Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.
Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.
Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 7: "PUSAT PERHUBUNGAN SEMUA DUNIA" part 1
Setelah pulang dari Kampung Kemarin, Jay langsung pergi tidur dengan alasan "energi sudah habis karena terlalu sering pergi jalan-jalan dan selalu gak bisa main game". Setelah pulang dari Kampung Kemarin, Jay langsung pergi tidur dengan alasan "energi sudah habis karena terlalu sering pergi jalan-jalan dan selalu gak bisa main game". Namun pada malam itu, dia terbangun karena merasa ada getaran kuat yang datang dari sumur di halaman belakang rumahnya. Ketika dia keluar ke ruang tamu, dia terkejut melihat banyak orang—atau lebih tepatnya, makhluk-makhluk dari berbagai dimensi yang sudah pernah dia bantu berkumpul di sana.
RUMAH JAY - RUANG TAMU - MALAM
Ruang tamu yang biasanya hanya diisi oleh kursinya dan televisinya kini penuh dengan makhluk-makhluk dengan bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Zora dengan tubuhnya yang penuh dengan bunga mekar indah berdiri di dekat jendela, sementara Nenek Siti dari Pemandian Air Panas Ciatero duduk dengan tenang di kursi kayu tua Jay. Ada juga makhluk gaib dari Kampung Kemarin, anggota Pasukan Kebebasan yang sudah kembali ke jalan yang benar, hingga beberapa makhluk dari dimensi yang belum pernah Jay temui sebelumnya. Semua mereka terlihat serius, dengan wajah yang penuh dengan tekad namun juga sedikit ketakutan.
Di tengah ruangan, buku sunyi yang berisik season 2 itu terbuka hingga halaman yang belum pernah dilihat Jay sebelumnya—halaman tersebut begitu besar sehingga hampir memenuhi seluruh permukaan meja kayu tua. Tampak peta seluruh multi-univers dengan semua Titik Diam yang ada di dunia ini—setiap Titik Diam ditandai dengan titik cahaya yang berbeda warna, saling terhubung dengan garis-garis cahaya yang membentuk pola seperti jaring laba-laba raksasa. Di tengah peta tersebut, terdapat sebuah titik cahaya putih yang sangat terang namun kini mulai berkedip-kedip dan bergoyang tidak stabil.
Jay yang masih mengenakan piyama kaos oblong dan celana pendek hanya menggaruk kepala dan mengambil toples biskuit dari atas lemari. "Wah, banyak banget tamu ya," ucapnya sambil membuka tutup toples dan mengambil beberapa biskuit. "Kenapa nggak bilang dulu ya? Aku bisa beli snack lebih banyak lagi."
Rara mendekat dengan wajah yang sangat serius, berbeda dengan biasanya. RARA: "Ini adalah saatnya kita menghadapi masalah yang paling besar. Pusat Perhubungan Semua Dunia mulai tidak stabil karena konflik dari Pasukan Kebebasan. Jika pusat itu hancur, semua dimensi akan hilang selamanya."
Suaranya terdengar tegas dan jelas, membuat semua makhluk di ruangan menjadi lebih tenang dan fokus. Dia menunjuk ke titik cahaya putih yang bergoyang di peta multi-univers. "Pusat itu adalah jantung dari semua hubungan antar dimensi. Konflik yang terjadi beberapa waktu lalu membuat energi di sana menjadi tidak seimbang, dan sekarang ia mulai hancur dari dalam."
Jay mengangguk sambil masih mengemil biskuitnya. Dia melihat peta dengan tatapan yang cukup santai, seolah sedang melihat peta jalan biasa saja. JAY: "Pusat ya? Bisa aja kita pergi kesana dengan cara yang gampang nggak? Kayak teleport aja atau apa..."
Dia bahkan mulai mencari remote kontrol televisi, seolah berpikir kalau bisa pergi ke sana dengan cara yang tidak perlu repot berjalan jauh atau berkendara. "Kalau harus jalan jauh atau naik mobil lagi saya sudah bosan Bokongku sakit, dan aku juga perlu bawa banyak snack dan kursi mobilnya kurang empuk gak senyaman sofa di rumah."
