NovelToon NovelToon
Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20 kota militer batu hitam dan hukum rimba berdarah

Bau karat besi yang menyengat bercampur aroma tuak murahan menyergap rombongan kecil keluarga Yan begitu mereka melewati celah bukit kapur terakhir. Di hadapan mereka, Kota Perbatasan Batu Hitam berdiri kokoh bagai raksasa purba yang terbuat dari susunan balok batu vulkanik hitam pekat. Tembok kotanya tidak halus layaknya Kota Awan Mengambang, melainkan dipenuhi bekas hantaman kapak raksasa, torehan pedang, dan lubang-lubang bekas hantaman meriam energi yang sengaja dibiarkan sebagai simbol sejarah pertempuran.

Tidak ada barisan pedagang sutra halus atau kereta kuda bangsawan yang anggun di gerbang kota ini. Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah barisan prajurit berzirah besi hitam berlambang kepala naga perak, tentara bayaran berwajah bengis yang memanggul senjata berat, serta gerobak-gerobak kayu yang mengangkut tumpukan bijih besi dan pasokan senjata militer.

Yan Xinghe berjalan lambat di samping pedati barang mereka. Jubah sutra hitamnya kini tertutup debu jalanan yang kelabu. Tangannya yang pucat bersandar santai pada lilitan kulit di gagang *Pedang Berat Tanpa Bilah* di punggungnya. Beban lima ribu kati itu terus menekan poros tulang belakangnya, memaksa *Tubuh Fana Tanpa Cacat* miliknya beradaptasi di setiap detik pergerakan. Sisa-sisa rasa sakit akibat keretakan tiga meridiannya telah mereda sepenuhnya, digantikan oleh kepadatan energi fisik yang semakin padat dan alot.

Di sampingnya, Ye Ling’er menarik caping bambunya lebih rendah untuk menyembunyikan wajah mungilnya dari tatapan liar para tentara bayaran di sepanjang jalan.

"Kota Batu Hitam dikuasai dengan disiplin besi oleh Jenderal Lei Zhan, komandan sayap barat Faksi Militer Naga Perak," bisik Ye Ling’er, suaranya sangat tipis hingga hanya bisa didengar oleh Xinghe. "Di tempat ini, hukum kekaisaran sipil sama sekali tidak berlaku. Jika kau kuat, kau bisa membunuh orang di tengah jalan tanpa perlu takut pada penjaga. Sebaliknya, jika kau lemah, kau hanya akan berakhir sebagai budak pekerja paksa di kedalaman Tambang Besi Darah."

Xinghe hanya mengangguk pelan. Atmosfer yang beringas dan sarat akan pertumpahan darah ini justru membuatnya merasa lebih nyaman. Di dunia yang tidak mengenal hukum moral fana seperti inilah, seorang mantan Kaisar Pedang bisa bergerak bebas tanpa perlu mengkhawatirkan ikatan protokol faksi yang merantai langkahnya.

Langkah pedati mereka terhenti di depan gerbang kota yang dijaga oleh sepuluh prajurit bertubuh kekar. Komandan jaga, seorang pria paruh baya dengan zirah yang dipenuhi noda darah kering, menatap rombongan keluarga Yan dengan pandangan predator yang menemukan mangsa empuk.

"Kereta barang dari wilayah luar? Pajak masuk untuk orang asing adalah lima puluh keping perak per kepala, ditambah sepuluh keping emas untuk muatan pedati!" bentak sang komandan jaga, nadanya kasar dan sengaja menuntut harga sepuluh kali lipat dari takaran normal.

Prajurit di belakangnya segera mengokang busur panah mekanik mereka, memasang wajah menyeringai mengejek. Mereka terbiasa memeras para pengungsi atau pedagang kecil yang melarikan diri dari wilayah selatan.

Yan Qingshan yang memegang tali kekang kuda merasakan darahnya mendidih. Pemuda kekar itu hendak melangkah maju, memutar *Teknik Pernapasan Harimau*-nya untuk memberikan perlawanan, namun Xinghe mengangkat tangan kirinya secara perlahan, menahan pundak kakaknya.

Xinghe melangkah maju satu langkah. Ia tidak meraba kantong emas di pinggangnya. Matanya yang gelap tak berdasar menatap langsung ke dalam manik mata komandan jaga tersebut. Seutas kesadaran spiritual dari *Niat Pedang Pembelah Langit* dilepaskan secara tak kasat mata, hanya seperseribu bagian, terkunci khusus ke arah mental sang perwira.

