Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan
"Perhatiin! di neraca saldo akunnya beban sewa sedangkan di penyesuaian muncul sewa yang sudah terpakai, ini berarti dulu sewa dibayar dimuka yang dicatat sebagai beban pas ngejurnal, kalo kayak gini penyesuaiannya pake nominal yang belum terpakai." malam ini Ziano kembali mengajari Ara setelah sebelumnya lebih dulu menemani Lusi bermain.
"Ra!" pensil yang dipengang Ziano mendarat lumayan keras di kepala Ara hingga gadis itu langsung mengusap pelan kepalanya dengan tatapan cemberut.
"Kalo belajarnya nggak serius gue mending tidur aja dah!"
"Ajarin dulu, A!" Ara menarik tangan Ziano yang sudah beranjak berdiri.
Ziano kembali duduk, menatap leka-lekat gadis yang rambut panjangnya di cepol asal itu. Keduanya duduk bersila saling berhadapan.
"Lo sebenernya mikirin apa sih, Ra?"
"Mikirin Marcel?" tebak Ziano, "gue kan udah bantu lo berdua tetep bisa jalan. Kurang apa lagi coba? sekarang lagi mau ujian, fokus dulu!"
"Bersihin kepala lo ini dari cowok atau apa pun itu. fokus!" kali ini bukan pensil lagi yang mendarat di kepala Ara melainkan kertas latihan soal yang digulung dan dipukulkan pelan.
"Iya, maaf, A. Jangan galak-galak atuh." keluh Ara.
Ziano melempar kertas latihan soal itu ke meja, "sebenernya lo mikirin apa hah?"
"Mikirin Aa..." jawab Ara lirih sambil menatap Ziano.
Ziano menahan senyum, "ehm. Jangan bilang lo mulai suka sama gue?" tangannya reflek merapikan rambut yang sama sekali tak berantakan.
Ara tersenyum mengejek, "kepedeaan!" Walaupun jauh di dalam hati, jujur saja menatap Ziano sangat memanjakan matanya.
"Lebih ke mikir apa yang sebenernya Aa rencanain sampe mau bantu segala hal yang dibutuhin keluarga ini. Takutnya ada udang dibalik batu gitu." lanjutnya.
Ziano mengambil buku latihan Ara, mulai menulis beberapa soal di sana kemudian memberikannya pada Ara.
"Kerjain ini, nggak usah mikir aneh-aneh."
"Tapi kalo nggak dijawab aku malah jadi kepikiran terus, A. Apalagi ada yang bilang kalo mungkin Aa punya niat terselubung ke keluarga aku."
"Niat apa? ngerampok duit?" tebak Ziano.
"Maaf maaf aja bukannya sombong tapi gue nggak butuh."
"Tapi A-" sela Ara.
Ziano mengilangkan tangannya di depan dada, menatap Ara tajam. "emang tampang gue ada aura-aura rampoknya?"
"Mungkin kalo ngerampok hati lo sih iya." lanjutnya meledek.
"Ih!" Ara mendelik sebal.
"Kerjain buru! gue udah mulai ngantuk ini!" keluh Ziano.
"A, kalo emang Aa orang kaya kenapa keluarga Aa nggak nyariin?"
Ck! Ziano berdecak lirih. "gue minggat berizin." jawab Ziano. Ia yakin kakeknya pasti berhasil menahan mama dan papa nya supaya tak mencari. Andai tak ditahan pasti sekarang dirinya sudah ketahuan. Tak sulit bagi mereka untuk melacak keberadaannya.
"Minggat berizin?" bukannya mengerjakan soal Ara malah mikir seperti apa minggat yang disertai izin itu. Apa sebelum minggat harus bilang dulu gitu?
"Bukan urusan lo! buruan kerjain!"
Lama Ziano menunggu Ara mengerjakan soal hingga ia ketiduran di depan TV. Ara yang sudah selesai kini bahkan tak enak hati membangunkan Ziano. Ia malah mengambil bantal dan menyangga kepala Ziano.
Pagi harinya Ziano mengantar Ara ke sekolah dengan keadaan kepala yang sulit untuk menengok akibat salah posisi tidur semalaman.
"Do'ain ujian aku hari ini lancar dan dapat nilai bagus yah, A." Ara mengulurkan tangannya. Karena Ziano tak mengulurkan tangan, Ara mengambil tangan Ziano dengan paksa.
Ck! Ziano berdecak lirih, "kayak bapak-bapak aja gue disalamin." gumamnya.
"Yah kan A Ano udah ngajarin aku, jadi Aa tuh guru aku. Do'ain yah."
"Iya, semoga ujiannya lancar, nilainya juga bagus." Jawab Ziano.
"Ra, ayo!" teriakan Marcel dari parkiran membuat Ara segera beranjak dari sana. Ia sempat melampaikan tangan sebelum bergi.
Satu persatu tahap uji kompetensi eksternal dari mulai wawancara dan mengerjakan siklus akuntansi perusahaan dagang sudah ia selesaikan dengan semaksimal mungkin. Tak ada kesulitan yang berarti berkat tips dan trik yang diajarkan Ziano semalam. Bahkan pertanyaan-pertayaan saat wawancara sesuai dengan apa yang diprekdisi oleh guru dadakannya. Ingin sekali rasanya sekarang ia menghubungi Ziano untuk menceritakan ujian yang sudah dilaluinya, sayangnya Ziano tak punya HP.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore tapi masih sisa satu ujian lagi yang harus ia kerjakan yakni komputer akuntansi. Ara sudah lebih dulu menghubungi Abah supaya Ziano tak menjemputnya sesuai jadwal karena ia akan pulang telat.
"A Ano bawa ke puskesmas aja kalo gitu abah." ucap Ara saat abah bilang Ziano mungkin tak bisa menjemputnya karena abis di urut dan disuruh istirahat dulu. Dirinya nanti akan di jemput oleh Yudi.
"Iya, Abah." Ara mengakhiri panggilannya.
"Nelpon abah?" tanya Marcel yang sedari tadi memang duduk di sampingnya.
"Iya. Nanti aku pulangnya dijemput A Yudi, soalnya A Ano sakit, abis diurut." wajah khawatir tercetak jelas disana.
"Kasihan, gara-gara ngajarin aku sampe ketiduran terus aku biarin tidur di depan TV. Malah jadi sakit leher nggak bisa nengok." Jelas Ara.
"Kalo gitu hubungin A Yudi, bilang kita mau main dulu, tungguin di pangkalan ojeg aja." masa bodo akan kondisi Ziano, Marcel malah memanfaatkan waktu untuk berduaan dengan Ara. Sejak ada Ziano jarang sekali mereka bisa berduaan, yang ada malah dirinya menjadi obat nyamuk. Mumpung lelaki itu tak ada, saatnya membalikan keadaan seperti semula.
.
.
.
Yuk semua merapat... bantu Marcel membalikan keadaan.
Semangat Marcel! Author bersamamu love love wkwkwkkwk
Guys jangan lupa follow tiktok aku netprofit2704
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
ini gimana kak?🙏
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
diiih diih