NovelToon NovelToon
Sistem Harem Putri Mahkota Iblis

Sistem Harem Putri Mahkota Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Fantasi / Sistem
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kend 13

Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pacaran?

Pagi telah menjelang, di ufuk timur matahari perlahan mulai memancarkan sinarnya. Jay baru saja terbangun dari tidur nya. Tangannya meraba-raba mencari sesuatu. Merasa tak menemukan apa yang dicari, pemuda itu membuka kelompok matanya.

'Cerah banget tuh wajah!' Terdengar suara Milea mengejek Jay yang tengah cengar cengir, padahal pemuda itu baru bangun dari tidur nya.

Jay tidak menanggapi celotehan Milea, pemuda itu turun dari ranjang meraih gaun malam kepunyaan Aida di bawah tempat tidur.

'Oh pantesan!' ledek Milea. Mengejek Jay kembali yang berkemungkinan sudah mengetahui hal apa yang telah di lakukan pemuda itu malam tadi.

Jay mengerutkan dahi nya, merasa aneh dengan Milea. Entitas aneh yang katanya telah bersemayam di dalam tubuh nya. 'Emang lu juga nggak tau?' Tanya nya keheranan.

'Nggak! Sejak sistem sudah mengambil alih tubuh lu, kesadaran gue jadi terbatas sampai energi gue benar-benar lebih dari tujuh puluh persen.' Jelas Milea.

'Baguslah, itu berarti gue nggak denger celotehan lu yang nggak bermutu itu, bukan?' Ucap Jay terkekeh.

***

"Sarapan dulu Jay!" Sapa Aida melihat Jay memasuki ruang makan. Wanita dewasa itu telah rapi dengan pakaian dinasnya. Setiap senin pagi, Aida memang di rutin kesekolah. berbeda hari-hari yang lain, wanita yang menjabat sebagai kepala sekolah itu tak di wajibkan datang di pagi hari.

Jay mengangguk dan langsung duduk di kursi menanggapi ajakan Aida untuk menikmati sarapan pagi. Pemuda itu mengernyit melihat ekspresi masing-masing wanita yang tengah sarapan pagi ini.

Aida, wanita yang tertua di sana masih seperti biasanya, malahan lebih enerjik pagi ini. Senyum nya terus bermekaran di bibir nya yang ranum. Rambutnya yang basah masih dililit handuk.

Shiva pagi ini terlihat kaku. Sesekali gadis itu meringis, berkemungkinan menahan rasa perih bekas luka goresan yang di alami nya kemarin.

Shitta masih sama, menampilkan wajah nya yang datar saat sarapan pagi.

Sedangkan Shilla terlihat sedikit semrawut. Rambut panjang nya tak rapi seperti biasa. wajah nya juga terlihat kusut saat mengarahkan pandangannya pada Jay.

"Jay! Pinjem motor ya, gue ada kuliah pagi, hari ini." Ucap Shiva. Nadanya terdengar tegas, seperti tak ingin mendengar adanya bantahan.

"Untuk hari ini, kamu ntar berangkat nya sama bibi aja, yah." Sambung Aida dengan lembut. Merasa tak enak harus melibatkan pemuda itu dalam urusan keluarga nya.

"Ah nggak masalah bi, gampang itu mah. Ntar aku ambil motor Tomi aja di bengkel Kang Evan. Kayaknya tuh motor udah sehat deh." Balas Jay menanggapi kecanggungan Aida.

Pemuda itu sebenarnya juga berniat untuk meminjamkan motor nya pada Shiva. Bahkan seandainya gadis itu mau, Jay akan memberikan motor itu padanya. Berhubung kakinya sudah sembuh dan bisa menggunakan kembali motor sport nya yang masih berada di tangan Tomi.

Rencana nya pagi ini pemuda itu mengambil motor Tomi yang di servis di bengkel Bang Evan yang tak jauh dari rumah, dan motor itu kelak akan di tukar lagi dengan sahabat nya ketika disekolah nanti.

"Kalau gitu, aku berangkat dulu mah." Ucap Shiva mengamit tangan kanan Aida untuk di ciumnya sebelum pamit. Kemudian dia menatap ke arah Jay sambil menengadahkan telapak tangannya.

"Apa?" Jay yang belum mengerti arti dari tindakan Shiva pun melayang kan pertanyaan.

