Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Angin malam berdesir lebih kencang, menerbangkan helai rambut Zara yang terurai hingga menyapu kulit leher Benedict. Pria itu menunduk, menatap wajah Zara yan kini tampak begitu polos. Sisa semburat merah akibat alkohol masih tercetak di pipinya.
Benedict menyelipkan satu lengan di bawah lutut Zara dan lengan lainnya menopang tubuh gadis itu. Ia berdiri, mengangkat tubuh Zara ke dalam gendongannya. Saat melewati koridor utama, Anna muncul dari balik pilar. Langkah pelayan itu seketika berhenti.
“Bereskan pecahan gelas di tepi kolam,” perintah Benedict tanpa menghentikan langkahnya.
“Baik, Tuan” jawab Anna.
Benedict membawa Zara ke kamar gadis itu. Ia membaringkan tubuh Zara di atas kasur dengan perlahan. Namun, tepat saat punggung Zara menyentuh kasur, Zara menarik kerah kemeja pria itu ke bawah dengan hentakan tak terduga. Benedict yang tidak siap seketika hilang keseimbangan. Tubuhnya condong ke depan, refleks menumpu satu tangannya disamping kepala Zara agar tidak langsung menindih gadis itu.
Jarak di antara mereka terkikis habis. Wajah mereka begitu dekat. Mata Benedict melebar sesaat, tubuhnya menegang kaku seperti batu. Dalam kondisi mata yang terpejam dan kepala yang terasa berputar, Zara mulai meracau panjang.
“Sepertinya….. aku sudah mabuk,” racau Zara. “Kepalaku…. pecah.”
Zara meremas kerah Benedict lebih erat. Kini matanya yang sayu terbuka, menatap manik Benedict.
“Bisakah kau perlakukan aku…. lebih baik, Benedict…. sekali saja,” ucap Zara, suaranya naik turun, setengah merengek.
“Aku…. aku bukan musuhmu. Setiap kali kau menatapku….. seolah-olah ingin membunuhku…. aku selalu ketakutan. Aku takut setengah mati, bodoh….”
Setetes air mata merembes dari sudut mata Zara. “Aku…. aku bukan ayahku,” gumam Zara lagi. “Aku tidak ingin…. menyakitimu. Sama sekali tidak…”
Zara menghela napas panjang yang terasa sesak. Perlahan, cengkeramannya pada kerah kemeja Benedict mengendur. Telapak tangannya bergerak turun, hingga berhenti tepat di atas dada kiri Benedict. Jemarinya yang bergetar sedikit menekan disana, detak jantung Benedict mendadak berpacu tidak beraturan.
“Tahu tidak?….. setiap kali kau bicara kasar padaku…. aku justru…. aku justru ingin memelukmu. Karena aku tahu….. aku tahu betul….. betapa hancurnya dirimu di dalam sana.”
Seluruh pasokan udara di paru-paru Benedict seolah tersedot habis. Zara menyentuh titik paling rapuh pada pria itu.
Benedict terpaku selama beberapa detik, menatap wajah memerah Zara dengan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya, sementara tangan gadis itu perlahan terkulai lemas dari dadanya karena kesadarannya telah habis sepenuhnya.
Benedict menarik napas dalam-dalam. Dengan gerakan pelan, ia memindahkan tangan Zara ke atas kasur, lalu menarik selimut tebal hingga sebatas dada Zara.
Sebelum benar-benar menutup pintu, Benedict menoleh sedikit ke arah ranjang, bergumam sangat lirih hingga nyaris tak terdengar.
“Kau terlalu bisik saat mabuk, Zara.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah gorden, menghantam langsung kelopak mata Zara. Ia melenguh pelan, mencoba membalikkan badannya untuk menghindari silau, namun gerakan kecil itu seketika memicu rasa sakit yang luar biasa di dalam kepalanya.
“Arghh.”
Zara mencengkeram dahinya yang berdenyut parah. Kepalanya terasa sangat berat, seolah ada batu besar yang menghantam bagian belakang tengkoraknya setiap kali ia bergerak. Perutnya juga terasa bergejolak mual. Saat ia mencoba duduk di tepi ranjang dengan bertumpu pada kedua tangannya, Zara mengerutkan dahi. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar, mencoba menyusun kembali ingatan yang terputus di kepalanya.