*Deg.*

Komandan jaga itu mendadak kaku di tempatnya. Senyum mengejek di wajahnya membeku seketika. Di dalam dimensi persepsinya, langit di atasnya seolah-olah runtuh, berubah menjadi lautan pedang berdarah raksasa yang menunjuk tepat ke arah ubun-ubun kepalanya. Ilusi kematian yang begitu nyata mencengkeram lehernya hingga ia kesulitan untuk menghirup udara pagi. Keringat dingin sebesar biji jagung membanjiri sekujur zirah besinya dalam hitungan detik.

"K-Kau..." suara sang komandan bergetar hebat, lututnya lemas hingga ia terpaksa bertumpu pada gagang pedangnya agar tidak jatuh bersujud di hadapan pemuda berjubah hitam tersebut. Insting veteran pertarungannya menjerit histeris memperingatkan bahwa pemuda di depannya ini adalah monster pembantai yang sanggup mencabut nyawanya sebelum ia sempat mengedipkan mata.

Xinghe menarik kembali tekanan mentalnya, membiarkan udara di sekitar gerbang kembali normal. "Apakah kami masih perlu membayar pajak tambahan, Komandan?" tanya Xinghe, suaranya sangat datar dan tenang.

"T-Tidak perlu! Jalur khusus untuk tamu kehormatan! Cepat buka barikade!" teriak komandan jaga dengan nada suara yang melengking panik, melambaikan tangannya dengan gerakan gemetar ke arah para prajuritnya yang kebingungan.

Tanpa membuang waktu untuk memprotes, para prajurit buru-buru menggeser pagar pancang besi, membiarkan pedati keluarga Yan melintas masuk melewati gerbang Kota Batu Hitam tanpa pemeriksaan barang sedikit pun. Sikap tunduk dari perwira kejam itu menjadi pemandangan ganjil yang membuat beberapa tentara bayaran di sekitar gerbang mulai menatap siluet Xinghe dengan pandangan penuh selidik dan kewaspadaan yang baru.

Distrik internal Kota Batu Hitam dipenuhi oleh bangunan pagoda pendek yang terbuat dari batuan vulkanik kasar. Di sepanjang trotoar, ratusan bengkel pandai besi beroperasi tanpa henti, menghasilkan suara dentuman palu godam yang memekakkan telinga bercampur kepulan asap hitam berbau belerang.

Ye Ling’er menuntun rombongan menuju bagian paling terpencil di distrik barat, sebuah kompleks pekarangan tua berpagar tembok batu hitam yang dikelilingi oleh pohon persik liar yang telah mati. Kompleks ini dulunya milik seorang pedagang senjata yang tewas di medan perang, tempat yang sangat sempurna untuk menyembunyikan Shen Yulan dan Yan Xiaoxiao dari kebisingan kota.

Setelah memastikan ibu dan adiknya beristirahat di dalam bangunan batu yang aman dengan penjagaan Qingshan, Xinghe berdiri di teras pekarangan, menatap kabut abu-abu yang menggantung di atas pegunungan utara.

"Ling’er, di mana aku bisa menemukan informasi tentang monster elemen besi tingkat tinggi di wilayah ini?" tanya Xinghe seraya merapikan jubah hitamnya.

Ye Ling’er yang sedang bersandar di pilar batu tersenyum tipis. "Di Kota Batu Hitam, semua misi perburuan dan perdagangan material spiritual dikelola oleh *Paviliun Berburu Naga Perak*. Tempat itu terletak di distrik pusat, dikendalikan langsung oleh perwira militer faksi. Jika kau mencari inti monster logam, tempat itulah satu-satunya titik awal. Namun, berhati-hatilah, Penatua Yan. Keluarga Mu dan Tanah Suci mungkin telah menyebarkan jaringan mata-mata mereka ke tempat perdagangan umum seperti itu."

"Biarkan mereka mengawasi," jawab Xinghe santai, tatapan matanya berkilat memancarkan kedinginan tirani. "Jika mereka mengirim tetua transenden lagi kemari, aku hanya perlu menggunakan pedang berat ini untuk memperdalam fondasi parit pertahanan kota ini."

