Karin seorang wanita karir, dia mendoktrin dirinya sendiri agar harus berkerja keras, tidak perlu memikirkan yang namanya pernikahan.
Dan ya, di umurnya yang sudah 30 tahun, dia masih jomblo alias belum menikah. Sedangkan teman-temannya yang seumuran sudah memiliki anak dua.
Karin merasa, menikah dan punya anak akan mengganggu pekerjaannya. Sehingga dihari cutinya, dia hanya tinggal di dalam kamar membaca novel.
"Ck. Makanya jangan menikah jika belum siap mengurus anak!" tegur Karin sambil melempar Tabnya ke atas kasur.
Dia sedang membaca novel online, yang berjudul ( Pembalasan Tiga Penjahat )
Karin tertidur setelah mambaca novel itu sampai tamat. Tapi saat membuka mata, dia sudah berada di tempat yang berbeda.
"Sial!"
Penasaran kan? Ayo ikuti perjalanan Karin yang menjelajahi dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Makanan Mahal
Nan Wei sedang mengupas kentang yang dia bawa dari rumah orang tuanya. Dia terpaksa menggunakan pisaunya secara diam-diam. Karena dia belum ada alasan jika langsung mengeluarkannya.
Dia tidak mungkin mengatakan jika pisaunya dia beli di kota. Soalnya dia pergi bersama Zhao Xu, jadi dia tidak bisa beralasan seperti itu.
"Besok aku harus ke kota lagi!" ucap Nan Wei sambil mengupas kentangnya dengan cepat.
Setelah mengupas kentangnya, Nan Wei langsung memotongnya. Dan dia juga belum bisa menggunakan pisau pemotongnya, karena bentuknya yang bergerigi.
Setelah selesai direndam dengan garam, Nan Wei segera membawa ke rumah orang tuanya. Dan di sana dia melihat kedua Kakak iparnya sudah mulai menggoreng.
Sedangkan yang menyelesaikan pemotongannya kedua keponakan Nan Wei, Xia Lingzi dan Xia Meng.
"Bibi, kamu cepat sekali!" puji Xia Lingzi dengan kagum, karena Nan Wei mampu menyelesaikannya dalam satu jam saja.
"Ya. Nanti kamu juga terbiasa!" balasnya sambil duduk membantu. Karena masih ada sekitar 10 kg lagi.
"Bibi, bisakah besok aku ikut ke kota?" tanyanya sedikit gugup.
Mendengar permintaan Xia Lingzi membuat hati Nan Wei sangat perih. "Kamu mau jalan-jalan ke kota ya?"
"Ya. Aku sudah lama tidak ke kota!" balasnya dengan malu.
Nan Wei terdiam sejenak lalu berkata. "Baiklah. Aku juga ingin belanja, banyak barang-barang yang harus diganti!"
"Bibi terima kasih!" kata Xia Lingzi dengan semangat. Sebenarnya yang memberi usul adalah sang ibu.
Kakak ipar kedua hanya merasa sedih melihat anak gadisnya jadi pemalu saat pernikahannya dibatalkan.
Dia menyarankan agar dia ikut Nan Wei ke kota, siapa tau dengan keluar, dia bisa melupakan kesedihannya dan mau berbaur lagi dengan teman sebayanya.
Kakak ipar kedua juga sangat senang saat mendengar Nan Wei setuju membawa Xia Lingzi ke kota.
***
Setelah beberapa menit berlalu, semua kentang sudah terpotong, tinggal digoreng saja.
Nan Wei langsung beranjak meninggalkan mereka, karena tugasnya sudah selesai, dan Kedua kakak iparnya juga sudah tahu cara menggorenya.
"Ibu kita mau ke mana?" tanya Zhao Yu sambil menggandeng tangan ibunya.
"Kita pergi ke ladang, Ibu ingin meminta Nenek untuk pulang membantu menggoreng kentang!" jawab Nan Wei.
Ibu Xia memang pergi ke ladang setelah membantu mengupas kentang. Dia pergi ke ladang, agar semua bisa dipanen lebih cepat. Dia tidak ingin usaha yang mereka dapatkan putus ditengah jalan.
Dan Nan Wei sungguh tidak tega melihat Ibunya seharian diladang, jika dirinya sudah kaya, dia berjanji akan menyewa orang untuk membantu orang tuanya.
Selama perjalanan, Nan Wei bertemu beberapa orang, mereka menyapa untuk membuktikan apakah Nan Wei benar-benar sudah berubah.
Karena sejak dua tahun terakhir, Nan Wei bersikap acuh tak acuh pada semua warga Desa, sehingga mereka memilih untuk tidak menyapanya.
Setelah tiba di ladang, Nan Wei melihat ada beberapa orang yang sedang berbicara dengan Ibunya.
Saat dia mendekat, ternyata mereka menanyakan keberadaan kedua kakak ipar Nan Wei yang tidak terlihat di ladang, padahal kedua orang itu sangat rajin membantu mertuanya.
