NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya Tumbang

Setelah menata sarapan di meja, Azizah terus mengintip ke arah tangga. Hari sudah beranjak siang, namun batang hidung Ezra belum juga terlihat. Tadi pagi, ia sempat mencoba mengetuk pintu kamar pria itu untuk menyiapkan pakaian kerjanya, namun tidak ada sahutan dan pintu terkunci rapat. Sepertinya, Ezra masih memendam amarah akibat kejadian tengah malam tadi.

Azizah kembali menatap masakannya. Kali ini porsinya ia buat lebih sedikit, karena ia sudah cukup yakin Ezra akan menolak sarapan buatannya kembali.

Baru saja ia hendak berbalik, telinganya menangkap suara mesin kendaraan dari arah depan. Azizah pun bergegas keluar. Sebuah truk boks berwarna putih telah berhenti di pelataran rumah. Seorang pria berseragam perusahaan bunga turun sambil memegang papan jalan dan menatap Azizah dengan raut bingung.

“Pembantu baru? Biasanya Mbak Ida yang menerima pesanan,” ucap pria itu, lalu memberi kode pada rekannya untuk mulai menurunkan bunga-bunga segar dari bagian belakang truk.

Azizah segera mengeluarkan ponsel dari kantung celemeknya dan mengetik.

‘Saya Azizah. Istri Ezra.’

Pria itu terperangah, “Pak Ezra sudah menikah? Kapan?”

Azizah hanya tersenyum tipis, lalu kembali mengetik.

‘Tiga hari lalu.’

Pria itu membalas dengan senyuman ramah. Walaupun ia menyadari Azizah mungkin memiliki keterbatasan dalam berbicara, ia tetap bersikap sopan untuk menjaga perasaan wanita itu.

“Wah, selamat ya, Bu. Semoga keluarga kalian Sakinah Mawaddah Warahmah.”

Azizah mengamini dalam hati. Ia kemudian menunjuk deretan bunga yang mulai diturunkan.

“Ini pesanan rutin Pak Ezra setiap minggu,” jawabnya, “Oh ya, Mbak Ida kemana?”

Azizah mengetik lagi.

‘Pindah ke rumah mertua saya.’

Pria itu mengangguk mengerti, kemudian sibuk mendata bunga-bunga itu dan membubuhkan tanda ceklis di kertasnya. Setelah memberi instruksi pada temannya untuk membawa bunga-bunga itu masuk ke dalam, pria itu menyodorkan nota pada Azizah.

“Ini notanya, Bu. Tinggal transfer saja.”

Azizah menerima kertas itu, namun matanya membelalak begitu melihat nominalnya. Harga bunga-bunga itu ternyata jauh lebih mahal daripada harga sebuah sepeda motor.

“Semuanya bunga impor, Bu,” ujar pria itu seolah mengerti keterkejutan Azizah.

Setelah semua bunga ditempatkan di ruang tamu, para pengantar bunga itu berpamitan. Azizah pun masuk ke dalam, menatap deretan bunga yang dibungkus rapi agar tidak cepat busuk. Pandangannya kemudian beralih ke bunga-bunga lama yang masih menghuni berbagai vas di sudut ruangan. Kondisi bunga-bunga lama itu pun sebenarnya masih cukup segar.

Berarti, pekerjaanku hari ini adalah mengganti semuanya, batinnya, lalu memasukkan nota itu ke dalam kantung celemeknya.

Namun, ia bingung harus membuang atau memindahkan bunga-bunga lama itu ke mana. Ia kembali melirik ke arah lantai atas. Hanya Ezra yang tahu jawabannya. Dengan tekad bulat, Azizah kembali melangkah menuju kamar pria itu.

Tok! Tok! Tok!

Azizah mengetuk pintu kamar Ezra berulang kali, namun tidak ada jawaban dari balik pintu itu. Ia mencoba memutar knop pintu sekali lagi, tapi tetap saja terkunci rapat. Perasaannya mulai diselimuti kecemasan. Sudah satu jam berlalu sejak ia terakhir kali ke sini, dan situasinya tetap sama, tanpa ada tanda-tanda aktivitas dari dalam kamar pria itu.

Kunci cadangan, batinnya setelah sadar.

Ia segera melirik meja di samping pintu, lalu membuka laci-lacinya satu per satu dengan gerakan cepat. Jantungnya berdegup lebih kencang saat ia akhirnya menemukan sebuah gantungan berisi beberapa kunci yang disatukan oleh pengait besi. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mencoba mencocokkan satu per satu kunci itu ke lubang pintu. Dan akhirnya, satu kunci ada yang cocok dengan pintu kamar Ezra. Azizah menghela napas lega, lalu perlahan mendorong pintu itu hingga terbuka.

Begitu pintu terbuka, pemandangan di dalam kamar membuat napas Azizah tercekat. Kamar yang kemarin ia tata rapi itu tampak kacau. Ezra terbaring di atas ranjang dengan posisi meringkuk. Wajahnya yang biasanya angkuh kini meringis menahan sakit sambil mencengkeram kuat bagian perutnya. Keringat dingin juga terlihat membasahi pelipisnya.

Azizah segera berlari mendekat. Ia langsung menyadari bahwa ini bukan demam, melainkan efek dari lambung yang meronta karena tidak diisi makanan sejak semalam.

