Novel ini menceritakan seorang gadis bernama BIANCA yang masih kebingungan antara BARRA cinta lamanya yang berakhir karena kesalapahaman yang di buat oleh AZA teman kecil dari BARRA , atau LEO orang baru yang membuat DIA bangkit kembali menjalani hari hari dengan ceria. namun bukan kisah cinta mereka saja yang rumit , Bianca juga menjalani hidup yang tidak mudah di mana dia seorang anak yatim piatu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yolanda Fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Sebuah Ancaman
Pagi itu, Dinda tampak sangat gelisah. Ia terus memikirkan ponselnya yang hilang. Bianca yang melihat sahabatnya tampak tidak tenang segera menghampiri gadis itu.
"Kamu kenapa, Din? Masih memikirkan ponselmu yang diambil itu, ya?" tanya Bianca lembut seraya menepuk bahu Dinda, berusaha menenangkannya.
"Iya, Bi. Ponsel itu sangat penting dan berarti sekali bagi gue," jawab Dinda dengan nada suara yang terdengar sedih dan pilu.
Ella, yang kebetulan mendengar percakapan mereka berdua itupun segera angkat bicara ,dengan nada yang tenang dan meyakinkan. "Lo aja dulu, Din. Gue akan usahakan membantu menemukannya. Sekarang gue mau berangkat duluan, ya," ujarnya bersiap melangkah pergi.
"Lo enggak kuliah hari ini, El?" tanya Bianca dengan rasa bingung, melihat Ella sama sekali tidak membawa buku atau perlengkapan belajar.
Ella hanya membalas pertanyaan itu dengan seulas senyuman misterius. Sebelum melangkah pergi, ia sempat berkata, "Nanti akan Gue ceritakan, kapan-kapan ya," lalu ia pun berlalu meninggalkan mereka berdua.
Setelah kepergian Ella, Bianca dan Dinda pun bersiap untuk berangkat menuju kampus. Sebenarnya, niat hati Bianca hari ini sepulang kuliah adalah untuk segera mencari pekerjaan. Sudah seminggu lamanya ia menganggur dan tidak memiliki penghasilan. Namun, melihat kondisi Dinda yang sedang bersedih dan gelisah luar biasa seperti itu, Bianca merasa tidak tega meninggalkan sahabatnya sendirian dalam keadaan seperti itu. Akhirnya, Bianca memutuskan untuk menemaninya terlebih dahulu hingga keadaan Dinda benar-benar pulih dan tenang kembali.
Di tempat lain, Barra juga sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Sebenarnya, ia ingin sekali mampir menjemput Bianca agar mereka bisa berangkat bersama. Namun, niat itu urung dilakukannya karena ia harus berhadapan dengan Dinda yang terkenal cerewet dan bawel jika sudah berbicara. Akhirnya, Barra memilih untuk langsung saja meluncur pergi ke kampus sendirian.
Sementara itu di area parkiran kampus, Leo dan Aza tidak sengaja berpapasan. Begitu melihat Leo sendirian, seulas senyuman manis terukir di bibir Aza. Ia merasa momen itu adalah kesempatan emas baginya.
"Hai, Leo! Kamu sibuk tidak hari ini? Aku ingin bicara sebentar berdua denganmu," ucap Aza ramah seraya tersenyum manis ke arah pemuda itu.
Leo mengangguk dan menyetujui ajakan Aza. Keduanya pun berjalan pergi menuju taman kampus yang tampak sepi dan rindang.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Leo langsung pada intinya begitu mereka duduk di bangku taman.
"Aku ingin meminta maaf soal kejadian kemarin, Leo. Saat itu aku merasa sangat panik dan takut, rasanya seolah tidak ada satu pun orang yang memihak atau membela aku," ucap Aza mulai berpura-pura menangis agar bisa menarik rasa simpati dan belas kasihan Leo. "Kamu tahu tidak betapa sakitnya rasanya jika foto-foto memalukanmu tersebar luas dan dilihat banyak orang? Rasanya duniamu hancur seketika, Leo," sambungnya di sela-sela isak tangis yang dibuat-buat, seolah ia adalah pihak yang paling tersakiti saat itu.
Melihat Aza menangis tersedu-sedu, Leo pun ikut merasa panik dan kasihan. Ia langsung mencoba menenangkan gadis itu seraya memeluknya dengan lembut.
Tanpa mereka sadari, Bianca dan Dinda kebetulan melintas di dekat taman itu dan melihat adegan pelukan yang tejadi . Di dalam hati Bianca, ia hanya bisa berdoa dan berharap agar Leo benar-benar menemukan kebahagiaannya, seraya tersenyum tulus melihat pemuda itu tampak tenang.
