NovelToon NovelToon
Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:924
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
​Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
​Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lorenzo Ingin Pulang: "Aku Lelah Menjadi Wanita"

Perang pesona tak terlihat yang dikibarkan Dante di ruang kontrol siber lantai dua ruko Palmerah ternyata memicu efek domino yang tidak terduga dalam struktur psikologis klan De Luca. Ketika Dante mulai terang-terangan meluncurkan algoritma rayuan mautnya kepada Bianca, sebuah anomali memori mendadak bangkit kembali di dalam benak sang Capo dei Capi, Lorenzo.

​Meskipun secara fisik jiwa mereka telah kembali ke wadah masing-masing sejak ledakan di Dermaga Sisilia, sisa-sisa trauma psikologis dan memori sensorik dari masa-masa pertukaran tubuh tidak bisa dihapus begitu saja oleh air garam atau selamatan potong tumpeng. Bagi Lorenzo, melihat Bianca dikejar oleh Dante memicu sebuah kilas balik (flashback) yang sangat menguras energi mentalnya.

​Malam itu, di bawah kepungan rintik hujan tipis yang membasahi aspal Palmerah, sang pemimpin tertinggi mafia Roma mendadak mengalami krisis eksistensial yang luar biasa akut. Ia duduk di ruang kerjanya yang remang-remang, memandangi cangkir espresso pekatnya yang sudah mendingin, sementara sisa-sisa memori saat dirinya terperangkap dalam tubuh mungil seorang mahasiswi Jakarta mendadak berputar kembali seperti film horor tanpa akhir.

Lorenzo bersandar di kursi kulit besarnya, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Di dalam keheningan malam Jumat yang sunyi, kepalanya justru memutar memori-memori sensorik paling menyiksa yang pernah ia lalui selama menjadi "Bianca".

​Ia ingat betul bagaimana rasanya harus berjalan menggunakan sepatu hak tinggi (high heels) lima sentimeter saat menghadiri pertemuan darurat dengan penyelundup senjata di pelabuhan Ostia—sebuah pengalaman yang membuat otot betis militernya terasa seperti mau copot. Ia ingat bagaimana tersiksanya harus menahan napas demi mengancingkan celana jins ketat ukuran small milik Bianca, padahal seleranya adalah celana taktis longgar dengan banyak kantong amunisi.

​Dan yang paling mengerikan dari semua memori itu, yang membuat bulu kuduk sang algojo Sisilia meremang, adalah memori tentang fluktuasi hormon bulanan wanita. Rasa nyeri melilit di perut bagian bawah yang membuatnya hampir meledakkan ruang rapat klan dengan granat karena suasana hatinya (mood) yang mendadak hancur berantakan tanpa alasan taktis yang jelas.

​"Maledizione..." kutuk Lorenzo dengan suara baritonnya yang berat, namun jarinya tanpa sadar melakukan gerakan merapikan poni rambut—sebuah sisa refleks tubuh Bianca yang masih menempel di sistem saraf motoriknya.

​Pintu ruang kerja perlahan terbuka. Bianca masuk dengan langkah berjingkat, membawa nampan berisi wedang jahe hangat yang baru saja ia buat di dapur lantai dasar bersama Reno. Ia melihat Lorenzo yang biasanya berdiri tegak bagai panglima perang, malam ini tampak begitu rapuh dan kelelahan di balik meja kerjanya.

​"Mas Bos... belum tidur?" tanya Bianca pelan, menaruh cangkir wedang jahe itu di samping espresso Lorenzo yang sudah dingin. "Ini saya bikinin wedang jahe biar badannya agak enakan. Akhir-akhir ini Mas Lorenzo kelihatan pucat banget, kayak orang kurang darah."

​Lorenzo tidak langsung menjawab. Ia mengangkat pandangannya, menatap Bianca dengan sepasang mata elang yang malam ini tidak lagi memancarkan kilat ancaman, melainkan sebuah keletihan jiwa yang teramat sangat mendalam.

​"Bianca," panggil Lorenzo, suaranya terdengar begitu serak dan penuh tekanan emosional. "Duduklah."

Bianca duduk di kursi kayu di hadapan Lorenzo, melipat kedua tangannya di atas meja dengan cemas. "Ada apa, Mas? Ada kabar buruk lagi dari dewan klan di Roma? Atau ada komplotan Prancis yang mau nyerang ruko kita lagi?"

​Lorenzo menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terasa sangat berat hingga mampu menggetarkan keheningan ruangan. Ia memajukan tubuhnya, menopang kedua tangannya yang dipenuhi tato naga De Luca di atas meja.

​"Aku ingin pulang ke Italia, Bianca," ucap Lorenzo dengan nada yang sangat rendah namun sarat akan keputusasaan yang murni. "Aku ingin segera menyelesaikan semua urusan administrasi klan ini dan kembali ke Roma secepatnya."

