Dear Viona,
Terima kasih, karena telah memberikan warna-warni kehidupan disisa waktuku.
Terima kasih, karena telah mencintaiku dengan tulus.
Mencintaimu adalah hal terindah yang pernah kurasakan.
Bersamamu, kurasakan seperti seorang yang paling sempurna. Memiliki segalanya, dirimu dan cintamu.
Berjanjilah, untuk tidak menangisi kepergianku!
Karena aku selalu ada didekatmu, menjagamu, memelukmu, lewat penglihatan yang kutitipkan padamu.
I Love You, Sasha....
Salam,
Galang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose_Dreamers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VhieDjar 23
Seorang pemuda dengan tergesa berjalan di lorong rumah sakit, fikirannya dipenuhi rasa khawatir terhadap seseorang yang di ketahuinya berada di rumah sakit.
Ceklek
Pemuda itu membuka pintu dengan perlahan. Ia melihat seorang Wanita paruh baya tengah berada di sana menunggui seorang gadis yang terbaring lemah dalam keadaan tertidur pulas.
"Assalamualaikum Tante." Ucap Fajar ketika hendak masuk kedalam ruang rawat Viona.
Fajar langsung menghampiri Amara dan menyalami tangan Amara.
"Waalaikumsalam, nak Fajar" ucap Amara
"gimana keadaan Viona sekarang?" ucap Fajar seraya menatap gadis yang kini sedang berbaring lemah di atas brangkar rumah sakit.
"dia baik-baik saja, dokter sudah memeriksanya dan memberinya obat." Ucap Amara seraya tersenyum kepada Fajar.
"maafkan saya tante, tadi saya tidak mengantar Viona pulang. Saya sudah mencari Viona kemana-mana tapi tidak menemukannya." Ucap Fajar lirih
Amara tersenyum lalu mengusap pundak Fajar dengan lembut. Amara melihat kekhawatiran di wajah pemuda yang kini berada di hadapannya.
"tidak apa-apa"
"mmp, nak Fajar. Boleh ibu minta tolong?"
"tolong temani dulu putri tante ya. Tante akan pulang dulu sebentar." Ucap Amara
"iya tante, saya akan disini menemani Viona. Tante pulang saja dulu." Ucap Fajar
Amara mendekati putrinya lalu mencium kening putrinya.
"Ibu pulang dulu ya sayang" ucap Amara berbisik di telinga Viona.
"Ibu titip Viona ya" ucap Amara lalu di balas anggukan oleh Fajar.
Amara pun keluar dari ruang rawat putrinya. Kini tinggallah Fajar seorang yang berada di sana menemani Viona.
Fajar menatap wajah pucat Viona yang masih terbaring lemah diatas ranjang. Pria itu mendekatkan tubuhnya, lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan. Dekat dengan ranjang Viona.
Fajar mengusap kepala Viona dengan lembut.
"Vhi, aku tak mengerti mengapa perasaan ini selalu ada setiap kali berada di dekat kamu. Maaf kan aku karena sudah lancang mencintai mu." gumam Fajar lirih
***
Keesokan harinya Viona membuka matanya perlahan. Ia menyeimbangkan penglihatan nya. Setelah ia bisa melihat dengan jelas, ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Tapi Viona tak melihat siapapun berada di sana.
Viona berusaha untuk bangun dan mengubah posisi nya menjadi duduk.
Ceklek
Viona menatap kearah pintu yang di buka oleh seseorang, ia melihat sahabatnya masuk dan menghampirinya.
"kamu sudah bangun Vhi?" Tanya Intan saat melihat sahabatnya sedang duduk di atas ranjang. Viona tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
"kamu ada di sini? Di mana Ibu?" ucap Viona
"Ibu tadi pamit pulang dulu karena dari semalam dia menjaga kamu." Ucap Intan sambil menggeser kursi lalu duduk di samping Viona.
"kamu makan dulu ya" lanjut Intan seraya menyodorkan sebuah mangkuk berisi bubur.
Viona mengambil mangkuk tersebut dari tangan Intan.
"makasih" lirih Viona
Hening beberapa saat
"Vhi..." panggil Intan
Viona menatap sahabatnya dengan tatapan yang seolah berkata "apa"
"kamu suka sama Fajar?" ucap Intan to the point
Deg
"maksud kamu apa Tan?" Viona mengkerutkan kedua alis nya, ia tak mengerti mengapa tiba-tiba sahabatnya bertanya seperti itu padanya.
"maaf kan aku Vhi..." Ucap Intan lirih
Viona semakin tidak mengerti dengan maksud dari sahabat nya.
