NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jadi Putri Terbuang, Sistem Es Dewa Milikku..

Reinkarnasi Jadi Putri Terbuang, Sistem Es Dewa Milikku..

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Kehidupanku berakhir saat ditikam tunangan dan adik tiriku sendiri.

Tapi saat aku membuka mata, aku ber Reinkarnasi menjadi Ratu es putri yang dibuang keluarga kerajaan karena "tidak punya kekuatan".

Apes? Enggak. Karena aku membawa [Sistem Es Dewa].

Misi: Selamat, Balas Dendam, dan Jadi Ratu!

Keluarga yang mengusirku? Tunggu saat aku membekukan kerajaan kalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAHTA ES ABADI

Hawa dingin yang memancar dari Kota Suci Luminaria yang kini telah resmi berganti nama menjadi Permafrost Capital tidak lagi berupa badai salju liar yang merusak. Di bawah kendali mutlak Elena von Silversnow yang telah mencapai ranah Penyihir Agung Lingkaran 8, sihir es dewa miliknya telah menyatu dengan arsitektur kota kuno itu melalui Sistem Perluasan Wilayah Makro Fase Akhir.

Jalan-jalan marmer yang dulunya benderang oleh cahaya keemasan palsu kini dilapisi oleh es kristal transparan berpola kepingan salju abadi. Di kanan dan kiri jalan utama, menara-menara pengawas es setinggi seratus meter mencuat tegak ke langit, memancarkan jaring-jaring mana biru keperakan yang saling terhubung di udara.

Struktur rumah-rumah warga sipil yang dulunya terbuat dari batu bata biasa kini telah dikonversi oleh sistem menjadi paviliun kristal berlapis, mengunci kehangatan magis di dalam ruangan sementara suhu di luar benteng berada di bawah titik beku yang mematikan.

Di pusat metropolis baru ini, berdiri Istana Satelit Es Dewa. Bangunan raksasa itu menjulang tinggi menembus awan, terbuat sepenuhnya dari berlian hitam yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh senjata fana.

Elena duduk dengan anggun di atas tahta es abadi yang berada di aula utama istana. Mahkota kristal es dewa melayang lembut di atas rambut perak panjangnya yang berkilau. Jubah kebesarannya yang berwarna biru keperakan menjuntai hingga ke lantai marmer es, memancarkan aura Absolute Zero Aura yang kini telah tersebar secara pasif, memaksa siapa pun yang memasuki ruangan itu untuk menundukkan kepala jika tidak ingin jiwa mereka membeku seketika.

Di samping kanan tahtanya, Frost dalam wujud menengah setinggi sepuluh meter sedang menyandarkan kepalanya yang besar dengan malas, sesekali mengeluarkan uap dingin dari lubang hidungnya. Sementara di sebelah kiri Elena, sesosok pria berzirah perak gelap dengan mata biru menyala berdiri tegak dengan pedang besar terhunus ke tanah. Dia adalah Ksatria Kuno Kaelen, pahlawan tingkat tinggi setara Pendekar Pedang Lingkaran 8 yang baru saja dibangkitkan oleh Elena menggunakan jutaan poin sistem beberapa waktu lalu.

[Sistem: Pembaruan Wilayah Makro Selesai.]

* [Status Wilayah: Permafrost Capital (Aman, Loyalitas Warga Sipil: 45% dan terus meningkat akibat ketakutan suci).]

* [Poin Sistem Saat Ini: 2.500.000 Poin.]

* [Pengingat: Sisa Kerajaan Manusia di Benua Selatan sedang mengirimkan utusan diplomatik tertinggi mereka menuju perbatasan luar kota.]

"Mereka datang lebih cepat dari yang kukira," gumam Elena, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh penghinaan. Jarinya yang ramping mengetuk lengan kursi tahtanya. "Frost, apakah tikus-tikus dari selatan itu sudah melewati gerbang berlian hitam?"

