Adira Angkasa Samudra, cucu dari sang Raja Properti-Adiyaksa Samudra.
Gadis jelita yang selamat dari kecelakaan maut yang membinasakan kedua orang tuanya saat ia masih berusia enam bulan.
Kyai Brama Erlangga, atau yang biasa dikenal sebagai Pertapa Tua, Pertapa Sakti, Pak Tua, Tabib. Seorang titisan dewa yang menjalani hukumannya di bumi selama tujuh ratus tahun lamanya.
Dengan bantuan dari Sang Pertapa Tua, Adira mejalani masa kecilnya di tengah hutan.
Hidup bersama seekor harimau besar dan seekor monyet nakal, membuat Adira kecil tumbuh menjadi gadis tangguh dan periang.
Tak bisa melawan takdir, tepat saat Adira berusia lima tahun, Sang Pertapa Tua harus kembali ke Nirwana, meninggalkan Adira.
Sebelum kepergiannya, Sang Pertapa Tua menitipkan Adira kepada Juki-seorang Supir yang menyebabkan kematian kedua orang tua Adira, sebagai bentuk penebusan dosanya kepada Keluarga Samudra.
Ikuti terus perjalanan Adira di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CloverMint, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 22
Dengan langkah kecilnya, Dira dan Ayi berlompat-lompatan menelusuri daerah tempat tinggalnya.
"Ada monyet, ada monyet!" teriak riuh anak anak yang sedang bermain di depan sebuah rumah.
Mendengar itu, Dira menghentikan langkahnya dan menatap kearah anak-anak tersebut.
"Namanya Ayi, bukan monyet," ucap Dira.
"Hahaha, lucu ya monyet dikasih nama!" seru salah satu anak sembari tertawa.
Dira yang tahu jika Ayi tak suka diledek, segera berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Mereka lun akhirnya tiba di sebuah taman kecil. Dira langsung berlari dengan gembira saat melihat banyaknya permainan berwarna-warni yang menarik mata, apalagi saat melihat anak-anak seusianya terlihat sangat bahagia saat bermain dengan mainan-mainan itu.
Dira mengamati apa yang mereka lakukan, menuruni perosotan, bermain jungkat-jungkit, hingga bermain ayunan. Setelah merasa paham bagaimana cara bermain di sana, Dira pun ikut mencobanya. Ia merasa senang saat bermain dengan semua permainan yang ada di taman itu.
Dira berlarian dari satu permainan ke permainan yang lain dengan gembira ditemani Ayi yang juga merasa senang.
Saat Dira sedang berlari menuju ayunan, Dira melihat anak-anak saling mendorong atunan itu dengan kuat hingga ayunan melayang tinggi. Mata Dira yang tajam melihat bahwa rantai besi ayunan itu yang dinaiki salah seorang anak akan patah.
Refleks, Dira menatap anak yang sedang duduk di ayunan dan melambung tinggi itu. Bahaya! pikirnya.
Benar saja. Rantai ayunan itu putus saat anak kecil itu sedang melambung tinggi. Banyak sekali orang yang berteriak karena terkejut. Dira segera menjejakkan kakinya dan melayang ke atas. meraih tubuh anak tersebut dan membawanya ke bawah.
Semua mata tertuju ke arah Dira, mereka seperti tak percaya akan apa yang sudah Dira lakukan tadi.
"Kamu ngak papa?" tanya Dira.
"Nggak.." jawab anak itu terkejut.
"Yessy, kamu nggak papa Nak?" seru seorang wanita sambil berlari memeluk anak yang ditolong Dira.
"Mama.. Yessy takut. " jawab anak itu mulai menangis dalam pelukan ibunya.
Ibunda Yessy segera menghampiri Dira, sambil menggandeng Yessy.
"Makasih ya Nak sudah menolong Yessy, siapa namamu?" tanya ibunda Yessy.
"Nama saya Dira," jawab Dira tersenyum.