​Bianca mengernyitkan dahi, merasa bingung. "Lho, bukannya kemarin Mas Lorenzo sendiri yang bilang kalau kita mau bangun fondasi baru di Jakarta? Tim Aegis Esports kita baru aja dapet sponsor dari pemilik ruko sebelah, dan Reno baru aja pinter nyuci motor operasional. Kenapa mendadak mau pulang?"

​Lorenzo memejamkan matanya rapat-rapat, giginya mengatup rapat menahan gejolak emosi bawah sadarnya yang mendadak meluap. Ketika ia membuka matanya kembali, ada sebutir kejujuran yang sangat telanjang di sana.

​"Karena aku lelah, Bianca," bisik Lorenzo, suaranya bergetar halus—sebuah pemandangan yang jika dilihat oleh musuh-musuhnya di Eropa akan dianggap sebagai keajaiban dunia. "Aku lelah menjadi wanita."

​Bianca melongo, matanya berkedip beberapa kali seolah-olah sistem pendengarannya baru saja mengalami gangguan sinyal. "Hah? Gimana, Mas? Tolong diulang sekali lagi, saya takut salah denger."

​"Aku lelah menjadi wanita!" tegas Lorenzo, kali ini dengan volume suara yang sedikit meningkat akibat rasa frustrasi yang sudah mencapai puncaknya. "Meskipun jiwaku sudah kembali ke tubuh ini, memori sensorik darimu masih terus meneror sistem saraf pusatku sebulan penuh ini! Setiap kali aku mandi, aku merasa rambutku panjang hingga ke pinggang. Setiap kali aku berjalan di koridor ruko, otakku secara otomatis menghitung keseimbangan tubuhku seolah-olah aku sedang memakai sepatu hak tinggi sialan itu!"

​Lorenzo berdiri dari kursinya, berjalan mondar-mandir di dalam ruangan dengan langkah taktis yang lebar, namun tangannya terus memijat pangkal hidungnya dengan panik.

​"Dan yang paling parah, Bianca... kemarin malam, saat Dante sedang memprogram server di lantai dua, aku mencium aroma parfum melati milikmu, dan jantungku mendadak berdegup kencang dengan cara yang sangat tidak rasional! Aku merasa ada dorongan emosional yang aneh, seolah-olah aku ingin menangis hanya karena melihat Kopral Gatito menolak memakan ikan tongkolnya! Ini adalah distorsi hormon! Jiwa mafiaku tidak dirancang untuk menanggung beban emosi sekompleks ini!"

Bianca yang awalnya ingin tertawa terbahak-bahak melihat seorang bos mafia paling ditakuti se-Eropa mengalami krisis identitas akibat sisa hormon wanita, perlahan-lahan mengurungkan niatnya. Melalui sisa ikatan spiritual tipis yang terkadang masih menghubungkan mereka, Bianca bisa merasakan bahwa penderitaan Lorenzo adalah nyata. Bagi seorang pria yang sejak usia belasan tahun dilatih untuk menjadi mesin pembunuh yang dingin dan tanpa emosi, infiltrasi memori emosional seorang gadis remaja Jakarta adalah sebuah invasi mental yang sangat merusak tatanan logistik berpikirnya.

​Bianca berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Lorenzo yang kini sedang bersandar di dinding dekat jendela dengan napas yang memburu. Dengan keberanian yang penuh, Bianca meletakkan tangan kecilnya di atas lengan kekar Lorenzo.

​"Mas Lorenzo... dengerin saya dulu," ucap Bianca dengan suara yang sengaja dibuat selembut mungkin, sebuah intonasi menenangkan yang biasa ia gunakan saat menenangkan adiknya yang menangis di rumah. "Itu namanya bukan distorsi hormon, Mas Bos. Itu namanya efek samping psikologis atau post-traumatic stress disorder akibat pertukaran jiwa kita yang terlalu lama."

​Lorenzo menoleh, menatap Bianca dari atas ke bawah dengan sisa-sisa kepanikannya. "Bagaimana kau bisa begitu tenang, Bianca? Apakah kau tidak mengalami hal yang sama saat berada di tubuhku?"

​"Ya ngalami lah, Mas!" sahut Bianca sambil menuntun Lorenzo untuk kembali duduk di kursi kulitnya. "Awal-awal saya balik ke tubuh asli, tiap kali saya ngelihat pisau dapur, bawaannya pengen saya lempar ke arah tukang bakso depan gang karena reflek ngira dia mata-mata. Tiap kali saya denger suara petasan, saya langsung tiarap di bawah kolong tempat tidur karena ngira ada baku tembak klan Rosanera. Tapi saya nggak sampai minta pindah negara, Mas. Saya laluin pelan-pelan karena saya tahu, itu cuma memori otot yang tersisa."

​Bianca mengambil cangkir wedang jahe yang masih mengepulkan asap hangat, lalu menyodorkannya tepat ke depan wajah Lorenzo. "Nih, minum dulu wedang jahenya. Jahe hangat itu bisa memperlancar aliran darah dan menenangkan saraf yang tegang. Di Indonesia, kalau ada orang yang lagi stres atau linglung karena mikirin urusan duniawi, obatnya cuma dua: kalau nggak minum jahe hangat, ya tidur yang cukup tanpa megang ponsel."

