lu sekarang udah baik-baik aja kan ? " Willi bertanya dengan ragu seperti takut menyinggung perasaanku.
Pertanyaan sederhana Willi baru saja sedikit membuka luka lama di hatiku .
" Tadikan udah Gue jawab. Gue baik baik aja " , Jawabku singkat.
" Jujur aja Dev, Gue sebenarnya merasa bersalah banget ama Lu ", Kini willi terlihat serius .
" Setelah Lu pergi Gue jadi ragu apakah tindakan Gue saat di Bali saat itu sudah benar atau tidak ",
" Gue merasa salah sama Arnold, sampai sekarang dia belum tahu kalau Gue yang udah bocorin soal hubungan dia dan Angel ",
" Apalagi setelah kepergian Lu, dan segala hal yang terjadi pada Arnold, Gue makin merasa bersalah ."
Willi mengungkapkan penyesalannya.
Namun tanpa Willi sadari, kini Ia sedang membuka luka lama yang sudah usaha aku tutup .
" Sudahlah Will, semua udah berlalu . "
" Gue gak pernah nyalahin Lu. Malah Gue berterima kasih Lu udah peduli ama Gue. Kalau bukan karena Lu, mungkin Gue masih aja dengan bodohnya terus-terusan dibohongi ", Aku mencoba untuk menghilangkan rasa penyesalan Willi.
Meskipun jauh dalam lubuk hatiku ingin sekali kutanyakan pada Willi bagaimana kabar Arnold sekarang, dan apa maksud ucapan Willi yang mengatakan telah terjadi sesuatu pada Arnold .
" Arnold sekarang pasti sudah bahagia hidup sama Angel , Cinta pertamanya " , ucapku dalam hati. Batinku mencoba untuk menepis rasa penasaranku.
" Gak usah dibahas lagi yang sudah lalu " , potongku segera sebelum Willi mulai lagi membicarakan masa lalu.
" Yang penting sekarang Kami berdua bahagia dengan pilihan hidup masing-masing ". Lanjutku .
" Tapi Lu enggak mau tahu gimana keadaan Arnold setelah Lu pergi ? Lu enggak mau tahu apa yang berubah dari dia ? " Willi terus saja masih membahas Arnold .
" Enggak Will ", jawabku tegas .
" Kapan nih kita makannya kalau Lu ajak ngobrol terus ", ucapku mengalihkan pembicaraan .
Willi menggangguk kemudian kami berdua lanjut menikmati makanan kami sambil bebincang dan sesekali tertawa.
Willi bercerita banyak soal usaha cafenya yang kini juga sudah membuka cabang di Bali.
Sesekali dia harus stay di Bali untuk mengawasi cafenya itu .
Willi juga memberitahu kalau Max dan Chelsea sudah menikah dan kini memiliki seorang putri berusia 2 tahun.
" Waahh Gue harus hubungin Chelsea ngucapin selamat nih ", kataku .
" Gampanglah itu. Temuin langsung aja, anaknya gemesin banget . Dia sekarang punya salon kecantikan gak jauh dari cafe Gue ", Usul Willi .
" Lu emang suka anak kecil ? " Tanyaku pada Willi yang di balas anggukan .
" Memangnya ada orang yang enggak suka sama anak kecil ? " jawab Willi
" Kenapa Lu belum nikah ? Nikah gih. Terus Lu juga bisa punya anak yang gemesin "
" Emang kalau Gue ajak Lu menikah , Lu mau gak menikah sama Gue ? " Tanya Willi yang mungkin saja sedang bercanda, namun tatapannya terlihat serius.
Seketika aku terdiam mendengan pertanyaan Willi.
" Santai... bercanda Gue... Lu serius amat mukanya ", lanjut Willi sambil tertawa.
" Gue belum nemu calon yang pas. Sekalinya udah nemu malah bertepuk sebelah tangan cinta Gue ." Ucap Willi tidak bersemangat .
Selesai makan siang, aku menawarkan untuk mengantarkan Willi kembali ke cafenya.
Kini kami berdua melaju menuju ke cafe Willi dengan aku yang mengemudi .
Sejak dulu aku tidak pernah canggung jika bersama Willi.
Pembawaan Willi yang santai dan sering bercanda membuatku merasa nyaman dengannya.
Itulah dulu kenapa Arnold seringkali cemburu dengan Willi .
Jalanan di Jakarta siang ini lumayan lancar.
Kami sampai setelah sekitar 30 menit perjalanan.
Aku mengedarkan pandanganku saat mobilku berhenti tepat di halaman depan cafe Willi.
" Waahh... makin sukses Lu yah, makin gede nih Cafe " Godaku pada Willi .
" Di syukurin aja ", jawabnya merendahkan diri dan mengikuti arah pandanganku yang sedang mengamati cafe willi dari dalam mobil.
Willi kemudian berdehem ,
" Dev.... sebenarnya aku sangat ingin ajakin Lu untuk mampir ke cafe , tapi apa Lu udah siap untuk bertemu masa lalu ? karena sepertinya dia sedang ada disini ",
kata Willi sambil menunjuk kearah salah satu mobil berwarna hitam yang terparkir di halaman cafe .
" Lain kali Gue kesini lagi. Gue juga masih ada urusan ", janjiku pada Willi.
" Baiklah. Tapi janji yah Lu harus kesini . Nanti Gue temenin ke tempat Chelsea juga ", ucap Willi sambil menunjuk ke arah salah satu salon kecantikan yang terletak pada jejeran ruko di sebrang cafe miliknya.
Willi kemudian turun dari mobil setelah berpamitan dan berterimakasih karena Aku telah mengantarnya .
Sebelum Willi memasuki Cafenya, Ia sempat berbalik dan melambaikan tangan kearah mobilku yang ku balas dengan membunyikan klakson mobil.
Willi masih berdiri menatap ke arah mobilku .
" Seandainya kita tidak memiliki perbedaan ini, mungkin aku akan perjuangkan cintaku padamu ", batin Willi sebelum Ia berjalan masuk kedalam cafenya.
Disepanjang perjalanan pulang ke rumah, aku kembali mengingat kenangan bersama Arnold.
" Sepertinya Jakarta ini kecil sekali ",
" Baru tiga hari aku disini, kenapa aku sudah bertemu Willi. Besok besok aku bertemu siapa lagi ? Aarrrggghhhh ", aku merutuki diriku sendiri.
" Arnold berubah ? Memangnya dia bisa berubah seperti apa ? Apa yang terjadi padanya yah ? " batinku terus saja memikirkan ucapan Willi.
Walaupun lima tahun telah berlalu, namun aku masih ingat dengan jelas bagaimana sakitnya hatiku saat ku saksikan sendiri Arnold lebih memilih wanita itu .
" Sudahlah.. harusnya lima tahun sudah cukup untuk bersedih. Lupakan dia Dev.... kamu juga harus bahagia .. " ucapku menyemangati diriku sendiri.
.
.
.
.
. “*Luka hati mungkin tak akan bisa sembuh. Tapi, kita tidak bisa hanya duduk dan memandangi luka itu selamanya.” - Haruki Murakami*
.
.
.
.
.
.
. To be continue
Semoga Willi dapat rumah ya