NovelToon NovelToon
Saat Istriku Setuju Bercerai

Saat Istriku Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Yunus

Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.

Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.

Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.

Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat istriku setuju bercerai

Langkahku terasa berat menuju rumah orangtuaku. Bangunan dua lantai dengan pilar-pilar tinggi itu berdiri megah di tengah halaman luas yang dipenuhi bunga warna-warni yang begitu indah. Tapi bagiku, rumah ini begitu asing dan tak memiliki kehangatan didalamnya.

Kakiku melewati ruang tamu yang dihiasi furniture-furniture mewah karya eksklusif dari berbagai kolaborasi lokal dan global. Seorang pelayan mengantarkan ku ke ruang keluarga, dimana Mamaku, Marta, duduk dengan majalah mode global ditangannya, sementara matanya yang tajam langsung menatapku begitu aku masuk.

"Tumben kau pulang," katanya tanpa basa-basi. "Aku baru saja ingin menelepon, ada hal yang ingin ku bahas denganmu."

Aku mengeratkan genggaman tanganku. Sebenarnya, aku ingin langsung mengatakan alasanku datang, aku tidak punya pilihan lain aku ingin meminjam uang. Tapi sebelum aku sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Mama mendahuluiku.

"Perusahaan ayahmu sedang bermasalah. Kami butuh tambahan dana, dan aku ingin kau meminta bantuan Gavin."

Aku terpaku.

Dada terasa sesak, tapi bukan karena penyakit yang kurasakan. Aku seperti sudah menduga ini akan terjadi, tapi tetap saja mendengarnya langsung seperti tamparan keras di pipiku.

"Sebenarnya aku ingin membicarakan ini, hari itu, tapi karena aku ada urusan mendadak maka aku menundanya," lanjut Mama dengan nada santai. "Kali ini kami benar-benar membutuhkan suntikan dana, kau punya suami yang bisa diandalkan, maka kau hanya perlu meminta bantuannya."

Ini bukan pertama kalinya perusahaan menghadapi kesulitan, dan selama ini aku tidak tahu seberapa sering mereka memanfaatkan statusku demi mendapatkan suntikan dana dari Gavin yang memang memiliki kekuatan finansial.

Aku menelan ludah. "Ma..." Suaraku terdengar lebih lemah dari yang kuinginkan. "Aku tidak berani membujuknya."

Dahi Mama mengernyit. "Apa maksudmu tidak berani?"

Aku menggigit bibir. 2 tahun pernikahan, dan aku bahkan tidak bisa menyentuh Gavin, apalagi meminta sesuatu yang akan membuat lelaki itu semakin membenciku.

"Gavin sangat sibuk." Kataku pelan. "Dan aku tidak berani meminta sesuatu sebesar ini."

"Jangan bodoh, Azalia!" nada suara Mama berubah tajam. "Dia suamimu. Kau harusnya tak perlu takut bicara padanya. Atau sebenarnya kau ingin melihat kami jatuh miskin sementara kau duduk dengan kemewahan yang Gavin berikan?"

Tubuhku bergetar, ku kepalkan tangan sekuat tenaga. "Ma, Gavin tidak...,"

"Tidak apa?" Mama menatapku tajam. "Jangan bilang kau masih belum bisa mengendalikannya? 2 tahun menikah, kau masih menjadi istri yang tak berguna?"

Darahku berdesir. Aku menunduk, merasakan jantungku yang lagi-lagi terasa ditusuk-tusuk oleh sesuatu tak kasat mata.

"Apa kau tahu mengapa kami memilih Gavin untukmu?" Marahnya. "Karena kami tahu dia bisa menjadi aset yang berharga. Dia bisa membantu keluarga kita. Tapi kalau kau bahkan tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, untuk apa pernikahan ini terjadi?"

Aku ingin tertawa, tapi yang keluar dari bibirku hanyalah napas gemetar.

Pernikahan ini memang bukan tentangku. Bukan tentang kebahagiaanku. Sejak awal, aku hanya alat. Alat yang Mama gunakan untuk menambah kekuasaan.

Mama menghela napas, seolah lelah menghadapi kebodohanku. "Azalia, aku tidak peduli bagaimana caramu melakukannya. Tapi dalam waktu kurang 2 minggu dana itu harus sudah ada."

Kembali aku terdiam.

Aku ke sini ingin meminjam uang, aku yang membutuhkan pertolongan. Tapi yang terjadi aku malah dimanfaatkan untuk menjadi alat untuk berinvestasi.

Ini momen yang harusnya tepat. Momen aku bisa jujur jika aku sedang sakit.

Tapi aku tahu percuma.

