Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part *27
Kenyataan itu menghantam batin Rama dengan sangat keras. Ponsel yang ada di tangannya langsung terjatuh ke lantai. Manik mata Rama membelalak, melebar sempurna gara-gara apa yang sudah ia dengar barusan.
"Dulu aku pikir-- "
"Dokter!" Rama buru-buru mendekat. Hampir saja dia mencengkram kerah jas dekan tersebut. Namun untuk saja, niat itu tidak ia lepaskan.
"Dokter!" Rama berucap lagi dengan nada panik.
Nada panik yang langsung membuat dua dokter itu ikutan cemas. "Ya. Ada apa?"
"Dokter, barusan ... kalian bicara soal pernikahan keluarga Hermawan dengan Wijaya? Yang menikah siapa?"
Keduanya langsung bertukar pandang satu sama lain. Wajah cemas seketika berganti dengan wajah bingung.
"Iya ... memang keluarga Hermawan menikah dengan Wijaya kemarin. Pernikahannya cukup mewah kok. Cukup untuk dijadikan pembicaraan oleh orang-orang besar," ucap dekan itu ragu-ragu.
"Iya. Terutama karena tuan muda yang menikah dengan nona Wijaya itu adalah tuan muda pertama. Tuan muda yang sangat sulit untuk dilihat oleh orang lain. Sekalipun mereka adalah rekan bisnis keluarga Hermawan, tapi untuk melihat tuan muda itu, sangat-sangat sulit." Dokter muda itu menjawab panjang lebar apa yang baru saja dekan nya katakan.
Lalu, si dekan juga malah menjawab apa yang dokter muda katakan. "Iya. Aku dengar, dia adalah pimpinan utama perusahaan keluarga Hermawan. Hanya saja, dia tidak akan menampakkan diri pada rekan bisnis yang tidak terlalu berpengaruh, bukan? Dia hanya akan muncul jika ada pertemuan yang paling penting dengan klien-klien besar. Klien kecil hanya akan bertemu dengan asisten kepercayaannya saja."
Kaki Rama benar-benar tak sanggup untuk berdiri lagi. Pandangannya mendadak buram akibat kenyataan yang sungguh-sungguh nyata tepat di depan mata. Sinta menikah dengan kakaknya. Sinta menikah dengan Rahwana. Dan sekarang, Sinta bukan lagi milik Rama. Dia sudah memilih Rahwana. Benar-benar memilih Rahwana.
Ketika Sinta memilih Rahwana, Rama hancur bukan kepalang. Dia yang sebelumnya telah berpikir dengan sangat percaya diri kalau Sinta hanya akan menjadi miliknya. Kini benar-benar tidak bisa menerima kenyataan besar yang terlalu sangat pahit. Sinta telah memilih Rahwana.
"Tidak ...! " Rama berteriak dengan nyaring.
Setelahnya, tubuh pria itu ambruk ke bawah. Kesadaran Rama menghilang. Kondisi fisik Rama langsung drop gara-gara kenyataan yang sama sekali tidak pernah ia harapkan. Dia kehilangan Sinta yang awalnya ia pikir, kalau gadis itu hanya akan menjadi miliknya. Selamanya. Tidak akan pernah lepas dari sisinya.
"Ya Tuhan. Apa yang terjadi?" Dokter muda itu cukup terkejut dengan kondisi Rama yang tiba-tiba drop.
Dekan yang ada di samping si dokter muda langsung memeriksa denyut nadi Rama. "Bahaya. Cepat minta suster untuk menyiapkan ruang rawat untuknya."
"Baik, pak."
....
Entah berapa saat waktu berlalu, ketika Rama membuka mata, ruangan yang serba putih dengan bau khas obat-obatan itu langsung menusuk indra pandangan juga penciumannya. Rama berusaha mengumpul kesadarannya yang masih terpecah belah.
Ketika mata Rama terbuka sepenuhnya. Sakit di kepala langsung terasa sangat jelas. Rama pun menyentuh cepat kepala yang sakit. Namun saat itu, dia baru sadar kalau tangannya saat ini sedang di infus.
Namun, belum sempat dia benar-benar mencerna apa yang sedang dia alami. Suara perempuan yang tak lain adalah Risa, langsung terdengar. "Kak Rama. Akhirnya, kamu sadar juga. Aku cemas banget sama keadaan kamu yang tiba-tiba drop, Kak."
"Aku ... drop? Jadi sekarang, aku di kamar rumah sakit?"