"kenapa minta maaf? Kamu gak salah apa-apakan." Ucap Viona polos
"maaf, karena sebenarnya kalung kamu itu gak hilang. Tapi aku yang mengambilnya di kamar kamu waktu itu" lirih Intan air mata nya mulai menetes membasahi wajahnya.
Deg
Viona menatap sahabat nya dalam diam, ia masih mencerna kata-kata yang baru saja Intan katakan padanya.
Viona merasa sesak mendengar pengakuan dari sahabat nya. Walau sebenarnya ia sudah mengetahui semuanya.
"itu semua aku lakuin karena aku mencintai Fajar. Aku terpaksa mengaku bahwa kalung itu milik ku, agar dia bisa menerima ku..." Intan menjeda sejenak ucapannya. "Vhi kamu sudah mendengar sendiri kan kemarin, Fajar mencintai aku dan besok adalah hari pertunangan ku." Intan menjeda lagi ucapannya. Ia mengusap air mata nya yang membasahi wajahnya. "aku mohon kamu jangan bilang sama Fajar tentang ini semua, biar aku yang akan mengatakan nya setelah kami resmi bertunangan nanti." Ucap Intan tangan nya menggenggam kedua tangan Viona seraya memohon kepada sahabatnya untuk tidak membongkar kebohongan nya.
Viona masih terdiam, ia mencerna dengan baik ucapan dari sahabatnya. Ia merasakan jantung nya semakin sesak dan sakit mendengar ucapan sahabat nya. Ia kecewa pada sahabat nya yang sudah menghianatinya, ia juga kecewa kepada pria yang selama ini selalu ada di hati nya. Mengapa pria itu bisa dengan mudah mempercayai siapa pemilik kalung itu tanpa mencari tahu terlebih dulu. Sebuah cairan bening berhasil lolos keluar dari matanya.
"Vhi, aku mohon maafkan aku" sambung Intan saat tak mendapat respon apapun dari Viona.
"iya, aku udah maafin kok" ucap Viona.
Intan refleks memeluk tubuh Viona.
"makasih ya Vhi" ucap Intan. Viona membalas pelukan sahabatnya seraya menghapus buliran air mata yang keluar dari matanya.
"sebenarnya aku sudah lama mengetahui hal ini" Ucap Viona lirih
Intan merenggangkan pelukan nya
"sejak kapan?" Tanya Intan pada Viona dengan ekspresi bingung dan rasa bersalah nya.
Viona tersenyum lembut kepada Intan.
"sudahlah jangan di bahas lagi. Semoga kalian bahagia." Ucap Viona Tulus
Intan memeluk Viona kembali, dalam hati nya ia sangat merasa bersalah atas semua yang sudah ia lakukan kepada Viona. Ia tak menyangka sahabat nya tidak membencinya walau dirinya sudah mengkhianatinya.
Sementara Viona menangis dalam diam, merasakan perihnya sebuah pengkhianatan. Tapi tak pernah Sedikit pun baginya untuk membenci siapapun walau mereka sudah dengan sengaja menyakitinya.
***
"kamu kenapa Vhi?" ucap seorang pria berparas tampan kepada Viona.
Viona menatap wajah pria yang ada di hadapannya dengan tatapan sayu.
"aku ingin segera keluar dari sini" ucap Viona lirih
"iya, kan dokter bilang sore nanti kamu sudah boleh pulang" ucap pemuda itu kepada Viona. Matanya tak pernah berhenti menatap wajah Viona yang masih pucat.
"katakan sama aku, apa yang sudah terjadi sama kamu?" lanjut pemuda itu.
"gak ada apa-apa kok" ucap Viona berbohong.
Arka menghembuskan nafasnya kasar. Ia tahu bahwa telah terjadi sesuatu kepada sahabat nya selama ia tak ada.
"jangan bohong, aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari aku. Tolong cerita sama aku, aku ini masih sahabat kamu kan?" ucap Arka
Viona masih diam, ia tak tahu harus menceritakan semuanya kepada Arka atau tidak. Viona menundukkan kepala nya, air matanya tumpah begitu saja di hadapan sahabatnya.
"cerita sama aku, walau aku gak bisa bantu kamu tapi setidaknya beban kamu berkurang sedikit setelah kamu berbagi cerita dengan ku." Ucap Arka.
Viona mengangkat kepalanya seraya menatap mata sahabatnya sayu. Arka benar, Viona tak bisa memendam rasa sakit nya sendiri. Ia butuh seseorang untuk sekedar mendengarkan cerita nya.