Merasakan ada yang datang, mata Ezra perlahan terbuka. Tatapannya yang tadi sayu kini berubah tajam walaupun ia masih kesulitan mengatur napas. Melihat Azizah berdiri di sampingnya, ia berusaha bangkit meski harus kembali jatuh karena nyeri di perutnya.

“Keluar...” desis Ezra dengan suara parau dan tertahan, “Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kamarku? Keluar!”

Azizah tidak bergeming. Ia tahu pria itu sedang menahan rasa sakit yang hebat namun egonya masih lebih besar.

“Kubilang keluar! Jangan mencampuri urusanku!” bentak Ezra lagi.

Azizah tetap tenang. Ia mengambil ponselnya dan mengetik dengan cepat, lalu menyodorkannya ke depan wajah Ezra.

‘Lambungmu terluka karena kau membiarkannya kosong. Jangan bersikap seperti anak kecil yang hanya mengandalkan harga diri.’

Ezra menepis ponsel itu dengan kasar hingga terjatuh ke lantai.

“Aku tidak butuh bantuanmu! Cepat keluar sekarang juga!” Perintahnya sambil menunjuk pintu dengan tangan yang gemetar.

Azizah menghela napas panjang, menahan sabar. Ia tidak memedulikan ponselnya yang tergeletak. Ia justru maju mendekat, memaksa Ezra duduk bersandar di kepala ranjang walaupun pria itu terus meronta lemah. Dengan tatapan yang tidak kalah tegas, Azizah kini menunjukkan sisi yang belum pernah dilihat Ezra. Ia tidak akan membiarkan pria itu tumbang hanya karena kebodohannya sendiri.

Azizah memungut ponselnya, lalu mengetik dengan gerakan cepat.

'Kau punya obat lambung?’

Karena sudah tidak sanggup menahan nyeri yang semakin menjadi, Ezra akhirnya terpaksa mengaku dengan suara lemah.

“Di kotak P3K... di samping tangga.”

Tanpa membuang waktu, Azizah berlari secepat kilat. Ia mengambil segelas air dari dapur, baru kemudian mengambil kotak obat. Azizah tidak hanya mengambil obat, tapi membawa seluruh kotak P3K ke kamar dan meletakkannya di nakas, lalu menggeledah isinya dengan cepat.

Ezra memperhatikan gerak-gerik wanita itu, “Bisa tidak... tidak usah sepanik itu?”

Azizah mengabaikan ucapan itu. Ia menyodorkan obat lambung dan segelas air putih dengan tatapan tajam. Saat Ezra selesai meminumnya, Azizah langsung menyodorkan ponselnya dengan ekspresi kesal yang tidak ia sembunyikan sedikit pun.

‘Lain kali kalau sakit, langsung panggil aku. Bagaimana kalau aku tidak masuk secara paksa? Apa kau akan terus merintih kesakitan sampai pingsan? Jangan selalu menjunjung harga diri jika berkaitan dengan nyawa!’

Ezra membaca tulisan itu dengan dahi mengernyit. Setelah meletakkan gelas, ia menatap Azizah dengan ekspresi santai, “Hanya sakit perut biasa. Kenapa? Kau mengkhawatirkanku?”

Azizah mengetik lagi, kali ini jemarinya menekan layar dengan penuh penekanan.

‘Tentu saja! Kalau lapar makan. Kalau sakit bilang. Kau punya obat tapi memilih merintih di kamar?!’

“Ck, tulisanmu terdengar seperti sedang memarahiku. Aku sedang sakit,” protes Ezra.

Azizah membalas cepat.

'Katamu hanya sakit perut biasa! Dasar menyebalkan!’

“Apa?! Kau bilang aku menyebalkan?!” Ezra menggeleng tidak percaya, “Kau yang menyebalkan, wanita bisu!”

Azizah meremas ponselnya, menahan gejolak emosi di dadanya. Ia memaksakan diri untuk tetap sabar demi kondisi pria itu. Ia mengetik lagi.

'Aku akan membuat bubur. Tunggulah sebentar.’

“Tidak perlu. Aku bisa memesan makanan dari luar,” jawab Ezra sambil berusaha meraih ponselnya di nakas.

Namun gerakan Azizah jauh lebih cepat. Ia menyambar ponsel itu sebelum tangan Ezra sempat menyentuhnya.

“Hei, kembalikan!”

Azizah menggeleng tegas, lalu menunjukkan layar ponselnya.

'Ada aku yang bisa memasak. Kenapa malah memesan dari luar? Apa kau telah bersumpah untuk tidak makan masakanku?’

Ezra memalingkan wajah, memilih untuk bungkam karena tebakan wanita itu tepat sasaran.

Azizah kemudian mengetik satu kalimat terakhir yang membuat mata Ezra membelalak.

‘Baiklah. Hari ini ponselmu kusita. Pilihannya hanya dua. Makan masakanku atau tidak makan sama sekali.’

“Kau melawanku?! Kembalikan ponselku!” teriak Ezra.

Namun Azizah tidak peduli. Ia berbalik dan melangkah keluar kamar dengan ponsel Ezra di tangannya dan meninggalkan pria itu yang kini hanya bisa menggeram frustrasi di atas ranjang.

“Azizah! Hei! Kembalikan ponselku!”

Wanita itu tidak menoleh sedikit pun.

“Ck, dasar wanita menyebalkan!” umpat Ezra, namun ia tidak lagi memiliki tenaga untuk mengejar.

1
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!