Namun, perasaan Dinda sungguh berbeda. Entah mengapa, sejak kejadian di rumah Leo tempo hari, hati kecilnya selalu merasa tidak suka dan tidak percaya pada Aza. Dalam benaknya, Dinda bergumam, "Gue memang sangat menyayanginya, namun gue berharap ia mendapatkan cintanya yang sesungguhnya, yaitu Bianca. Meski hati gue terasa perih melihatnya, namun seperti kata pepatah, cinta itu tidak harus memiliki, bukan?"
Kedua gadis itu pun segera melanjutkan langkah dan meninggalkan tempat itu menuju kafe kampus. Di tengah perjalanan, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil nama Bianca. Ternyata itu adalah Barra yang berlari menghampiri mereka. Akhirnya, mereka bertiga pun berjalan bersama menuju kafe kampus.
"Bagaimana kabarmu, Bi?" bisik Barra begitu dia duduk di samping Bianca.
"Aku baik-baik saja," jawab Bianca seraya tersenyum menatap pemuda itu.
Barra menyadari ada perubahan sikap yang mencolok pada diri Dinda. Biasanya, Dinda akan sangat cerewet atau menggodanya jika melihat ia mendekati Bianca, namun hari ini Dinda hanya terdiam dan tampak sangat murung. Penasaran dengan perubahan itu, Barra pun bertanya kepada Bianca dengan suara berbisik.
"Ada apa dengan Dinda? Mengapa ia begitu pendiam hari ini? Biasanya mulutnya tak pernah berhenti bicara," tanyanya dengan nada bercanda namun penuh keingintahuan.
"Nanti akan aku ceritakan padamu," jawab Bianca ikut berbisik.
Tak lama kemudian, Leo datang dan bergabung duduk bersama mereka. Leo menyapa Bianca dan Dinda dengan ramah, namun tidak menyapa Barra karena memang keduanya tidak terlalu akrab. Leo pun ikut merasa heran dengan sikap Dinda yang berubah drastis. Biasanya Dinda akan menyambut sapaan itu dengan ceria dan semangat, namun kali ini ia hanya menunduk dan mengangguk pelan. Semua orang yang ada di sana merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan diri Dinda.
Di tempat lain, Ella sibuk menyambangi satu per satu tempat penadah barang bekas yang ia kenal. Namun, usahanya belum membuahkan hasil, tidak ada satu pun orang yang mendapatkan ponsel milik Dinda.
"Kenapa tidak ada juga, ya? Semakin lama rasanya semakin aneh. Mungkinkah pencuri itu tidak menjualnya, melainkan menggunakannya sendiri?" gumam Ella penuh dugaan dalam hati. Ia pun mulai memperluas jangkauan pencariannya demi mendapatkan kembali benda yang sangat berharga bagi Dinda itu.
Kembali ke kafe, keempat remaja itu telah selesai menikmati sarapan mereka. Namun, saat tiba waktunya membayar, Leo dan Barra justru saling berebut ingin membayari makanan mereka.
"Biar Gue yang bayar semuanya," ucap Barra tegas.
"Enggak usah, bia Gue aja yang menanggungnya," sahut Leo dengan nada tak mau kalah.
Keduanya sama-sama menyodorkan kartu ATM mereka kepada kasir hingga membuat petugas itu tampak bingung harus menerima yang mana. Melihat tingkah konyol kedua pemuda itu, Bianca hanya bisa tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya. Akhirnya, Bianca mengeluarkan uang tunai dan membayarnya sendiri di hadapan mereka berdua.
Di saat itu, Leo dan Barra semakin yakin bahwa ada masalah berat yang sedang dihadapi Dinda. Barra yang baru mengenalnya saja merasa asing melihat sikap Dinda yang pendiam dan murung, apalagi Leo yang sudah berteman dengannya sejak lama dan menganggapnya sebagai sahabat sendiri.
Kelas pertama pun segera dimulai. Tiba-tiba, ponsel milik Dinda bergetar keras karena menerima pesan masuk. Wajah Dinda seketika berubah menjadi pucat pasi, ia pun tiba-tiba berdiri dengan kaget dari tempat duduknya.
"Dinda! Mengapa kamu berdiri?" tegur dosen yang sedang mengajar dengan nada tegas.
Dinda tampak sangat gugup dan gemetar hebat. "M-maaf, Pak... Izinkan saya ke kamar kecil sebentar," jawabnya terbata-bata.