Frost membuka satu matanya yang vertikal, mengeluarkan suara rendah yang menggetarkan pilar-pilar aula. "Mereka telah berada di halaman luar istana, Elena. Aku bisa mencium bau ketakutan dan parfum murahan dari tubuh mereka. Manusia-manusia lemah yang dulunya bersembunyi di balik punggung Paus Benediktus kini merangkak membawa emas dan anak-anak mereka untuk memohon ampun."

"Bawa mereka masuk," perintah Elena datar kepada Kaelen.

Ksatria Kuno Kaelen membungkuk hormat, lalu menghentakkan ujung gagang pedang besarnya ke lantai es sebanyak dua kali. Suara dentuman logam itu bergaung ke seluruh koridor istana, memberikan tanda bagi para pengawal luar.

Pintu aula es setinggi dua puluh meter terbuka perlahan dengan suara derit yang berat. Dari luar ruangan, selusin utusan diplomatik yang mewakili sisa-sisa kerajaan manusia terbesar di benua selatan melangkah masuk dengan tubuh yang gemetar hebat. Mereka terdiri dari para raja tua, pangeran mahkota, dan putri-putri bangsawan berpakaian mewah yang kain sutranya kini telah basah oleh sisa-sisa es yang meleleh.

Setiap langkah yang mereka ambil di atas lantai es transparan itu terasa seperti melangkah di atas mata pisau. Di kanan dan kiri aula, tiga puluh Frost Specter melayang dalam diam dengan mata merah menyala, sementara dua puluh Ice Vanguard Knight berdiri tegap memegang kapak raksasa mereka yang siap memenggal kepala siapa pun dalam sekejap.

Di barisan paling depan utusan itu, memimpin seorang pria paruh baya mengenakan mahkota emas bertatahkan permata merah. Dia adalah Raja Elidyr, penguasa Kerajaan Solaria, kerajaan sekutu terdekat Kekaisaran Suci yang tidak sempat mengirimkan pasukannya ke Lembah Ratapan karena jarak yang jauh. Di belakangnya, seorang putri muda berambut pirang dengan gaun putih indah berlutut dengan tubuh yang bergetar hebat.

Begitu mereka mencapai jarak sepuluh meter dari tahta Elena, hawa menindas dari Absolute Zero Aura memaksa Raja Elidyr dan seluruh rombongannya untuk langsung menjatuhkan lutut mereka ke atas lantai es yang dingin.

"Hamba... Elidyr von Solaria, mewakili Tiga Belas Kerajaan Bersatu Benua Selatan, memberi penghormatan tertinggi kepada Yang Mulia Elena von Silversnow, Penguasa Mutlak Es dan Sang Penakluk Luminaria," ucap Raja Elidyr dengan suara yang parau, dahinya ditempelkan langsung ke atas marmer es yang membekukan kulitnya.

Elena menatap kerumunan penguasa fana itu dari atas tahtanya tanpa ekspresi sedikit pun. Pandangan matanya yang berwarna perak murni menembus langsung ke dalam sanubari mereka, mendeteksi setiap kepalsuan dan ketakutan yang mereka sembunyikan.

"Bangunlah, Raja Solaria," suara Elena bergema di seluruh aula, begitu jernih namun dipenuhi oleh tekanan magis yang membuat udara di sekitar para utusan bergolak. "Kau membawa mahkotamu ke istanaku, namun kau tidak membawa pasukanmu. Apakah kau di sini untuk mendeklarasikan perang berikutnya, atau hanya untuk membuang waktuku?"

Raja Elidyr buru-buru mengangkat kepalanya sedikit, namun matanya tetap menatap ke bawah, tidak berani memandang langsung ke arah mata perak Elena. "Ampun, Yang Mulia! Kerajaan Solaria dan seluruh aliansi selatan tidak pernah berniat untuk memusuhi Kekaisaran Es Dewa! Pengiriman pasukan Aliansi Setengah Juta kemarin murni adalah manipulasi keji dari Paus Benediktus dan gereja sesatnya!"