Mama tidak akan peduli. Bahkan jika aku mengatakan bahwa aku sekarat, dia mungkin hanya akan bertanya apakah aku bisa bertahan cukup lama sampai masalah perusahaan selesai.

Jadi aku memilih untuk tidak mengatakan apa-apa, aku hanya mengangguk pelan, lalu berdiri. "Akan ku coba bicara dengan Gavin." Kataku, meski aku tahu tidak ada gunanya.

Mama tersenyum puas. "Bagus. Jangan menjadi orang yang bodoh dan mengecewakan kami, Azalia."

Aku berbalik, melangkah keluar dari ruangan itu dengan tubuh yang terasa lebih berat dari sebelumnya.

Hari ini, aku datang dengan harapan bisa meminta bantuan.

Tapi bahkan harapan itupun harus kubuang jauh-jauh karena sebuah tekanan.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Aku sudah berdiri di depan kantor Gavin, di tanganku membawa kotak makan siang untuknya.

Tanganku sedikit bergetar saat mulai mengetuk pintu ruangannya pelan. Dari dalam, suara seorang pria menjawab tanpa emosi.

"Masuk."

Aku menarik napas dalam, lalu mendorong pintu kaca pelan. Gavin duduk di balik meja besarnya, matanya tetap fokus pada layar laptop. Dia bahkan tidak melirik saat aku masuk.

Seperti biasa.

Aku melangkah mendekat, hati-hati meletakkan kotak makan siang di atas mejanya. "Aku membawakan makan siang untukmu," kataku pelan.

Gavin tidak merespon. Tangannya masih sibuk mengetik, seolah aku tidak ada di sana. Detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan, sebelum akhirnya dia mengangkat kepalanya, bukan untuk melihatku, tapi untuk melirik kotak makan itu dengan ekspresi datar.

"Aku tidak butuh makanan darimu."

Aku sudah menduga ini, tapi entah kenapa tetap ada sesuatu di dalam diriku yang mencelos. Aku tersenyum kecil, berusaha menjaga intonasi suaraku agar tidak bergetar. " Ini kumasak sendiri, didalamnya ada ayam mentega kesukaanmu."

Mata tajam Gavin akhirnya menatapku. Bukan tatapan kehangatan. Tapi kebencian yang sangat dalam.

"Sudah kukatakan, jangan pernah muncul di depanku." Suara Gavin sangat tajam, menusuk tepat ke dalam dadaku. "Aku bisa membeli makanan apapun yang kuinginkan, tidak butuh sampah yang kau buat seperti ini."

Aku menundukkan kepala, menggenggam jemariku sendiri di bawah meja. Rasanya sakit, tapi ini bukan pertama kali aku mendengar kata-kata seperti ini dari Gavin.

"Maaf kalau aku mengganggumu."

Gavin mengalikan pandangannya kembali ke layar laptop, seolah aku tidak lebih dari angin yang berhembus tanpa arti. "Kalau sudah selesai, keluar."

Aku tetap diam beberapa detik sebelum akhirnya benar-benar berbalik, mulai berjalan menuju pintu. Langkahku terasa berat. Mungkin karena kelelahan yang semakin hari semakin menjadi, atau mungkin karena dinginnya tatapan suamiku yang membuatku semakin sadar bahwa aku hanyalah bayangan tak berharga di kehidupan siapapun.

Lihat, kan? Apa yang bisa aku harapkan? Untuk mengabulkan permintaan Mamaku?

Air mataku jatuh membasahi telapak tangan.

Bahkan dia tidak memiliki waktu untuk melihatku. Apalagi untuk mendengar keluhanku.

Tepat sebelum aku benar-benar keluar, aku menoleh sedikit, melihat kotak makan yang masih tergeletak di meja. Aku tahu dia tidak akan menyentuhnya.

Tapi aku tidak keberatan.

Selama aku masih bisa melakukannya, aku masih ingin memberikan yang terbaik untuknya, makanan sehat yang kubuat sendiri.

Walaupun Gavin sangat membenciku.

Meskipun aku mungkin tidak akan mempunyai banyak waktu lagi.

Baru beberapa langkah, aku bertemu dengan adik iparku. Arvin berjalan mendekat, matanya menatapku seperti aku ini tumpuk kotoran yang menjijikkan.

"Mau apa lagi kamu datang kesini?" Nadanya ketus, sama sekali tidak enak didenger.

Sebenarnya selama ini aku selalu bersikap baik padanya, berharap dengan seperti itu, hubunganku dengan Gavin pun akan membaik perlahan. Namun ternyata tidak. Tidak satupun orang terdekat Gavin menyukaiku, semua menganggap ku layaknya parasit.