Arka tak tega melihat Viona dengan keadaannya yang sangat kacau. Ia memeluk Viona untuk menenangkan perasaan Viona.
Ia membiarkan sahabatnya menangis dalam pelukannya.
Setelah keadaan Viona lebih tenang, Arka meminta agar Viona mau bercerita kepadanya. Akhirnya dengan sedikit paksaan, Viona mau menceritakan semuanya kepada Arka.
Arka memeluk Viona kembali setelah mendengar semua yang Viona ceritakan kepadanya.
Tanpa mereka sadari seorang gadis sudah berdiri sejak lama dan menyaksikan Arka dan Viona berpelukan di hadapannya.
"hemmm"
"maaf aku datang di waktu yang tidak tepat". Ucap gadis itu membuat Arka dan Viona terlonjak kaget. Refleks mereka berdua melihat kearah sumber suara dan melihat seorang gadis cantik tengah berada di belakang mereka.
"Lintang..." Arka memanggil gadis itu seraya tersenyum padanya. Gadis yang dipanggil Lintang pun tersenyum kepada Arka dan Viona lalu berjalan mendekati mereka.
Viona yang baru pertama kali bertemu dengan Lintang, ia mengkerutkan kedua alisnya seraya melihat kearah Sahabatnya dan gadis bernama Lintang secara bergantian.
Arka seolah mengerti dengan kebingungan yang Viona tunjukkan, ia tersenyum lalu memperkenalkan Lintang kepada Viona.
"Vhi, kenalin ini Lintang pacar aku, dan Lintang ini Viona" Ucap Arka mengenalkan Lintang kepada Viona sahabat nya.
Lintang tersenyum ramah kepada Viona.
"hai, Viona" Safa Lintang pada Viona
"hai..." Ucap Viona.
"Arka, seriusan ini pacar kamu?" Tanya Viona pada Arka.
Arka dan Lintang mengkerutkan alisnya.
"iya, kenapa memangnya?" jawab Arka bingung. Begitupun juga Lintang, ia khawatir kalau Viona tak suka padanya.
"Lintang sini, duduk. Gak pegel berdiri dari tadi" ucap Viona seraya tersenyum pada Lintang
Lintang pun menurut duduk di samping Viona.
"kamu kok mau sih jadi pacar Arka? Cowok jelek, resek, jahil, dan super nyebelin." Ucap Viona pada Lintang.
Lintang pun tersenyum mendengar ucapan Viona.
"enak aja, ganteng kaya gini kok di bilang jelek sih" ucap Arka tak mau kalah.
Viona dan Lintang tertawa mendengar ucapan Arka yang super pede.
"Vhi, ternyata benar kata Arka. Kamu itu cantik, udah gitu ramah juga orang nya. Pantas saja Arka susah Move on dari kamu." Ucap Lintang blakblakan seraya menatap Arka.
"hahaa... kamu lebih cantik kok, buktinya dia bisa move on karena ada kamu kan" ucap Viona menggoda Lintang. Lintang tersipu malu mendengar ucapan Viona padanya.
"btw, mana oleh-oleh jogja buat aku?" Viona pura-pura merajuk kepada Arka juga Lintang karena mereka tak membawakan nya oleh-oleh.
"hehe,, aku lupa Vhi. Maaf ya" Arka balik menggoda Viona yang sedang cemberut.
"apa sih, kalian jahat. Hiks,, hiks" ucap Viona berpura-pura sedih. Arka dan Lintang tertawa bersama melihat tingkah Viona yang menurut mereka sangat lucu.
"udah jangan sedih gitu, oleh-olehnya udah aku simpan di rumah kamu" ucap Arka.
"beneran?“ tanya Viona semangat.
"iya bawel" Ucap Arka seraya mengacak-acak rambut Viona. Lintang tersenyum melihat keakraban antara Arka dan Viona.
"uuuh,,, makasih" ucap Viona seraya memeluk Lintang bahagia.
"kok makasih nya sama Lintang aja, sama aku nggak?" Arka berpura-pura merajuk pada Viona.
Lintang dan Viona yang melihat Sikap Arka tertawa bersama menertawakan Arka.
Arka bahagia melihat keakraban Lintang dan Viona. Ia juga bahagia karena Viona sejenak melupakan kesedihan yang sedang Viona rasakan.
tapi galang sedikit obsesi sama viona alias shasha..bukan karna galang cinta..karna klo dia cinta pasti akan bertanya gimana perasaan wanitanya..bukan dengan egoisnya bilang nggak mau di tinggalin dan nggak membiarkan wanitanya memilih siapa yang sebenarnya ada di hati wanitanya..