"Mereka pasti sudah mulai curiga, ini juga tidak mungkin dirahasiakan selamanya, apalagi membuat minyak goreng bisa tercium dari jauh!" gumam Nan Wei dalam hati.
"Nak kenapa kamu datang?" tanya Ibu Xia dengan wajah berbinar, karena dia bisa menghindari pertanyaan mereka.
"Kami pergi dulu ya! Mau lanjut kerja!" sela seseorang. Mereka makin curiga dengan sikap Ibu Xia.
"Oh ya ya.. Baiklah, aku juga masih banyak kerjaan!" kata Ibu Xia sambil melambaikan tangan.
Setelah melihat mereka menjauh, dia kembali bertanya. "Nak kenapa kamu datang? Apa semuanya sudah beres?"
"Belum! Kakak ipar masih sementara menggoreng. Aku sebenarnya mau ke sungai, mau lihat-lihat, siapa tau ada sesuatu yang bisa dimakan!"
"Oh baiklah, tapi kamu harus hati-hati! Jangan terlalu pergi ke bagian dalam!" Ibu Xia memberi nasehat, karena sungai itu lumayan besar dan airnya tidak semua dangkal.
"Baik bu.!" Nan Wei segera pergi bersama Zhao Yu sambil membawa keranjang.
Tapi sebelum mereka jauh, tiba-tiba dari belakang ada yang memanggilnya, yang ternyata Kakak pertama.
Ya. Ibu Xia meminta Xia Dalang untuk menemaninya, dia khawatir terjadi sesuatu di sungai, apalagi Nan Wei membawa Zhao Yu.
"Kamu tahu, ibu sangat menyayangimu. Jadi adik, kamu jangan membuat Ibu bersedih lagi. Sebelum kamu sadar akan sikapmu, Ibu sering melamun sebelum tidur, wajahnya terlihat sangat sedih. Tapi semenjak hari itu, dia lebih banyak tersenyum!"
"Kakak. Sekali lagi aku minta maaf. Aku janji, tidak akan pernah lagi membuat Ibu bersedih,!" ucap Nan Wei dengan serius, dia sudah menganggap mereka semua keluarganya sendiri.
"Adik, aku percaya padamu!" Bukan cuman Ibunya yang sering tersenyum, mereka semua juga merasakan hal yang sama.
"Ibu, kamu suka lihat orang tersenyum?" Sela Zhao Yu. Dia mendengar semua obrolan keduanya, tapi dia belum mengerti maksud dari kalimat itu.
Yang dia tangkap, ibunya akan membuat sang Nenek selalu tersenyum, makanya dia bertanya seperti itu.
"Ya. Ibu sangat suka orang tersenyum, tertawa dan bahagia! Tapi mereka tidak boleh Melakukan hal itu jika ada orang lain yang sedang bersedih atau berduka!"
"Ibu aku akan tertawa saat aku bahagia! Dan aku akan bersedih saat kamu bersedih!"
"Aduhh Yuyu memang sangat pintar!" puji Xia Dalang.
"Heheh terima kasih Paman!" dia sangat senang mendapat pujian.
***
Tiba di sungai, Nan Wei duduk di batu besar dan langsung menghirup udara yang begitu bersih.
Zhao Yu tak mau kalah, inilah Pertama baginya bisa bermain dengan bebas dipinggiran sungai, tanpa rasa takut dimarah jika ketahuan Ibunya.
"Adik! Kamu mau menangkap ikan? Itu sedikit sulit, banyak orang yang tidak berhasil menangkapnya karena ikan terlalu lincah!"
"Tidak sekarang, karena kita harus membuat perangkapnya lebih dulu.!"
"Oh, jadi apa yang ingin kamu cari?"
Nan Wei tidak menjawab, dia segera mengambil potongan kayu, lalu menggaruk pasir dan bebatuan yang ada di pinggir sungai.
Seketika mata Nan Wei berbinar melihat kerang remis dengan warna kuningnya yang sangat mencolok, dan saat dia memindahkan batu yang lebih besar, dibawahnya ternyata ada kerang kijing.
"Astaagaaa inilah yang aku cari..!" seru Nan Wei dengan semangat.
"Adik apa yang membuatmu begitu bahagia?" tanya Xia Dalang sambil jalan mendekat. "Oh itu kerang batu. Apa kamu ingin mengambilnya untuk makan ternak?"
"Ibu aku akan membantumu, ayam kita sangat suka makan kerang batu. Aku dan Kakak Pertama sering mengambilnya!" ucap Zhao Yu yang sudah mulai memungutnya.
Nan Wei hanya bisa diam mematung, telinganya langsung berdenging saat mendengar ternak mereka lagi-lagi makan makanan yang sangat berharga.
"Tolong aku! Apa aku harus tertawa atau menangis?" gumamnya dengan tak berdaya.
Sebenarnya dia ingin sekali mengumpat, tapi itu bukan salah mereka. Seandainya mereka tahu, makanan yang dimakan ternak adalah makanan mahal, mereka mungkin tidak akan membiarkan ternak itu memakannya sedikitpun.
.
.
.
.