Satu jam kemudian, Yan Xinghe berjalan menyusuri jalan utama distrik pusat, didampingi oleh Ye Ling’er. Penampilannya yang tenang dengan balok logam raksasa terbungkus kanvas baru di punggungnya menarik perhatian banyak praktisi, namun aura kedinginan yang secara alami menguar dari posturnya membuat orang-orang kasar di sekitarnya menahan diri untuk tidak mencari masalah.

*Paviliun Berburu Naga Perak* adalah sebuah bangunan batu raksasa berlantai tiga yang bentuknya menyerupai benteng pertahanan. Di dalam aula utamanya, ratusan praktisi pengelana dan tentara bayaran berkumpul di depan sebuah papan pengumuman kristal raksasa yang memuat berbagai macam daftar misi militer dan hadiah batu spiritual.

Xinghe berjalan melewati kerumunan tanpa melirik misi tingkat rendah, melangkah langsung menuju konter pelayanan inti monster di sudut aula. Di balik meja konter besi, seorang pria paruh baya dengan bekas luka melintang di mata kirinya sedang sibuk mencatat inventaris senjata.

"Aku mencari informasi tentang keberadaan monster elemen besi yang telah mencapai pertengahan atau puncak Alam Pembukaan Meridian," ucap Xinghe datar, memecah kesibukan sang petugas.

Pria paruh baya itu menghentikan kuasnya, mengangkat wajahnya untuk menatap Xinghe dengan pandangan menilai. "Monster logam di perbatasan? Misi seperti itu biasanya hanya disentuh oleh korps tentara bayaran tingkat tinggi. Kebetulan sekali, tiga hari lalu, regu pengintai militer mendeteksi keberadaan seekor *Badak Besi Pemakan Jiwa* berumur tiga ratus tahun di kedalaman Lembah Kapur Hitam."

Petugas itu mengetuk meja besi, memunculkan sebuah gulungan kulit domba usang. "Makhluk itu telah bermutasi, kulit zirahnya kebal terhadap senjata tajam tingkat menengah, dan serudukannya sanggup menghancurkan formasi pertahanan pasukan kecil. Tingkat kekuatannya setara dengan praktisi **Alam Pembukaan Meridian Tingkat Keenam**. Militer Naga Perak menawarkan hadiah dua ribu batu spiritual tingkat tinggi untuk inti monsternya. Apakah kau berniat mendaftarkan diri?"

"Aku mengambil misi ini secara mandiri," jawab Xinghe tanpa ragu, tangan kanannya meraih gulungan kulit domba tersebut.

Tepat saat jarinya menyentuh permukaan gulungan, sebuah tangan besar berkulit gelap yang dipenuhi bulu kasar tiba-tiba mencengkeram ujung gulungan yang lain dengan sentakan kasar.

"Tahan dulu, Petugas! Gulungan misi Lembah Kapur Hitam ini telah dipesan oleh *Korps Tentara Bayaran Serigala Hitam* sejak kemarin pagi!"

Suara berat dan kasar itu meledak di tengah aula, menarik perhatian puluhan praktisi di sekitarnya.

Xinghe tidak menarik tangannya. Ia menoleh sedikit ke arah samping. Berdiri di sebelahnya adalah seorang pria raksasa setinggi dua meter dengan wajah brewok yang kasar. Ia mengenakan zirah kulit beruang dengan lambang kepala serigala hitam di dada kirinya. Di punggungnya, sebuah kapak perang bermata ganda raksasa memancarkan aura elemen api yang cukup pekat. Pria ini adalah Wakil Komandan Korps Serigala Hitam, Lei Kan, praktisi tangguh di **Alam Pembukaan Meridian Tingkat Keempat**.

Lei Kan menatap Xinghe dengan pandangan meremehkan, matanya meneliti tubuh kurus pemuda berjubah hitam di depannya. "Bocah ingusan tanpa fluktuasi energi meridian yang jelas, berani menyentuh misi tingkat tinggi milik korps kami? Lepaskan tanganmu sebelum aku menggunakan kapak ini untuk memisahkan kepalamu dari lehermu!"

Di belakang Lei Kan, lima orang pengikutnya yang memegang golok besar ikut tertawa mengejek, sengaja menyebarkan aura menekan mereka untuk mengintimidasi Xinghe.

