Masih tahap revisi PUEBI 🙏
Andy Frederica, seorang mahasiswi magang di sebuah perusahaan multinasional. Suatu hari, ia harus berurusan dengan seorang presdir dingin yang sudah memiliki seorang istri.
Takdir mempertemukan mereka terus-menerus dan membuat Andy masuk lebih jauh ke kehidupan pribadi sang presdir. Mampukah ia bertahan dari jeratan cinta yang kapan saja bisa mengambil alih pikiran logisnya? Lantas, bagaimana dengan istri sang presdir?
"Ini bukan sembarang cincin. Bukan cincin pertunangan ataupun pernikahan. Cincin ini adalah simbol kalau aku adalah pembantunya. Dia adalah majikanku. Jangan pernah jatuh cinta pada majikanmu!"
"Apa!"
"Narsis sekali dia bicara begitu. Memang ini bukan cincin pertunangan. Apalagi cincin pernikahan. Ikatan cincin ini lebih sakral karena ini adalah cincin perbudakan!"
[ Andy Frederica ]
Genre : Adult Romance, friendship, family
Setting : Jakarta, Indonesia
Alur : Maju
Status. : Tamat 124 Episode
Cover : Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayu Assanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Ikan Asin Sambal
Glek!
Salivaku tertelan dalam. Mataku terbelalak melihat cara Tuan Asland berbelanja. Pria itu memilih dengan cepat sepatu-sepatu wanita yang sengaja dia belikan untukku. Dari warna yang paling terang hingga warna yang paling gelap tak luput dari pilihannya. Betapa banyak sepatu yang dia beli.
'Banyak sekali beli sepatunya? Ini bayarnya pakai apa? Pakai daun?' kelakarku.
Dan sampailah kami di area penjualan barang-barang bagian paling sensitif.
'Apa! Masa' dia yang mau pilihkan benda-benda keramat ini juga!' ujarku kesal dalam hati. Segera kuhampiri Tuan Asland hendak mencegah aksinya yang menurutku sudah di ambang batas kewajaran.
"Tuan Asland, kalau yang ini biar aku saja yang pilih sendiri, ya," bujukku secara halus agar dia tidak tersinggung. Namun, Tuan Asland malah memicingkan mata dan meledekku.
"Tidak usah! Aku tahu seleramu tidak bagus! Minggir sana!" Dia menggeser lenganku dengan ayunan satu tangannya kemudian mengambil beberapa pasang bra dan kain segitiga pengaman.
'Yang mau pakai bra dan kain segitiga pengaman ini kan aku? Masa' seperti ini pun juga diatur?'
Beberapa karyawan yang berdiri di dekat kami menunduk, mencuri kesempatan untuk menertawai kami.
'Oh ... Oh, Tuan Asland. Baru kali ini kujumpai majikan seperti dia. Royal sekali sama pembantunya. Apalagi sama istrinya?'
"Memangnya Tuan tahu ukuran dadaku?" Kudekati Tuan Asland lantas berbisik ke dekat telinganya. Setelah itu pria berambut coklat muda dan bermata biru itu langsung melihat bagian dadaku dengan fokus.
Deg ... Aku jadi berdebar.
"Lihat apa?"
'Orang ini, aku jadi malu sendiri.'
Kusilangkan tangan di depan dadaku untuk melindungi diri dari pandangan Tuan Asland. Ia yang merasa pandangannya terhalangi sekonyong-konyong membuka silangan tanganku.
"Eehhh...." Aku terkejut.
"34A, kan?" katanya di hadapanku tanpa rasa malu sedikit pun. Pas di depan mukaku.
"Apa!"
Sepasang mataku melebar dengan mulut menganga tak percaya. Mukaku jadi merah lantaran malu. Presdir kejam ini bahkan tahu ukuran dadaku.
"Ih ... Dasar ca-bul...." Suaraku pelan seraya memukul-mukul lengan Tuan Asland. Tidak marah, dia hanya tersenyum miring melihat ekspresiku.
**
Tanganku sampai sakit karena membawa kantong belanja yang sangat banyak. Tuan Asland yang tahu aku kesulitan membawa semua kantong-kantong itu hanya melenggang elok berjalan menuju pintu mobilnya yang sudah dibukakan oleh Asisten June.