Raja Elidyr memberi isyarat kepada pelayannya di belakang. Beberapa ksatria fana yang gemetar maju sambil membawa peti-peti emas berukuran raksasa yang dibuka di hadapan Elena. Di dalam peti-peti itu, ribuan kristal mana tingkat tinggi, emas batangan, dan gulungan akta kepemilikan tanah perbatasan berkilau di bawah cahaya biru aula.

"Kami membawa seluruh upeti terbaik dari benua selatan sebagai tanda penyerahan diri kami yang mutlak, Yang Mulia," lanjut Elidyr dengan napas memburu. "Kami juga membawa Putri Althea, putri tercantik dari garis keturunan Solaria, untuk diserahkan sebagai pelayan pribadi atau tawanan perang di istana Anda. Kami hanya memohon satu hal... mohon jangan bawa badai salju milikmu ke tanah kami."

Putri Althea, yang mendengar namanya disebut, mengangkat wajahnya yang pucat. Matanya yang indah digenangi air mata ketakutan saat dia menatap sosok Elena yang melayang di atas ego manusia biasa. Di kehidupan pertamanya, Elena mungkin akan merasa kasihan melihat seorang putri bangsawan direduksi menjadi komoditas politik seperti ini. Namun kini, dengan Immortal Ice Heart yang telah mencapai tingkat kesempurnaan 80%, emosi fana seperti itu telah sirna dari jiwanya.

Elena bangkit dari singgasananya. Gerakan kasual itu membuat seluruh utusan diplomatik menahan napas serentak. Elena melangkah turun dari tangga es transparan, mendekati kotak-kotak upeti dan Putri Althea yang bersimpuh di lantai.

Setiap langkah kaki Elena yang telanjang menciptakan riak kepingan salju tipis di atas marmer es. Ketika dia berdiri tepat di depan Raja Elidyr, tekanan hawa dingin membuat sang raja tua itu hampir pingsan karena hipotermia.

"Emas, permata, dan seorang wanita," Elena menyebut barang-barang upeti itu dengan nada bosan yang mendalam. Dia mengulurkan jarinya yang putih mulus, mengangkat dagu Putri Althea dengan dingin. Kulit Althea seketika membiru di tempat sentuhan jari Elena. "Manusia selalu berpikir bahwa segala sesuatu di dunia ini bisa dinilai dengan materi. Kalian mengkhianati sesama demi keuntungan, dan kalian merangkak memohon ampun dengan melemparkan harta milik kalian saat maut mendekat."

Elena melepaskan dagu Althea, membuat putri muda itu terjerembab ke lantai sambil memegangi lehernya yang kaku karena hawa dingin. Elena berbalik, kembali menatap Raja Elidyr dengan pandangan tirani yang mutlak.

"Aku tidak butuh emas kalian, Raja Elidyr. Sistemku bisa menciptakan kastil berlian ini dari udara kosong. Aku juga tidak butuh putri kalian untuk mengotori istanaku dengan kelemahan manusianya," ucap Elena dingin.

Raja Elidyr membelalakkan matanya, mengira bahwa penolakan ini adalah vonis mati bagi seluruh kerajaannya. "Y-Yang Mulia... lalu apa yang Anda inginkan dari kami? Kami akan menyerahkan apa saja... apa saja demi kelangsungan hidup rakyat kami!"

Elena mengangkat tangan kanannya ke udara. Layar virtual sistem yang hanya bisa dilihat olehnya berkedip cepat, menampilkan menu Perluasan Kota Makro Tingkat Dua.

[Sistem: Perintah Diterima. Mengaktifkan Kontrak Penundukan Jiwa Es Dewa.]

* [Biaya: 500.000 Poin Sistem. Sisa Poin: 2.000.000 Poin.]

* [Efek: Seluruh penguasa yang menandatangani kontrak ini akan menyerahkan 50% dari pasokan mana kerajaan mereka setiap bulan ke dalam Inti Sistem Permafrost Capital. Jika mereka berkhianat atau memiliki niat memberontak, jantung mereka akan langsung membeku seketika.]

1
Sunflower_6520
Suka nih sama yang balas dendam begini...
SRIANA: terima kasih udah singgah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!