Malakos yang kini sudah bisa mengambil bentuk manusia kecil dengan rambut berwarna biru muda mendekat ke arah Jay. MALAKOS: "ꀘ꒐꓄ꋬ ꃳ꒐ꇙꋬ ꉣꏂꋪꍌ꒐ ꀘꏂꇙꋬꋊꋬ ꂵꏂ꒒ꋬ꒒꒤꒐ ꇙ꒤ꂵ꒤ꋪ ꒯꒐ ꋪ꒤ꂵꋬꁝꂵ꒤—ꇙ꒤ꂵ꒤ꋪ ꒐꓄꒤ ꋬ꒯ꋬ꒒ꋬꁝ ꉣ꒐ꋊ꓄꒤ ꂵꋬꇙ꒤ꀘ ꀘꏂ ꉣ꒤ꇙꋬ꓄ ꉣꏂꋪꁝ꒤ꃳ꒤ꋊꍌꋬꋊ."
Dia menjelaskan bahwa sumur di halaman belakang rumah Jay bukan hanya pintu masuk ke beberapa dimensi saja, melainkan adalah salah satu pintu akses utama yang menghubungkan langsung ke Pusat Perhubungan Semua Dunia. Kakek Jay yang bernama Budi Santoso sudah menyadari hal ini sejak lama dan sengaja membuat rumahnya di dekat sumur tersebut agar bisa menjaga pintu akses tersebut.
"Sumur itu sudah ada sejak sebelum manusia ada di dunia ini," tambah Nenek Siti dengan suara yang merdu namun penuh dengan kekuatan. "Ia adalah salah satu dari tiga pintu akses utama yang bisa membawa kita ke pusat. Dua pintu lainnya sudah tidak bisa digunakan lagi karena hancur akibat konflik yang terjadi ribuan tahun yang lalu."
Jay hanya mengangguk dan mengambil lagi beberapa biskuit dari toples. "Oke deh, sumur aja ya. Itu kan ada di belakang rumah, jadi nggak perlu jauh-jauh keluar rumah. Cukup jalan sebentar dari kamar aja bisa sampai." Dia kemudian mulai berpikir sambil mengemil. "Tapi kalau kita sudah sampai sana, gimana cara memperbaiki pusatnya ya? Harus kerja keras banyak kali nggak? Kalau ya, aku harus bawa snack lebih banyak lagi dan mungkin juga bawa kasur lipat buat istirahat. Lagian, energi saya sudah habis karena terlalu sering pergi jalan-jalan dan selalu gak bisa main game—kalau harus kerja keras terus, aku pasti bakal langsung tidur di sana."
Semua makhluk di ruangan mulai tertawa sedikit, meskipun suasana masih tetap mencekam. Zora mendekat dan menyentuh bahu Jay dengan lembut. "ꀘꋬꂵ꒤ ꓄꒐꒯ꋬꀘ ꉣꏂꋪ꒒꒤ ꀘꁝꋬꅐꋬ꓄꒐ꋪ ꂵꋬꇙ ꒻ꋬꌦ," ucapnya dengan senyum hangat. "ꀘ꒐꓄ꋬ ꇙꏂꂵ꒤ꋬ ꋬꀘꋬꋊ ꂵꏂꂵꃳꋬꋊ꓄꒤ ꀘꋬꂵ꒤. ꇙꏂ꒒ꋬ꒐ꋊ ꒐꓄꒤, ꀘꏂꀘ꒤ꋬ꓄ꋬꋊ ꒤ꋊ꓄꒤ꀘ ꂵꏂꂵꉣꏂꋪꃳꋬ꒐ꀘ꒐ ꉣ꒤ꇙꋬ꓄ ꃳ꒤ꀘꋬꋊ ꁝꋬꋊꌦꋬ ꃳꏂꋪꋬꇙꋬ꒒ ꒯ꋬꋪ꒐ ꀘꏂꀘꏂꋪꋬꇙꋬꋊ ꋬ꓄ꋬ꒤ ꀘꏂꋪ꒻ꋬ ꀘꏂꋪꋬꇙ ꇙꏂꂵꋬ꓄ꋬ, ꓄ꋬꉣ꒐ ꒻꒤ꍌꋬ ꒯ꋬꋪ꒐ ꁝ꒤ꃳ꒤ꋊꍌꋬꋊ ꒯ꋬꋊ ꉔ꒐ꋊ꓄ꋬ ꌦꋬꋊꍌ ꀘ꒐꓄ꋬ ꂵ꒐꒒꒐ꀘ꒐ ꇙꋬ꓄꒤ ꇙꋬꂵꋬ ꒒ꋬ꒐ꋊ."