Mana peduli dia padaku. Yang dia tahu aku adalah pembantunya, meskipun segunung tetap harus aku yang membawa semua kantong belanja itu.
"Silakan Tuan," kata Asisten June sambil mengangguk singkat.
Aku pun sadar diri kalau pastinya tidak akan diizinkan naik dari pintu mobil yang sama dengan Tuan Asland. Kuputar arah laju jalanku hendak menuju pintu yang lain.
"Kamu mau ke mana?" tanya Tuan Asland dari kabin belakang.
"Mau masuk dari pintu sebelah, Tuan."
"Tidak boleh!" sergahnya. "Kamu pulang naik taksi saja."
Aku mengernyit bingung. "Kenapa aku pulang naik taksi, Tuan?"
"Tadi kamu kan jatuh dan terkena kotoran burung merpati. Aku tidak mau mobilku jadi bau kotoran burung." Dengan sorot mata sinis ia melihat sekujur tubuhku.
"Tapi aku tidak punya uang untuk bayar ongkos taksi, Tuan!" rengekku seperti anak kecil tidak diberi permen. Sudah kaki sakit berjalan, membawa banyak kantong belanja dan sekarang disuruh naik taksi pula, oh, nasib seorang pembantu!
Tuan Asland mengeluarkan dompet coklat tuanya dan mengambil beberapa lembar uang kertas dari sana.
"Cepatlah pulang!" ketusnya sambil menyodorkan beberapa lembar uang tadi.
"Hhmm ... Ya Tuan. Terima kasih." Sempat kusunggingkan senyum sebelum kaca jendela mobil Tuan Asland tertutup dan menghilangkan wajahnya dari pandanganku.
Kendaraan roda empat itu kemudian melaju pergi. Semakin menjauh dan kelihatan mengecil. Terus kulihat mobil itu sampai menghilang tertutup oleh kendaraan lain.
"Satu, dua, tiga, empat...." Ternyata jumlah uang yang diberikan oleh Tuan Asland tadi cukup banyak. Bahkan aku bisa sepuluh kali naik taksi dengan uang itu.
'Presdir itu, walaupun kejam tapi dia tidak pelit kalau soal uang,' gumamku senang. Aku pun menghentikan sebuah taksi dan pulang menuju apartemen Tuan Asland.
Selang beberapa saat setelahnya aku tiba.
"Tuan, aku pulang," kataku saat masuk ke apartemen. Tuan Asland pasti sudah tiba lebih dulu dan benar saja. Kulihat pria keturunan bangsa Prancis itu sedang berdiri memegang ponselnya di ruang tamu, sibuk menggeser layar gawai.
Kuanggukan kepala singkat ketika pandangan kami saling bertemu. Lalu masuk ke dalam kamarku. Setibanya di dalam segera kujatuhkan kantong-kantong belanja tadi di lantai. Menghempaskan diri ke tempat tidur.
'Oh, sedapnya!'
Pinggang beserta seluruh anggota tubuhku yang lain jadi rileks usai kuistirahatkan. Tak peduli lagi pada pintu kamar yang masih terbuka. Karena kelelahan, aku malas bangkit lagi untuk menutupnya.
"Andy!"
Tiba-tiba Tuan Asland mendatangiku dan berdiri di ambang pintu. Aku yang tadi sedang berbaring malas-malasan langsung bangkit menghadapnya.
"Iya Tuan."
"Buatkan makan malam. Aku lapar."
"Tuan mau makan apa?"
"Kamu bisa masak apa?"
"Makanan Indonesia, mau?"
"Baiklah. Buatkan aku makanan Indonesia."
"Ya Tuan." Menganguk patuh. Meski lelah, harus kutahan rasa lelahku.
**
Tuan Asland sedang mandi ketika aku memasak di dapur. Piring, gelas dan peralatan makan lainnya kutata rapi di atas alas tatakan. Kubawa menu masakan Indonesia yang sudah kumasak tadi lalu menghidangkannya di atas meja makan.
