Colly Shen berangkat ke luar negeri untuk menjalani hidup baru, namun tanpa sengaja terseret ke dalam organisasi kejahatan yang berbahaya. Di negeri asing, ia harus bertahan dan melindungi dirinya sendiri di tengah ancaman dan pertarungan yang terus datang.
Di sisi lain, kehadiran Colly menarik perhatian beberapa pria—Micheal Xie, sosok dari masa lalunya, Wilbert, calon suaminya, dan seorang ketua organisasi misterius yang awalnya menjadi musuh.
Siapa yang mampu mendapatkan cinta dari Colly Shen yang terkenal dengan sifatnya yang tidak pernah mau mengalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Udara di dalam kafe terasa berat.
Keduanya saling menatap. Tidak ada yang bergerak.
Lalu—
DUK!
Pria besar itu melesat maju. Langkahnya menghentak lantai.
WUSSH!
Pukulan pertama datang lurus ke wajah.
Colly memiringkan kepala. Angin pukulan menyapu pipinya.
Belum berhenti—
BUK!
Sikut menyapu dari samping.
TANG!
Colly menahan dengan tongkat. Benturannya keras. Lengannya bergetar.
Pria itu menyeringai. “Kau cepat,” katanya. “Tapi itu saja tidak cukup.”
Colly tidak menjawab.
Kakinya bergerak ringan. Melingkar. Mengatur jarak.
Serangan berikutnya datang lebih cepat.
WUSSH! WUSSH!
Dua pukulan beruntun.
Colly mundur setengah langkah. Menghindar. Menangkis.
TANG! TANG!
Setiap benturan terasa berat.
Murni tenaga. Bukan teknik biasa.
Colly mengubah ritme.
Ia berhenti menahan semua serangan.
Langkahnya menyelinap ke sisi.
Saat pria itu mengayun lebar...
Colly masuk.
DUK!
Siku menghantam rusuk.
BUK!
Pukulan ke dagu menyusul.
Pria itu terhuyung sedikit.
Senyumnya masih ada.
Colly mundur satu langkah. Menjaga jarak.
Pria besar itu menggeram. “Bagus!”
Ia mengangkat tangan— lalu menghantam ke bawah.
DUK!!
Lantai retak.
Colly bergeser ke samping. Tatapannya cepat mengamati sekitar.
Kursi. Meja. Pecahan kaca.
Napasnya pendek.
Strategi berubah.
Pria itu menyerbu lagi.
Kali ini..
Colly maju.
WUSSH!
Pukulan nyaris mengenai wajahnya.
Ia merunduk.
BUK!
Tendangan ke belakang lutut.
Pria itu goyah.
TANG!
Tongkat menghantam pergelangan tangan.
“GRRAH!”
Ekspresi pria itu berubah.
Colly memutar tubuh.
DUK!
Siku ke sisi leher.
Pria itu mundur dua langkah.
Colly mengejar.
BUK! BUK! BUK!
Serangan cepat ke sendi. Bahu. Rusuk. Lutut.
Presisi. Cepat.
Pria itu mencoba membalas.
Colly sudah berpindah posisi.
TANG!
Tongkat menghantam belakang lutut.
PRIA ITU JATUH SATU LUTUT.
Lantai bergetar.
Hening.
Colly berdiri di depannya. Napasnya stabil. Tatapannya dingin.
“Sudah kubilang…jangan sentuh teman-temanku."
Pria itu terengah. Ia tertawa pelan. Serak. “Kau… bukan mahasiswa biasa…”
Matanya tajam.
“Ini bukan sekadar peringatan.”
Colly mengernyit sedikit. “Apa maksudmu?”
Pria itu tersenyum.
Udara di dalam kafe terasa menekan.
Colly dan pria bertubuh besar itu saling berhadapan.
Lalu...
DUK!
Pria itu melesat maju. Pukulannya datang seperti palu.
TANG!
Colly menahan dengan tongkat. Benturan keras membuat lengannya bergetar.
Belum sempat menarik napas...
“SERANG DIA!!” teriak salah satu anak buah.
Beberapa pria yang tersisa langsung bergerak.
WUSSH!
Tongkat diayunkan dari belakang.
Colly menoleh cepat—
TANG!
Ia menahan tanpa melihat. Tubuhnya berputar.
BUK!
Sikut menghantam wajah penyerang itu.
“AAARGH!”
Namun serangan tidak berhenti.
Dua orang lain menyerbu dari samping.
Sementara itu..
“AAAAH!!”
Salah satu rekan kerja Colly menjerit.
BUK!
Ia dipukul hingga jatuh.
“Jangan—!” teriak rekan lain, lalu—
BUK!
Ia ikut tersungkur.
Mata Colly menajam.
Fokusnya terpecah.
Saat itu...
DUK!
Pukulan pria besar menghantam bahunya.
Colly terdorong mundur.
Napasnya sedikit terguncang.
Pria itu menyeringai. “Kau tidak bisa melindungi semua orang.”
Colly diam. Tatapannya berubah.
Lebih dingin.
Lebih tajam.
Anak buah kembali menyerang.
Tiga dari depan. Satu dari belakang.
Colly melangkah maju. Bukan mundur.
WUSSH!
Pukulan pertama datang...
Colly menunduk.
BUK!
Tongkatnya menghantam perut penyerang.
TANG!
Ia menahan serangan dari samping.
Tubuhnya berputar..
DUK!
Sikut ke rahang.
Satu orang tumbang.
Belum selesai.
Colly melempar tongkatnya.
WHUK!
Tongkat itu menghantam tangan pria yang sedang hendak memukul rekannya.
“AAARGH!”
Tongkat terlepas.
Rekan Colly selamat.
Dalam satu tarikan napas...