"Kunci motor!" Ucap Shiva sedikit menggeram.

"Oh iya yah!" Jay terkekeh mendapati kebodohannya. Namun, "Gue nebeng ya sampe bengkel kang Evan." Lanjut nya setelah menyadari lokasi bengkel Kang Evan adalah jalan yang akan di tempuh Shiva.

Shiva memutar bola matanya. "Ya udah, Buruan sarapan nya!" ucapnya sembari kembali duduk dengan tangan bersedekap di dada.

Melihat Shiva seperti itu, Jay mengurungkan niat nya untuk sarapan. "Bi, aku sarapan di sekolah aja ya." Jay pun menyalami tangan kanan Aida. "Yuk, kak!" Ajaknya pada Shiva.

"Shiva, Kamu hati-hati ya di jalan! Ingat, tunggu pengendara lain dulu kalau menempuh jalan yang sepi itu." Ucap Aida lembut. memberi saran dan nasehat pada putri sulung nya itu.

"Iya mah."

***

Di garasi rumah, Jay menyalakan mesin motor matic nya, memanaskan mesin nya terlebih dahulu sebelum di kendarai nya.

"Lu aja dulu yang bawa! Sampai bengkel." Ucap Shiva.

Jay mengangguk patuh, kemudian naik ke atas motor nya. Setelah Shiva naik, Jay pun mengendarai motor itu pelan-pelan.

"Lu yakin masuk kuliah dalam keadaan seperti itu?" Tanya Jay ragu-ragu memperhatikan tangan Shiva yang telah melingkar di pinggangnya ada banyak goresan.

"Aman!" Jawab Shiva menyandarkan kepala nya di bahu Jay.

Merasakan benda kenyal di punggung nya, Jay jadi gugup. "Kak!" Panggil Jay pelan.

"Kenapa?" Tanya Shiva tak kalah lembut, seakan berbisik tepat di telinga Jay.

"Lu nggak risih meluk gue?" Jay bertanya dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan Shiva.

"Enggak!" Jawab Shiva singkat.

Mendengar jawaban singkat Shiva, Jay pun hanya diam. berkonsentrasi mengendarai motor nya.

"yaah, masih tutup!" Keluh Jay setelah sampai di bengkel Kang Evan.

"Baguslah! Jadi sekarang lu harus anterin gue ke kampus." Timpal Shiva setelah memperhatikan bengkel Kang Evan benar-benar masih tutup. Kemudian gadis itu mengeratkan kembali pelukan nya pada pinggang Jay.

Karena tak bisa berbuat apa-apa lagi, akhirnya Jay menuruti permintaan secara paksa kakak sepupunya itu.

Sudut bibir Shiva tertarik melihat Jay tidak menolak untuk mengantar nya ke kampus. "Makasih Jay." Ucap nya sambil menggerakkan kepala nya di atas bahu Jay.

"Ih kak! Geli tau! Kayak orang pacaran aja." Celetuk Jay, merasa kan geli di area sekitar bawah telinga nya karena gesekan rambut Shiva.

"Nah, Ide bagus tuh!" Sorak Shiva seketika. "Mulai sekarang dan untuk kedepan nya, Lu sebagai pacar harus anter jemput gue, Oke?" Lanjut nya. Seolah membenarkan hubungan mereka adalah sepasang kekasih.

"Ogah! Gue kan bukan pacar lu!" Sela Jay merasa keberatan dianggap pacar hanya untuk mengantar jemput Shiva ke kota tempat gedung kampusnya berada.

"Kan lu kemaren udah cium gue. Berarti kita sekarang pacaran, bukan?" Ucap Shiva, dengan polosnya dia mengingat kan kejadian kemarin, dan menjadikan hal itu sebagai senjata nya untuk memperkuat posisi nya agar Jay mengakui nya sebagai pacar.

"Lho? kok bawa-bawa kejadian kemarin sih?" Sungut Jay. Sebenarnya dia tidak mempermasalahkan tentang antar jemput nya. Dan juga tak mengharapkan hubungan itu.

Gadis licik itu seperti memanfaatkan nya, menjalin hubungan hanya sekedar untuk antar jemput nya belaka. Jelas Jay tak menyukai nya.

Kalau pun Shiva memang mau pacaran dengan nya, dia hanya ingin ketulusan gadis itu, tidak dengan saling keterpaksaan seperti ini.

*****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!