Beautiful girl dan Handsome boy
dua geng yang selalu mendapatkan perhatian dari para murid SMA Nusantara.
#####
Beautiful girl adalah geng yang terdiri dari 6 gadis cantik yaitu :
( Dinda, Fanya, Maya, Aulia, Cika, jesika )
Mereka ini adalah murid baru dari SMA Nusantara, karna sebuah tantangan mereka harus berpenampilan cupu dan mereka juga harus menyembunyikan identitas mereka.
Geng ini juga geng yang memiliki anggota yang sangat jahil, mereka selalu memiliki ide cerdik di kepala cantik mereka untuk menjahili seseorang.
Bawahannya saja jahil apa lagi pemimpinnya?
#####
Handsome boy adalah geng yang terdiri dari 6 laki-laki tampan yaitu :
( Hendri, Fandi, Dafit, Dafa, Faris, Marsel )
Mereka adalah murid laki-laki SMA Nusantara yang sangat di idam-idamkan oleh para murid perempuan disana.
#####
Namun bukan hanya geng disekolah saja, kedua geng ini juga masuk ke dalam geng mafia yang sangat terkenal di dunia bawah.
Dan jangan lupakan dengan kejahilan-kejahilan yang akan mereka buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Rapat
Tak berselang lama datanglah Jesika yang masuk dengan Satya yang sedang mengejarnya.
"DINDA, DINDA-DINDA" teriak Jesika saat masuk.
"JES JANGAN DONG" teriak Satya.
"WELLLK, GAK PERDULI" ucap Jesika dengan menjulurkan lidahnya untuk mengejek Satya.
"Lo tu ya, ngselin banget sih" keluh Satya yang tersusun mengejar Jesika yang sedang lari lari mengelilingi meja.
"Emang lo sendiri enggak, lo juga sama oneng" ucap Jesika dengan tetep berlari menghindar kejaran Satya.
"Jesika, Satya" panggil Dinda dengan sedikit kencang sambil berdiri dari duduknya dan menatap mereka berdua dengan sedikit jengkel.
Sedangkan Jesika dan Satya yang merasa di panggil langsung menghentikan langkahnya lalu menatap Dinda yang terlihat kesal dan itu sangatlah menyerang di mata mereka berdua, meski ekspresi Dinda biasa saja hanya sedikit menatap mereka dengan tatapan tajam.
"Kalian apa-apaan sih, teriak-teriak sambil lari-lari kayak gitu? Tadi Riko sama Maya, sekarang kalian? Ayolah, gue gak temen-nan sama anak TK kan?" ucap Dinda dengan sedikit kesal dengan kelakuan teman-temannya yang seperti Tom and Jerry ini.
"Maaf" ucap Satya dan Jesika kompak sambil memperlihatkan cenggiran mereka.
"Ya udah cepetan duduk!" perintah Dinda dengan nada yang tidak mau di bantah, sambil menunjuk kursi yang ada di sampingnya Fanya.
Dengan cepat Jesika dan Satya pun duduk di samping Fanya untuk menghindari amukan Dinda selanjutnya.
Sedangkan Dinda langsung duduk kembali dan fokus ke ponselnya tanpa mau menggubris teman-temannya yang selalu membuat barahnya naik dengan tingkah mereka yang seperti bocah.
"Kalian kenapa sih? Ngapain coba, pake acara teriak-teriak sambil lari-lari kayak gitu? Kena kan lo sama Dinda?" bisik Fanya pada jesika dan Satya yang sedang duduk di samping kirinya.
"Nih, salahin Satya" tuduh Jesika sambil menujuk Satya yang sedang duduk di samping kirinya.
"Kok gue?" ucap Satya yang tidak terima karena di salahkan.
"Ya lo lah!"
"Giman caranya bisa jadi gue? Ken lo tadi yang tadi teriak-teriak mau lapor sama Dinda."
"Tapi ini itu gara-gara lo yang ngatain Dinda. Coba kalau lo gak ngatain dia, gue kan gak perlu ngelapor sama Dinda" bantah Jesika gak mau kalah.
"Tapi kan lo ya--" ucap Satya yang terpotong karan suara pintu yang dibuka.