Tak lama, Tuan Asland datang dengan kemeja putih dan rambutnya yang masih lembap setelah dicuci. Wajahnya yang tampan jadi terlihat segar. Aku yang sedari tadi berdiri di samping meja melihatnya tanpa berkedip.
'Kalau boleh jujur, Tuan Asland memanglah rupawan. Dari atas kepala sampai ujung kaki, semuanya tampan. Tidak ada secuil pun kekurangan di dirinya.'
Apalagi saat dia melewatiku, seengg....
'Ah ... Wangi ini. Aroma ini. Bagaimana caraku menjelaskan bahwa wangi ini begitu menghipnotis. Bunga-bunga bermandikan air hujan.'
"Kamu kenapa?"
"Air hujan," jawabku spontan.
"Di mana ada hujan?" Lelaki wangi itu celingukan mengedarkan pandangan keluar dinding kaca.
"Ah ... maksudku itu, adalah Tuan. Wangi seperti bunga-bunga setelah turun hujan." Suaraku melemah di akhir kalimat. Kutundukan wajah sebab malu. Pasti pipiku sudah merah merona.
"Maksudmu ini?"
Tuan Asland mendekatkan bagian dalam pergelangan tangannya ke hidungku.
"Eehhhh...."
Seenggg ... Ah, harumnya! Kuhirup dalam-dalam wangi ini. Sesaat terbuai, segera kugelengkan kepala beberapa kali agar aku terbangun dari aroma yang memiliki daya hipnotis ini.
"Silakan Tuan." Kutarik sebuah kursi untuk Tuan Asland duduk. Ia kemudian duduk di kursi yang kuberikan.
"Kamu masak apa ini?" Matanya fokus meneliti satu-persatu makanan yang kumasak.
"Tuan makan saja, dijamin enak deh!" Kedua alisku naik dua kali, jariku melingkar membentuk simbol oke seraya tersenyum ceria.
Tak bertanya lagi, Tuan Asland diam saat kuletakan nasi ke atas piring dan mengisinya dengan tiga macam makanan masakanku. Perlahan ia mulai menyantapnya. Sampai pada kunyahan ketiga, Tuan Asland berhenti mengunyah.
"Apa ini? Kenapa terlalu asin?"
Ia mengernyitkan dahi, sedang menerka-nerka.
"Itu ikan asin sambal."
"Apa?" Mata Tuan Asland langsung membesar. Setengah berlari ia menuju wastafel. Memuntahkan semua makanan yang ada di mulutnya.
"Tuan Asland...." Kuhampiri Tuan Asland lalu mengusap-usap punggungnya beberapa kali. Tuan Asland bolak-balik kumur untuk membersihkan mulutnya.
"Kenapa kamu memberiku itu?" ketusnya setelah selesai.
"Ikan asin sambal itu kan enak, Tuan."
"Tapi aku tidak suka makanan terlalu asin!" Kesalnya.
"Maaf, aku tidak tahu kalau Tuan tidak suka makanan asin? Tuan tanya aku bisa masak apa. Aku bilang makanan Indonesia. Jadi aku masak itu karena itu salah satu makanan favoritku."
"Karena itu makanan favoritmu, jadi habiskan semuanya," omel Tuan Asland lagi. Masih kesal ia berjalan keluar apartemen dan tidak kembali lagi malam itu.
'Eehh ... Dia marahkah? Suasana hatinya buruk sekali. Cepat senang dan cepat marah.' Aku mencebik, duduk di meja makan sendirian sambil menatap satu-persatu makanan yang kubuat.
"Makanan enak begini tidak mau. Ya sudah, biar aku saja yang habiskan."
Kuambil makanan yang tadi sudah aku masak dan mulai makan malam tanpa Tuan Asland.
***
BERSAMBUNG...
andykqn udh di katai prlacur di maluin pas tmt orang ramai di katai pembantu
coba andynya tegas sedikit thor punya harga diri gitu
jangan mudah luluh lg dengan aslannya
Apa novel nya sudah direvisi yak ?
coz aku caba dikolom komentar banyak yg bingung sama alurnya 😅
serem² nagih yg modelan begini
bisa untuk d rekom pada teman untuk d bacz