"Dira mau ikut kita makan fried chicken?" ajak ibunda Yessy dengan ramah.
"Makan Tante?" tanya Dira dengan mata berbinar.
"Iya Ayo," ajak ibunda Yessy melangkah keluar taman diikuti Dira.
Dira merasa senang saat menikmati makanan yang baru pertama kali di cobanya. Tanpa sungkan, Dira pun menghabiskan makan tersebut.
"Terima kasih Tante, Dira pamit ya," ucap Dira sambil beranjak dari kursinya.
"Dira tunggu, kamu bawa pulang ini ya " ucap ibunda Yessy menyodorkan kotak berisi ayam goreng.
"Wah, terima kasih Tante!" Dira pun berlari pulang ke kosnya dengan riang.
Karena Rendra belum pulang, Dira akhirnya melangkah kembali ke pasar. Ia melihat Rasdi dan teman temannya kembali mengganggu seorang anak di sana.
"Hei.. Apa lagi yang kalian lakukan!" bentak Dira yang sudah berdiri di hadapan Rasdi.
"Kamu.. Kamu lagi!" ucap Rasdi terkejut menatap Dira tanpa berkedip.
"Dira.." panggil Heri yang terlihat ketakutan.
"Kak Heri," seru Dira terkejut melihat Heri di sana.
Rasdi segera mundur beberapa langkah begitu tahu Heri ternyata berteman dengan Dira.
"Kalian! Sudah aku peringatkan jangan ganggu Kak Heri, ternyata kalian ingkar! Sekarang terima hukuman kalian!" seru Dira kesal sambil melayang bagai angin dan menampar satu persatu wajah Resdi dan teman-temannya.
Terdengar suara jeritan kesakitan dari bibir Rasdi dan teman-temannya. Mereka berlari pulang sambil memengangi pipi yang dipukul oleh Dira.
"Mau lari kemana kalian?" tanya Dira yang tahu-tahu sudah mendarat persis di depan mereka.
"Ampun.. Ampuni kami Dira, kami cuma menjalankan tugas.." mohon Rasdi sambil menangis.
"Huh.. Anak lelaki kok cengeng! Tadi sok-sokan memukuli Kak Heri!" dengus Dira kesal.
Ayi sendiri tiba-tiba melompat dengan cepat dari satu anak ke anak lainnya dan menggigit telinga mereka.
"Kalau aku melihat kalian berbuat jahat lagi, aku akan beri kalian hukuman lebih berat dari ini!" ucap Dira mengikuti perkataan Pertapa Tua.
"Iya… kami janji Dira, tapi kalau Bos Besar marah gimana?" tanya Rasdi ketakutan
"Nanti Dira yang temui Bos kalian!" jawab Dira.
"Iya kami boleh pergi kan sekarang?" tanya Rasdi.
"Belum. Kalian harus memberikan Kak Heri uang buat ibunya yang lagi sakit, ayo cepat!" perintah Dira.
Rasdi segera mengeluarkan uang dari sakunya dan memberikannya ke Dira.
"Bukan ke Dira, tapi ke Kak Heri!" ucap Dira.
Dengan takut, Heri menerima pemberian Rasdi, setelah itu Rasdi dan teman-temannya segera lari terbirit-birit.
"Bos, itukan uang setoran.. Nanti kalau kita dihukum bagaimana?" tanya salah seorang anak.
"Dihukum bos lebih baik daripada dihukum anak siluman itu. Nggak liat lo dia bisa menghilang?" gerutu Rasdi.
Mendengar jawaban dari Rasdi, mereka semua pun terdiam karena mereka juga melihat bagaimana bos mereka juga dikalahkan oleh Dira.
###
Rendra yang baru selesai bekerja melihat Heri juga Dira sedang duduk bersama di tepi jalan.
"Dek.." panggil Rendra mendekat.