"Kalain kenapa? Kok bisik-bisik gitu?" tanya Cika yang merasa aneh dengan Fanya, Satya, dan Jesika yang sedang pada berbisik.
"Udah biarin! Cepetan duduk!" perintah Dinda pada Cika, tanpa mau memalingkan pandangannya pada ponselnya.
"Oke" ucap Cika acuh sambil mengangkat bahunya lalu berjalan menuju kursi dan duduk di hadapan Fanya juga di samping kanannya Dinda.
Tak berselang lama pintu kembali terbuka dan tampak disana terdapat dua sejoli yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Cepetan duduk" perintah Dinda dengan tegas lalau meletakkan henfonya ke atas meja tepat di hadapannya.
Perintah Dinda tadi langsung di patuhi oleh dua sejoli tersebut yang tidak lain adalah Maya dan Riko, mereka langsung memposisikan diri mereka di kursi sebelah kanan Cika.
"Oke sekarang kita bahas mengenai masalah markas" ucap Dinda dengan lembut dan menatap mereka semua yang sedang duduk di hadapannya satu per satu dengan tatapan yang serius.
Sedangkan yang lainnya juga menatap Dinda dengan sangat serius, karena saat di luaran jam rapat mereka bisa saja bercanda namaun saat rapat beginj mereka akan sangat serius dalam melaksanakannya.
"Satya dan Riko. apa di markas ini ada masalah serius yang terjadi?" tanya Dinda sambail melipat kedua tangannya di meja.
"Kalau masalah serius si, itu gak ada" lapor Riko.
"Tadi lo bilang 'kalau masalah serius si gak ada' itu tandanya ada masalah kecil kan?" tebak Cika sambil menyanggah dagunya dengan tangan kirinya lalu menatap ke arah Satya dan juga Riko.
"Iya, memeng ada masalah kecil sih" jawab Satya.
"Masalah kecil? masalah apa?" tanya Maya.
"Sesuai peraturan, jam kerja di sini di bagi menjadi 4 gelombang. setiap gelombang memiliki jam kerja sebanyak 6 jam" ucap Riko.
"Iya itu benar, kita membuat peraturan itu untuk meningkatkan kualitas kerja, sehingga tidak akan ada perkerja yang kelelahan yang akan menimbulkan buruknya kualitas produk (senjata yang di produksi)" ucap Maya.
"Iya itu bener" ucap Riko.
"Lalu apa yang jadi masalah?" tanya Dinda.
"Masalahnya itu ada di perkerja ya" jawab Riko.
"Ahir-ahir ini mereka itu terlalu mengganggap remeh perkerjaan. mereka terus saja malas-malasan dalam membuat senjata" jelas Satya.
"Oh jadi itu" ucap maya sambil menggangguk sebagai tanda mengerti.
"Menurut gue itu gak jadi masalah" ucap Dinda dengan bersandar pada punggung kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Tapi Din mereka itu---" ucap Satya yang terpotong.
"Gue ngerti maksud kelian. Menurut gue yang terpenting itu semuanya beres sesuai dengan waktu yang gue kasih" ucap Dinda. "Jadi jika mereka mau bermalas-malasan itu terserah mereka, yang terpenting mereka bisa menyelesaikan itu semau dan kualiatas senjata yang mereka produksi sesuai dengan yang gue mau, itu udah lebih dari cukup" terus Dinda.
"Gue setuju sama Dinda. Kita memperkerjakan mereka jadi kita harus memperlakukan mereka dengan baik" ucap Cika.
"Tapai jika mereka memanfaatkan kebaikan kita dan melakukan kekacauan maka" ucap Fanya.
"Mereka harus siap-siap untuk menerima konsekuensinya" lanjut Jesika.
"Oke" jawab Satya dan Riko kompak.
"Jadi sudah sampai mana proses pembuatan senjata yang tiga bulan lalu gue kasih ke kalain? sisa waktu yang gue kasih masih sisa dua Minggu loh, apa kalian udah selesai?" tanya Dinda.
"Semuanya sudah selesai, hanya tinggal revisi aja" jawab Satya.
"Bagus deh kalau gitu" ucap Dinda dengan senang.
"Kalau tinggal revisi seharusnya dua sampai tiga hari seharusnya sudah selesai dong" ucap Cika.
