AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
proyek
Hari-hari berikutnya berlalu dengan damai dan produktif. Gubuk mereka kini nyaman, lorong penghubung sudah jadi, dan Kuil Beringin berdiri gagah menjaga rahasianya.
Deon Key tidak membuang waktu. Begitu semua peralatan tulis-menulis siap, ia langsung memulai misi barunya.
"Kek, aku masuk ke dalam ya! Jangan panggil-panggil dulu kalau nggak darurat! Aku mau fokus!" seru Deon sambil membawa tumpukan buku kosong, tinta, kuas, dan kaca pembesar.
"Hati-hati Nak! Jangan lupa istirahat dan makan ya!" teriak Genpo dari dapur yang sedang sibuk mengulek bumbu masakan.
Suasana di dalam aula utama sangat hening dan damai. Cahaya hijau keemasan menerangi setiap sudut tanpa butuh lampu. Udara terasa sejuk dan segar, membuat pikiran menjadi sangat jernih.
Deon duduk bersila di lantai tepat di hadapan dinding utama yang penuh ukiran.
Sudut Pandang Deon Key
Wow... ini sungguh luar biasa.
Aku mengamati dinding di depanku. Bukan sekadar gambar, ini adalah ensiklopedia hidup.
Di sana tertulis rumus-rumus matematika tingkat tinggi, diagram struktur atom, peta bintang, cara mengolah logam, cara menyembuhkan penyakit, hingga cara mengendalikan cuaca. Semuanya disusun dengan simbol-simbol cerdas yang hanya bisa dimengerti oleh otak yang terbuka.
"Ini harus disalin. Kalau cuma ada di batu, nanti kalau ada apa-apa susah dibawa. Tapi kalau di buku... bisa dibaca di mana saja."
Tangannya bergerak lincah dan sangat cepat. Ia tidak menyalin satu per satu seperti orang biasa. Otak jeniusnya mampu memotret seluruh dinding itu sekaligus, lalu ia menuangkannya ke atas kertas dengan tulisan tangan yang rapi, kecil, dan sangat jelas.
Crit... crit... crit...
Suara kuas menyapu kertas terdengar merdu.
Ia membuat diagram garis, menyalin huruf-huruf kuno, dan menerjemahkannya langsung ke bahasa yang ia dan Kakek mengerti.
"Energi Q adalah cahaya murni. Ia ada di mana-mana tapi tak terlihat. Kuncinya ada di keseimbangan napas dan pikiran."
"Wah, jadi gitu caranya..." gumam Deon sambil tersenyum. "Jadi aku tidak perlu latihan berat. Cukup rileks dan percaya."
Siang berganti sore. Buku demi buku mulai terisi penuh. Tumpukan buku tebal yang tadinya kosong, kini menjadi buku-buku tebal yang penuh tulisan dan gambar berwarna.
Tiba-tiba Deon berhenti. Ia menatap tumpukan buku itu.
"Nah... ini kan sudah banyak. Kalau ditaruh di lantai nanti kotor dan kena rayap. Harus ada tempat khusus."
Mata Deon berkeliling aula. Di sudut ruangan, ada area yang agak rendah dan dindingnya polos.
"Ide bagus!"
Deon berdiri, tangannya memejam, berkonsentrasi. Ia mengingat-ingat bentuk rak buku yang paling efisien dan indah.
"Batu... kayu... besi... satukan menjadi bentuk yang kokoh."
BRUMMMM...
Energi Q yang kini bersahabat merespons pikirannya.
Dari lantai, tanah dan bebatuan perlahan naik dan membentuk struktur. Di dinding, ornamen-ornamen memanjang dan berubah bentuk. Dalam hitungan menit, terbentuklah sebuah Rak Buku Raksasa yang terbuat dari campuran batu dan kayu yang menyatu sempurna! Warnanya cokelat kehijauan, sangat artistik dan kokoh.
"Wih... jadi juga!"
Deon dengan senang hati menyusun buku-buku yang sudah ia tulis ke dalam rak itu.
Buku 1: Sejarah dan Filsafat Zaman Q
Buku 2: Struktur Alam dan Elemen
Buku 3: Teknik Bangunan dan Seni Ukir
Buku 4: Kesehatan dan Penyembuhan
Buku 5: Panduan Penggunaan Energi Dasar
Rak itu kini terlihat penuh dan megah. Sudut itu berubah menjadi Perpustakaan Kecil yang berisi ilmu pengetahuan yang hilang selama ribuan tahun!
Malam harinya, setelah makan malam yang lezat, Deon mengajak Kakek Genpo masuk ke dalam kuil lagi.
"Kek, ayo lihat hasil kerjaku hari ini!"
Genpo mengikuti Deon dengan langkah terkesima seperti biasa. Saat melihat rak buku yang penuh dengan tulisan rapi itu, mulutnya menganga lebar.
"Ini... ini semua kamu tulis sendiri dalam sehari?!" tanya Genpo tak percaya, menyentuh sampul buku yang tebal itu.
"Iya Kek. Tulisan di dinding itu kan bahasa kuno. Aku terjemahkan dan salin biar Kakek juga bisa baca dan belajar," jawab Deon bangga.
Genpo mengambil satu buku paling tipis, membuka halaman pertamanya.
"Kekuatan tidak datang dari otot, tapi dari ketenangan hati."
Genpo tersenyum haru. Ia menatap cucunya dengan mata berkaca-kaca.
"Deon... kamu benar-benar telah menghidupkan kembali masa lalu. Dulu tempat ini sunyi dan menyeramkan. Sekarang... jadi tempat yang penuh ilmu dan hangat."
Genpo duduk di bangku kecil yang ada di dekat rak buku, mulai membaca pelan-pelan sambil jari keriputnya menunjuk kata demi kata.
"Wah... ini menarik sekali. Jadi dulu orang bisa terbang pakai pikiran ya? Kakek kira cuma dongeng..."
"Hahaha iya Kek. Nanti Deon ajarin pelan-pelan. Kita mulai dari yang gampang dulu. Seperti memindahkan benda kecil tanpa sentuh, atau bikin api keluar dari jari."
"API?! JANGAN-JANGAN! Nanti gubuk kita kebakar lagi!" Genpo langsung menutup buku cepat-cepat.
Deon tertawa terbahak-bahak melihat reaksi kakeknya yang lucu. Suara tawa mereka menggema di seantero aula, bercampur dengan cahaya hijau yang lembut, menciptakan suasana rumah yang sangat sempurna.