Arlan Pramudya adalah seorang arsitek sukses yang hidupnya terukur seperti penggaris siku. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh. Sejak kehilangan istrinya tiga tahun lalu, Arlan mengunci diri dalam rutinitas kerja yang kaku dan peran sebagai ayah tunggal yang terlalu protektif bagi putrinya, Mika (6 tahun). Rumah mereka megah, namun terasa dingin dan sunyi—sebuah monumen kesedihan yang tak kunjung usai.
Masalah muncul ketika Mika, yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya, menolak semua guru privat yang didatangkan Arlan. Hingga akhirnya, muncul Ghea Anindita, mahasiswi pendidikan yang datang dengan tawa renyah, sepatu kets kotor, dan metode belajar yang jauh dari kata "formal".
Awalnya, Arlan skeptis. Ghea terlalu berisik dan sering melanggar batas-batas "profesional" yang ia tetapkan. Namun, Ghea adalah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Mika. Perlahan, kehadiran Ghea tidak hanya mengisi kekosongan di meja belajar Mika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Yang Tertahan
Setelah gejolak perasaan yang menghangatkan malam itu mulai mereda, suasana tenang dan dekat kembali menyelimuti ruang tamu. Suara hujan di luar jendela yang sebelumnya nyaring, kini berubah menjadi melodi lembut, menemani berlalunya waktu yang terasa lebih lambat.
Ghea berbaring dengan kepalanya menyandara nyaman di dada Arlan yang tetap hangat dan telanjang. Sentuhan kulit mereka memberikan rasa aman yang sementara namun sangat terasa.
Dengan perlahan, Ghea menutup matanya, mendengarkan detak jantung Arlan yang terletak di bawah telinganya - ketukan yang kini terdengar jauh lebih tenang dan teratur dibandingkan sebelumnya. Dada itu bergerak naik-turun pelan seiring dengan napas Arlan yang mulai stabil.
Arlan memeluk Ghea dengan salah satu lengannya yang kekar, menariknya lebih dekat ke dalam pelukannya, seolah tak ingin membiarkan sedikit pun ruang di antara mereka. Jari-jari besarnya bergerak lembut, membelai rambut Ghea yang sedikit kusut dan basah oleh keringat, lalu turun mengusap punggungnya dengan sentuhan yang sangat melindungi.
"Mas…" bisik Ghea pelan, hampir tidak terdengar di dada Arlan.
"Hmm?" jawab Arlan pelan, mencium puncak kepala Ghea dan menghirup wangi yang keluar darinya.
Ghea tidak melanjutkan kata-katanya. Dia hanya semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Arlan, menikmati saat-saat berharga ketika pria yang biasanya terlihat dingin dan kuat di luar sana, kini begitu hangat dan rentan di pelukannya. Di atas dada ini, Ghea menemukan kembali tempat yang sebenarnya menjadi miliknya—dan ia berjanji dalam hati untuk tidak membiarkan siapa pun, termasuk Shinta, merusak ketenangan yang baru saja mereka capai.
Di tengah keheningan ruangan yang hanya dipenuhi napas lembut mereka, Ghea merasakan gelombang perasaan yang menyesakkan di dadanya. Rasa bersalah yang selama berbulan-bulan ia simpan rapi di balik senyumnya, kini tak bisa lagi dia tahan.
Sentuhan lembut Arlan pada rambutnya justru membuat rasa sakit itu semakin nyata. Ghea perlahan mengangkat wajahnya, menjauhkan sedikit kepalanya dari dada Arlan untuk menatap langsung mata pria itu. Dalam cahaya redup di ruangan, mata Ghea terlihat berkilau, mencerminkan bayangan luka masa lalu yang belum sepenuhnya hilang.
"Mas..." bisik Ghea, suaranya bergetar menahan air mata yang mulai muncul di tenggorokannya.
Arlan menghentikan gerakan jarinya di punggung Ghea dan memandang wajahnya dengan kening berkerut. "Ada apa, Ghea?"
Air mata pertama akhirnya jatuh mengalir di pipi Ghea yang halus. Dia menggenggam tangan besar Arlan yang ada di bahunya, menahannya erat seolah takut pria itu akan menghilang jika dilepaskannya.
"Maafkan aku... Maaf karena saat itu aku memilih untuk pergi," ucap Ghea dengan suara serak penuh rasa penyesalan. "Aku meninggalkanmu saat semuanya runtuh. Aku membiarkanmu menghadapi kehancuran itu sendiri, menghadapi Shinta sendirian… padahal aku tahu betapa berat beban yang harus kau tanggung.”
Ghea menundukkan kepalanya, meletakkan keningnya pada punggung tangan Arlan yang hangat. Bahunya bergetar pelan karena tangis yang mulai tak tertahankan.