"Iya bener banget tuh, kalau tinggal revisi gak sampek dua Minggu juga bakal selesai, apa lagi senjata yang dibuat kan cuman 40 biji. jadi seharusnya sudah selesai sebelum dua Minggu" ucap Maya.
"Kelihatannya lebih dari semingu deh apa lagi sampek dua sampai tiga hari. Kalau di lihat dari cara kerja mereka seminggu saja gak selsai" ucap Satya dan dingguki setuju oleh Riko.
"Apa? Tapi itu kan tinggal revisi, seharunya--" ucap fanya yang terpotong.
"Udah gak papa, yang penting gak lebih dari dua Minggu itu udah cukup" ucap Dinda memotong ucapan Fanya.
"Makasih ya Din" ucap Riko dan Satya kompak.
"Gak perlu makasih" ucap Dinda.
"Oh ya Din, untuk senjata yang selanjutnya gimana?" tanya Fanya.
"Senjata selanjutnya? Senjata apa?" tanya Jesika kebingungan.
"Ada senjata yang akan kita produksi lagi, dan itu rencananya akan diproduksi di markas Prancis tapi gak jadi" jelas Fanya.
"Kenapa gak jadi?" tanya Jesika yang masih kebingungan.
"Karan gue yang batalin pembuatan senjata itu" ucap Dinda.
"Lah kenapa? Bahakan lo gak kasih tau kita kalau ada senjata baru yang akan di produksi" ucap Jesika.
"Gue juga awalannya gak tau, geu tau ini pas gue gak sengaja lihat proposal yang ada di laptop Dinda" ujar Fanya.
"Udah lah, lagian nanti kalain juga bakal tau rencananya. Dan untuk kalian berdua" taunjuk Dinda pada Satya dan Riko.
"Kami kenapa?" tanya Riko binggung.
"Gue mau kalian berdua tingkatan kualiatas markas kalain, kalau senjata yang di buat nanati sudah selesai dan kualiatasnya bagus, gue bakal ngasih kalain rancangan senjata itu ke markas ini" ujar Dinda.
"Beneran?" tanya Riko dan Satya dengan sangat senang.
"Iya" jawab Dinda.
"Yes" ucap Riko dan Satya dengan senyuman yang terpancar di bibir mereka.
"Eh ini udah magrib, kita solat aja dulu yuk" ajak Dinda.
"Yuak lah" ucap Maya.
"Fanya, Cika kalian tolong periksa berkas-berkas ini dulu ya, kita mau sholat dulu" ucap Dinda sambil memberikan beberapa berkas kepada mereka berdua.
"Santay aja, kita bakal urus semuanya" jawab Fanya.
"Makasih ya, kita pergi dulu" ucap Dinda lalu pergi dengan yang lainnya.
Fanya dan Cika itu beragam keristen berbeda dengan yang lainnya yang beragama Islam, namaun itulah yang membuat mereka semakin erat dalam bersahabat.
Meski mereka berbeda tapi mereka saling menghormati dan itulah yang membuat mereka semakin dekat. Melalui perbedaan mereka belajar mengenal sesuatu hal yang mereka tidak tau.
Jadi dengan adanya perbedaan itu mereka menjadi saling melengkapi kekurangan, saling mengingatkan bila ada yang lupa dengan jalan yang benar. Bertukar cerita tentang perbedaan yang ada di diri mereka, dan Salang melengkapi kekurangan yang lain.
Dan satu hal yang terpenting yaitu selalu mendukung satu sama lain selagi itu adalah hal yang baik.
Jadi bila kalain tidak mau menerima perbedaan itu maka hidup kalain di dunia ini tidak akan pernah tenang dan menyenangkan, karan kita ini hidup di dunia yang beraneka ragam jenisnya, dan perbedaan itu untuk kita kenal dan pelajari untuk di ambil kebaikannya bukan untuk kita tentang, karan kita itu berbeda bukan sama.
Yang harus sama itu satu, yaitu kita harus saling menghargai dan saling membantu satu sama lain tanpa memandang perbedaan.
Oh iya aku mau tanya dong, tentang pendapat kalian mengenai tentang perbedaan.
Tolong jawab di kolom komentar ya.