Bianca yang melihat tingkah sahabatnya yang begitu aneh merasa sangat khawatir dan bertanya-tanya dalam hati, apa yang sebenarnya terjadi pada Dinda hingga gadis itu tampak begitu ketakutan.
Di dalam kamar mandi, Dinda buru-buru membuka pesan yang baru saja masuk itu. Matanya terbelalak lebar, tangannya gemetar hebat menahan rasa kaget. Di sana, seseorang mengirimkan foto-foto Leo yang diambil secara diam-diam,foto yang dulu tersimpan rapi di dalam ponselnya yang hilang. Dinda panik luar biasa, hal yang paling ia takutkan selama ini akhirnya benar-benar terjadi.
Belum sempat rasa kagetnya hilang, ia kembali menerima satu pesan singkat yang isinya:
"JIKA KAMU INGIN RAHASIAMU TETAP AMAN DAN TIDAK TERSEBAR TURUTI PERINTAHKU!"
Membaca ancaman itu, rasa takut Dinda semakin memuncak. Ia pun berlari keluar kamar mandi dengan wajah pucat pasi, dan tanpa sengaja menabrak Leo yang sedang berjalan lewat di sana. Tanpa sempat meminta maaf, Dinda langsung berlari pergi meninggalkan Leo dengan napas yang terengah-engah.
"Ada apa dengan Dinda? Ia benar-benar bukan Dinda yang gue kenal," gumam Leo bingung seraya menatap kepergian Dinda yang tampak sangat ketakutan.
Jam pelajaran pertama pun berakhir, seluruh siswa keluar kelas untuk beristirahat. Namun, hal berbeda terjadi pada Dinda. Ia justru kembali masuk ke dalam kamar mandi dan mengurung dirinya di sana. Ia menangis tersedu-sedu seraya meremas rambutnya sendiri karena merasa sangat putus asa.
"Tidak... Ini tidak boleh terjadi! Rahasia gue engak boleh bocor! Jika hal ini tersebar, gue akan dipermalukan seumur hidup gue, gue akan kehilangan Bianca dan segalanya," isak tangis Dinda pilu. "gue ebih rela melihatnya bahagia bersama orang lain daripada gue harus menanggung rasa malu, ditolak, dan dibenci oleh semua orang," sambungnya di sela-sela tangis yang semakin menjadi-jadi.
Di lorong dekat kamar mandi, Bianca duduk menunggu Dinda keluar. Tidak lama kemudian, Barra dan Leo datang dari arah berlawanan dan mendekati Bianca itu.
Barra langsung menagih janji Bianca untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Dinda.
"Janji apa?" tanya Leo dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Eh dasar kepo," jawab Barra sedikit kesal karena merasa Leo mengganggu momen berduaan mereka.
Bianca pun akhirnya menceritakan kepada mereka berdua bahwa semalam rumahnya telah kemalingan.
"Apa?! Kemalingan? Bagaimana bisa hal itu terjadi?!" seru mereka berdua secara bersamaan dengan nada kaget.
"Kejadiannya berlangsung sangat cepat. Untungnya semalam Ella menginap di rumahku, jadi ia yang pertama kali mendengar suara itu dan sempat mengejar pencurinya hingga ia lari kabur," jelas Bianca panjang lebar.
Barra dan Leo semakin tampak bingung. Mengapa Ella bisa menginap di rumah Bianca? Dan apa hubungannya hal itu dengan kesedihan Dinda?
Melihat kebingungan di wajah kedua pemuda itu, Bianca pun menjelaskan lagi secara rinci. "Begini ceritanya... Aku mengajak Ella menginap karena semalam aku bertemu dia sendirian di jalan dan terlihat sangat kesepian. Adapun soal Dinda... Ponsel kesayangan Dinda itulah yang dibawa lari oleh pencuri itu," jelasnya. Akhirnya, mereka pun mulai mengerti alasan di balik kesedihan dan ketakutan yang dirasakan oleh Dinda.
Di kejauhan, Aza berdiri menatap ke arah mereka bertiga dengan tatapan yang sangat sinis dan penuh kebencian. Ia tersenyum licik seraya berbisik pelan dengan nada dingin dan menyeramkan.
"Baiklah Bianca... Permainan akan segera di mulai. Jika Gue engak bisa menyentuh Lo secara langsung, maka gue akan menggunakan orang-orang terdekat Lo untuk melukai Lo. Tunggulah saja pembalasan Gue," ucap Aza penuh ancaman.
(Apa yang akan Aza lakukan selanjutnya)