Memori terakhirnya adalah malam tadi, saat ia keluar mencari angin segar lalu melihat Benedict duduk menyendiri di tepi kolam renang. Mereka sempat mengobrol, lalu ia minum wine milik pria itu. Ia ingat rasa cairan itu sangat pahit dan membakar tenggorokannya, dan setelah itu, semuanya gelap. Kosong. Log memori di otaknya terputus total.
“Bagaimana bisa aku ada di kamar? apa aku berjalan sendiri dalam keadaan mabuk?”
Pikiran itu membuat Zara merinding ngeri. Dengan langkah yang sedikit limbung, Zara memaksa dirinya membasuh wajah sebelum turun ke lantai bawah.
Aroma makanan samar-samar tercium saat ia menapakkan kaki di undakan tangga terakhir, menuntunnya berjalan menuju ruang makan . Di sana, Anna sudah berdiri dengan rapi di samping meja.
Di atas meja, sudah tersedia semangkuk sup hangat berkuah bening, disandingkan dengan secangkir teh jauh madu.
“Selamat pagi, Nona,” sapa Anna hangat, membungkuk hormat dengan sopan.
“Silakan duduk, saya sudah menyiapkan sup pereda mabuk dab teh jahe hangat untuk anda.”
Zara meringis canggung, menduduki salah satu kursi sambil memegangi pelipisnya yang masih berdenyut.
“Terima kasih, Anna. Maaf merepotkanmu.”
“Sama sekali tidak merepotkan, Nona. Anda belum terbiasa dengan koleksi anggur milik Tuan. Kadar alkoholnya mungkin terlalu tinggi untukmu,” jawab Anna dengan senyum tipis.
“Ya kau benar, minuman itu membuat kepalaku hampir pecah,” ucap Zara.
Zara menyesap teh jahe itu, membiarkan rasa hangatnya meredakan gejolak di perutnya.
“Kau sudah makan?” tanya Zara. “Duduklah, makan bersamaku. Aku tidak mungkin menghabiskan makanan sebanyak ini sendirian.”
Anna tampak terkejut sesaat. “Terima kasih atas kebaikan Anda, Nona. Namun percaturan di rumah ini sangat ketat. Meja makan pelayan terpisah dengan meja makan Tuan.”
Zara tersenyum maklum, tidak ingin membuat Anna berada dalam posisi yang sulit jika Benedict sampai tahu.
“Ah, begitu ya. Sayang sekali. Tapi setidaknya, tetaplah disini, temani aku makan, ya?”
“Dengan senang hati, Nona” jawab Anna tulus.
Zara tersenyum. Ia melanjutkan aktivitas makannya. Namun, rasa penasaran yang sedari tadi mengganjal di dadanya membuat ia tidak bisa menahan diri lagi untuk bertanya.
“Anna….” panggil Zara. “Boleh aku bertanya sesuatu? semalam…. bagaimana bisa aku sampai di kamar? aku sama sekali tidak ingat apa yang terjadi setelah aku minum wine itu.”
Anna menghentikan gerakannya yang tengah merapikan nampan. “Tuan yang membawa anda kembali ke kamar, Nona. Beliau menggendong anda dari halaman belakang.“
Mendengar jawaban itu, Zara nyaris tersedak teh jahenya. Matanya membelalak sempurna, rasa pening di kepalanya mendadak hilang karena terkejut.
“Menggendongku”
Jantung Zara berdegup kencang, rasa takut dan malu bercampur aduk menjadi satu.
“Dia…. Benedict menggendongku? lalu, apa aku melakukan sesuatu yang aneh? apa aku meracau atau…. atau mengatakan sesuatu yang buruk padanya?” tanya Zara panik, suaranya naik satu oktav.
“Saya kurang tahu soal itu, Nona. Ketika saya berpapasan dengan beliau di koridor bawah, anda sudah tidak sadarkan diri.”
Zara menghembuskan napas panjang, meremas jemarinya sendiri di bawah meja dengan cemas. Ketidaktahuannya tentang apa yang ia lakukan semalam justru jauh lebih menakutkan daripada ancaman Benedict biasanya.
“Lalu…. dimana Benedict sekarang? apa dia belum turun untuk sarapan?” tanya Zara lagi, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
“Tuan sudah pergi pagi-pagi sekali, Nona” jawab Anna. “Beliau bahkan melewatkan sarapannya.”
Zara terdiam, menyuap sup hangatnya itu untuk menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Ia merasa lega karena tidak harus bertatap muka dengan pria itu dengan membawa rasa malu ini.