Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: DAULAT DI UJUNG TANDUK
Kepulangan Nata ke Jakarta tidak disambut dengan karpet merah, melainkan dengan barisan jet tempur F-16 yang mencegat pesawatnya tepat saat memasuki ruang udara Indonesia. Di dalam kabin jet pribadi, Elena menatap radar dengan wajah pucat.
"Bos, pangkalan udara Halim tidak memberikan izin mendarat. Komunikasi radio kita diambil alih oleh otoritas militer. Mereka memerintahkan kita mendarat di pangkalan udara Iswahjudi untuk 'pemeriksaan keamanan'," lapor Elena dengan suara gemetar.
Nata tetap tenang, meski ia tahu apa yang sedang terjadi. Jonathan Vance telah menekan pemerintah Indonesia. Amerika Serikat kemungkinan besar mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi atau embargo jika Indonesia tetap melindungi "ancaman finansial" seperti Nata.
"Jangan ikuti perintah mereka ke Iswahjudi," ucap Nata dingin. "Gunakan izin diplomatik dari negara Eropa Timur yang kita pegang. Kirim sinyal darurat diplomatik ke Kementerian Luar Negeri. Katakan bahwa jika pesawat ini tidak diizinkan mendarat di Halim dalam sepuluh menit, aku akan merilis data aliran dana gelap beberapa pejabat tinggi mereka yang tersimpan di server Aquatic Nexus."
"Bos, itu namanya bunuh diri politik!" seru Elena.
"Ini bukan bunuh diri, Elena. Ini adalah pengingat bahwa aku bukan lagi warga negara yang bisa mereka intimidasi. Aku adalah pemegang kunci brankas rahasia mereka," balas Nata.
Sepuluh menit yang menegangkan berlalu. Akhirnya, perintah pencegatan dibatalkan. Pesawat Nata diizinkan mendarat di Halim, namun sudah ditunggu oleh puluhan mobil hitam dari Badan Intelijen Negara (BIN) dan kepolisian.
Begitu pintu pesawat terbuka, udara panas Jakarta menyergap. Nata melangkah turun dengan tenang, mengenakan setelan jas yang rapi, sementara Elena mengikuti di belakangnya sambil memeluk laptop seolah itu adalah nyawanya.
Seorang pria paruh baya dengan seragam safari abu-abu melangkah maju. Ia adalah Jenderal Surya, salah satu orang kuat di jajaran intelijen.
"Tuan Prawira, Anda benar-benar membuat kekacauan di luar sana," ucap Jenderal Surya tanpa basa-basi. "Amerika menuntut ekstradisi Anda. Mereka menuduh Anda melakukan terorisme finansial."
"Terorisme adalah istilah mereka untuk siapa pun yang mengganggu monopoli dolar mereka, Jenderal," jawab Nata. "Saya pulang untuk membawa solusi bagi ekonomi Indonesia, bukan masalah."
"Solusi?" Surya tertawa getir. "Anda membawa sanksi bagi negara ini! Kami diperintahkan untuk membawa Anda ke markas untuk 'dialog' lebih lanjut."
"Saya akan ikut, tapi dengan satu syarat," Nata menatap Surya dengan tajam. "Pertemuan ini harus dihadiri oleh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia. Saya akan menunjukkan kepada mereka mengapa menyerahkanku kepada Amerika adalah kesalahan terbesar dalam sejarah bangsa ini."
Pertemuan rahasia itu diadakan di sebuah safe house di pinggiran Jakarta. Di dalam ruangan kedap suara, Nata berdiri di depan para petinggi negara.
"Dunia sedang berubah," Nata memulai presentasinya, menampilkan struktur Dinar Digital yang ia bangun bersama Pangeran Khalid. "Amerika sedang mengalami inflasi yang tidak terkendali. Jika Indonesia tetap menggantungkan cadangan devisanya pada dolar, kita akan ikut tenggelam saat mereka jatuh. Saya menawarkan sistem kliring baru. Sebuah jalur perdagangan mandiri yang dijamin oleh emas dan minyak."
