NovelToon NovelToon
TIRAKAT 5

TIRAKAT 5

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...

Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...

Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 "DI CIREBON, BU..."

Kucoba untuk mencairkan suasana, sambil menunggu anakku berganti baju.

"Eh, iya. Diminum dulu tehnya Nak, silahkan..." kataku.

"Iya, Bu. Saya minum ya, Bu." jawabnya.

"Iya-iya, diminum, mumpung masih anget tehnya." kataku.

Dan, anak perempuan itu pun hendak mengambil gelas teh.

Akan tetapi, dengan sangat cepat, kuaktifkan saja kemampuan penglihatan ghoibku. Kulakukan itu karena sangat penasaran diriku dengan sosok anak perempuan di depanku itu.

Dan, ketika kulihat tangan kanannya menjulur ke arah gelas di atas meja...

Tiba-tiba, dengan sangat cepat...

Sekujur tubuhku merinding.

Dan terasa ada energi yang mengalir dari tubuh anak perempuan itu.

Akan tetapi, energinya itu terasa tipis dan lemah. Tak kuat sama sekali bagiku.

Dan juga, tak ada penampakan yang aneh dari aura dirinya. Tak ada warna atau aroma tertentu yang kurasakan.

Tubuhnya terasa...

Normal.

Dan saat anak perempuan itu sudah selesai meminum tehnya sedikit, ia letakkan lagi gelasnya di atas meja. Langsung kukembalikan penglihatan normalku.

"Terima kasih, Bu. Tehnya enak banget, hehehe..." katanya.

"Ah, bisa aja kamu. Tapi, makasih juga ya, Nak." jawabku.

"Iya, Bu..."

Akhirnya suasana di ruang tamu sudah terasa tak secanggung tadi. Dan aku pun mengajaknya mengobrol.

"Oh iya, namamu Harum juga, ya?" tanyaku, membuka obrolan.

"Hehe... Iya, Bu. Nama saya Harum."

"Kalo nama lengkapmu, siapa?"

"Harum Intan Purnamasari..." jawabnya.

Lagi-lagi, aku terkejut mendengar nama lengkapnya itu.

Ya walaupun sebenarnya nama seperti itu adalah nama yang umum, dan bisa dimiliki oleh siapapun, tapi aku merasa ini bukanlah kebetulan biasa.

"Gitu, ya... Kenapa bisa sama kayak nama anak Ibu, ya?"

"Emmm..." responnya, sambil menggelengkan kepala. Tanda bahwa dirinya juga tak mengetahui kebetulan itu.

Aku pun hanya bisa mengangguk pelan akhirnya.

Sejenak kami saling memandang.

Lalu, kutanyakan lagi padanya, "Kamu... Rumahnya dimana, Nak?"

"Rumah saya di Gang Ansip, Bu."

"Loh? Gang Ansip?" sedikit kaget aku, saat mendengar jawabannya.

"Iya, Bu. Di Gang Ansip." tegasnya lagi.

"Agak jauh dong dari sini kalo gitu." kataku.

"Hehe... Iya, Bu."

"Kamu tinggal sama orang tuamu?"

"Iya, Bu. Tapi..." jawabnya tertahan sedikit.

"Tapi kenapa?"

"Tapi bukan orang tua kandung Bu, orang tua angkat." jawabnya.

Sontak, kembali terkejut batinku mendengarnya. Tapi, aku tak berkata-kata.

"Orang tua kandung saya udah meninggal, Bu." tambahnya.

"Oh, gitu... Terus, kamu di Gang Ansip udah lama juga?" tanyaku semakin penasaran.

"Enggak sih, Bu. Baru sebulan. Itu juga masih ngontrak orang tua angkat saya." jawabnya.

"Emang sebelumnya dimana?"

Dan...

Jawaban selanjutnya dari anak perempuan itu, amat membuatku terkejut dalam batin.

"DI CIREBON, BU..."

Sedikit agak bergeser posisi dudukku. Sedikit condong ke depan tubuhku.

Ada rasa penasaran yang semakin besar dalam batinku, bercampur sebuah firasat. Firasat bahwa anak perempuan ini memiliki sejarah hidup yang harus aku tahu lebih dalam.

Ketika ingin kutanyakan lebih jauh, anakku membuka pintu kamar. Sudah selesai ganti baju dirinya.

"Harumi!" kata anakku, sambil berjalan dengan tongkatnya, mendekati kami.

"Bagus gak, bandoku?" tanya anakku dengan polosnya. Seolah memamerkan bando yang dahulu diberikan oleh almarhumah Salsa.

"Waaah... Bagus bangeeet!" jawab anak perempuan itu.

"Hehehe... Makasih, ya..."

Anakku pun duduk tepat di sebelahku. Aku senyum padanya. Dan anakku bertanya pada teman barunya itu.

"Gimana teh manis bikinan Ibuku? Enak, gak?"

"Iya, enak banget malah, Haruma!" jawabnya dengan mengangguk cepat.

"Iya, dooong... Ibuku kalo masak juga enak banget, loh! Hehehe..." kata anakku.

"Waaah, pasti dooong. Tehnya aja enak banget, apalagi masakannya!" respon teman baru anakku itu.

Jujur, sedikit merasa tersanjung ku mendengar ucapannya itu.

Aku jadi tersenyum malu pada anak perempuan itu, dan anak perempuan itu malah cengengesan melihatku.

Sangat manis... Semanis anakku...

🥹🥹🥹🥹🥹

1
Athnares
😍😍
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
next nya mana ini?
Ayuk Witanto
alm.bapakku juga dulu gitu kalau di bilangin
Deni Komarulloh: Sama dong Mas, hehehe... Saya juga jawab gitu kalo dibilangin buat berhenti merokok, hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!