"Saat itu, aku sangat egois, Mas. Aku merasa takut... takut aku tidak akan cukup kuat untuk berada di sisimu, jadi aku memilih untuk menghilang. Sejak aku pergi, setiap hari memikirkanmu dan Mika yang terluka di sini adalah siksaan terberat bagiku."
Arlan terdiam mendengar pengakuan tulus dari dalam hati Ghea. Alih-alih marah atau merasa dikhianati, tatapan mata Arlan yang tajam mulai menjadi lembut. Kelelahan dan sikap keras yang selama ini ia tunjukkan runtuh ketika melihat air mata wanita yang dicintainya.
Dengan perlahan, Arlan mengangkat dagu Ghea menggunakan ibu jarinya, memaksa wanita itu untuk menatapnya lagi. Ia menghapus air mata yang mengalir di pipi Ghea dengan gerakan yang sangat lembut.
"Ghea, dengarlah," kata Arlan, suaranya dalam, berat, dan penuh keyakinan. "Kehadiranmu memang membuat tempat ini terasa membeku, tetapi aku tidak pernah menyalahkanmu. Kekacauan ini adalah akibat dari kelemahanku. Kamu tidak seharusnya terjebak dalam badai yang diciptakan oleh masa laluku."
Arlan menarik Ghea kembali ke pelukannya, menempatkan kepala wanita itu erat di dadanya, membiarkan tangis Ghea mereda di sana.
"Jangan lagi minta maaf. Kamu sudah kembali sekarang, bahkan membawa Mika pulang ke pelukanku. Itu sudah lebih dari cukup untuk menggantikan semua hari sepi yang kita alami. Mulai malam ini, kita akan menghadapi Shinta dan semua masalah ini bersama-sama. Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, Ghea."
Arlan mempererat pelukannya, seolah ingin mengalirkan semua sisa kekuatannya ke dalam tubuh Ghea. Dalam keheningan kamar tamu yang tenang, ia mengecup dahi Ghea cukup lama, sebuah kecupan yang penuh dengan kesungguhan dan beban emosi yang mendalam.
"Aku berjanji padamu, Ghea," bisik Arlan, dengan suara yang terdengar berat dan bergetar karena tekad yang tak bisa digoyahkan. "Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh atau melukai kalian lagi. Apakah itu Shinta, stres dari pekerjaan, atau apapun. Aku akan melindungi kalian berdua—kamu dan Mika—dengan segenap hidupku. Kita akan memperbaiki apa yang pernah hancur, bersama-sama."
Mendengar janji tulus dari bibir Arlan, dada Ghea terasa semakin sesak. Rasa hangat dan haru mengalir dalam hatinya, tetapi di sisi lain, ada beban berat yang menekan hatinya.
Ghea memejamkan matanya dengan erat, menyembunyikan wajahnya di leher Arlan. Air matanya kembali mengalir lembut, membasahi kulit hangat pria itu.
Sebenarnya, kata-kata cinta dan janji perlindungan dari Arlan membuat keinginan di dalam diri Ghea mendesak. Ia sangat ingin mengungkapkan segalanya. Ia ingin berteriak bahwa kehadirannya di sini adalah bagian dari rencana Shinta, bahwa ia memiliki semua kartu untuk menghancurkan mantan istri Arlan itu, dan bahwa kedatangannya kali ini adalah untuk merebut kembali kebahagiaan mereka dengan pasti.
Namun, logika Ghea segera menariknya kembali ke kenyataan yang dingin.
“Belum saatnya, Mas... belum saatnya,” batin Ghea menjerit penuh rasa sakit.
Ia sangat mengetahui seberapa impulsif Arlan jika menyangkut keselamatan orang yang dicintainya. Jika ia menceritakan rencana persidangan, manipulasi data perusahaan, dan fakta bahwa ia berpura-pura menjadi mata-mata Shinta sekarang, Arlan pasti akan marah. Arlan tidak akan membiarkan Ghea terus dalam bahaya dengan mendekati Shinta. Pria itu pasti akan langsung menghadapi Shinta dengan terbuka, dan itu hanya akan merusak semua strategi rapi yang sudah setengah jalan ia buat.
Ghea harus tetap menanggung rahasia ini sendirian sedikit lebih lama, demi memastikan kemenangan mutlak mereka dalam pengadilan nanti tanpa ada celah untuk gagal.
Ghea menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya. Ia mendongak, menatap mata Arlan yang tajam dan penuh rasa perlindungan yang mendalam. Dengan sisa-sisa kekuatannya, Ghea berusaha menghadirkan senyuman anggun yang menawan di bibirnya yang masih basah.
"Terima kasih, Mas... Aku mempercayaimu," ucap Ghea pelan, memilih untuk menyimpan strategi dalam pikirannya dan membalas pelukan hangat sang singa, menikmati malam perlindungan yang singkat sebelum fajar membawa mereka kembali ke realita yang sesungguhnya.