"Bagaimana dengan sanksi mereka?" tanya sang Menteri Keuangan, wajahnya penuh kecemasan.
"Sanksi hanya efektif jika kita membutuhkan sistem mereka," Nata memutar proyeksi peta perdagangan baru. "Dengan aliansi Timur Tengah yang sudah saya amankan, kita bisa membeli minyak dan menjual komoditas kita tanpa menyentuh satu sen pun dolar. Kita akan menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang benar-benar berdaulat secara finansial."
Nata kemudian berhenti sejenak, menatap Jenderal Surya. "Dan untuk masalah intelijen... saya tahu Amerika mengancam akan membocorkan data korupsi pengadaan alutsista jika Anda tidak menyerahkan saya. Jangan khawatir. Saya sudah menghapus jejak digital itu dari server mereka dan memindahkannya ke server saya. Mereka tidak punya peluru lagi untuk menekan Anda."
Para pejabat di ruangan itu saling berpandangan. Mereka menyadari bahwa pemuda di depan mereka ini bukan hanya seorang peretas atau pengusaha; ia adalah seorang arsitek geopolitik yang memiliki kartu as lebih banyak daripada sebuah negara.
Malam harinya, Nata akhirnya diizinkan pulang ke ruko Jakarta Barat dengan pengawalan ketat namun bersifat rahasia. Saat mobil memasuki halaman ruko, Kirana dan Arya sudah menunggu di depan pintu.
"Kak Nata!" Arya berlari memeluk kakaknya.
Nata berlutut, memeluk adiknya erat-erat. Ketegangan yang ia rasakan selama di pesawat dan pertemuan tadi seolah luruh seketika. "Kakak pulang, Arya. Maaf membuatmu takut."
Kirana berdiri di ambang pintu, matanya berkaca-kaca. Ia melihat banyak mobil hitam yang berjaga di sekitar rumah mereka. "Kak... apa kita masih aman di sini?"
Nata berdiri, mengelus rambut Kirana. "Di dunia ini tidak ada tempat yang benar-benar aman, Kirana. Tapi Kakak akan memastikan bahwa siapa pun yang mencoba menyentuh rumah ini akan menghadapi seluruh kekuatan dunia."
Di dalam ruko, Yuda sudah menyiapkan sistem keamanan baru yang terintegrasi dengan jaringan satelit Khalid. "Bos, tim keamanan dari Singapura sudah tiba secara bertahap. Kita sekarang memiliki lima puluh personel elit yang berjaga 24 jam. Ruko ini sekarang adalah tempat paling aman di Indonesia."
Nata duduk di kursi kerjanya, melihat Elena yang sedang melakukan pemindaian terakhir pada sistem. "Elena, besok kita mulai tahap pembangunan 'Prawira Fortress'. Aku ingin markas kita tidak hanya di ruko ini. Kita butuh bunker yang bisa bertahan dari serangan fisik maupun siber skala militer."
"Sudah saya siapkan desainnya, Bos. Lokasinya di bawah tanah di kawasan industri yang kita beli lewat perusahaan cangkang," jawab Elena.
Nata menatap layar monitornya. Namanya masih bertengger di daftar buronan AS, namun di Indonesia, ia mulai menjadi "rahasia negara" yang dilindungi. Ia telah berhasil mengubah posisinya dari seorang buronan menjadi aset yang sangat berharga bagi negaranya.
Namun, Nata tahu Jonathan Vance tidak akan berhenti. Jika Amerika tidak bisa menangkapnya secara legal, mereka akan menggunakan cara-cara gelap.
"Permainan di tanah air baru dimulai," bisik Nata. "Dan kali ini, aku bermain di kandang sendiri."
Malam itu, di tengah hiruk-pikuk Jakarta, Nata Prawira mulai merajut takdir baru bagi bangsanya, sambil bersiap menghadapi badai internasional yang akan segera menghantam pantai Indonesia.
Bersambung.....