Colly sudah bergerak lagi.
BUK!
Tendangan ke lutut penyerang di depannya.
KRK!
Pria itu jatuh.
Namun...
DUK!!
Pukulan dari pria besar kembali datang.
Colly mengangkat tangan.
BUK!
Ia tetap terdorong beberapa langkah.
Tekanan makin berat.
Dua anak buah kembali menyerang bersamaan.
Colly menyapu kaki salah satu..
BRAK!
Ia jatuh.
Yang lain mengayun tongkat..
Colly menangkap pergelangannya.
GRAB!
Memutar.
KRAK!
Tongkat jatuh.
BUK!
Pukulan ke dada.
Ia terpental.
“AAAAH!!”
Jeritan lain terdengar.
Dua pria menyeret salah satu rekan kerja Colly.
“Berhenti!” teriak Colly.
Matanya berubah tajam.
Dalam sekejap
WUSSH!
Colly melesat.
BUK! BUK!
Dua pukulan cepat.
Keduanya langsung terlepas dan jatuh.
Rekan kerja itu tersungkur, gemetar.
Colly berdiri di depannya.
Melindungi.
Namun... bayangan besar muncul dari belakang.
Pria bertubuh besar itu sudah ada di sana. “Lengah.”
DUK!
Pukulan menghantam punggung Colly.
Ia terdorong maju. Hampir jatuh.
Napasnya berat sesaat.
Kafe semakin kacau. Jeritan. Barang pecah. Orang-orang meringkuk ketakutan.
Colly berdiri lagi perlahan.
Matanya menyapu seluruh ruangan. Rekan-rekannya terluka. Sebagian masih jadi target.
Ia menarik napas dalam.
Lalu...tatapannya berubah total.
Tenang.
Fokus.
Tidak lagi terpancing.
Pria besar itu mengerutkan kening. “Apa itu?” gumamnya.
Colly tidak menjawab. Langkahnya maju pelan.
Anak buah yang tersisa ragu.
“Serang!” teriak salah satu.
Mereka maju.
WUSSH!
Namun gerakan Colly berubah.
Lebih cepat.
Lebih efisien.
BUK!
Satu pukulan ke tenggorokan.
DUK!
Siku ke pelipis.
TANG!
Menangkis, lalu balas ke lutut.
Dalam beberapa detik...tiga orang jatuh.
Colly tidak berhenti.
Ia bergerak seperti bayangan.
Menghentikan setiap ancaman ke rekan-rekannya.
Satu demi satu— semua yang mendekat langsung tumbang.
“Dia masih muda… kenapa kungfunya begitu hebat?” gumam pria itu pelan.
Tatapannya menajam.
“Siapa gurumu?” tanyanya.
Colly menatap dingin. “Bukan urusanmu,” jawabnya singkat. “Malam ini juga… akan kupastikan kau tidak bisa lolos.”
Ia melangkah maju. Tenang. Pasti.
Pria itu langsung bergerak.
WUSSH!
Pukulan lurus mengarah ke wajah Colly.
Dalam sekejap... Colly melompat.
Tubuhnya terangkat ringan.
BUK!
Tendangan berputar mengarah ke kepala pria itu.
GRAB!
Tangan pria itu terangkat cepat. Menahan tendangan tersebut.
Namun tenaganya tetap mendorong.
BRAK!
Tubuh pria itu terlempar ke samping. Menghantam meja.
Meja itu hancur seketika.
Pecahan kayu berhamburan.
Pria itu tergelincir beberapa langkah sebelum berhenti.
Ia mengangkat kepalanya perlahan.
Tatapannya kini berubah.
Lebih serius.
Colly sudah mendarat dengan ringan.
Kakinya kembali menapak lantai.
Hidung pria itu yang mengeluarkan darah tiba-tiba bergerak cepat.
WUSSH!
Pukulannya mengarah ke wajah Colly.
Colly mengangkat tangan menahan.
Saat itu tangan pria itu berputar cepat.
SHK!
Pisau kecil tersembunyi muncul dari sela jarinya.
Terlambat.
SLASH!
Ujung pisau menyayat leher samping Colly.
“GH—!”
Colly mundur cepat. Tangannya langsung menutup lehernya. Darah mulai mengalir di sela jarinya.
“Walau kau hebat… tapi pengalamanmu masih kurang,” ucap pria itu dingin.
Darah masih menetes dari leher Colly.
Ia menatap tanpa emosi.
WUSSH!
Pria itu menyerang lagi. Pisau tersembunyi mengarah ke leher.
Colly tidak mundur.
Ia masuk.
GRAB!
Pergelangan tangan pria itu ditangkap.
KRAK!
Colly memutar dan mematahkannya.
“ARGH!!”
Pisau terlepas...
Namun Colly lebih cepat.
Ia menangkap pisau itu di udara.
Tanpa ragu.
DUK!
Ia menikam punggung tangan pria itu.
“AAARGH!!”
Pisau menancap. Tangan pria itu terkunci di tempat.
Colly mendorongnya menjauh.
Napasnya berat. Darah masih mengalir dari lehernya.
Tatapannya dingin.
“Sekarang… apa kau masih bisa melawanku?"
mau gunakan cara licik
walaupun jauh abangnya pasti tetap pantau siapa lagi kalau bukan Michael yang pantau
sudah dibully dapat serangan bertubi-tubi
tapi ga mau kasih info ke keluarganya.
Dia punya kaka yang hebat orang tua juga hebat, tapi soknya kebangetan juga, 🙄🙄seharusnya kasih tau gitu setidaknya ada pengawal bayangan.
punya tunangan juga ga guna cuma bisa melarang doankk, bantuin calon tunangan mu kek, masa berjuang sendiri🙄🙄🙄