"Kak Ren, ini Kak Heri yang Dira bilang," ucap Dira tertawa kecil.
Heri segera menunduk begitu melihat Rendra.
"Ayo pulang. Kita ngobrol di kos saja," ajak Rendra sambil menggandeng Dira.
Heri lun akhirnya mengikuti mereka menuju kos dengan kepala tertunduk.
###
"Kak tadi Dira dapat ini," ucap Dira menunjuk bungkusan berisi fried chicken yang didapatnya tadi sore.
Rendra hanya tersenyum sambil mengusap kepala Dira, lalu mempersilakan Heri untuk duduk.
Setelah berbincang sebentar, Heri pun akhirnya menceritakan soal ibunya yang sedang sakit, dan ia yang juga butuh uang untuk setoran.
"Kak Ren, kita mampir ke rumah Kak Heri yuk untuk bertemu ibunya Kak Heri," ucap Dira semangat.
Rendra yang sudah lama tak melihat antusiasme di wajah Dira pun tak bisa menolak permintaannya. Mereka akhirnya berjalan bersama menuju ke rumah Heri.
Saat mereka masuk, terlihat ibu Heri sudah bisa duduk dan sedang bersandar di dinding.
"Eh.. Nak Dira datang lagi " sapa ibunda Heri tersenyum senang.
"Iya Bu, bagaimana kakinya? Apa masih terasa sakit?" tanya Dira mengamati bengkak di kaki wanita itu sudah mengempis.
"Nggak sakit lagi, kaki Ibu juga sudah nggak senat-senut lagi Dira," jawab ibunda Heri senang.
"Wah bagus kalau begitu!" seru Dira senang.
"Kak Heri, bisa bawakan air hangat sama lap bersih?" ucap Dira.
Heri segera berlari menuju dapur dan keluar membawa lap kain dan termos berisi air hangat.
Dengan sabar dan telaten, Dira mulai mengelap luka di kaki ibunda Heri. Dilihatnya bengkaknya mulai mengempis, hanya tinggal mengobati nanah di lukanya.
"Ayi, kemari, jilati kaki Ibu," perintah Dira.
Ayi pun segera melompat ke sebelah kaki ibunda Heri dan menjilati kaki ibunda Heri.
"E-e-eh.. Ini monyet siapa?" tanya ibu Heri tergagap.
"Ini namanya Ayi, Bu," jelas Dira.
"Oh.. Ayi.. Iya.. Ayi.. Maafin Ibu," jawabnya masih tergagap.
Ayi tampak berlompat-lompat senang, lalu kembali menjilati luka di kaki ibunda Heri.
Setelah dirasa cukup, Dira pun meminta Ayi untuk berhenti. Ayi pun langsung berlari ke luar rumah dan memuntahkan nanah-nanah yang dikumpulkannya tadi.
"Ibu, semoga besok sudah bisa jalan lagi ya," ucap Dira dengan senyum lebarnya.
"Makasih Dira.. Ibu nggak tahu harus bilang apa lagi," jawab Ibu Heri dengan wajah sedih.
"Jangan sedih Bu, besok kan bisa jalan-jalan lagi!" hibur Dira.
Heri juga mengenalkan Rendra ke ibunya, baru mereka bertiga keluar dan bercakap-cakap.
Melihat kondisi keluarga Heri, Rendra pun menjadi tersentuh. Ia mengajak Heri untuk ikut kerja bersamanya di pasar dan Heri menyetujuinya.
"Dira lapar .." sela Dira memegangi perutnya.
"Jakak beliin kamu nasi ya.." ucap Heri hendak berlalu.
"Tunggu Her, ini uangnya," ucap Rendra sambil menyodorkan uang ke arah Heri.
"Nggak usah Kak, aku masih ada uang," jawab Heri berlari menuju sebuah warung nasi
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya agar tetap semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!!...
...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...(⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketinggalan episode selanjutnya ya!!...
...Terima kasih.❤...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...