"Iya. Kamu sedang di rawat sekarang. Maafkan aku, kak. Semua karena aku. Aku yang bikin kamu jadi-- "
Saat itu, Rama baru ingat segalanya. Dia baru ingat kenapa dia sampai harus di rawat sekarang. "Sinta." Rama berucap spontan.
Wajah sedih yang Risa perlihatkan langsung berubah. Saat itu, hati kesal perlahan menyusup ke dalam hatinya. Namun, dia masih sadar dengan sangat-sangat sadar kalau saat ini, dia sedang bersandiwara.
"Sinta? Siapa dia?" Risa berucap dengan nada bingung. Ah, seolah-olah, dia benar-benar lupa dengan nama itu.
Pertanyaan itu tidak Rama jawab. Sebaliknya, pria itu malah bergegas bangun dari baringnya. Mencabut asal selang infus yang masih tertancap di tangan hingga tangan itu sedikit berdarah.
"Kak Rama. Apa yang terjadi? Kamu mau ke mana? Kamu sedang di rawat, kak."
"Risa. Aku ada urusan keluarga. Aku harus pergi sekarang. Maaf. Kamu tunggu di rumah sakit ya."
"Tapi, kak-- "
Sayangnya, kali ini, wajah memelas Risa sama sekali tidak mampu untuk membuat Rama tetap tinggal di sampingnya. Rama tetap melangkah dengan langkah yang sangat besar meninggalkan ruangan tersebut. Meninggalkan Risa tanpa menoleh sedikitpun.
Sayangnya, Rama sudah terlambat. Benar-benar terlambat. Meskipun ia tinggalkan Risa, tapi tetap saja, dia tidak akan bisa mendapatkan Sinta kembali. Karena Sinta, sudah tidak lagi bisa ia jangkau.
"Ini sungguh tidak benar," gumam Rama saat dirinya sudah duduk di dalam mobil. "Bagaimana Sinta bisa menikah dengan kak Wana? Sinta itu sangat mencintai aku. Bagaimana dia bisa menikah dengan-- Tidak. Aku yakin kalau Sinta ... hah! Kenapa kak Wana juga malah tiba-tiba mau menikah dengan Sinta."
Rama memukul keras stir mobil yang ada di depannya. "Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa mereka berdua bisa menikah?"
Kesal Rama bukan kepalang. Tentu saja pertanyaan yang ia lontarkan itu tidak salah. Bagaimana Wana dan Sinta bisa menikah? Karena yang satu adalah pria yang sangat tertutup. Bahkan, bisa dikatakan telah terputus hubungan dari dunia luar.
Rama pernah berpikir kalau kakaknya itu tidak akan pernah jadi manusia normal lagi. Kakaknya tidak akan menikah. Kakaknya tidak akan melakukan apa yang orang normal lakukan. Tapi sekarang, si kakak malah menikah dengan Sinta. Gadis yang dulunya jelas-jelas adalah milik Rama. Gadis yang mungkin, seluruh dunia tahu kalau hubungan mereka benar-benar nyata.
"Sinta. Kenapa bisa menikah dengan kak Wana? Kenapa? Apa alasannya? Apa sebabnya?" Rama melontarkan semua pertanyaan-pertanyaan itu pada dirinya sendiri.
Mobil ia jalankan dengan kecepatan tinggi. Tujuannya tak lain untuk ke rumah kedua orang tuanya. Dia akan bertanya semua pertanyaan yang sebelumnya ia tanyakan pada dirinya sendiri.
Di sisi lain, pasangan pengantin baru itu sudah meninggalkan hotel. Hanya satu malam saja menginap, itu sudah sangat cukup buat keduanya. Karena keduanya sama-sama merasa tak nyaman tinggal di tempat umum.
"Lebih enak tinggal di rumah sih menurut aku," ucap Sinta jujur saat Wana bertanya apakah berniat untuk pulang atau tetap tinggal di sana nanti malam.
"Hm. Aku juga berpikir hal yang sama. Di rumah lebih nyama. Ee ... tapi ... pulangnya ... ke-- ke rumah siapa?"
Pertanyaan itu tidak salah. Karena sebelumnya, mereka masih belum menentukan tempat untuk mereka tinggal setelah menikah. Lagipula, mereka punya tiga rumah. Satu kediaman Wijaya. Yang kedua, kediaman pribadi Wana. Dan yang ketiga, meskipun itu cukup tidak mungkin, tapi tetap saja masuk dalam daftar hitungan. Rumah kediaman Hermawan.