Makhluk gaib dari Kampung Kemarin menambahkan, "ꀘꋬꀘꏂꀘꂵ꒤ ꒻꒤ꍌꋬ ꉣꏂꋪꋊꋬꁝ ꂵꏂꋊꍌꁝꋬ꒯ꋬꉣ꒐ ꂵꋬꇙꋬ꒒ꋬꁝ ꌦꋬꋊꍌ ꃳꏂꇙꋬꋪ ꇙꏂꉣꏂꋪ꓄꒐ ꒐ꋊ꒐. ꒯꒐ꋬ ꓄꒐꒯ꋬꀘ ꂵꏂꋊꍌꍌ꒤ꋊꋬꀘꋬꋊ ꀘꏂꀘ꒤ꋬ꓄ꋬꋊ ꃳꏂꇙꋬꋪ ꋬ꓄ꋬ꒤ ꇙꏂꋊ꒻ꋬ꓄ꋬ ꋬꉣꋬ ꉣ꒤ꋊ—꒯꒐ꋬ ꁝꋬꋊꌦꋬ ꂵꏂꋊꍌꍌ꒤ꋊꋬꀘꋬꋊ ꉔꏂꋪ꒐꓄ꋬ ꒯ꋬꋊ ꂵꋬꀘꋬꋊꋬꋊ ꒤ꋊ꓄꒤ꀘ ꂵꏂꋊꌦꋬ꓄꒤ꀘꋬꋊ ꇙꏂꂵ꒤ꋬ ꂵꋬꀘꁝ꒒꒤ꀘ, ꇙꏂꁝ꒐ꋊꍌꍌꋬ ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ ꃳ꒐ꇙꋬ ꃳꏂꀘꏂꋪ꒻ꋬ ꇙꋬꂵꋬ ꒤ꋊ꓄꒤ꀘ ꂵꏂꋊꌦꏂ꒒ꋬꂵꋬ꓄ꀘꋬꋊ ꇙꏂꂵ꒤ꋬ ꒯꒐ꂵꏂꋊꇙ꒐."
Jay mengangguk dan mulai menyimpan sisa biskuit ke dalam tas besar yang biasanya dia gunakan untuk membawa snack. "Oke deh, kalau begitu aku akan bawa semua snack yang ada di rumah aja ya. Ada keripik, biskuit, kacang rebus, bahkan ada beberapa bungkus es krim yang aku simpen di kulkas buat darurat." Dia bahkan mengambil bantal kecil dari kursinya dan memasukkannya ke dalam tas. "Ini penting buat kalau kita perlu rebahan sebentar ya."
Saat semua makhluk mulai bergerak ke arah halaman belakang, Jay masih sibuk mengecek isi tasnya untuk memastikan tidak ada snack yang terlewat. Dia bahkan mengambil botol minuman besar dan beberapa kantong plastik kedap udara untuk menyimpan makanan agar tidak rusak di perjalanan.
"Sekarang kita sudah siap kan?" tanya Jay sambil menutup tasnya dengan rapat. "Kalau sudah siap, kita bisa langsung pergi aja deh. Semoga aja di sana ada tempat yang nyaman buat duduk dan makan snack ya. Kalau perlu, kita bisa bikin tempat rebahan sendiri dari energi dimensi atau apa aja yang ada di sana."
Mereka semua keluar ke halaman belakang, di mana sumur yang biasanya mengeluarkan cahaya biru lembut kini mengeluarkan cahaya putih terang yang sangat menyilaukan. Udara di sekitar sumur terasa sangat dingin dan penuh dengan energi yang kuat, membuat semua makhluk merasa sedikit tidak nyaman kecuali Jay—dia malah merasa senang karena udara dinginnya seperti kulkas yang bisa menjaga snacknya tetap segar.
"Wow, sumurnya jadi lebih terang ya," ucap Jay sambil mendekat ke tepi sumur. "Kalau masuk kesini, snackku tidak akan hancurkan? Itu penting banget lho."
Rara mengangguk dan mengambil tangannya dengan lembut. "Jangan khawatir Mas Jay, energi di dalam pintu akses ini akan menjaga semua benda yang kamu bawa tetap aman. Sekarang, mari kita masuk dan menghadapi tantangan terbesar yang pernah kita hadapi."
Jay mengangguk dan mulai berjalan ke arah sumur yang sudah terbuka lebar, dengan cahaya putih yang semakin terang. Dia masih membawa tas snacknya dengan erat di tangan kanannya, dan wajahnya menunjukkan sikap santai seperti biasa meskipun mereka akan menghadapi masalah dengan skala benar-benar multi-universal.
"Ayo aja deh," ucap Jay dengan suara yang malas. "Semoga saja masalahnya bisa cepat selesai, karena aku masih mau marathon push rank game dan nonton anime yang kayaknya itu anime favorit ku sudah update banyak."