Kini aku hanya bersikap seadanya saja. Ku ulas senyum tipis di bibirku, aku tidak pernah membenci pria ini, sebab, dia juga bagian dari Gavin, dia adik iparku.

"Aku hanya mengantarakan makan siang untuk Gavin. Aku akan pergi." Aku berjalan melewatinya.

"Berhenti disitu, Azalia!"

Aku berhenti, menoleh kearah Arvin yang justru melangkah mendekatiku lagi.

"Sudahi sikap sok polosmu ini. Kami semua tahu, jika bukan kelakuan licik keluargamu, Gavin tidak akan terperangkap dengan wanita menyedihkan seperti ini. Renata telah menyelesaikan pendidikannya, dan dia akan kembali ke tanah air. Bersiaplah untuk menerima penceraian dari Gavin."

Renata adalah kekasih Gavin. Jika bukan karena jebakan Mama, mungkin mereka kini sudah menikah.

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa, dan aku juga sudah tidak ingin bertahan dalam pernikahan yang menyulitkan Gavin.

Mataku terasa panas karena tahu waktuku bersama Gavin tak lagi banyak, dan yang lebih menyakitkan dia masih membenciku. Tapi tidak apa-apa, bukankah Renata akan datang, kebahagiaan Gavin akan segera kembali.

########

Komentarin dong!!

Buat semangatin aku nulis....

Kan kalau nggak ada dukungan dari kalian aku juga kurang semangat nulisnya 🥲🥲🥲🥲

1
Adinda
perduli mu teelambat Gavin
Ais
disatu sisi senang thor tp itu ngak sebanding dgn apa yg sdh azalia alami thor baik terhadap marta yg katanya ibu kandungnya jg gavin yg msh mengaku sbg suami azalia apa arti smua itu sementara azalia menahan derita dan sakit hati fisik mentalnya selama dia hidup didunia ini
Kar Genjreng
Renata memang benar dua Pria itu b****k tetapi punya alasan karena ternya istri bukan sedang bersandiwara tetapi memang nyata kalau sedang sakit dan nya lagi wanita itu lah yang sudah menyambung nyewa alvin,,,dengan ginjalnya,,,jadi ya mau bagaimana lagi,,
Rahma Inayah
bodoh nya Marta klu di manfaatin Mahesa demi suami rela kehilangan ank kandung darah daging sendri mending klu Mahesa ayah kandung or setidknya baik PD azalia ni gak .
Vie
ah akhirnya bisa update juga kak... 👍👍👍
Hani Ekawati
Bagus beri pelajaran buat orang orang serakah itu, orang tua yang tidak punya hati nurani terutama Marta. Demi bisa hidup mewah dia sampe menjual putrinya sendiri.
Hani Ekawati
Dasar kamu seorang ibu yang tidak punya hati
Bela Viona
rasakno
Hani Ekawati
Itu si Marta ibu yang tidak punya hati, anaknya sakit tapi tidak peduli sama sekali. Dan Gavin sepertinya sudah ada getar cinta atau hanya sebatas rasa iba.
Setyowati Setyowati
kapokmu kapan mahesa
Vie
yaaa padahal seru ceritanya.... lagi seru2 nya kak... 😭😭😭
Vie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
hadiah yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan.. 🤭🤭🤭
Vie
ya.. ya... ya... dalam mimpi mu kali ya.... 😝😝😝
Vie
ya harusnya kamu lebih berpikir lagi dengan jernih.... walau bagaimanapun dia sudah menikah, dan kalau kamu berada diposisi azalia, apakah kamu akan menerimanya begitu saja. melepaskan suami demi kembali bersama masa lalunya???
Vie
nah gitu dong kamu harus tegas dalam memilih suatu hubungan karena jelas kamu sudah memiliki seorang istri yang sangat mencintaimu, hanya saja kamu yang tidak bersyukur dan malah menyia2kan waktu saat bersamanya....
Vie
sok lah bawa dia berobat sampai sembuh total dan mendapatkan kebahagiaan
Vie
nah kan seperti hati kamu sekarang pada azilia. walau sebenarnya sudah terlambat karena waktu untuknya tidak akan lama lagi. isilah waktu yang tersisa itu dengan semua kebahagiaan untuk azilia....
Vie
bukankah kamu seperti menyindir diri sendiri ya??? 🤭🤭🤭🤭 karena hal itu seperti yang terjadi dalam hidup kamu.... 🤭🤭
Vie
ya siapapun pasti akan sangat hancur bila tau keadaannya seperti ini, terus dia merasa hanya dikasihani setelah apa yang dulu Gavin lakukan padanya.... itu wajar sih.... karena ini menyangkut nyawanya yang mungkin tinggal menunggu waktu akan menjemputnya... 😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!