Viceroy yang mendadak menikahi Vara lantaran melakukan pertaruhan dengan kakaknya, Ryo. Pernikahan yang semula hanya untuk memenangkan pertaruhan, berubah arah dan tujuan seiring berjalannya waktu.
Ryo yang tidak bisa menerima kekalahannya terhasut desas - desus miring dan berasumsi buruk terhadap istri Viceroy. Ia pun menghasut Ibu mereka untuk membatalkan pernikahan adiknya.
Ibu yang cenderung lebih berpihak pada Ryo, menggunakan kekuasaan absolutnya untuk memberi ujian - ujian berat untuk Istri Viceroy dengan dalih untuk menguji kelayakan Vara sebagai menantunya.
Sementara Vara juga mengalami hal yang sama, Ibunya tidak merestui pernikahannya dengan Viceroy lantaran merasa pria itu tidak pantas untuk Vara.
Kesalahpahaman pun banyak terjadi sebagai akibat dari taruhan menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ryo
Harusnya Ryo sudah menemui adiknya di salah satu hotel berbintang lima. Mereka bahkan sudah mengatur janji temu sejak minggu lalu. Ryo dan adiknya sama-sama sibuk, mereka berdua memang tidak seperti kakak beradik pada umumnya. Hubungan mereka lebih layak disebut sebagai rival ketimbang saudara. Mereka saling bersaing dalam segala hal, sejak mereka masih kecil. Ryo berusia lima tahun lebih tua, ia begitu cemburu saat adik laki-lakinya lahir. Karena menurutnya orang tuanya jadi lebih menyayangi adiknya. Apalagi saat adiknya lahir, orang tua mereka sedang berada dalam masa kejayaan yang membuat orang tuanya percaya bahwa adiknya adalah pembawa rejeki untuk keluarga mereka. Sejak saat itu semakin dimanjakanlah adiknya, dan semakin cemburu juga Ryo.
Kemudian ayah mereka selaku tulang punggung meninggal dunia secara mendadak. Beban Ryo sebagai anak sulung tentu sama beratnya dengan ibunya. Ryo dituntut untuk menjadi sosok ayah untuk adiknya yang saat itu baru berusia sepuluh tahun. Pertaruhan menjadi gaya mereka bernegosiasi, itulah yang diterapkan Ryo untuk mendidik adiknya agar tidak manja dan bergantung pada orang lain.
Ryo tiba di pelataran hotel berbintang lima, ia turun dari mobilnya, menyerahkan kunci mobil ke petugas parkir valet. Ia melihat seorang wanita yang sedang terlibat pertengkaran dengan seorang pria. Pria itu bahkan terlihat menyentak tangan wanita itu hingga wanita itu terjatuh ke lantai. Barang bawaannya jatuh tercecer di lantai, wanita itu nampak panik memungut barang-barangnya, Ryo segera membantu wanita itu.
Sungguh konyol, Ryo merasa berdebar karena tangan mereka tak sengaja bersentuhan karena memungut barang yang sama. Ya, wanita ini membuatnya terbayang-bayang sepanjang malam. Wanita yang sudah membuatnya kalah dalam permainan bulu tangkis. Wanita yang sempat diremehkan oleh Ryo yang tak pernah sekalipun bertanding melawan seorang wanita. Seorang pegawai yang mencuri perhatiannya dan membuatnya ingin mengenal lebih dekat wanita itu. Ryo tentu tidak menghafal nama pegawainya satu persatu, tapi semua pegawai tahu siapa Ryo.
Vara adalah nama pegawai yang sudah mencuri perhatian Ryo, hanya dalam waktu singkat karena sudah berani menantang Ryo.
"Terima kasih Pak Ryo," kata wanita itu ke arah Ryo.
Ryo menatap barang bawaan wanita itu, ada tas raket yang disampirkan di bahu kiri, tas tenteng berukuran besar di tangan kanan, dan tas sling yang dicangklongkan di bahu kanan. Apa wanita ini kabur dari rumah?
"Kau mau pergi ke kantor?" tanya Ryo.
"Benar, Pak," jawab Vara.
"Barang bawaanmu banyak sekali," kata Ryo terheran-heran.
Vara hanya bisa meringis, teman-teman kantornya juga mempertanyakan hal yang sama. Vara tidak mungkin mengaku bahwa akhir-akhir ini ia hidup secara nomaden. Berpindah dari satu hotel ke hotel lain bersama suaminya.
"Kalau kau tak keberatan, aku bisa memberimu tumpangan ke kantor," kata Ryo.
"Terima kasih, Pak, saya menunggu ojek daring saja, silakan lanjutkan urusan anda, permisi," Vara segera berpamitan.
Ryo merebut tas tenteng dari tangan Vara, pria itu memanggil petugas parkir valet untuk membawakan mobilnya.
"Pak Ryo, sungguh, anda tak perlu repot-repot mengantar saya," kata Vara.
Ryo membuka pintu belakang mobilnya, memasukkan tas Vara ke kursi belakang, lalu membuka pintu depan untuk mempersilakan Vara masuk.
Vara sungguh tidak enak menolak kehendak pimpinan, ia hanya bisa menurut. Vara memasang sabuk pengamannya dengan ragu-ragu. Ryo tersenyum, karena wanita ini ternyata cukup penurut. Ponsel Ryo berdering, nama adiknya muncul di layar, melihat Vara yang duduk di sampingnya membuat Ryo membatalkan janji temu dengan adiknya itu. Dalam benaknya, terlintas rencana untuk mengenal Vara lebih dekat karena Ryo benar-benar tertarik pada Vara.