Ye Ling’er yang berdiri beberapa langkah di belakang menghela napas panjang, meraba belati bambunya di balik jubah hijau. Ia tahu bahwa ke mana pun Yan Xinghe melangkah, tumpukan mayat baru selalu menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan dari keangkuhan para praktisi lokal.

Xinghe tidak membalas ancaman verbal tersebut menggunakan kata-kata makian. Wajah pucatnya tetap datar tanpa ekspresi. Tangan kanannya yang mencengkeram gulungan misi tidak bergerak satu milimeter pun, sebaliknya, ia mengalirkan setitik kecil kekuatan mekanik dari *Tubuh Fana Tanpa Cacat*-nya melalui ujung jarinya menembus permukaan gulungan kulit domba.

*Krak... krak...*

Bukan kulit dombanya yang robek, melainkan meja konter yang terbuat dari lempengan besi setebal tiga inci di bawah gulungan tersebut mulai retak, amblas ke bawah membentuk cetakan telapak tangan Xinghe hanya karena tekanan pasif dari berat lengannya.

Mata Lei Kan membelalak lebar melihat fenomena yang tidak masuk akal tersebut. Belum sempat raksasa brewok itu menarik kembali tangannya, Xinghe telah memutar pergelangan tangan kanannya dengan sentakan memutar yang pendek.

*BUMMM!*

Tenaga ledakan fisik yang luar biasa brutal ditransfer searah melalui gulungan kulit domba tersebut, menghantam telapak tangan Lei Kan. Seluruh tulang jari dan pergelangan tangan kanan sang Wakil Komandan Serigala Hitam remuk seketika menjadi pasta darah di dalam zirah kulitnya.

Lei Kan menjerit histeris menahan rasa sakit yang luar biasa memilukan. Tubuh besarnya yang seberat dua ratus kati terlempar ke belakang layaknya daun kering ditiup topan, menabrak barisan kursi kayu di tengah aula hingga hancur berantakan sebelum akhirnya tumbang tersungkur di lantai batu vulkanik.

"Wakil Komandan!" lima orang bawahannya berteriak panik, wajah mereka berubah menjadi seputih kertas dalam sekejap mata. Mereka tidak memercayai penglihatan mereka sendiri; bos mereka yang berada di Alam Meridian Tingkat Keempat ditumbangkan tanpa perlu lawan mencabut senjata atau melepaskan jurus magis.

Xinghe dengan santai memasukkan gulungan kulit domba misi tersebut ke dalam kantong penyimpanan sutra birunya. Ia meraih gagang pedang berat di punggungnya, menatap lambat ke arah lima pembunuh yang masih mematung ketakutan.

"Jika korps serigalamu ingin mengumpulkan tulang belulang wakil komandan kalian, suruh komandan utamanya menemuiku di Lembah Kapur Hitam esok hari," suara Xinghe mengalun tenang, sehalus es namun memancarkan kedaulatan tirani yang membungkam seluruh isi aula benteng.

Tanpa memedulikan puluhan pasang mata yang menatapnya dengan kengerian absolut, Yan Xinghe membalikkan badannya, melangkah keluar dari Paviliun Berburu Naga Perak dengan langkah mantap. Genderang pembantaian di Kekaisaran Naga Langit telah resmi ia tabuh hari ini, dan badai besar siap melahap siapa pun yang berani berdiri menghalangi jalan sang penakluk menuju puncak keabadian.

**Daftar Istilah Kultivasi dalam Bab Ini

**Faksi Militer Naga Perak:** Salah satu dari tiga penguasa militer tertinggi di Kekaisaran Naga Langit.

**Tubuh Fana Tanpa Cacat (Tingkat 10):** Fondasi fisik mutlak yang kekuatannya melampaui batasan logika praktisi Alam Penyempurnaan Tubuh standar.

**Alam Pembukaan Meridian Tingkat Keenam:** Tingkatan kekuatan menengah di ranah transenden lokal, di mana energi alam mengalir deras di dalam pembuluh darah spiritual.

**Badak Besi Pemakan Jiwa:** Monster spiritual bermutasi dengan pertahanan fisik ekstrim berunsur logam.

**Niat Pedang Pembelah Langit:** Sisa-sisa kesadaran kosmik tingkat kaisar yang digunakan Xinghe untuk menundukkan mental lawan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!