​Lorenzo menatap cairan berwarna cokelat kekuningan di dalam cangkir itu dengan ragu. Namun, didorong oleh keletihan mentalnya yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi, sang Capo akhirnya menerima cangkir itu dan meminumnya dalam beberapa tegukan besar. Rasa hangat dan pedas yang khas dari jahe bakar langsung mengalir melewati tenggorokannya, menyebar ke seluruh rongga dadanya, dan secara ajaib memberikan sensasi relaksasi yang instan pada otot-otot bahunya yang tegang.

Lorenzo meletakkan cangkir kosong itu kembali ke atas meja, napasnya kini jauh lebih teratur dibandingkan beberapa menit yang lalu. "Efek dari ramuan tanaman lokal ini... cukup efisien untuk menurunkan tingkat kortisol di otakku."

​"Nah, dibilangin juga apa, Mas Bos," Bianca tersenyum manis, kembali duduk di kursinya dengan santai. "Jadi... kesimpulannya Mas Lorenzo masih tetep mau pulang ke Italia minggu depan?"

​Lorenzo terdiam sejenak, menatap ke luar jendela ruko di mana lampu-lampu jalanan Palmerah tampak berpendar di antara rintik hujan. Keinginan untuk pulang ke Roma, ke sebuah dunia di mana segala sesuatunya dapat diselesaikan dengan perintah taktis dan kekuatan senjata, memang sangat besar. Namun, ketika ia melihat ke arah Bianca—gadis yang telah menyelamatkan jiwanya, gadis yang telah mengajarkannya arti dari sebuah ketulusan di tengah kerasnya dunia bawah—Lorenzo menyadari bahwa ada sesuatu di Jakarta yang tidak ingin ia tinggalkan begitu saja.

​"Aku harus kembali ke Roma untuk sementara waktu, Bianca," ucap Lorenzo akhirnya, suaranya kini kembali dipenuhi oleh otoritas seorang pemimpin yang tenang. "Ada dewan klan yang harus kubersihkan dari sisa-sisa sekutu Isabella, dan ada beberapa aset finansial yang harus kupindahkan secara legal ke rekening tim Aegis di sini. Aku tidak bisa membiarkan Dante mengelola pertahanan siber klan dari jarak jauh tanpa pengawasanku langsung."

​Bianca mengangguk paham, ada sedikit rasa kehilangan yang mendadak menyelinap di sudut hatinya saat mendengar kata "pulang" dari mulut Lorenzo. "Oh... jadi cuma pergi sementara ya, Mas? Nanti... bakal balik lagi ke ruko Palmerah ini kan?"

​Lorenzo menegakkan tubuhnya, melangkah mendekati kursi Bianca sekali lagi. Ia membungkuk sedikit, menatap langsung ke dalam sepasang mata polos Bianca dengan jarak yang sangat dekat, membuat aroma jahe dan parfum maskulin mereka bercampur di udara.

​"Aku akan kembali, Bianca," kata Lorenzo dengan nada yang sangat mengikat, sebuah janji mutlak dari seorang De Luca yang tidak akan pernah bisa dilanggar oleh hukum mana pun. "Aku tidak akan membiarkan Dante berkeliaran di ruko ini untuk meretas hatimu menggunakan teori-teori siber konyolnya selama aku tidak ada. Dan yang paling penting... aku telah menetapkan ruko Palmerah ini sebagai koordinat pulangku yang baru. Aku mungkin lelah membawa memori tentang tubuhmu... tapi aku tidak akan pernah lelah untuk memastikan bahwa kau tetap berada di bawah perlindungan klanku seumur hidupmu."

​Bianca merasakan wajahnya kembali memanas, rona merah muda yang khas kini kembali muncul di kedua pipinya, mematahkan seluruh analisis taktis militer yang pernah diajarkan Valerio. "Mas Lorenzo... janji ya, jangan lama-lama di Romanya. Nanti kalau kelamaan, martabak manis kesukaan Mas Bos digondol sama hantu tangga lantai tiga lho."

​Lorenzo tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kemenangan yang menandakan bahwa krisis eksistensial "lelah menjadi wanita" malam itu resmi berakhir dengan sebuah resolusi taktis yang manis. Malam itu, di bawah perlindungan kehangatan wedang jahe dan kepungan hujan Jakarta Barat, sang Capo klan De Luca akhirnya berhasil menjinakkan badai emosional di dalam kepalanya, siap untuk kembali ke Eropa guna membersihkan masa lalunya, demi bisa pulang kembali ke sebuah gang sempit di Palmerah di mana masa depannya yang sesungguhnya kini telah menanti dengan setia.

1
lin sya
thor dari awal bab smpe bab 41, aku menikmati alur yg dibaca, kocak ceritanya apalagi pemeran bianca dan ke 3 mafia kaku, smgat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!